Sabtu, 19 September 2020

Mengenal diri kita sebagai makhluk istimewa

 



Tubuh kita ini tercipta sangat sempurna oleh Tuhan. Sangking sempurnanya, bagi sains cara kerja tubuh kita itu sangat kompleks. Coba dech kamu bayangkan.  Panjang pembuluh darah itu 100.000 km atau 2,5 kali putaran bumi. Bayangin sama kamu, dalam satu detik kekuatan jantung itu mampu mengalirkan darah ke seluruh rangkaian pembuluh darah. Tapi ingat. Yang dikirim bukan hanya darah.  Di dalam darah itu ada juga muatan lain. Apa itu?  oksigen dan hormon yang diperlukan oleh sel tubuh kita. Juga ada zat-zat sisa (seperti karbondioksida) untuk dikeluarkan dari tubuh. Kebayangkan power jantung kita. Belum ada kendaraan yang bisa punya kecepatan seperti itu.


Tuhan tahu bahwa manusia itu sangat rentan dengan ekosistem. Banyak predator yang keliatan maupun tak nampak kasat mata. Nah Tuhan sediakan sistem pertahanan dalam tiga filter. Keren ya. Sayang banget Tuhan ama kita. Pertama adalah kulit kita. Kulit itu kalau diibaratkan seperti benteng pertahan yang terbuat dari tembok tebal.  Pengawal ada dibalik benteng. Dia tetap standby menjaga segala kemungkinan serangan musuh. Jadi kalau ada serangan jamur atau bakteri mau masuk lewat kulit  akan terhalau dengan mudah. Karena kulit itu bukan selapis. Ada juga membran-membran yang melapisi permukaan bagian dalam tubuh yang turut berperan sebagai pelindung. 


Tetapi apa yang terjadi bila benteng jebol. Engga usah kawatir.  Ada filter kedua. Di balik benteng itu ada pasukan fagositosis ( monosit, makrofag, dan neutrofil). Mereka melakukan aksi berani mati. Dengan cara memakan apa saja semua zat asing yang masuk. Satu sel bisa menghajar dan memakan hingga 100 zat asing. Tapi pasukan Fagosit ini bego. Dia engga peduli apa itu musuh. Selagi asing dia anggap musuh. Dia main serang aja. Padahal kan engga semua harus dimatiin. Ada juga loh musuh yang bermanfaat. Ada juga bakteri yang bermanfaat.


Bagaimana kalau musuh engga masuk lewat kulit. Mereka masuk lewat infiltrasi yang tidak mudah terlacak. Ya semacan agent proxy yang tidak mudah dikenal oleh pasukan pengawal. Jubahnya agama tetapi niatnya mau ngubah sistem negara. Engga usah kawatir. Ada filter ketiga, yaitu limfosit.  Kehebatan limfosit adalah dia tidak main serang dan bunuh saja benda asing yang masuk. Limfosit semacam pusat komando strategis. Mereka terbagi dua team. Satu team bertugas mengumpulkan data intelijen ( limposit T). Dan satu  lagi team ( Limposit B) bertugas membentuk pasukan khusus ( antibodi) yang sesuai dengan data intelijen. Keren ya. Artinya pasukan khusus akan dibentuk setelah data intelijen dikuasai dengan baik. Dua team ini bekerja secara sistematis.


Hebatnya antibodi itu bukan pasukan kaleng kaleng. Dia terbentuk dari unsur protein. Mengapa saya bilang hebat. Protein itu mampu mereplika dirinya seperti musuh. Jadi kalau musuhnya A ya pasukan penyerang mirip A. Mengapa? Kalau A masuk dia mudah dekati tanpa dicurigai. Kemudian dia rangkul. Sekali rangkul engga lepas itu. Kemudian pasukan fagositosis datang menghajar, dan melumat A.  Cara kerja antibodi kita sangat sistematis. Sekali data musuh tercatat oleh antibodi maka informasi akan diketahui oleh semua pasukan penyerang. Jadi kalau asing masuk, mereka cepat tahu itu musuh atau bukan. Kalau musuh ya secara sistematis mereka melakukan perlawanan. Cepat sekali aksinya. 


Tetapi gimana kalau musuh itu tidak ada datanya, apalagi masuk dalam bentuk penyamaran yang sempurna. Pasukan akan diam saja. Mereka menunggu komando dari Limfosit. Prosesnya engga bisa cepat.  Limfosit  T butuh waktu mengenali musuh itu. Tetapi tetap diawasi dengan ketat. Bahkan ketika virus corona berhasil menggrogoti sel kita.  Tetap didiamkan. Mengapa ? itulah cara smart antibodi bekerja. Dia butuh informasi. Setelah informasi didapat, sistem antibodi mengeluarkan komando sitokin. Untuk apa? agar sel yang sudah terserang melakukan aksi bunuh diri ( Corona juga ikut mati. Karena inangnya mati dia juga tewas ) . Sehingga kerusakan tercluster. Engga nyebar kemana mana. Keren ya. Kompak banget. Itu biasanya berlangsung seminggu setelah virus positip. Dampaknya pada tubuh kita macem macem. Ada yang demam. Ada yang biasa saja atau OTG.


