Minggu, 28 Juli 2019

Cinta Besar



Pria muda itu menghadap tuan rumah seraya menyerahkan surat dari Mertuanya, HOS Tjokroaminoto. Pria itu mengatakan bahwa dia akan melanjutkan pendidikannya di THS (Technische Hooge-School) Bandung. Dengan kedua tangan terbuka tuan rumah menerima pria muda itu untuk ngekos di Rumahnya. Apalagi mertua Pria muda itu orang yang sangat dihormatinya. Kebetulan dia lebih banyak di luar rumah sibuk mengurus bisnisnya. Sementara Istrinya tinggal sendirian di rumah di Kota Bandung. Pria muda itu bernama Soekarno. Tuan rumah itu bernama Haji Sanusi. Istrinya bernama Inggit Garnasih.

Rumah itu berukuran 150 meter Persegi. Untuk ukuran rumah ketika itu, itu termasuk kelas menengah. Rumah itu ada enam ruangan. Ruang tamu, ruang belajar, ruang tengah, kamar, ruang tempat pembuatan bedak, dan ruang serbaguna. Soekarno mendapat ruangan paling depan. Rumah Inggit menjadi ramai karena banyak teman Soekarno yang datang. Soekarno disenangi karena kepintarannya berbicara dan mampu menjelaskan pikiran-pikirannya dengan mudah. Dan Inggit merasa hidupnya menjadi lebih bergairah dengan melayani Soekarno dan teman-temannya.

Tak terasa waktu berlalu. Setiap bangun tidur yang pertama yang dilihat Soekarno adalah Inggit. Hubungan merekapun semakin dekat. Sementara Haji Sanusi pun jarang di rumah karena sibuk berniaga dan kegiatan politiknya. Inggit lebih banyak tinggal sendirian di rumah menanti suaminya pulang. "Hanya Inggit dan aku dalam rumah yang sepi. Dia kesepian, aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan, sebagai dapat diduga. Hubungan ini berkembang," kata Soekarno.

Bagi Soekarno, kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tercapai apabila si istri merupakan perpaduan dari seorang ibu, kekasih, dan seorang teman. Ia ingin teman hidupnya bertindak sebagai ibunya. Kalau dia pilek, dia ingin dipijit istrinya. Kalau lapar, dia ingin menyantap makanan yang di masak sendiri oleh istri. Kalau bajunya koyak, ia ingin istri menambalnya. Dengan Oetari keadaannya terbalik. Dia yang menjadi orang tuanya, dia sebagai anak.

Bagaimana dengan Inggit ? Inggit dengan matanya yang besar tidak memiliki latar belakang yang menonjol. Dia sama sekali tidak terpelajar, tetapi bagi Soekarno intelektualisme tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Baginya, yang menjadi ukuran adalah sifat kemanusiaan. Inggit sangat mencintainya. Inggit tidak memberikan pendapat. Dia hanya memandang dan memperhatikan, mendorong dan memuja. Dia memberi Soekarno cinta, kehangatan, sikap tidak mementingkan diri sendiri dan itu tidak pernah Soekarno peroleh sejak dia meninggalkan rumah orang tuanya. Psikater akan mengatakan bahwa ini adalah pencarian kembali kasih sayang ibu. Mungkin juga, siapa tahu? Jika Soekarno mengawini Inggit karena alasan ini, itu terjadi secara tidak sadar. Dia waktu itu, dan sampai sekarang, masih seorang perempuan yang budiman. Pendeknya, kalau dipikirkan secara sadar, perasaan-perasaan yang dia bangkitkan kepada Soekarno tidak berbeda dengan yang dia berikan pada seorang anak kecil.

Hubungan yang semakin dekat dengan Inggit akhirnya timbul gunjingan-gunjingan dari orang-orang disekitar mereka. Agar tidak terlalu luas gunjingan itu, akhirnya Soekarno pun mengutarakan maksudnya kepada suami inggit untuk menikahi istrinya. Ia meminta Haji Sanusi untuk segera menceraikan Inggit. Entah apa yang dirasakan Haji Sanusi saat mendengar keinginan Soekarno. Sadar akan situasi tersebut, Sanusi pun rela melepas Inggit Garnasih. Bahkan dengan segala keikhlasannya, Sanusi berpesan kepada Inggit agar menjadi sandaran bagi Soekarno dan membantu perjuangan Soekarno dalam mewujudkan impiannya. Namun pada waktu bersamaan Inggit pun minta kepada Soekarno untuk menceraikan istrinya , Oetari. Soekarno menyanggupi. Usia Soekarno dengan Inggit, terpaut 13 tahun. Inggit bagaikan kakak Soekarno. Namun cinta tidak mengenal usia. Ketika Inggit telah diceraikan Sanusi dan Soekarno menceraikan Oetari, Pada 24 Maret 1923, Soekarno menikahi Inggit. Soekarno tidak pernah merasakan getaran cinta kepada Oetari. Karena sudah dianggapnya adik sendiri. Namun dengan Inggit walau usia terpaut jauh, Soekarno bisa melabuhkan cintanya. 
Bagi Soekarno, Inggit sangat penting baginya. Inggit adalah ilhamnya. Inggit adalah motivatornya. Ditengah ketidak pastian sebagai pejuang, Soekarno memang memerlukan semua itu. Dia sekarang mahasiswa di tahun kedua. Dia sudah menikah dengan seorang perempuan yang dia butuhkan. Usianya sekarang lebih 21 tahun. Masa jejakanya sudah berada di belakang. Tugas hidupnya terbentang di depan. Pemikiran awal yang dipupuk oleh Pak Cokro dan mulai menemukan bentuknya di Surabaya, tiba-tiba keluar menjadi kepompong di Bandung dan berkembang dari keadaannya itu menjadi seorang pejuang politik yang sudah matang. Dengan Inggit berada di sampingnya, ia melangkah maju memenuhi perjanjiannya dengan sang nasip”.

