Selasa, 07 April 2020

Team Ekonomi Jokowi hebat.



Pertengahan Januari, saya dapat informasi dari Singapore bahwa pasar uang dan modal akan di hajar oleh pemain. Apa pasal? menurutnya pemerintah Indonesia engga punya uang untuk menghadapi Virus Corona. Apalagi defisit APBN sudah melebar mendekati pagu yang ditetapkan UU. Engga ada tanda tanda solusi konkrit dari Jakarta. Makanya walau BI berusaha intervensi pasar , tetap engga ada pengaruh positipnya terhadapat Rupiah. Sebagai catatan, sampai dengan akhir maret BI tekor USD 7 miliar untuk menjaga stabilitas rupiah.

Namun bulan februari saya dapat info dari teman di Jerman yang bekerja sebagai analis investasi. Menurutnya pemerintah Indonesia sedang berusaha mendapatkan dana melalui pasar the fed dengan menerbitkan global Bond bermata uang dollar Amerika. Rencana akan masuk ke bursa Frankfurt dan Singapore. Apakah itu mungkin? Bukankah pasar sedang kering likuiditas akibat pandemi COVID-19. Engga ada satupun negara yang berpikir terbitkan global bond lewat bursa. Mengapa? Kalau sampai gagal atau yield tinggi, itu bisa menjatuhkan reputasi negara. Itu akan jadi benchmark terhadap surat utang lainnya. Belakangan saya dapat informasi bahwa Deutsche Bank, Goldman Sachs, HSBC dan Citigroup, ikut terlibat mendukung penerbitan bond ini. Ada apa?

Logika sederhana saja. Kalau sampai bank papan atas mau mendukung dan global bond bisa dijual, ada dua kemungkinan alasannya. Pertama, Yield tinggi. Kedua, ada informasi valid yang membuat pasar confidence luar biasa kepada Indonesia. Ini bukan hanya data dan informasi formal. Tetapi pasti ada informasi yang tidak diketahui publik, namun sangat menentukan sukesnya penjualan bond. Kalau alasan pertama tadi, jelas itu engga sehat. Kalau karena alasan kedua, apa ? informasi apa ?

Faktanya apa yang terjadi? ternyata global bond sukses diserap pasar. Itu bukan karena alasan pertama. Karena terbukti pricing atau yield yang lebih favorable atau lebih rendah dari rata rata bond yang ada di pasar. Nah pasti karena alasan kedua. Karena mana ada investor mau beli Global bond dengan harga murah dan bertenor 50 tahun serta berkatagori unsesure. Padahal banyak pilihan yang lebih bagus. Tetapi apa?

Teman saya di Frankfurt mengatakan bahwa resiko COVID-19 bagi Indonesia itu sangat rendah sekali bila dibandingkan dengan negara lain. Ini bukan informasi abal abal. Pasti dasarnya sangat kuat. Kalau engga mana mungkin sampai mempengaruhi orang berduit beli global bond. Apalagi sejak januari sampai maret tidak ada negara yang terbitkan global bond kecuali indonesia. Daya tahan ekonomi Indonesia dianggap mampu untuk mengatasi sampai COVID 19 berakhir. Ini akan cepat berakhir dan ekonomi akan cepat recovery.

Keyakinan semakin tinggi ketika Jokowi berani mengeluarkan PERPPU stabilitas ekonom dan moneter. Artinya dukungan politik Jokowi sangat besar. Di tambah lagi komite Fed dalam vote of confidence menetapkan Indonesia sebagai mitra global untuk fasilitas REPO line. Ini menandakan pemain pasar berskala global sangat confidence, dan itu pasti ada informasi yang mereka kuasai sehingga sampai bersikap positip terhadap indonesia di tengah covid 19. Kedepan kalau rupiah stabil sesuai dengan asumsi perubahan APBN maka , itu menandakan apa yang diperkirakan oleh IMF ada benarnya. Bahwa indonesia termasuk salah satu dari tiga negara di dunia yang kuat di tengah krisis ekonomi dunia dan COVID19. Yang menilai pasar, bukan politisi atau pengamat. Pemain pasar engga pernah salah menentukan sikap. Karena mereka bukan kumpulan orang bokek yang ngayalnya tinggi.

***
Kalau anda mau membuka data indikator ekonomi lewat situs BI atau BPS, dan sedikit punya pengetahuan analisis, sangat mudah mengetahui secara pasti bahwa keadaan ekonomi kita sangat buruk, sebetulnya kita sudah krisis dan mengarah ke resesi. Mengapa saya katakan itu ? ada tiga faktor indikatornya.

