Jumat, 29 Maret 2019

Kesadaran menjadi manusia



Di luar hujan masih lebat. Bersama teman saya duduk santai Lounge executive hotel dikawasan Thamrin. “ Kamu tahu, secara pribadi saya tidak setuju dengan kepemimpinan Jokowi tetapi karena memikirkan bangsa yang terlalu besar populasi dan luasnya, saya rasa memilih Jokowi adalah cara kita menebus dosa akibat dari kebijakan masa lalu yang membuat  kita kita ini kaya dan para pejabat hidup mewah. Bayangkan saja, negeri yang kaya akan segala sumber daya hanya memberikan kemakmuran kepada segelintir orang. Pengusaha, pejebat, elite partai dan para petinggi Ormas dari kelas gurem sampai kelas nasional. Sementara rakyat kecil hanya dapat janji. Kalau rakus sudah terlalu  maka dibagilah subsidi harga dan layanan publik. Tetapi itu hanya sekedar pembujuk tangis dan memperkuat harapan agar tidak putus asa saja.” Kata teman. Saya hanya tersenyum. 

Kamu kan tahu betapa ribu triliun pengusaha menggelapkan uang pajak dari ekspor CPO, tambang. Kita bentuk perusahaan cangkang sebagai buyer di Singapore atau Hong Kong. Perusahaan itu menjadi vehicle kita berhubungan dengan end buyer. Kontrak penjualan dan invoice kepada perusahaan cangkang itu kita buat harga murah. Agent fee kita perbesar. Akibatnya laba perusahaan jadi rendah. Pajak jadi rendah. Sementara penjualan kepada end buyer tinggi. Selisih harga antara perusahaan cangkang denga end buyer kita parkir diperusahaan cangkang yang bebas pajak. Tidak ada yang bisa lacak uang itu karena nama kepemilikannya kita samarkan. Lanjutnya. Saya hanya tersenyum.

Kalau kita butuh dana untuk investasi dan ekspansi di Indonesia. Dana yang parkir atas nama perusahaan cangkang itu kita create sebagai sumber hutang kita. Ya kita hutang dengan kita sendiri. Bunga kita perbesar. Agent fee kita perbesar. Angsuran kita perbesar. Akibatnya laba perusahaan jadi kecil dan pajak juga jadi rendah. Lagi lagi keuntungan real perusahaan dalam negeri mengalir ke perusahaan cangkang. Kadang sangking gilanya, bukan hanya itu. Kita beli bahan baku dan barang modal, menggunakan seller dari perusahaan cangkang dengan harga tinggi. Dan kemudian perusahaan cangkang itu membeli ke end seller dengan harga rendah. Akibatnya cost produksi jadi tinggi dan laba turun. Pajak jadi rendah.

Belum lagi cara kita selama ini membobol APBN melalui bank dengan canggih. Modalnya hanya lobi elit partai agar dapat menekan bank menyalurkan kredit program, seperti EPC loan untuk proyek APBN. Kredit bank kita salurkan sebagian ke Perusahaan cangkang dengan alasan pembelian barang modal dan jasa konsultant. Tentu itu terjadi karena dukungan dari penanggung jawab anggaran dan anggota DPR. Harga di mark up atas dukungan dari penanggung jawab anggaran dan DPR. Dan EPC loan dari bank itu yang bayar adalah APBN setelah proyek selesai. Semua nampak bersih dan profesional. Benar benar konspirasi yang apik antara pejabat, DPR, banker, dan kita sebagai pengusaha. Katanya. Saya hanya tersenyum.

Tetapi sejak era Jokowi, sejak adanya tax amnesti, semua rekayasa business yang selama ini memanjakan semua orang, tidak bisa lagi. Kalaupun bisa sangat mudah terbongkar. Karena sistem keterbukaan yang bisa menjerat siapa saja masuk Bui. Kurang hebat apa itu SN? masuk juga. Kurang hebat apa itu Johanes Kotjo? masuk juga. Kurang hebat apa itu LIPPO, kena juga. Bahkan ada beberapa direktur konglomerat Kebun Sawit, kena juga. Kurang hebat apa Kelompok naga sembilan? udah ada yang masuk bui. Belum lagi sebagian kasusnya digantung sampai waktunya mereka pasti kena. Dampaknya banyak pengusaha rente tiarap. Para elite politik dan pejabat semakin kering income. Tidak ada lagi donasi dan komisi mengalir ke ormas. Semua meradang dalam keadaan kering kerontang. Semua itu karena ulah Jokowi. 

Ya kita tidak bisa marah kepada Jokowi. Karena dia sendiri tidak menikmati kekuasaan yang dia pegang. Padahal kalau dia mau seperti presiden sebelumnya  tentu dia akan kaya raya. Tetapi itu tidak dia lakukan. Kepada semua orang dia baik tetapi dia tidak pernah menghargai korup dalam bentuk apapun. Walau teman sekalipun dia tidak peduli. Tidak akan dia gunakan kekuasaan untuk membantu agar orang bebas.  Bahkan pengusaha yang merasa sangat berjasa memenangkannya , juga tidak dapat fasilitas kemudahan untuk merekayasa bisnis. Teman satu partai  dia sendiri , tetap tidak aman dari kejaran KPK.  Memang di era Jokowi, kita semua di paksa untuk berubah. Berubah menjadi orang baik. Tentu yang tidak mau mendukung dan memilihnya adalah mereka yang tidak mau berubah menjadi orang baik. Tetapi untuk apa uang dan harta? kalau caranya salah.  Emang uang dibawa mati?

Saya lirik keluar. Nampaknya hujan telah reda. Teman saya menikmati kopinya sambil mendengarkan lantunan lagu “ If You understand” dari George Baker. If you understand, why the sky is blue. And it is so easy, to be a human too .. Saya tersenyum menyaksikan teman saya ikut melantunkan lagu itu. Ya engga sulit untuk menjadi manusia, yang membuat langit biru dengan cinta. Memilih Jokowi adalah pesan cinta kepada rakyat miskin yang ada di desa dan dipinggiran indonesia yang puluhan tahun merintih dalam doa agar lahir pemimpin yang benar benar amanah untuk mereka…Tidak dengan retorika tetapi perbuatan, dan pengorbanan. Untuk cinta tentunya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Cebong dan Kampret

  Dulu di  Yunani orang yang dikenai hukuman, budak, pengkhianat, di cap dengan tato pada dada dan punggungnya. Cap itu akan melekat selaman...