Kamis, 15 Juli 2021

Covid1-19 itu biasa saja.


 


Saya chating dengan teman dari China. Ada yang menarik nasehatnya berkaitan dengan COVID-19. Mungkin tanpa disadari kita bisa saja kena covid. Tetapi tidak ada gejala apapun. Keadaan itu dalam 14 hari berlangsung, dan kesehatan kita tidak memburuk. Itu artinya kita sudah kebal secara alami. Atau bisa saja kita kena COVID-19 berdasarkan hasil test. Yang kita rasakan gejala ringan.  Gejala ringan itu bisa saja kita batuk dan bersin seperti kena flue. Suhu tubuh panas tetapi bisa turun oleh obat penurun panas. Penciuman dan perasa hilang. Walau memang tidak membuat kita nyaman. Sendi nyeri, kepala sakit. Tidak usah panik.  Tidak usah ke Rumah Sakit. Cukup isolasi mandiri. Istirahat yang cukup. Makan yang bergizi. Makan suplement vitamin C, E, D. Tahan aja selama 10-14 hari itu akan berlalu begitu saja. Kita akan kebal secara alami.

Nah kalau sampai napas sesak, dada nyeri, demam tinggi dan panas tidak bisa turun walau sudah dikasih obat penurun panas, rasa mengantuk yang ekstrem dan sulit terbangun, batuk keluar darah, sebaiknya segera ke Rumah sakit. Umumnya yang sampai fatal dampak dari virus COVID-19 ini orang yang memang punya penyakit bawaan dan kondisi tubuhnya memang rentan akibat diabetes, TB, Asma, autoimun. Selagi tidak ada penyakit bawaan dan yang sedang dihidap ya aman saja. Virus itu 98% tidak akan mematikan. Sama saja dengan flue. Antibodi turun ya dia masuk. Mau menghindar gimanapun tetap aja kena. Hanya masalah waktu setiap orang pasti kena. 


Di China database kesehatan setiap orang sudah terhubung dengan IT lewat eKTP. Jadi ketika orang datang ke RS, langsung tahu riwayat kesehatan orang. Kalau rekam medis tidak ada penyakit bawaan, orang itu ditolak di rawat di RS. Harus isoman atas biaya negara, termasuk obat dan makan. Pengawasan bagi isoman oleh petugas dilakukan secara online lewat smartphone. Selama Isoman tidak boleh hape mati. Sehingga pergerakan pasien isoman bisa dideteksi. Di China ada jutaan CCTV di semua kota. Jadi orang engga bisa boong. Melanggar isoman ya penjara. Tetapi kalau rekam medisnya memang ada penyakit bawaan, maka dirawat di rumah sakitpun tidak semua ditanggung negara. Hanya 30% ditanggung BPJS, sisanya ditanggung pasien. Mengapa? karena memang orang itu sakit tidak sepenuhnya karena covid tetapi ada penyakit lain. Kenapa harus ditanggung semua.?

Saya tidak begitu paham ketika teman tanya bagaimana sistem rujukan di Indonesia orang bisa masuk Rumah Sakit untuk dirawat. “ Kalau semua orang hasil test positip dan ada keluhan langsung ke Rumah sakit, ya bisa jebol rumah sakit. Engga cukup berapapun bed tersedia.” Katanya. Memang logikanya sistem rujukan di puskesmas itu punya standar siapa yang bisa dikirim ke RS dan siapa yang tidak perlu. Walau sudah dirujukpun namun RS tetap bisa menolak kalau memang standarnya tidak memenuhi untuk di rawat. 


Bagaimana dengan vaksin? tanya saya. Di China, orang yang tidak imun covid 19 dilarang masuk ketempat publik dan bepergian.   Pengewasan orang lewat sistem administrasi kependudukan yang terhubung denga IT. Tapi tidak semua imun itu harus dibuktikan degan vaksin. Kalau orang itu sudah pernah kena Covid dan sembuh, tidak ada keharusan vaksin.  Tentu selagi ada bukti pernah test positif dan sembuh dengan bukti test negatif. Namun di China orang lebih suka vaksin mandiri karena lebih cepat dan bisa memilih mereknya. Harga vaksin juga murah dan bisa dilakukan dimana saja. Bahkan di stasiun da pom bensin tersedia klinik vaksin.


Yang jelas bahwa lockdown yang pernah dilakukan di Wuhan adalah kebijakan yang paling disesali pemerintah China, termasuk social distancing secara ketat. Itu selain paradox juga tidak sehat secara kejiwaan. Sementara imunitas orang meningkat ditentukan oleh jiwa yang tanpa tekanan. Apa itu tanpa tekanan?  ya orang bebas, bebas dari rasa takut dan bisa bekerja untuk menghidupi dirinya. Demikian menurut


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...