Kehidupan pernikahan mereka tidaklah selancar air mengalir. Soekarno yang masih kuliah di Technische Hoogeschool (THS), tidak punya penghasilan. Dengan bijak Inggit terus memotivasi Soekarno agar menyelesaikan kuliahnya dengan baik disamping kegiatannya sebagai aktivis pergerakan pada masa itu. Setelah Soekarno menyelesaikan kuliah dan dapat titel insinyur, Soekarno tidak bekerja. Ia lebih focus sebagai aktifis. Inggit harus terus mencari tambahan penghasilan agar dapur tetap ngebul. Ia tidak mendapatkan uang belanja dari suaminya. Dia harus bekerja keras untuk rumah tangganya. Beda dulu ketika dia masih jadi istri Sanusi, tidak pernah kekurangan uang.

Namun Enggit merasa bahagia, sangat bahagia. Sebagai istri aktifis. Enggit harus siap Suaminya ditangkap Belanda kapan saja. Soekarno pernah di penjara ketika masih kuliah. Setelah itu, Inggit harus melewati kehidupan rumah tangga dalam pengasingan. Masa-masa sulit dipembuangan di Ende Flores dan Bengkulu pun dia jalani dengan tegar. Dengan susah payah dihalaunya kesepian yang dirasakan Soekarno dalam pengasingan itu. Dalam umur 28 tahun suaminya sudah dipenjara, 12 tahun dari tahun-tahun terbaik seorang laki-laki di habiskan dalam pembuangan dan inggit selalu setia mendampingi suaminya.

Begitu hebatnya penilaian Soekarno tentang Inggit namun pada akhirnya ia manusia biasa yang tentu punya kekurangan dan harus berusaha mendapatkan kesempurnaan. Pada pembuangan selanjutnya ke Bengkulu, Inggit pun menemani Soekarno. Dan di Bengkulu inilah prahara rumah tangga mereka mulai meruak dengan kehadiran Fatmawati. Soekarno jatuh cinta lagi dan ingin punya anak, punya keturunan dari darah dagingnya sendiri.

Saat itu Fatmawati berumur 17 tahun, sedangkan Inggit telah menapaki usia 53 tahun. Bagaimanalah perasaan yang berkecamuk dalam dada Inggit, menyaksikan suami yang sudah bersamanya sejak puluhan tahun, yang sudah dibesarkannya dengan penuh kelembutan dan perjuangan menginginkan sesuatu yang Inggit tak bisa penuhi, di usianya yang tak lagi muda. Firasat itu sebenarnya sudah ada, perasaan bahwa Soekarno berubah perlakuan terhadap dirinya. Ditambah lagi bisik-bisik orang sekitar tentang kedekatan Soekarno dengan Fatmawati.

Namun, memang benarlah Inggit seorang wanita yang kuat. Di tengah kegalauan hatinya yang sedang berkecamuk hebat, masih terlintas pemikiran tentang hal-hal yang baik. Tidak sebersitpun pemikiran negatif tentang suaminya terlintas. "Tergodakah dia? Barangkali, ya, barangkali begitu. Sebab itu, sabarlah! Barangkali kejadian ini cuma meminta kesabaran. Barangkali cuma meminta percobaan. Barangkali cuma meminta keibuan dariku yang untuk sementara harus aku maklumi segalanya dan nantinya akan menjadi beres kembali. Tetapi, janganlah menyerah sebelum apa-apa. Jangan ribut. Tahan! Sabarlah! Bersopanlah! Sopan! Dan aku pun ikuti perasaan dan pikiran itu. Aku pun taat kepada pikiran-pikiran itu. Aku sabar. Menyabar-nyabarkan diri.”

