Minggu, 20 Januari 2019

Generasi first class




Saya termasuk tergolong tua. Tahun 2024 nanti usia saya akan 60 lebih. Tapi saya senang melihat orang yang dibawah usia saya lebih cerdas. Lebih tanggap terhadap situasi yang ada. Punya integritas. Mereka yang saya temui dalam keseharian saya adalah mereka para profesioanal muda dan juga para politisi muda. Ada tiga kelompok tempat mereka berada. Satu jalur profesional. Satu lagi jalur politik, dan lainnya jalur Business. Ketiga jalur inilah mereka eksis. Dari kelompok profesional ada Archandra Tahar yang kini jadi Wamen ESDM. Budi Gunadi Sadikin yang kini dirut Inalum ( Holding BUMN Tambang). Dari kelompok politisi ada Ridwan Kamil, sekarang Gubernur Jabar. TGB Gubernur NTB, Politisi Golkar. Ganjar pranowo, politisi PDIP. Ada juga Ibu Risma, Politisi PDIP. Nusron Wahid, Politisi Golkar. Budiman Sujatmiko, politisi PDIP. Dari kelompok bisnis , Eric Tohir. Nadiem Makarim, Haryadi Sukamdani, Airlangga Hartanto.

Banyak lagi yang lain yang tak saya sebut satu persatu. Mereka jelas orang hebat. Tidak kurang militannya berbuat untuk negeri ini, yang pantas menjadi pemimpin nasional. Namun mereka memilih diam dari hiruk pikuk politik. Dari ketiga kelompok anak muda ini, hadir melengkapi kehidupan social , politik ,ekonomi kita. Mereka adalah orang orang yang cerdas dan tidak inferior complex. Tampil percaya diri dengan segala sikapnya. Mereka enampakan sosok yang mengagumkan kita. Mereka muda , lulusan universitas didalam maupun luar negeri ,berwawasan luas, negosiator ulung dan bersemangat tinggi pantang menyerah.

Sebuah fakta bahwa tidak perlu ada kecemasan akan hilangnya generasi First class. Akan selalu tampil dalam catatan sejarah para kaum muda untuk menggantikan estapet para orang tua. Namun, mereka tetap saja bagian elite negeri ini. Mereka eksis karena situasi politik dalam sistem demokrasi yang memang memungkinkan mereka bisa tampil ke panggung politik naisonal. Seperti halnya Jokowi yang tadinya pengusaha menjadi politis. Ini hokum di alam demokrasi untuk terjadi estapet kepemimpinan nasional. Saya tidak mengatakan orang tua lebih baik daripada orang muda. Stikma orang tua lebih wisdom daripada orang muda , sudah seharusnya dihilangkan dalam budaya kita. Bagaimanapun mereka adalah anak zaman yang berhak menuntut porsinya. Sudah saatnya kita mempercayai mereka. Kalau tidak, kapan lagi ?

Hanya yang harus digaris bawahi. Para orang muda harus pandai membaca sejarah orang tua. Bahwa tak banyak yang bisa diteladani dari generasi tua, kecuali rasa syukur bahwa kalian para generasi muda memiki rumah sendiri bernama ‘Indonesia. Simaklah kata kata dari Pramoedya Ananta Toer “ kami adalah generasi yang gagal. “ Hanya hal yang patut dijadikan pijakan bahwa kekuasaan karena ingin mengejar harta adalah kezaliman, kekuasaan karena amanah Allah adalah kemuliaan.. Membangun business tanpa Etika moral adalah animal business. Membangun business untuk kepentingan stakeholder adalah hero. Mengembangkan karir managerial tanpa visi enterprenueship adalah pengekor alias budak. Professional yang entrepreneurship adalah pembaharu.

Itu semua tertulis dengan jelas dalam buku sejarah orang tua kita. Yang baik ditiru dan yang buruk dihapus. Jangan ulang lagi kesalahan generasi tua. Jangan lagi. Ingatlah disebelah sana jauh dari tempat kalian tinggal ada kumpulan diam para kaum duapa harta dan ilmu. Mereka ada dipelosok desa, dibalik gunung, dipantai, dibalik gubuk reot. Mereka tak pernah berhenti menanti uluran tangan para orang berilmu dan berharta untuk melindungi mereka dengan cinta. Maka mulailah berinprovisasi untuk lahirnya visi Indonesia kedepan. Kita berharap Indonesia ditangan orang muda akan lebih baik, setidaknya orang muda dapat belajar dari kesalahan orang tua dan menjadikan hal yang baik dari orang tua sebagai inspirasi membangun kejayaan negeri ini. Ingatlah kata kata Soekarno “Kalau pada saya diberikan seribu orang tua, saya hanya dapat memindahkan gunung semeru. Tapi kalau sepuluh pemuda bersemangat diberikan kepada saya, maka seluruh dunia dapat saya goncangkan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...