Selasa, 19 Maret 2019

Toll langit.



Dari Beijing saya berangkat ke Guangzho untuk melihat fasilitas logistik. Saya berniat membangun pusat logistik di Indonesia. Dalam perjalanan menuju stasiun direktur saya memesan ticket melalui smartphone nya. Di dalam aplikasi itu sudah ada jadwal keberangkatan. Kita tinggal pilih jam berapa. Sampai di stasiun kereta, tidak ada orang china antri beli ticket. Kalaupun ada yang antri itu pasti turis asing. Saya masuk gate stasiun tidak perlu perlihatkan ticket dan tidak ada petugas mengawasi. Saya cukup tempel passport saya maka gate sudah terbuka. Mengapa ? karena saya sudah memasukan data wajah saya melalui face application sejak tahun lalu di China. Di gate itu ada kamera yang bisa mengenali wajah saya sesuai dengan passport. Didalam kereta tidak ada petugas yang memeriksa ticket saya. Waktu ingin pesan makanan, saya tidak perlu bayar tunai. Cukup tempelkan QRC pada smartphone saya, pembayaran selesai.

Sampai di Guangzho, saya langsung ke pusat logistik. Kalau anda berkunjung ke Pelabuhan atau terminal, anda membayangkan suasana yang semrawut dengan banyaknya pekerja hilir mudik. Tetapi di era sekarang pusat logistik itu seperti pusat kawasan komersial modern dimana taman kota dan pusat rekreasi termasuk restoran tersedia. Suasana kesemrawutan pelabuhan atau terminal itu tidak nampapk sama sekali. Mengapa ? karena semua dikerjakan dengan sistem IT.  Setiap kendaraan yang masuk ke pusat logistik, sopir cukup menempelkan gadget nya ke gate. Gate terbuka. Selanjutnya truk standby di tempat parkir. Dalam beberapa saat akan datang  forklift  membawa barang sesuai pesananan. Semua diarahkan oleh komputer lewat IT system.

Yang mengagumkan adalah di dalam pelabuhan itu ada ribuan kontainer di lapangan dan ribuan jenis barang yang terdapat didalam gudang. Hebatnya forklift yang diremot oleh komputer system dapat menemukan dengan tepat dimana barang itu berada dan mengambilnya untuk diantar dimana truk itu parkir. Perhatikan proses ini. Memang keliatan sederhana.Namun sesungguhnya tekhnologi dibalik itu sangat rumit. Pertama, data barang disimpan di server memuat data setiap item barang dimana lokasinya, nama rak nya, dan lain. Kedua,  Server itu dapat diakses dengan beragam aplikasi pendukung, seperti pencatatan barang, kepemilikan, prosedur penyimpanan dan  pengiriman, pembayaran uang sewa gudang dan jasa pendukung lainnya. Ketiga, server itu dapat diakses tidak harus menggunakan komputer tetapi dapat juga diakses dengan Smartphone. 

Nah bayangkan kalau itu semua dikerjakan oleh manusia tentu ribuan pekerja harus disediakan. Kalau hanya diakses oleh komputer tentu supir truk harus bawa dokumen untuk diserahkan kepada petugas operator komputer. Sibuknya luar biasa. Tetapi berkat teknologi cloud semuanya jadi mudah dan efisien. Munculnya teknologi baru ini, atau dikenal sebagai Revolusi Industri Keempat (atau Industri 4.0), akan memodernisasi segala aktifitas bisnis dan sosial. Nah apa saja infrastruktur agar tekhnologi cloud itu dapat di terapkan. Harus menyediakan server, perlengkapan jaringan, sumber daya penyimpanan, dan perangkat lunak yang diperlukan untuk membangun aplikasi yang dapat diakses oleh cloud. Dalam infrastruktur cloud, aplikasi dapat diakses dari jarak jauh menggunakan layanan jaringan seperti jaringan area luas (WAN), layanan telekomunikasi, dan Internet.

Dari segi penyediaan server, Big Data,perangkat lunak itu disediakan oleh perusahaan provider yang disebut dengan Cloud service provider (CSP). Namun investasi ini sangat mahal. Orang tidak takut untuk invest asalkan tersedianya infrastruktur jaringan. Contoh munculnya bisnis unicorn dan datacorn itu karena didukung oleh tersedianya jaringan berupa fiber optik dan satelite. Dalam hal kasus Google atau Amazon, Alibaba, facebook, mungkin mereka tidak ada kesulitan membangun sendiri infrastruktur jaringan. BIsa Joint dengan network provider, atau melakukan Buy out. Tetapi bagaimana dengan perusahaan start up yang tidak ada modal menyediakan infrastruktur itu? Makanya negara wajib mengeluarkan kebijakan agar tersedianya infrastruktur jaringan itu. Istilah inilah yang disebut Toll langit oleh Ma’ruf Amin.

Dengan tersedianya jaringan internet yang luas maka Cloud service provider (CSP) akan berkembang untuk melayani berbagai aplikasih bisnis tanpa orang harus bangun sendiri infrastrutur. Ini akan membuat semua bisnis dari rumah sakit, perhotelan, perkantoran, industri, agriculture, logistik, perbankan, perdagangan dan jasa dll  dapat menggunakan teknologi cloud. Termasuk penyediaan big data untuk kependudukan yang terverifikasi secara blockchain,  baik untuk transaksi maupun urusan admintrasi pemerintahan. Apakah indonesia mungkin menerapkan tekhnologi cloud itu ? sangat mungkin. Lembaga riset eMarketer memproyeksikan, pengguna smartphone di Indonesia akan terus berkembang pesat hingga tahun 2019, dan saat ini masuk tiga besar untuk kawasan Asia Pasifik, setelah Tiongkok dan India.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Perjuangan membela kaum tertindas.

  Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Gunuang Omeh, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 2 Juni 1897. Ayahnya pegawai kesehatan hindia Bela...