Minggu, 16 Agustus 2020

Kemerdekaan kehilangan makna



Kalaulah mau jujur, bapak pemikiran kemerdekaan kita sebenarnya adalah Tan Malaka. Tan Malaka, Putra Minang Kabau. Dilahirkan di Desa Pandam Gadang, Sumatera Barat pada bulan juni 1897. Nama lengkapnya adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka. Namanya seakan tenggelam dalam sejarah Republik ini. Kalah hebat dengan Hatta, Sjahrir, Soekarno. Tapi tahukah anda bahwa Tan Malaka adalah orang pertama yang menyampaikan gagasan Republik Indonesia. Pada tahun 1925 dia menulis ” Naar de Republiek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia ). Tulisan ini melahirkan inspirasi bagi Muhammad Hatta yang menulis pada tahun 1928 ,berjudul ”Indonesia Vrije (Indonesia merdeka). Kemudian tahun 1933 Soekarno membuat tulisan ” menuju Indonesia Merdeka”

Kalau anda pernah baca buku Tan Malaka khususnya Madilog, disitu anda akan ketahui, yang ditekankan oleh Tan adalah bukan kemerdekaan secara formal tetapi kebebasan berpikir. Maklum kita sebenarnya tidak dijajah secara phisik oleh Belanda. Manapula mungkin negara sebesar liliput jauh di seberang Benua bisa menggunakan kekuatan senjata dan tentara menjajah kita. Belanda menggunakan cara jenial menjajah kita, yaitu melalui mindset sempit. Hubungan primodial yang memasung kebebasan orang berpikir itu sangat dipelihara oleh Belanda. Caranya mengangkat patron menjadi elite bangsawan. Itu ditandai dari cara mereka berpakaian dan berbicara yang umumnya menggunakan bahasa Belanda. Sehingga mereka tetap berjarak dengan rakyat dan mereka punya hak menentukan salah benar di hadapan clients ( folower-nya). Dengan berpikir sempit tentu orang mudah diadu seperti domba. Itulah cara Belanda bermain main selama 350 tahun di negeri ini. Anehnya Belanda hengkang, kaum primodial masih betah aja. Bahkan kini semakin kencang pengaruhnya.

Tan dengan cara sangat sufisme berkata “… Ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!’ Secara tidak langsung Tan ingin menegaskan tidak boleh kebebasan berpikir itu dibelenggu karena agama. Mengapa? hakikat manusia diciptakan adalah free will. Andaikan tidak ada GEN free will , sejarah Adam menolak perintah Tuhan agar tidak memakan buah Qalbi tidak akan pernah ada. Free will itu adalah cetak biru manusia tercipta. Kesempurnaan makhluk ciptaan Tuhan akan sirna manakalah free will itu hilang dalam dirinya.

Makanya kemerdekaan suatu bangsa seharusnya adalah kemerdekaan  berpikir. Dari kebebasan berpikir inilah orang bisa membangkitkan potensi dirinya yang terpendam,  menjadi kekuatan besar melakukan perubahan besar kearah yang lebih baik untuk memakmurkan bumi.  Yang miris, setelah Indonesia merdeka, kebebasan berpikir itu tidak pernah didapat rakyat. Karena kekuatan primodialisme khususnya agama, sejak era Soekarno, Soeharto dan reformasi tidak pernah rela memberikan ruang kebebasan berpikir. Sehingga perjuangan kebebasan berpikir seakan tidak pernah selesai, dan bakulindan dengan politik yang semakin menjauhkan rakyat dari kebebasan berpikir. 

Sudah 75 tahun kita merdeka, kekuasan MUI dengan fatwanya membuat orang gentar berpikir terbuka. Dan membuat sebagian besar rakyat belum merdeka dalam arti spiritual maupun intelektual. Makanya jangan kaget bila sebagian besar rakyat belum bisa mensejahterakan ekonominya dan tak henti mengeluhkan apa saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...