Cinta kepada Fatmawati membuat Soekarno harus menyadari realita hidupnya bersama Inggit. Bahwa cinta dan pengabdian Inggit tidak cukup tapi ada lebih daripada itu. Inilah kata Soekarno kepada anak angkatnya “ Ibumu berusia lebih daripada Papi. Memang dia dahulu cantik. Dan, dia wanita yang setia dan bijaksana. Tetapi, Papi laki-laki dalam usia jaya. Mengertilah, Omi. Izinkanlah Papi mengawini dia.”. Seperti itukah lelaki? Itukah balasan atas pengabdiannya selama ini?

Berkatalah Soekarno kepada Inggit dengan air menggenangi pelupuk matanya, "Kalau sekiranya aku menjalani hidup yang normal dengan kegembiraan yang normal pula, mungkin aku dapat menerima kesepian karena tak punya anak. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu kecuali kemiskinan dan penderitaan. Aku sekarang berumur 40. Dalam umur 28 tahun aku sudah dipenjara, 12 tahun dari tahun-tahun terbaik seorang laki-laki kuhabiskan dalam pembuangan. Bagaimana pun, dengan cara apa pun, sebaiknya ada suatu imbalan. Aku merasa aku tidak lagi mampu menanggung beban jika yang ini juga dirampas dariku”

Inggit bersikukuh pada sikapnya yang tak ingin dimadu. Soekarno pun sempat mengalah hingga pernikahan itu tetap bertahan setelah mereka meninggalkan Bengkulu dan menetap di Jakarta. Namun, rumah tangga mereka sudah terlanjur dilanda ketegangan. Pertengkaran sering pecah di antara keduanya. Dan Soekarno sering terserang penyakit sehingga harus dirawat di rumah sakit selama berpekan-pekan. Perceraian pun akhirnya ditempuh sebagai jalan terbaik.

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, setelah talak jatuh, ia berhenti di tengah kebun teh untuk mendoakan Soekarno Inggit mengatakan: "Sesungguhnya aku harus senang pulang karena dengan menempuh jalan yang bukan bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, di gerbang hari esok yang pasti akan jauh lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai. Dan mungkin yang jauh lebih gemerlapan, lebih mewah. Tetapi apalah arti kemewahan. Yang penting adalah kebahagiaan dan itu adanya di dalam hati. Ya, yang terpenting adalah soal di dalam hati! Kebebasan, itulah yang penting….

Setelah Soekarno bercerai dengan Inggit dan menikah dengan Fatmwati, selanjutnya masa revolusi mengantarkan Soekarno menjadi “bung besar’sebagai pemimpin revolusi. Soekarno berhasil dengan impiannya untuk kemerdekaan Indonesia dan menjadikan Indonesia terhormat di mata international. Pada saat itu ,Soekarno butuh lebih dari seorang Fatmawati yang telah memberinya lima anak. Tahun 1952, Soekarno menikah dengan Hartini. Dan Fatmawati harus keluar dari Istana karna tidak rela dimadu, seperti yang dulu dilakukan oleh Inggit.

Dan setelah itu 1959 atau tujuh tahu setelah menikah dengan Hartini , Soekarno mempertistri Kartini Manoppo. Tiga tahun setelah itu atau tahun 1962 menikah lagi dengan Ratna Sari Dewi. Tahun 1963 atau setahun setelah itu menikah dengan Haryati. Setahun kemudian atau 1964 memperistri Yurike Sanger dan terakhir ketika dalam tahanan rumah , tahun 1966 Soekarno masih sempat menikahi gadis bernama Heldy Djafar. Andai ajal tak menjemput, bagi Bung Karno, seolah tak pernah ada wanita terakhir untuk diperistri.

***
Lebih 10 tahun setelah Soekarno tutup usia, barulah pada tahun 1984 Fatmawati berkesempatan untuk bertemu dengan inggit. Di hadapan wanita sepuh itu, Fatmawati Sukarno bersimpuh. Sambil berurai air mata, dia bersujud menciumi kedua kaki Inggit. Dengan terbata-bata, Fatmawati meminta maaf karena telah menjalin tali kasih dan menikah dengan Sukarno. “Indung mah lautan hampura (seorang ibu adalah lautan maaf),” si perempuan sepuh itu membalas sambil memeluk dan mengelus kepala Fatmawati.Inggit memaafkan Fatmawati yang dianggapnya sebagai anak. Ia ikhlas menjalani hari tuanya dengan berjualan bedak buatan sendiri. Ia memaafkan Bung Karno yang ketika masih sebagai mahasiswa disapanya dengan panggilan Kusno. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. 

Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi. Cinta besar inggit lah yang membuat Soekarno menjadi besar. Inggit sosok istri yang tegar, contoh untuk semua istri dan para calon istri, bahwa cinta itu melepaskan sesuatu yang pada waktu bersamaan sangat membutuhkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Perjuangan membela kaum tertindas.

  Tan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Gunuang Omeh, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, 2 Juni 1897. Ayahnya pegawai kesehatan hindia Bela...