Minggu, 02 Agustus 2020

Perang China- AS di LCS, jelas AS keok.



“Apakah China akan kalah bila konflik Laut China selatan sampai terjadi perang terbuka.” kata nitizen. Saya hanya tersenyum.  Karena persepsi kebanyakan orang tentang AS adalah film Rambo produksi Holiwood. Bahwa AS itu sangat kuat dan perkasa tak terkalahkan. Itu wajar saja. Tetapi saya akan membuat perbandingan kekuatan militer kedua negara ini dalam konteks perang terbuka di laut China Selatan. 

Dari sisi pasukan, AS punya pasukan reguler sebanyak 1.281.900 prajurit. Pasukan cadangan sebanyak 811.000. Sementara China punya pasukan reguler 2.300.000 prajurit dan pasukan cadangan 8 juta prajurit. Jadi dari segi jumlah pasukan jelas AS kalah. Dari segi budget memang anggaran pertahanan AS hampir tiga kali anggaran China, yaitu USD 610 miliar. Tetapi dari segi efisiensi , jelas anggaran China itu jauh lebih besar dari AS. Kalau perang laut terjadi , memang AS unggul dalam hal kapal induk pengangkut logistik. China hanya punya dua, sementara AS punya 47.  Tetapi itu tidak begitu berpengaruh dengan China, yang punya pangkalan militer di Pulau Hainan dan Guangxie, yang berada di kawasan laut China selatan.

AS memang punya kapal perusak lebih banyak dari China, yaitu 85, sementara China punya 36. Tetapi China unggul dalam hal kapal frigate dan corvettes yang mencapai 100 lebih. Belum lagi China unggul dalam hal kapal selam  bertenaga nuklir.  Kalau perang terjadi di laut China selatan, bisa saja AS mengandalkan pesawat tempur untuk melindungi kapalnya di laut. Tetapi untuk kekuatan tempur udara, China lebih unggul dari AS. Kecanggihan pesawat China sudah terbukti bisa mengalahkan pesawat tempur AS. Bisa diliat bagaimana pesawat tempur AS terkunci ketika memburu pesawat tempur China memasuki perairan Jepang yang disengketakan. Jumlah pesawat tempur China ada 1.150 unit, sementara AS hanya 450 unit. 

Yang lebih rumit adalah kalau perang berlangsung lama, AS akan mengalami kesulitan logistik. Karena posisi pangkalan militernya berada di negara lain, dan tentu negara lain engga mau ikutan. Apalagi rocket artileri China jumlahnya lebih banyak dari AS, dan menjangkau seluruh kawasan Laut China selatan. Bahkan sampai ke Turki. Mau tahu kecanggihan Rocket China? itu lihat bagaimana roket iran buatan China bisa menjebol pertahanan udara Israel dan membuat takut kapal perang israel dan AS di selat Hormuz. Karena kecepatan rudal China sudah diatas produk roket buatan AS dan Israel.

Sejak era Obama, riset persenjataan AS sudah sangat melemah. Karena perubahan kebijakan dari hard power ke soft power. Sementara riset persenjataan China terus berlangsung sampai sekarang, bahkan lebih besar anggarannya di era Xijinping. AS tidak bisa menggertak menggunakan soft power kepada China. Karena senjata nuklir sebagai alat menekan, engga laku. China juga punya senjata nuklir, bahkan apa yang tidak dimiliki AS, China punya. Apa itu? bomb hidrogen, yang daya rusaknya tak kurang dari nuklir. Jumlah hulu ledak nuklir China yang resmi 280 unit. Tetapi yang tidak resmi jumlahnya jauh lebih besar. Daya jangkau roket nuklir China sudah sampai ke Washington.

Jadi gertakan AS dengan retorika Trumps, itu hanya politik yang memastikan AS tidak serius ingin ribut dengan China. Ketegangan selama ini tidak pernah disikapi serius oleh China, karena China tahu bahwa AS tidak punya agenda menjadikan Laut China selatan sebagai battle war. Negara ASEAN juga sangat paham, bahwa kalau perang terbuka antara China dan AS di laut China selatan maka itu akan jadi ladang pembantaian bagi milter AS. China akan menang mudah. Namun China tetap tidak ingin perang. Kalau mereka membangun kekuatan militer itu bukan ingin jagoan tetapi untuk memastikan negaranya aman dari aneksasi negara lain. Jadi tahu kan alasannya, mengapa negara seperti Arab , Turki dan lainnya sekarang lebih memilih berteman dengan China daripada AS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Daerah Istimewa Minangkabau

  Sumbar engga mungkin jadi daerah istimewa. Mengapa ? Tidak ada kerajaan yang eksis setelah Jepang masuk. Beda dengan Aceh dan Yogyakarta. ...