Rabu, 01 Februari 2017

Memburu harta (26)


Dengan kendaraan Audi, Lien membawaku melaju di jalur bebas hambatan. Aku tahu bahwa semua ini sudah direncanakan sedari awal. Bahwa aku akan bertemu dengan pemilik aset. Sebelumnya, Chang juga pernah mengaku sebagai pemilik aset. Tapi ternyata dia hanya berpura-pura.
Ketika kunjungan ke Wuhan untuk bertemu dengan orang yang mengenalkan diri sebagai kerabat dari Darsa, aku yakin bahwa aku akan mendapatkan mandat. Tapi ternyata orang tua dengan paras masih muda itu, hanya memberi pencerahan tentang Soekarno. 
Tapi kini aku mengerti, skenario pertemuan dengan orang tua itu hanya sebagai acces code untuk memastikan bahwa akulah orang terpilih untuk menerima mandat menyelesaikan decade asset dari cengkraman group Fidelity.
“Tak bisa dibayangkan betapa bahagianya aku ketika menyaksikan pintu gerbang terbuka dan dipastikan kamulah orang terpilih itu,” kata Lien mengingatkan peristiwa di Wuhan.
“Apa sebelumnya kamu tidak yakin?” tanyaku.
“Aku sangat yakin. Tapi sebagian anggota teamku tidak begitu percaya. Maklum, kami sudah mencoba skenario ini berkali-kali dan hasilnya selalu gagal. Bahkan sebagian dari orang yang kami undang itu ternyata berbalik menjadi pengkhianat. 
Mereka menjadi pelacur berupah murah bagi Goup Fidelity. Kebanyakan dari mereka akhirnya membuat masalah aset ini bertambah runyam. Karena sudah masuk jaringan penipuan internasional. Group Fidelity sengaja menggunakan mereka untuk merusak citra aset ini agar publik putus asa dan kemudian melupakannya.”
“Oh begitu.”
“Ya. Tapi kamu memang berbeda. Kamu tidak mau tahu latar belakang aset ini. Kamu hanya fokus untuk terus mengajukan gugatan internasional. Ini luar biasa. Karena belum ada satupun orang yang berani bertindak sejauh itu. Walau sadar upayamu akan sia-sia namun kamu tetap teguh melangkah. 
Kami mengikuti semua peristiwa yang kamu alami. Termasuk bersama Catty di Beirut, di Singapore, pertemuan dengan Madam Lyan dan pertemuan kamu dengan temanmu, seorang pejabat tinggi itu di Ritz Carlton.”
Aku terdiam. Tak ada lagi yang bisa kusembunyikannya di hadapan Lien. Juga tak perlu ada lagi yang diragukan tentang Naga Kuning. Aku merasa yakin berada di pihak yang benar. Aku ikhlas kalau kini harus menyerahkan mandat itu kembali kepada team Naga Kuning. Karena itulah satu-satunya yang bisa dilakukan dalam posisiku yang sudah di-black list oleh asosiasi lawyer.
Kendaraan keluar dari jalur bebas hambatan dan masuk ke sebuah jalan menuju kawasan apartemen. Kawasan ini berada di pinggir kota Beijing sehingga terlihat tak begitu ramai. Sebagian besar penghuninya sibuk bekerja di kota. Mereka baru akan kembali setelah menjelang malam. Setelah memarkir kendaraan, Lien menuntunku ke sebuah kafe yang berada di pinggir kolam renang apartemen. 
Kehadiran kami rupanya sudah ditunggu. Hadir dalam pertemuan itu, seorang lawyer dan seorang lagi tidak memperkenalkan diri. Semua dilaksanakan tanpa bicara, hingga saat penyerahan dokumen yang sebelumnya ditandatangani terlebih dahulu olehku. 
Usai penandatangan, maka secara hukum aku tak lagi dalam posisi menguasai transaksi yang ada di Swiss. Semua kini berada di tangan team Naga Kuning. Mereka, lalu saling bertatap muka satu sama lain kemudian saling mengangguk. Mereka berdiri serentak. Saling berjabat tangan dan akhirnya, masing-masing pihak keluar dari kafe. Aku juga melangkah keluar bersama-sama mereka.
