Minggu, 26 April 2020

Pyongyang.

Tahun 2008, saya pernah berkunjung ke Pyongyang ( Ibukota Korea Utara). Visa saya dapat berkat rekomendasi dari pejabat Partai di Korea utara yang  juga kolega sahabat saya di Beijing.  Saya masuk lewat Shandong ( China), sebuah kota di Timur Laut China yang berbatasan dengan Korea Utara. Kebetulan sampai saya di Shandong,  ada orag menjemput saya di Bandara. Dia memang ditugaskan  oleh sahabat saya di Beijing untuk mempersiapkan keberangkatan saya Pyongyang. Dia bekerja di konsulat Korea Utara di Shandong. Sangat sederhana dan ramah.

Dengan pesawat tua buatan Rusia, saya terbang ke Pyongyang. Di dalam pesawat para penumpang sebagian besar adalah pria Korea Utara dan mereka termasuk middle class yang populasinya di Korut sebesar 0,01%.  Kebanyakan mereka mengenakan jas dengan pin warna merah. Setelah mengamati lebih dekat saya baru menyadari bahwa pin itu bergambar wajah mendiang Kim Il Song, presiden pertama Korea Utara yang mendapat julukan ‘Bapak Korea’. Pin merah yang disematkan pada baju hanya contoh kecil bagaimana Kim Il Song dan putranya Kim Jong Il , kini cucunya  Kim Jong-un menguasai rakyat Korea Utara. 

Setiba di Pyongyang International Airport angin musim semi membelai wajah saya. Petugas bandara mengambil telepon seluler saya untuk diperiksa. Mereka memeriksa semua isi tas dan menyita buku-buku atau barang-barang yang dianggap tidak pantas dibawa masuk ke negeri itu. Keluar dari gate , seorang wanita berpenampilan sederhana memperkenalkan diri kepada saya bahwa dia diminta oleh sahabat saya di Beijing untuk mendampingi saya selama kunjungan ke Pyongyang. Saya sadar bahwa semua orang terdidik yang mampu berbahasa ingggeris di Korea Utara adalah intelligent pemerintah. Mereka di samping bertugas sebagai guide juga sebagai intell yang akan melaporkan semua kegiatan saya kepada pemerintah.

Pyongyang memang berkembang sebagai kota metropolitan. Banyak gedung pencakar langit bergaya retro-futuristik, dengan kurva dan kaca. Bangunan-bangunan yang lebih tua telah dicat ulang dengan corak permen berwarna merah, seafoam hijau dan biru langit. Kalau dari udara memang keliatan indah. Cara terbaik menyembunyikan ketimpangan kaya dan miskin. MRT mereka hebat. 90% orang pyongyang menggunakan angkutan umum. Taksi juga ada. Orang kaya boleh punya kendaraan pribadi. Tetapi itu harus benar benar kaya dan dekat dengan elite kekuasaan. Di trotoar orang berjalan tidak nampak tergesa gesa seperti di Jepang atau Hong Kong. Penampilan mereka terkesan konservatif.  Hampir tidak pernah melihat wanita berpakaian modis.

Selama kunjungan di Pyongyang, walau Guide dan pejabat pemerintah berusaha menggambarkan kemajuan Korea Utara dengan menjadikan Pyongyang sebagai tolok ukur modernisasi Korea Utara yang bergerak menjadi negara makmur, namun ketika melihat Mall yang besar sepi pengunjung dengan SPG yang kaku, tempat wisata yang bersih dan hebat namun sepi pengunjung kecuali hari libur, itupun 80% adalah keluarga tentara. Apa yang mereka katakan itu hanyalah propaganda  dan menjadikan Pyongyang sebagai panggung teater kebohongan.  Pyongyang adalah wilayah yang dihuni oleh 0,01 populasi Korea Utara, yang merupakan komunitas elite Penguasa.

Saya tinggal di Seosan hotel, ini hotel bintang 3 dan termasuk modern. Teman saya memang menasehati jangan cari hotel bintang 5 di Pyongyang. Karena akupasinya rendah dan pasti engga bersih. Kunjungan saya ke Pyongyang dalam rangka menijau kebubutuhan rumah sederhana yang diperlukan pemerintah Korea Utara untuk merelokasi rakyatnya. Pembiayaan dari China Western Development Program, melalui Housiing development program. Saya memang datang lebih dulu sebelum team dari CWDP datang bersama dengan team UNDP.  Kedatangan saya tak lain membujuk pemerintah Korea Utara agar memenuhi standar kepatuhan program pembiayaan. Ini sangat sensitip dibicarakan secara formal. Kedatangan saya informal tentunya.

Dalam perundingan dengan elite partai dan pejabat kementerian di hotel saya. Mereka tidak begitu mengerti segala protokol kepatuhan pendanaan proyek. Namun apapun mereka tanda tangani selagi tidak ada asing terlibat dalam proyek.  Semua harus dikerjakan oleh perusahaan Korea Utara. Soal pengawasan, mereka hanya setuju bila itu dilakukan oleh China, bukan negara lain. Pembicaraan cepat sekali berlangsung setelah mereka tandatangani disclaimer akan kepatuhan standar bantuan pembiayaan proyek.

Korea Utara dianggap sebagai salah satu negara yang paling tertutup di dunia. Bukan hanya Cina, tetangga dan sekutu utamanya yang mengetahui persis apa yang sebenarnya terjadi di dalam ‘kerajaan terasing’ ini. Korea Utara termasuk dalam negara satu-partai di bawah front penyatuan yang dipimpin oleh Partai Buruh Korea dengan ideologi Juche, yang digagas oleh Kim Il-sung. Politik  isolasi merupakan cara penguasa Korea Utara memperoleh kekuasaan mutlak atas rakyatnya.  Kita tidak bisa menyimpulkan kemegawahan kota metropolitan di Pyongyang dengan kehidupan malamnya sebagai indikator makmur dan kekuatan seperti billboard di setiap sudut kota. Semua nampak kaku dan sepi serta gelap. Banyak gedung tinggi  namun tidak terawat dengan baik.  Satu satunya yang menarik adalah wanitanya, seperti guide saya. Ketika berpisah di Bandara Pyongyang, dia menangis saat menerima uang sebesar 10.000 Yuan dari saya “ Seumur hidup, saya tidak akan bisa menabung untuk dapatkan uang sebanyak ini. Saya akan selalu merindukan anda. “ Katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...