Rabu, 04 Maret 2020

Mahathir dan Anwar Ibrahim?

Sistem politik Malaysia itu menerapkan sistem parlementer. Yang berkuasa menjalankan pemerintahan adalah PM. PM ini dipilih oleh anggota Parlemen. Para menteri berasal dari partai Koalisi. Makanya ada istilah koalisi dan oposisi di Malaysia. Tapi uniknya, Malaysia tidak sepenuhnya menerapkan sistem parlementer di mana rakyat hanya memilih partai. Di Malaysia dalam pemilu rakyat Malaysia memilih bukan hanya partai tetapi juga memilih anggota parlemen. Itu sebabnya di Malaysia, Partai tidak bisa pecat anggota parlemen, bahkan anggota partai yang duduk di parlemen bisa pindah partai atau jadi independen tanpa kehilangan korsinya. Akibatnya koalisi di parlemen sangat cair. Bisa kapan saja berubah posisi koalisi, yang tadinya mayoritas, bisa aja jadi minoritas. 

Kemarin situasi Politi memanas. Karena setelah Mahathir mundur sebagai PM, justru  yang tampil adalah Muhyiddin Yassin, orang yang sangat dia percaya dan wakil Mahathir di Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM). Padahal Mahathir tidak berharap yang tampil adalah Muhyiddin Yassin. Dia ingin terus berkuasa. Jadi bagaimana sebenarnya yang terjadi. Mengapa Muhyiddin Yassin yang muncul ? Mengapa tidak sesuai dengan konsesus sebelum pemilu 2018 dalam koalisi PH (Pakatan Harapan, yang terdiri dari Partai Keadilan Rakyat, Partai Aksi Demokratik, Partai Pribumi Bersatu Malaysia, Partai Amanan Negara, PArtai Warisan Sabah dan Organisasi Progresif Kinabalu Bersatu), bahwa bila PH memenangkan pemilu, Anwar Ibrahim akan dapat posisi PM setalah dua tahun Mahathir berkuasa. Untuk sementara Istri Anwar Ibrahim Wan Azizah, wakil PM.

Masalahnya adalah terjadi perseteruan di dalam koalisi PH ( Pakatan Harapan) antara Anwar dan wakil presiden PKR Azmin Ali. Azmin berulangkali meminta Mahathir untuk tetap menjabat sebagai perdana menteri hingga pemilu mendatang di 2023. Lupakan saja konsesus dengan Anwar Ibrahim. Padahal Azmin satu partai dengan Anwar Ibrahim.  Selain itu ada rumor menyebut Mahathir lebih suka Azmin yang menggantikannya sebagai perdana menteri ketimbang Anwar. Tentu ini membuat berang pendukung Anwar Ibrahim, yang tak henti mendesak Mahathir untuk segera menyerahkan kekuasaan kepada Anwar.  

Belakangan samakin memuncak ketidak percayaan kepada Mahathir yang menjalankan politik rasis dan cenderung berpihak kepada islamisme kelompok Melayu. Koalisi kawatir kalau Anwar terpilih maka islamisme akan semakin kokoh. Mengapa sikap Mahathir pro Islam Melayu ? Karena sebetulnya bukan karakter Mahathir yang rasis. Tetapi lebih upaya politik menarik suara dari kalangan Islam sesuai ide Anwar Ibrahim. Karena pemilu yang lalu suara Melayu Islam hanya 25% kepada koalisi PH. 75 % masih dikuasai oleh UMNO yang lebih moderat. Hanya issue dan kebjakan pro Islam yang bisa membujuk umat Islam beralih dari UMNO. Kebijakan Mahathir menggunakan bahasa dan tulisan Arab disekolah ditolak oleh internal koalisi. Mereka anggap itu suatu kemunduran dari semangat persatuan Malaysia.

