Rabu, 23 Juni 2021

Kebebasan.



Menurut laporan World Bank, Utang luar negeri China per 2019. Tercatat, totalnya tembus US$2,1 triliun. Itu sama saja dengan   9   dari total utang Indonesia. Dengan total utang sebesar itu, menempatkan China sebagai negara pengutang terbesar di dunia untuk katagori negara kelas menengah. Tetapi harus dicatat bahwa itu bukan utang pemerintah. Bukan utang pemerintah kepada lembaga multilateral. Tetapi utang swasta kepada lembaga keuangan kelas dunia. Pertanyaannya adalah mengapa utang luar negeri begitu besar, bahkan lebih besar dari utang pemerintah? Baik saya jelaskan secara sederhana.


Ada ketentuan China bahwa PMA tidak boleh menarik laba atau membawa keluar sebelum pulang modal. Walau 1 % saham Asing, itu sudah dianggap PMA. Semetara bila swasta berutang kepada asing harus dapat izin dari  Komite hutang luar negeri dari Partai Komunis China (PKC). Syarat utang luar negeri adalah pembayaran hutang kepada kreditur harus dilakukan minimal pada tahun ke 5 setelah beroperasi. Dan tidak boleh dalam kondisi negatif cash flow. Apa artinya? baik skema direct investmet (PMA)  maupun utang, harus mengamankan pertumbuhan dalam negeri. Artinya tetap mengutamakan kepentingan demostik. 


Bagaimana kalau sampai swasta default atau gagal bayar utang. Selagi proyeknya ada dan  berjalan. Negara tawarkan pilihan kepada kreditur melalui restruktur utang. Debt to equity SWAP. Hutang ditukar dengan saham. Otomatis jadi PMA. Kalau asing tidak mau . Maka opsi kedua adalah haircut hutang melalui bailout yang dilakukan  BUMN China. Apa artinya. Kalau opsi pertama, jadi PMA, maka  harus mau bayar pajak lebih tinggi dari swasta. Opsi kedua, ya BUMN China bailout utang itu.  BUMN China dapat asset murah dan SDM yang sudah established. Apapun opsi tetap saja China yang untung,


Sejak COVID19, banyak swasta default surat utang. BUMN China seperti CIC, CDB dan lain lain, panen aset murah. Kelak kalau sampai dua tahun pandemi tidak juga rampung. Kemungkinan semua utang di-bailout oleh BUMN China. Praktis semua aset konglomerat China jadi milik negara ( BUMN China). Darimana China dapat uang? Ya cetak uang. Apa mau asing terima Yuan? Ya China tidak mengenal mata uang asing. Apapun  berkaitan dega bisnis harus mata uang China. Itu sudah diketahui asing dari awal. Mereka tahu resikonya. 


Kalau karena itu mata uang Yuan melemah gimana? ya baguslah. Harga komoditas ekpor  China semakin kompetitip. Apalagi untuk produksi mereka engga butuh banyak impor. 90% mereka punya supply chain sendiri yang hebat. Bahkan dunia industri tergantung supply chain dari China.  Smart system. Lagi lagi sistem kapitalis dibegoin sama China.


***

Investment manager Yahudi dari Morgan Stanley engga habis pikir. Ketika tahu ada municapal Bond Pemda China yang  berpotesi gagal bayar, di-bailout oleh pemerintah pusat China. Itu hanya sehari setelah dapat laporan dari konsultant atas gagalnya Pemda merestruktur utang. “ Mereka tidak paham bagaimana nilai uang. Kalau semudah itu bailout, dan itu dilakukan pemerintah. Lantas dimana artinya nilai uang? Katanya kepada saya. Saya tersenyum. Yahudi berkembang dengan mindset sains menghasilkan uang. Sementara China dengan mindset sains menghasilkan produksi.


Bagi Yahudi Uang adalah reward nyata atas effort manusia. Bagi China, produksi adalah kehormatan atas effort manusia. Kelihatan memang berbeda. Namun sesungguhnya sama saja. Yahudi walau orientasinya adalah uang. Namun mereka tidak memanjakan diri dengan uang. Mereka tebarkan uang itu lewat bursa agar spread ownwership lewat produktifitas terjadi meluas. China walau produksi meluas tidak ada merek bisnis mereka sehebat cartier  atau  Hermes atau Mercy atau Iphone. Namun mereka jadi supply chain industri secara global. 


Yang unik dari Yahudi dan China adalah soal mindset. Mereka keduanya punya prinsip sederhana. Walau Tuhan Maha Pemberi tapi Tuhan tidak kirim makanan ke sangkar burung. Burung harus terbang dari satu pulau ke pulau lain agar dapat makan. Bermigrasi ketika musim dingin ke wilayah yang ada musim semi. Setiap cara tidak ada yang salah. Namun yang pasti salah adalah merasa kemakmuran itu datang karena Tuhan. Itu sama saja melecehkan Tuhan, yang telah memberikan rezeki teramat besar. Apa itu? akal. Akal itu bisa mengubah Gunung Jaya Wijaya jadi emas. 


Otak setiap manusia semua sama. Fungsi juga sama. Cara kerja otak juga sama. Sama sama 100% berfungsi ( kecuali engga waras) untuk menggerakan panca indra. Orisinilnya manusia itu mahkluk cerdas.  Udah didesign sempurna oleh Tuhan dalam software pikiran“ bawah sadar” yang menentukan perilaku, pola pikir, sikap, kebiasaan, dan kesuksesan dalam belajar dan survival. Sebenarnya kita sudah di design Tuhan jadi makhluk lebih baik dari hewan. Itu ada pada prinsip freewill.Tetapi semua potesi itu jadi useless karena pengaruh dari luar oleh dokrim agama dan Politik. 


Dokrin itulah yang membelenggu kita sehingga tidak ada freewill. Kita terjebak dalam dimensi “pikiran sadar”. Lebih mudah mencerna yang tekstual. Terbiasa belajar dogmatis, hafalan, panutan. Kita sebenarnya tidak memiliki diri sendiri. Maka hilanglah orisinalitasi manusia. Hidup kita tergantung persepsi orang lain. Jadi seperti anjing piaraan. Akibatnya tercipta road roadblock emotion yang menjadikan kita budak pemikiran orang lain.  China besar dan Yahudi hebat bukan karena mereka manusia pilihan tetapi Tuhan tunjukan kepada kita tentang peradaban yang berkembang baik karena akal sehat, dan bersumber dari freewill. Belejarlah dari itu.


Paham ya sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...