Pertama, defisit APBN terus melebar. Karena rendahnya realisasi penerimaan pajak. Pajak rendah karena orang tidak bisa menciptakan laba lebih dan transaksi barang dan jasa tidak terjadi secara normal. Total pendapatan negara per Februari 2020 mencapai Rp  216,6 triliun atau turun 0,5% dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy). Terjadi defisit Rp 62,8 triliun. Jadi kalau lockdown dilakukan desember 2019 atau Januari tanpa persiapan, negeri ini sudah pasti masuk ke jurang resesi. Yang pertama kena adalah perbankan, dan ini sistemik sekali terhadap sitem perekenomian nasional. Dampaknya pasti chaos sosial dan politik.

Kedua, mitra dagang Indonesia di luar negeri juga mengalami hal yang sama. Sama sama defisit. Bahkan kita jauh lebih baik dari mereka. IMF mengatakan hanya tiga negara yang bisa dikatakan mendingan yaitu China, India dan Indonesia. Akibatnya pertumbuhan ekonomi tidak akan mencapai target diatas 5%. Kemungkinan akan mencapai maksimum 2%. Jadi benar benar krisis. Kalau pertumbuhan jatuh di bawah 0, maka kita masuk ke jurang resesi.

Ketiga, karena fostur ekonomi kita itu lebih dari 50% adalah konsumsi domestik, maka dengan adanya PSBB , otomatis konsumsi akan drop terutama sektor wisata dan eceran. Tanyalah sama pengusaha eceran dan hotel, pasti mereka mengeluh. Bahkan sudah ada yang mem PHK karyawannya. Kalau sampai akhir juni masalah COVID-19 ini tidak diatasi , pasti akan terjadi gelombang PHK. Karena sektor ecerah jatuh, tentu memukul industri yang padat karya.

Solusinya apa? Karena dunia usaha tidak bisa memberikan penerimaan pajak sesuai yang ditargetkan, maka itu artinya ekspansi ekonomi tidak bisa lagi sepenuhnya dilakukan secara konvensional. Negara harus leading melakukan ekspansi. Secara teori, kebijakan ekspansi itu bersifat inflatoir atau menimbulkan dampak inflasi. Tetapi dalam hal ini dampaknya tidak significant. Karena cadangan devisa walau sempat drop tetapi nilainya tetap lebih dari cukup. Artinya tabungan gede. Tingkat inflasi rendah karena lancarnya distribusi barang dan jasa. Kita tidak menerapkan lockdown tetapi PSBB. Artinya ekonomi tetap bergerak walau lambat. Tetapi kita tidak jatuh ke jurang resesi.

Dengan adanya kebijakan PSBB yang membutuhkan dana tambahan Rp. 405 T, defisit makin melebar. Mengapa? karena sampai maret APBN tetap defisit. Itu sebabnya, pemeritah harus cari solusi pembiayaan APBN. Tanpa ada perubahan UU atas batasan pagu defisit jelas pemerintah tidak bisa terbitkan surat utang (SBN). SBN diterbitkan dengan BI sebagai the last lender. Artinya kalau pasar tidak bisa menyerap, BI akan membelinya. Makanya perlu PERPPU terhadap UU BI. Agar BI bisa membiayai defisit APBN.

Yang membuat saya kagum, solusi itulah yang pemerintah lakukan. Menteri bidang Ekonomi, dan BI merupakan team yang sangat solid. Dan mereka bisa solid memberikan solusi yang luar biasa itu karena  kehebatan Jokowi memimpin mereka. Jokowi tetap tenang dan tidak panik dalam kondisi terburuk, para menteri diminta focus kepada solusi. Kritik darimanapun diterima namun tidak membuat stabilitas politik terganggu. Sehingga kepercayaan publik meningkat. Jual Global Bond dalam mata uang US pun dengan nilai terbesar dalam sejarah, tetap aja didukung oleh lembaga keuangan kelas dunia dan soldout Padahal bond itu berkatagori unsecure alias tanpa collateral. BI dapat fasilitas REPO line dari the fed sebesar USD 60 miliar. Pemberian fasilitas itu bukan atas dasar politik tetapi atas dasar vote of confidence.  Artinya likuiditas Dollar terjamin dalam nilai raksasa. Hebat, kan. 

Karena solusi itu butuh dukungan DPR, bagaimana kalau DPR menolak?. Engga usah kawatir. Solusi itu tetap jalan. Karena dasar PERPPU tentang stabilitas ekonomi diterbikan sudah sesuai dengan UU, yaitu negara dalam keadaan genting. Tidak ada satupun orang bilang kita engga genting corona. Tanyalah sama oposisi dan Anies. Genting bangeeet. Pakai bangeet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...