Dampaknya koalisi PH pecah. 11 anggota parlemen dari PKR dan empat menteri kabinet dipimpin Azmin menyatakan keluar dari partai untuk membentuk koalisi independen. Kemudian diikuti oleh PPBM juga mengumumkan anggota parlemennya mundur dari PH. Termasuk juga anggota parlemen dari Partai DAP dari etnis Tionghoa. Keadaan ini dimanfaatkan oleh UMNO dan PAS dengan membentuk mufakat nasional untuk mengkampanyekan anti rasis dan anti islamisme. Tujuannya menarik simpatik kelompok Melayu moderat untuk mencabut dukungan kepada PH.  Terbukti memang efektif. Dalam empat kali pemilu sela, PH kalah oleh koalisi UMNO-PAS bahkan kalah telak di negara bagian Sarawak yang mayoritas muslim. Keadaan koalisi PH samakin rapuh. Itu sebab Mahathir berencana membentuk koalisi baru dengan target mendepak pendukung Anwar di pemerintahan. 

Mahathir mencoba melobi oposisi UMNO dan PAS untuk bergabung dalam koalisi baru dan bersama sama dengan PPBM, faksi PKR pimpinan Azmin dan  Parti Warisan Sabah. Pendukung anwar Ibrahim dari PKR menjawabnya dengan keluar dari koalisi baru ini. Mereka anggap Mahathir berkianat. Anwar membentuk Koalisi  dengan PKR, DAP dan Amanah. Tapi Mahathir yakin bisa mengalahkan koalisi Anwar yang ada di pemerintahan. Namun detik detik pemilihan di parlemen, Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), Muhyiddin Yassin, keluar dari koalisi itu.  Padahal PPBM adalah partai Mahathir sendiri. Dalam pemilihan, PPBM berkoalisi dengan UMNO dan PAS,  Aliansi Serawak dan beberapa partai kecil. Sudah bisa ditebak, Mahathir kalah. Pemenangnya adalah  Muhyiddin Yassin. Itu menandakan UMNO come back again dan kasus korupsi politisi UMNO Najib dkk akan tak berujung. Harapan anwar Ibrahim jadi PM sirna dan Mahathir merasa dikianati oleh Muhyiddin Yassin. Itulah politik.

Kesalahan terbesar Anwar Ibrahim adalah merasa Pede bermitra dengan Mahathir muhammad, dan yakin Mahathir bisa menjadi jalan untuk dia duduk sebagai PM. Namun faktanya dalam Pemilu, Mahathir gagal menarik dukungan mayoritas Islam moderat dari UMNO walau Mahathir alumni dari UMNO, dan dukungan dari partai Anwar Ibrahim juga tidak significant. Kemenangan koalisi PH  dalam Pemilu bulan Mei 2018, karena bersatunya partai lain yang memang tidak suka secara pribadi dengan Najib yang korup. Walau Najib didukung oleh UMNO namun secara Politik, UMNO tetap di hati rakyat Malaysia, khususnya muslim Melayu. Karena terbukti selama UMNO berkuasa etnis Melayu mendapatkan hak istimewa dibandingkan etnis lainnya. Menurut saya, tidak ada istilah kianat mengkianti antara Anwar dan Mahathir,  dan antara Mahathir dan Muhyiddin. Ini murni kalkulasi politik, dan faktanya politik identitas engga laku di Malaysia. Anwar dan Mahathir salah kalkulasi. Akibatnya keduanya tersingkir.

Kelompok Islam di Indonesia seperti PKS dan jaringan JK sangat berharap Anwar Ibrahim yang tampil jadi PM dari partai PKR, namun elite politik Malaysia dan mayoritas Islam di Malaysia engga suka politik rasis dan islamisme. Itulah yang engga pernah bisa dipahami oleh anwar Ibrahim dan kelompok Islam di Indonesia. Malaysia bukan jakarta, bukan Aceh atau Sumbar. Melayu Islam di Malaysia mayoritas cerdas dan Well educated. Engga gampang diprovokasi ayat sorga dan 72 bidadari untuk menjadi follower.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...