Kamis, 28 Juli 2022

Krisis karena rakus

 



Di berita Straits Time, kemarin IMF mengatakan bahwa kinerja ekonomi Rusia jauh lebih baik daripada negara Eropa, AS dan lainnya walau Rusia kena embargo ekonomi atas serangnya ke Ukrania. Kinerja itu bisa terjadi, menurut IMF, salah satunya karena Rusia diuntungkan oleh harga energi yang tinggi. IMF juga dalam laporan terakhirnya menyebutkan bahwa diramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun deapn masih diatas 5% (5,1%) walau dunia melambat sekitar 2,9%. Bahkan CHina saja diperkirakan tahun depan melambat 4,4%.


Saya ingin cerita sedikit soal fenomena ekonomi global dalan konteks Rusia dan Indonesia. Oleh sebagian orang anggap bahwa ini anomali. Bagaimana mungkin Rusia yang diembargo dan berperang, malah lebih baik kinerja ekonominya. Bagaimana mungkin Indonesia bisa tetap survive, bahkan bisa dengan mudah melewati gelombang ganas krisis global yang sedang mengarah kepada resesi ekonomi. Baik saya jelaskan secara sederhana ala pedagang sempak.


Krisis di beberapa negara maju sekarang, sebenarnya sederhana penyebabnya. Apa itu ? rakus. Sistem perbankan mereka memompa dananya lebih banyak kesektor keuangan daripada sektor non keuangan. Engga percaya? anda bisa liat data dari bank international for settlement ( BIS), bahwa tren perbandingan credit ke sektor non keuangan terhadap PDB sejak tahun 2016 sampai tahun 2021. Zona Euro selalu negatif. AS juga negatif, hanya ada koreksi tahun 2020 rasionya positif tetapi setelah itu negatif lagi. Bahkan India, juga sama rasionya negatif. Indonesia selalu positif rasio PDB terhadap credit non keuangan.


Apa artinya? Sejak rezim suku bunga rendah, yang menikmati kredit adalah sektor keuangan. Siapa itu? ya para trader saham, valas, komoditi. Mereka begitu rakusnya menarik pinjaman lewat skema hutang atas instrument pasar uang derivative. Apa hasilnya? bubble value. Mengapa saya sebut bubble value? uang begitu banyak disuplai tetapi tidak ada yang mengalir untuk pertumbuhan sektor produksi. 


Contoh sederhana dikita . Saham GoTo 350% valuenya dari harga buku. Apakah GoTo nambah karyawannya? kan engga. Malah ngurangi karyawan. Makanya terjadi imbalance economy. Rakyat bingung. Kok inflasi sih, padahal kan kita cari uang susah. Lapangan kerja juga sulit. Belum lagi bisnis ponzy ala Pasar yang menawarkan ilusi dan too Good to be true. Ogah berkeringat, menarik uang dari kantong orang dungu yang rakus. 


Satu satunya cara mengatasi situasi itu adalah dengan menaikan suku bunga. Dengan suku bunga tinggi maka instrument keuangan jadi mahal dan kredit derivative juga terhenti. Proses market adjustment terjadi di Pasar uang dan modal. Value akan terkoreksi kepada situasi real. Semua saham blue chip terkorekasi sampai jatuh 40% marcap nya. Semua instrument pasar uang dibuang ke OTC yang lemah minat. Ya proses resesi terjadilah. Sampai kapan? Ya sampai proses market adjustment mencapai titik equilibrium.


Nah selama proses mencapai titik equilibrium itu siapa yang diuntungkan?


Ya yang punya SDA, seperti Rusia dan Indonesia, termasuk sebagian negara ASEAN. Mengapa?. pertumbuhan kredit masih dibawah 100% dari PDB. Artinya masih under capacity. Masih lapang. Dan lagi disaat krisis yang tak bisa digantikan kan SDA. Barang tekhnologi seperti elektronik, pakaian, kendaraan dan lain lain kan bisa ditunda belinya. Tetapi kebutuhan akan energi dan rantai pasokan pangan dengan downstream nya kan engga bisa ditunda. Mana ada orang mau mati engga makan dan kembali kajaman jadul tanpa energi listrik. Ya kan.

Krisis global adalah pelajaran moral termahal. Akankan manusia kembali kepada fitrahnya. Jangan rakus dan focus kepada hal yang nyata. Udah dech berbisnis halu. Kayalah lewat produksi real, bukan ilusi..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

How Democracies Die.

Saya membaca buku How Democracies Die. Itu saya baca tahun lalu. Buku itu biasa saja. Mengapa? Karena ditulis sebagai tesis atas fenomenan k...