Nah setelah data intelijen lengkap. Maka team Limfosit B membentuk antibodi sesuai kekuatan dan jenis musuh. Itu berupa protein yang cerdas. Yang bisa mereplika dirinya seperti virus corona. Setelah corona diikat oleh protein, pasukan fagositosis yang terdiri dari monosit, makrofag, dan neutrofil melakukan serangan sistematis dengan memakan virus corona. Itu biasanya berlangsung dua minggu lamanya setelah seminggu terinfeksi. Bagaimana dengan sel yang punah. ? engga usah kawatir. Kalau anda tidur 7 jam saja, akan terjadi regenerasi sel. Sel baru terbentuk. Anda lebih segar setelah itu. Lebih muda. Gimana setelah kena virus corona, kena serang lagi? engga usah kawatir. Data tentang corona sudah ada databased nya. Sekali serang, tewas itu corona. Engga perlu lama. Sama dengan sakit flue aja.


Gimana cara imun tubuh kita efektif? Makanlah yang bergizi. Untuk bergizi tidak perlu mewah. Anda makan sambel cabe rawit 6 biji aja, itu sama dengan 1000 mg vitamin C.  Makan sayur atau lalapan, itu sudah terpenuhi vitamin E.  Makan nasi tiga sendok, itu sudah cukup energi bagi tubuh anda. Bukan olah raga membuat anda sehat. Tetapi tidur cukup dan bersantai yang cukup. Terbiasa hidup bersih. Jangan makan sendal bagiak ( bawaan kesel mulu). Cuci tangan sesering mungkin. Pakai masker.


Saya membuat analogi sederhana itu dengan referensi cukup. Mungkin tidak seratus 100 persen tepat. Namun kira kira begitu cara kerjanya sistem antibodi kita. Mengapa saya uraikan seperti diatas? agar kita jangan terlalu kawatir Corona. Manusia itu , kalau dibandingkan makhluk lain, kita adalah makhluk terbaik diciptakan Tuhan. Kalau kita terlalu kawatir dan takut dengan Corona, itu aritnya kita merendahkan Tuhan yang menciptakan tubuh kita begitu sempurna. Virus semacam corona itu akan terus ada di muka bumi, bahkan lebih ganas lagi. Namun semakin berganti waktu,  zaman pun berganti. Seharusnya tubuh kita semakin sempurna. Mengapa sekarang lemah?  Rentan sekali ? 


Tuhan memang mendesign sistem pertahanan tubuh kita. Tetapi ada yang Tuhan mengikuti apa mau kita. Apa itu? Sikap kita. Kita itu mahkluk free will. Nah sikap itu ternyata adalah imun yang paling menentukan bagi tubuh kita. Lebih hebat dari antibodi. Sistem imun itu bisa bekerja dengan efektif bila jiwa dan pikiran anda bisa mengendalikan diri anda.  Artinya anda harus jadi capten terhadap jiwa anda, tubuh anda. Kalau pikiran anda tercemar oleh informasi negatif maka jiwa anda juga tercemar. Tubuh anda akan bereaksi dengan melemahnya imun tubuh. Mengapa? antibodi terbentuk karena perintah otak anda. Kalau otak anda sudah lemah karena rasa takut duluan. Paranoid. Ya, perintah itu jadi kacau. Bahkan tidak ada perintah sama sekali. Andapun jadi mangsa predator makhluk kecil. 


Jadi kalau boleh disimpulkan secara sederhana. Pandemi COVID-19 yang menakutkan itu adalah manifestasi siapa kita. Abad 21 adalah era kebangkrutan ekonomi dan spiritual secara massal. Itu karena selama sekian puluh decade telah membuat kita kehilangan nilai nilai mulia hakikat sebagai manusia. Apa itu ? Jiwa. Mengapa ? Kita terjebak dengan hidup individualisme, rakus dan miskin cinta. Kita gagal menjadi kapten atas jiwa kita. Ketika kita memuja materi maka  jiwa kita melemah. Padahal pada jiwa yang kuat terdapat raga yang sehat. Kekuatan jiwa itu ada pada nilai nilai spiritual;  agama, budaya kebersamaan, saling menolong dan cinta. Program social distancing PSBB, lockdown, semakin membuktikan kita memang sudah bankrut secara spiritual. 


Solusinya? kita harus mau berubah. Proses berpikir melahirkan spiritual yang indah. Sehingga dibalik pandemi selalu ada hikmah. Maka hasilnya adalah cara kita bersikap. Manifestasi Cinta bagi semua. Berbagi adalah keniscayaan dalam kerjasama.  Untuk kita tak kehilangan harap. Selalu semangat tanpa buruk sangka merana. Mencerahkan pikiran. Hatipun tertentramkan. Hidupun jadi bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...