Minggu, 28 Juli 2019

Kau lah Mitra Ku.

“ Apakah dia tahu siapa kamu ? Tanya Danny direksiku lewat telp international
“ Tidak.
“ Dan dia pikir kamu juga tidak tahu apa jabatannya ?
“ Ya tepat sekali.”
“ Lantas bagaimana dia bisa begitu dekat dengan kamu. Hanya 5 hari, kamu sudah bisa ajak dia weekend ke luar kota.”
“ Bukan aku yang ngajak tapi dia”
“ Dia?
“ Ya. Wah itu dia sudah jatuh cinta dengan kamu.”
“ Saya tidak tahu. Selama ini biasa biasa saja”
“ Nah sekarang saatnya kamu pengaruhi dia untuk membantu kamu keluar dari masalah “
“ Tapi gimana bicaranya ?
“ Itu masalah kamu. Tapi ingat ya, Hari senin tinggal dua hari lagi. Kalau senin tidak mendapatkan dukungan otoritas, dipastikan pengiriman uang ke Beijing akan di block. Transaksi akuisisi pengambil alihan Block City akan di hentikan. Pihak penjual akan melaporkan ke Polisi karena Proof of fund, yang kamu lampirkan dalam tender international dianggap ilegible. Itu fraud. Kamu harus dapatkan lawyer untuk menghadapi masalah ini. Ini China engga mungkin kamu bisa menang”

Kereta express melaju mengantarku ke Beijing dari Jilin setelah menghabiskan weekend bersama dia. Disampingku dia terlelap dengan kepala menyandar di bahuku. Nampak tenang sekali. Walau kebersamaan sangat singkat namun terasa seperti 20 tahun. Aku tahu resiko yang kuhadapi bila tidak ada dukungan otoritas. Disampingku ada wanita tertidur, dialah sang otoriras itu.
Sudah lima hari aku mencoba mendekati dia. Segala cara aku coba untuk merebut hatinya. Sampai pada titik aku kehilangan harapan untuk menaklukannya. Mengapa ? dia terlalu baik dan tulus untuk aku manfaatkan. Dan lagi terlalu jauh bisa ku jangkau. Waktu yang singkat tidak berpihak kepadaku. Entahlah.
Saat itulah lamunanku terlempar jauh ribuan mill ke rumah. Aku teringat istri di rumah. Aku sangat merindukan istri. Sangat rindu. Ingin aku bercerita tentang keadaanku dan kebodohanku, kelemahanku. Air mata ku berlinang. Sekedar menutupi rasa bersalah dan sesalku, aku mengirim surat melalui SMS kepada istri dirumah.
Istriku,
Tak ada orang yang ingin menulis surat seperti ini, tapi aku cukup beruntung memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang sering lupa kukatakan. Aku mencintaimu, Sayang. Kamu sering berkelakar bahwa aku lebih mencintai bisnisku daripada kamu karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Tapi, tahu tidak? Aku mencintaimu karena alasan yang sama.
Aku sering mengeluh tentang bisnisku , tapi aku tak pernah mendengarmu mengeluh mengurus anak anak. Seandainya pun kamu mengeluh, mungkin aku tak mendengarnya. Aku terlalu terlena oleh masalahku sendiri sehingga tak pernah memikirkan masalahmu.Aku memikirkannya sekarang, semua yang kau korbankan untukku. Kamu tak pernah mengeluh dan entah bagaimana aku tak pernah ingat untuk berterima kasih padamu. Padahal itu sangat penting bagimu.Saat aku duduk minum kopi bersama mitra dan teman, aku selalu membicarakan business dan obsesiku , tantanganku , peluangku. Aku bangga dengan mereka. Rupanya aku lupa bahwa kamulah sebenaranya mitraku dan sahabatku.
Aku memikirkan ulang tahun mu dan ulang tahun pernikahan kita yang terlupakan. Drama sekolah dan pertandingan drumband anak anak yang kauhadiri sendirian karena aku sedang di luar rumah. Tiap kali ada acara keluarga, kamu selalu harus menghabiskan seluruh waktumu untuk menjelaskan kepada semua orang mengapa aku tak dapat hadir. Selalu ada alasan demi menjaga kehormatanku.
Waktu awal kita menikah, kamu tak tahu cara mengganti lampu. Engga bisa masak. Engga bisa setir. Tapi, setelah beberapa tahun bersamaku , kamu jadi driver yang hebat mengantar sekolah anak anak, ahli mengganti lampu,jadi koki hebat untuk memanjakan seleraku.
Bila aku di luar negeri …Aku memikirkan malam-malam sepi yang kau lewatkan seorang diri, bertanya-tanya di mana aku berada dan bagaimana keadanku. Aku memikirkan semua saat aku ingin meneleponmu hanya untuk menyapa tapi tak pernah jadi kulakukan. Aku memikirkan perasaanku yang damai karena tahu kamu berada di rumah bersama anak anak menjaga mereka dengan baik, untuk ku tentunya.
Aku banyak berbuat kesalahan dalam hidupku, tapi seandainya aku pernah mengambil satu keputusan bagus, itu adalah saat aku melamarmu. Pengorbananmu dan keteguhan hati menemaniku jualah yang akhirnya menjadikan aku seorang pria.
Sayang, ketahuilah bahwa aku bangga akan dirimu walau itu tak pernah kukatan.. Aku menganggap kamu pasti sudah tahu, tapi andai aku melewatkan waktu untuk mengobrol denganmu sama banyaknya dengan memelototi screen computer ku, mungkin aku akan mengatakannya. Masa susah, masa senang, kamu selalu ada.
Aku mencintaimu, Sayang, dan aku mencintai anak-anak, tapi rasanya sekarang alasan itu tak begitu penting. Aku ingin mengubahnya , sayang. AKu ingin kamu tahu bahwa aku tidak pernah berhenti mencintaimu.”
***
“ Kamu tidak tidur ? katanya melirik kearahku dengan kepala masih menyandar di bahu ku. Wajah kami sangat dekat. Aku membelai kepalanya dengan tersenyum. “ Tidurlah lagi. Aku baik baik saja. “ Kataku.
“ Ada apa ? bicaralah “ katanya seraya terjaga dan menatapku dengan serius.
“ Sulit cerita ke kamu. Ini masalah bisnis.”
“ Bicaralah. Setidaknya bisa mengurangi beban pikiran kamu.”
“ Perusahaan ku di Hong Kong ikut tender international untuk akuisisi block city di Beijing. Tapi sampai kini pengiriman uang dari Eropa ke Bank di Beijing belum dapat persetujuan dari otoritas. Padahal pengirimnya adalah insitusi keuangan. ” Kataku.
Dia terdiam. Nampak berpikir.
“ Tapi tidak usah terlalu dipikirkan. Ini hanya bisnis. Dari awal aku sudah tahu resiko nya. Semua akan baik baik saja. Tidurlah lagi “ kataku dengan tersenyum berusaha menenangkan dirinya. Kereta terus melaju melawati kabut musim dingin di tahun 2008.
***
Senin pagi aku terbang ke Hong Kong dengan pesawat pertama. Aku harus siap dengan lawyer untuk menghadapi kasusku. Aku tak lagi berharap keuntungan dan tidak lagi memikirkan kerugian atas gagalnya transaksi itu. Setidaknya aku bisa mengakiri love pretender kepada seorang wanita yang begitu tulus, hanya agar aku menjadi pemenang dalam akuisisi.
Aku sangat siap gagal. Tentu kegagalan transaksi ini akan menghancurkan reputasi yang telah kubangun berpuluh tahun. Kemungkinan semua asset perusahaanku akan dibekukan sebagai konsekwensi adanya pembuktian terbalik. Business ku game over. Aku sangat merindukan istri dirumah. Aku berjanji setelah kasus ini aku akan lebih banyak waktu dengan istri.
Jam 10 pagi aku mendarat di Hong Kong. Ketika HP ku buka, SMS masuk dengan pesan dari direksiku “ Kiriman uang dari Swiss ke Beijing sudah unblock, proses tender sedang diselesaikan oleh team di Beijing. Well done, brother. You won” Saat itulah aku merasa seluruh bumi ditimpakan kediriku. Aku terhempas dalam perasaan berasalah kepada wanita yang begitu tulus membantuku. Sekarang bagaimana mengatakan kepadanya aku tidak mencintainya dan hanya memanfaatkannya. Itu hanya love pretender. Semua yang kulakukan hanyalah bisnis.
Aku harus telp wanita itu. Aku harus jujur. Kalau karena kejujuran itu menimbulkan masalah maka itu lebih baik bagiku.

