Senin, 05 Juli 2021

Perubahan.

 




Saya tidak suka memuji orang tapi saya suka belajar dari orang lain. Kalau tidak bisa belajar langsung, ya saya amati langkahnya.  Waktu Jokowi terpilih sebagai Gubernur DKI, saya sempat ngobrol dengan teman yang kebetulan sedang mengurus funding untuk proyek monorail. Menurutnya ‘ Gila ya Jokowi. Berani amat dia eksekusi soft loan dari Jepang untuk proyek MRT. Padahal dari studi itu proyek tidak layak. Mana  ada  gubernur berani eksekusi. Kecuali dia.” Saya tersenyum saja. Namun karena itu saya pantau gerak Jokowi. 


Dari teman di Menkeu saya tahu Jokowi berani ambil sebagian resiko pinjaman MRT  itu lewat APBD multi year. Artinya sebagian angsuran hutang itu berasal dari PAD DKI secara multiyear. Karena itu proyek menjadi layak. Pagu resiko APBN menjadi layak karena sebagian ditanggung DKI. Apakah Jokowi nekat? tidak juga. Itu ada hitungannya. Hasil riset membuktikan pemborosan BBM akibat kemacetan jakarta Rp 60 triliun setahun. Sementara proyek MRT  tiga fase itu anggarannya Rp 50 triliun. Jadi andai secara ekonomi tidak layak namun secara makro itu menguntungkan. Untuk meminimize resiko proyek dikerjakan beberapa phase. Tidak sekaligus.


Apa yang terjadi kemudian? Justru ramalan pendapatan rendah  pada studi proyek tidak terbukti. Tingkat pendapatan tahun pertama MRT diatas target komersial. Artinya untuk phase kedua dan seterusnya tidak lagi sulit dapatkan uang. Proyek yang tadinya tidak mungkin dikerjakan, bisa dikerjakan. Dan itu dibuktikan dengan keberanian Jokowi mendobrak mindset kerja dari gubernur sebelumnya. 


Ketika Jokowi jadi presiden. Anda bisa lihat cara Jokowi memimpin. Kalau dia mengikuti cara SBY atau presiden sebelumnya memimpin dengan cara standar normatif, tidak mungkin Jokowi bisa melipat gandakan PDB dan Kapasitas nasional atau aset negara. Dia mengubah paradigma APBN yang tadinya kaku, dia ubah menjadi go to market. Tadinya paradigma APBN adalah “money follows the function, diubahnya menjadi money follow program. Uang Mengikuti Prioritas, Bukan Struktur Organisasi.  


Dengan perubahan itulah dia bisa memperbesar “ pembiayaan anggaran” dan memperlebar ruang fiskal agar semakin besar terbentuknya modal bruto negara. Itu karena APBN pruden dan kredibel sehingga tidak sulit dapatkan sumber daya keuangan, baik secara PINA maupun budgeter. Semua sektor bergerak serentak atas dasar kinerja. Bukan lagi money follow the function tetapi money follow program. Artinya apapun program kerja, selagi meningkatkan modal bruto negara dalam bentuk infrastruktur ya lakukan. Uang? cari sendiri. 


Yang bisa membaca dan mengikuti cara berpikir Jokowi adalah Ahok. Itu benar benar cara  berpikir jokowi di copy paste dan dilaksanakan secara radikal. Kalau Jokowi masih ada mikir, tetapi Ahok engga mikir. “ Selagi rakyat diuntungkan, apapun saya lakukan.” kata Ahok. Walau karena itu dia harus perang dengan DPRD. Dia engga peduli. Bahkan karena berbeda pendapat, dia keluar dari Gerindra partai yang mengusungnya berpasangan dengan Jokowi waktu Pilgub DKI. 


Tidak ada kemajuan tanpa perubahan. Tidak ada perubahan tanpa tantangan. Tidak ada sukses tanpa tantangan. Semua perlu keberanian dan niat baik untuk berubah. Karena itulah perbadaban bergerak ke depan. Itulah yang kurang dimiliki oleh Anies dalam memimpin Jakarta, dan entah gimana kalau dia jadi RI-1.  Semoga Anies juga mau berubah mengikuti langkah dan cara Jokowi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...