Kamis, 05 November 2020

Racun populisme merusak AS.

 


Amerika itu suatu bangsa yang mayoritas penduduknya adalah ngekos. Mereka migran dari banyak negara dari beragam etnis. Yang penduduk asli etnis Indian malah terpinggirkan. Menjadi minoritas. Anda bisa bayangkan. AS memang kumpulan bonek. Mindset dasar sebagai petarung untuk survival sudah terbentuk ketika  mereka datang ke AS. Kemajuan AS dan akhirnya memimpin peradaban disegala bidang sekian dekade karena para pemimpinnya sangat mengenal karakter bangsanya. Pemerintah AS mengharamkan subsidi secara terprogram, namun menyediakan rumah singgah bagi orang miskin dan lapar. Ketergantungan negara mengongkosi jalannya pemerintahan 90% berasal dari rakyat. 


Karena karakter bangsa seperti itulah kreatifitas berkembang. Inovasi lahir dalam semangat berkompetisi. Sehingga negara itu besar karena lahirnya banyak para pionir yang mengambil resiko menjadikan hutan ,tambang sebagai sumber daya ekonomi. Mengambil resiko dalam bidang riset tekhnologi. Itu semua bukan karena program populis dan utopia dari pemerintah.Tetapi lahir dari prinsip ekonomi secara personal. Business as usual. Bukan semangat utopia tetapi semangat bertarung diatas ketidak pastian. Bahwa semua orang bisa sukses jadi apa saja. American dream! Itu ethos mereka.


Amerika berkali kali mengalami krisis dan selalu bisa keluar dari krisis. Bahkan AS semakin besar setelah itu. Krisis membuat mereka semakin dewasa sebagai bangsa. Semakin dewasa menyikapi ketidak pastian. Namun di abad 21, berangasur angsur generasi baru tampil. Nilai nilai lama seperti kreatifitas, visioner, pionir telah berubah menjadi mental too good to be true. Generasi AS sekarang menjadi generasi pengeluh dan berharap pemerintah jadi lampu aladin. Puncaknya di era Obama. Icon kekuatan pasar sebagai simbol masyarakat petarung dalam berkompetisi diruntuhkan. Pasar regulated diperkenalkan. Intervensi sosial diberlakukan. Akibatnya negara jadi korban oleh mereka yang malas dan rakus. 


AS sekarang percis seperti China di era Mao. Mental politik komunis  terbentuk dengan sendirinya walau secara retorika mereka membenci komunis. Trumps tampil di panggung politik dianggap gila oleh sebagian orang. Karena dia ingin mengembalikan lagi nilai nilai  lama mindset AS sebagai bangsa petarung. Stop segala intervensi sosial. Engga ada urusan dengan negara lain. Kalau inginkan pasar AS,  ya produksilah di AS. Kalau engga, bayarlah pajak impor tinggi. Trump tidak ingin perang dagang dengan  China. Jusru trumps mengundang China “ Datanglah ke AS. Investasilah, Produksilah. Dan juallah. Setelah itu bayarlah pajak.” Sederhana!


Tetapi karena Trumps lahir dari keluarga kaya, dia tidak paham bahasa empati secara politik untuk menyampaikan gagasanya itu. Sehingga terkesan Trumps arogan, idiot dan tidak rasional. Memang orang bermental bisnis itu terkesan  gila bagi komunitas yang sudah kena toxin populis. Dalam Pemilu kemarin, Rakyat AS memilih Biden  karena Biden menawarkan mindset populis. Kalau Biden menang, populisme menang. AS akan semakin jauh dari nilai nilai lamanya sebagai bangsa yang paling mandiri rakyatnya. Karena populis anti tesis dari kapitalisme. Ia melaksanakan logika sosialis. Trumps memang bukan pilihan yang bagus namun kemenangan Biden karena populisme, itu jauh lebih buruk. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Cebong dan Kampret

  Dulu di  Yunani orang yang dikenai hukuman, budak, pengkhianat, di cap dengan tato pada dada dan punggungnya. Cap itu akan melekat selaman...