“ Ly “
“ Hi ...Sudah sampai Hong Kong.” Terdengar suaranya ringan
“ Ya. Ly.” kataku tapi berhenti dikerongkongan. Aku tidak sanggup melanjutkan kata kata.
“ Its OK. Saya sudah tahu segalanya tentang anda."
Aku terdiam seperti disambar petir ketika dia mengatakan tahu segala galanya tentang aku.
“ Tapi cara kamu mendekati saya, itu benar benar sempurna.”
“ Maafkan saya…” kataku tersekat.
“ Its OK. saya justru terimakasih. Cara kamu perlakukan saya sangat lembut. Di usia kepala empat, ini kali pertama saya merasa sempurna sebagai wanita. Walau saya tidak pernah menikah, namun kenal dengan kamu itu udah anugerah. Kamu orang baik dan masalah kamu selesai karena memang tidak ada yang salah. No matter what, Keep being my best friend. “
“ Sure “
“ Take care of your wife, she is the one who is right for you, not me or others. “ Katanya mengakiri pembicaraan telp.
Dalam perjalanan ke kantor dari Bandara, SMS masuk dari istri “ tadi malam mama berdoa dalam tahajud untuk papa. Entah mengapa, baru kali itu mama sampai nangis. Papa jaga kesehatan. Engga usah terlalu pikirkan kami dirumah. Kalau sudah selesai urusan, pulang lah.”
Moral Cerita. 

Suami adalah belahan jiwa istri. Keduanya dipertautkan oleh Rahmat Allah. Karenanya Istri berhak memohon kepada Allah agar suaminya tetap istiqamah dalam melaksanakan janjinya. Mencintai bukanlah memiliki tapi menjaga amanah Allah. Karena pemilik cinta sesungguhnya adalah Allah. Mintalah kepada Allah agar hati selalu bertaut dalam damai walau badai datang silih berganti. Cobaan akan terus terjadi sepanjang usia. Selagi istri dekat kepada Allah, maka dia akan menjaga kita dalam doanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...