“Sekarang kita akan pergi ke tempat di mana kamu akan tinggal,” kata Lien. Kemudian dia berbicara dalam bahasa Mandarin kepada supir. Sang supir mengangguk sambil menyerahkan kunci mobil kepada Lien. Sejenak kemudian, Lien sudah duduk di belakang kemudi.
Kami tiba di suatu tempat setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Sebuah rumah tua dengan dikelilingi tembok yang tinggi. Di dalam rumah, nampak suasana orang-orang yang sedang bekerja dengan serius. Komputer di setiap meja hampir semuanya menyala. Jumlah pekerja yang ada sekitar limabelas orang.
“Siapa mereka? Ada di mana kita sekarang?” tanyaku heran dengan tempat yang baru kujumpai.
“Kamu ada di markas kami. Tempat ini tidak bisa dideteksi oleh radar manapun. Saluran komunikasi di sini menggunakan satelit khusus yang sengaja diluncurkan untuk melindungi segala potensi penyadapan dari orang lain. Dan mereka semua adalah anggota team kami yang bertugas melawan Group Fidelity.”
“Oh!”.
“Kamu akan tinggal di paviliun  belakang. Anggap saja rumah sendiri,” kata Lien tersenyum. Tiba-tiba seseorang menghampiri kami dengan sikap hormat.
“Ini, Han,” kata Lien memperkenalkan pria yang baru tiba.
“Mereka semua bisa berbahasa Inggris dengan baik, jadi kamu bisa berkomunikasi dengan mereka,” lanjut Lien sambil melirikku. Pria itu menjabat tangauku erat. Selanjutnya, dia membawaku ke ruang paviliun bersama Lien. Sebuah ruangan yang layak disebut kamar penthouse hotel bintang lima. 
“Bagaimana?” tanya Lien meminta pendapat atas kamar yang akan kutempati.
“Sangat luar biasa. Aku rasa ini lebih dari cukup.”
“Baiklah.” Lien ganti memandang ke arah Han, “Jaga Jaka baik-baik. Aku harus kembali ke apartemen.” Lien melambaikan tangan ke arahku dari dalam kendaraan. Sejurus kemudian, dia sudah menghilang di balik pagar.
Han menatapku sekilas. “Apakah Bapak ingin istirahat dulu atau siap untuk menerima penjelasan tentang E-banking?” tanya Han penuh hormat.
“Penjelasan E-banking?” tanyaku sambil mengernyitkan kening. “Maksud Anda?”
“Oh, ya.” Han tersenyum. “Lien memerintahkan saya untuk mengajari Anda tentang E-banking. Apakah dia tidak bilang sesuatu tentang itu?”
“Tidak,” jawabku masih terlihat bingung. “Tapi, terima kasih sekali kalau Anda mau mengajari saya. Menunggu memang membosankan,” kataku melanjutkan.
“Ok. Mari ikut saya,” kata Han sembari melangkah pergi. 
Kami memasuki suatu ruangan dengan seperangkat komputer di dalamnya. Di sebelah ruangan itu ada beberapa orang sedang bekerja dengan serius. “Nah, silahkan duduk di sini,” kata Han, menunjuk kursi di sampingnya.
“Di depan kita sekarang ada tiga buah komputer. Satu screen mengakses Euroclear, satunya DTCC dan satu lagi Clearstream,” jelas Han menunjuk tiga layar monitor di depan kami. 
“Apa yang Anda lihat di layar monitor adalah portal service dalam dunia internet. Kita akan mengaksesnya menggunakan Extranet. Ini memang layanan publik, namun ketika kita sudah memasukkan password, kita akan terhubung ke sebuah jaringan tertutup,” lanjut Han.
“Ok,” sahutku memperhatikan dengan seksama. 
Han kemudian memasukkan acces code di layar Euroclear. “Kita mulai dengan Euroclear,” kata Han. Setelah kode akses diterima, di layar monitor nampak beberapa folder. 
