Selasa, 01 September 2020

Permainan politik.



Mengapa ormas Islam walau ada sebagian yang nyinyir tidak dianggap serius oleh pemerintah. Bahkan terkesan didiamkan saja. Itu artinya mereka bukan ancaman serius bagi pemerintah. Mengapa? pertama, mereka diluar parlemen. Jadi sekeras apapun mereka ngomong engga akan mempengaruhi peta politik. Kedua, sistem politik sudah otomatis memasung mereka menguasai parlemen. Jarak antara patron dengan rakyat sangat jauh. Jadi walau dalam pemilu politisasi agama itu seksi namun panetrasinya butuh  mesin politik partai. Mesin partai inilah yang memberikan fuel kepada tokoh agama untuk bergerak sesuai agenda partai. Tanpa fuel , mereka nothing.

Dalam politik di Indonesia, keberadaan ormas Islam dijadikan pajangan elite partai manapun. Semua partai bisa menjadikan ormas islam sebagai gula gula. Maklum kadang elite partai tidak berani langsung menghadapi presiden. Ya mereka gunakan ormas islam bergerak. Kadang TNI juga sama. Kalau mereka berbeda paham dengan kebijakan politik pemerintah, TNI bisa gunakan ormas islam. Itu artinya kekuatan islam itu tidak ada secara significant sebagai kekuatan rakyat. Yang ada hanya seperti Permen saja. Rasa durian tetapi buka durian. Mungkin anda tidak yakin dengan yang saya gambarkan itu. Faktanya, mana ada partai yang berbasis massa islam yang menang dalam Pemilu? Yang menang justru partai nasionalis dan pragmatis. 

Nah kadang kalau TNI, Elite partai bersatu dengan ormas islam  bisa melahirkan gerakan massal, yang efektif sebagai pressure group. Itu bisa dilihat dalam aksis 411, 212. Aksi itu hanya bisa padam setelah Jokowi setuju kompromi. Lihatlah. Setelah aksi itu Jokowi datang ke markas TNI bertemu dengan prajurit. Bertemu dengan elite partai. Dan tentu terakhir bertemu dengan elite ormas islam. Hasilnya? kompromi terjadi antara Elite partai , TNI dan Presiden. Masing masing dapat opsi. Misal, Pemerintah tendang HTI. UU Ormas disahkan. Tentu elite partai dan TNI juga dapat opsi. Adem.

Tetapi karena politik itu dinamis. Tadinya teman, dan sudah komit, namun bisa saja  berubah cepat.  Teman jadi musuh. Komitmen bisa bubar. Mengapa ? karena elite partai dapat cara baru untuk bergain di hadapan pemerintah, katakanlah mereka sudah solid dengan ormas islam besar. Atau TNI menang banyak karena kebijakan pemeritah. Sehingga berada di kubu pemerintah. Nah kalau elite partai dan TNI cuekin ormas islam lain maka kekuatan extra parlemen yang disokong pengusaha rente akan memanfaatkan tokoh islam. Mereka berharap bisa mempengaruhi ormas islam lain sebagai pressure group. Namun itu hanya dilakukan di saat kondisi negara lemah, seperti dalam kasus COVID-19 dengan lahirnya KAMI. Tujuannya apa ? ya sesuai agenda sponsor atau penyandang dana. Engga ada itu soal keadilan.  Tapi kekuatan extra parlemen secaman ini hanya onani kalau tidak dapat dukungan dari elite partai besar atau elite TNI.

Nah mengapa keadaan tersebut diatas dapat terjadi? karena 1) adanya sistem trias politika. Di mana tidak ada satupun kekuasaan yang benar benar berkuasa. Satu sama lain saling tarik menarik untuk mencapai keseimbangan. 2). Sistem yang ada di parlemen tidak efektif untuk ajang main catur berhadapan dengan pemerintah. Karena terikat dengan Tatip DPR, di mana pemeritah sudah kunci semua, yang sehingga DPR jadi macan ompong. 3). Partai tidak efektif memproduksi calon pemimpin yang fenomenal secara nasional. Kalaupun ada, itu sangat terbatas jumlahnya. Itu karena sistem partai sangat elitis yang menghambat orang hebat berprestasi hebat. 4) Ormas islam, kehilangan idea besar karena tidak ada tokoh sehebat  seperti Mahatma Gandhi atau Nelson Mandela atau Dalai lama, yang hidup bersehaja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...