Kamis, 14 Juli 2022

Salah mikir

 



“ Jel, bisa chating? kata Florence via WeChat.


“ Ya ada apa ?


“ Dunia tercengang meliat kemajuan Indonesia. Geliat investasi infrastruktur ekonomi sangat luar biasa. Tapi mengapa Waskita merugi dan terjerat hutang gigantik? dan begitu juga dengan BUMN karya lainnya? Padahal di luar negeri semua jalan tol untung dan jadi rebutan investor institusi. “


“ Ya. Karena di luar negeri, jalan toll adalah fiture bisnis dari kawasan potensi ekonomi, Tidak ambil untung dari tarif, tetapi dari nilai tambah kawasan ekonomi baru akibat adanya Toll itu. Lah di Indonesia, jalan tol untuk kemudahan dan kelancaran angkutan darat. Engga bisa bedakan bisnis komersial  dan PSO. Kacau kan.”


“ Gimana dengan kereta Cepat Jakarta Bandung. ?


“ Sama saja. Kereta cepat itu untuk bisnis pengembangan TOD yang melahirkan pusat pertumbuhan baru. Untungnya dari TOD bukan dari ticket. Eh di Indonesia malah TOD hilang, yang ada bisnis jualan ticket. Ya sampai Celeng berkumis kagak akan untung. Makanya jangan kaget bila akhirnya investor ogah dengan skema B2B. Investor minta jaminan negara lewat APBN. Maka jadilah proyek kereta cepat seperti punya kendaraan mercy di jalanan kampung. Hanya digunakan gaya doang tapi gaya berongkos mahal.”


“ Duh, Gimana dengan kekayaan di Laut ? Seharusnya kita jaya di laut. Kan laut kita terluas di dunia”


“ Perikanan itu harus dikelola secara industri bukan tradisional. Karena keunggulannya bukan pada luas laut tetapi tekhnologi tangkap dan proses pengolahan. Tetapi lucunya investasi di sektor sangat kecil. Makanya Ekspor ikan juga kalah dengan Thailand dan Vietnam. Kita masih aja beretorika sebagai bangsa bahari. Tapi lucunya kita masih impor ikan sardine, bahkan garam pun masih impor. “ 


“ Cara modern itu tidak elok bagi kehidupan nelayan dan konsumen domestik. Kita harus melindungi dalam negeri ? 


“ Faktanya konsumsi ikan perkapita, kita masih negara dengan urutan ke 9 dunia di bawah Malaysia.”


“ Gimana dengan CPO ?


“ Kita negara yang lead dalam ME-Asean. Tetapi itu hanya jadi simbol hegemoni politik pencitraan kawasan saja. Nyatanya kita dibegoin oleh Singapore yang mengontrol Ekosistem financial business Sawit dan Malaysia yang kontrol harga CPO. KIta masihn aja konsumsi MIGOR curah. Sama dengan Bangladesh. Padahal kita memiliki lahan sawit terlus di dunia”


“ Benar ya bisnis CPO dikendalikan Malaysia?


“ Ya benar.”


“ Kenapa begitu?


“ Dulu kan waktu ada BPPN banyak aset dalam bentuk Kebun Sawit dilelang. Nah kesempatan ini digunakan malaysia untuk beli. Saat sekarang mereka kuasai 1,4 juta hektar lahan sawit di Indonesia. Itu kurang lebih 1/3 lahan sawit di Indonesia mereka kuasai”

“ Kan engga significant. Hanya 1/3 kok kalah?


“ Itu kan yang resmi. Kalau digabung dengan milik proxy mereka, itu bisa mencapai 3.7 juta hektar atau 70% mereka kuasa lahan sawit kita”


“ Gila ya. Terus mengapa mereka bisa kendalikan harga?


“ 90% pasar premium seperti Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang mereka kuasai. Sedangkan Indonesia hanya mampu mengekspor ke pasar nonpremium seperti China, India, dan Bangladesh. Itupun masih dikuasai oleh Malaysia. Maklum kan pasar mengikuti Bursa Malaysia Derivatives”


“ Siapa konglo mereka?


“ Ada 9 group. CBIP Holding Berhad, Felda Global Ventures Holding Berhad, Genting Plantation Berhad, IJM Corporation Berhad, IOI Corporation Berhad, KLK Berhad, Kulim Berhad, Sime Darby Plantation, dan Wilmar International. Dan semua itu pasti terhubung dengan Robert Kuok, keluarga Raja Gula ASEAN, yang memang pedagang kawakan sejak tahun 70an.


“ Kenapa bisa sehebat itu mereka?


“ Bisnis sawit itu di Malaysia sudah dikelola secara industri berbasis supply chain. Downstream mereka luas sekali. Logistik dan  stockis sudah well established, Mereka juga bangun downstream CPO di China, India dan Eropa, otomatis mereka ikat buyer utama. Kita engga begitu”


“ Ya kenapa kita engga tiru mereka?


“ Sebagian besar pengusaha kita kan mental rente. Jauh sekali untuk punya mental industriawan. Dan aturan pemerintah juga tidak mendukung. Klop dah” Kata saya.


“ Kenapa begitu sih ?


“ Saya sering liat ibu ibu pakai daster ke pasar. Padahal daster itu pakaian tidur. Pernah juga liat tissue toilet di restoran. Itu untuk lap tangan seusai makan. Padahal itu tissue seharusnya ditempelkan ke lubang anus. Itu karena kakacuaan pemikiran.   Ah mending mikirin dagang sempak aja. Engga perlu sekolah tinggi. Engga perlu merasa pintar. Karena memang bego” 


“ Sialan luh. Memang ada benarnya juga sih. Kita salah mikir terus”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...