“Masing-masing folder ini memuat Account, Delivery, dan Settlement. Account menunjukkan jenis rekening berupa cash, gold, surat berharga dan nama bank. Delivery menunjukkan Delivery versus Payment, dan Delivery versus Guarantee. Settlemement menunjukan type of securites paper, transposition, buy and sell, forfaiting, dan transfer. Ok?”
“Ok,” jawabku singkat tanda aku paham yang dimaksud Han.
“Setiap folder mempunyai acces code security dua level. Satu di level software, satu lagi di level jaringan. Artinya, sistem ini tidak hanya melindungi pemakai lewat encryption,  tapi juga mendeteksi jaringan yang digunakan oleh pemakai. Contohnya, sistem mengenal Anda menggunakan jaringan dengan IP address  A, tapi kemudian Anda coba mengaksesnya dengan IP B, maka jaringan ini akan menolak.”
“Luar biasa,” kataku terkagum. “Jadi kalaupun orang berhasil membajak password-ku, maka tidak akan berguna kalau tidak mengakses melalui jaringan yang aku daftarkan?”
“Betul sekali,” kata Han tersenyum.
“Setiap folder menggunakan security code sendiri-sendiri?”
“Ya. Bukan hanya itu. Sistem akses juga membatasi member  berdasarkan kelas, yang mana ditentukan dari jumlah deposit. Kelas tertinggi adalah deposit di atas USD 100 juta.”
“Oh!”
“Ya. Dan lebih dari itu, dengan akses ini Anda layaknya memiliki bank pribadi berkelas dunia. Karena Anda memiliki akses untuk menggunakan routing communication  setiap bank yang terdaftar dalam sistem ini. Misalnya, Anda mau mengirim aset atau surat berharga melalui Bank A, maka Anda dapat menggunakan Bank A sebagai settlement agent,  asalkan Anda mau membayar secure fee, bill bond,” jelas Han yang cuma kupandangi dengan alis terangkat. Karena terpukau, antara kagum dan tak percaya.
Han kemudian melakukan demonstrasi, bagaimana mengakses masing-masing folder secara simulasi, dalam keadaan off line. Simulasi dimungkinkan karena setiap folder sudah didownload ke dalam server LAN mereka. 
Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memahami demonstrasi Han. Tak lain karena sistem ini didesain dengan sangat user-friendly  bagi siapa saja yang mengenal database komputer. Aku kebetulan dari dulu senang mempelajari software komputer. Penjelasan Han plus simulasinya, memudahkanku untuk memahami cara menggunakan sistem ini.
“Nah,” kata Han berdiri setelah melihatku mulai memahami sistem itu. “Saya harus kembali bekerja di meja saya. Anda boleh gunakan komputer ini, untuk berlatih sendiri. Kalau ada pertanyaan, Anda bisa hubungi saya melalui LAN access, ” lanjut Han sambil menunjukan salah satu file di terminal. 
Sudah hampir satu minggu aku berada di tempat ini. Setiap hari aku memasuki ruangan simulasi terminal access. Perkembangan wawasanku semakin luas. Aku tidak hanya mampu mengakses sistem, tapi juga mampu memahami prinsip kerja dari sistem itu. 
Setiap member bisa memindahkan asetnya dalam hitungan detik sekaligus menghapus datanya sendiri. Sehingga tidak lagi tercatat di dalam server. Setiap transaksi antar group dapat dilaksanakan dalam hitungan detik dengan jumlah tak terbatas. 
Sistem ini terhubung dengan member yang meliputi perusahaan sekuritas, perbankan, private investment dan pribadi. Antar member dapat saling berinteraksi satu sama lain dengan berbagai motif. Namun semua tindakan itu harus mengikuti prosedur yang sudah disediakan oleh sistem.
Prinisp dari sistem ini adalah level access dimiliki penuh oleh member. Sebuah digital system yang sangat luar biasa, bagai menembus ruang dan waktu. Tidak ada lagi border tempat atau negara, bahkan hukum. Di mana saja dan kapan saja dapat melakukan akses keuangan tanpa batas, luar biasa! Sebuah sistem yang membuat dunia menjadi sangat kecil dan bebas.
Selama satu minggu, Lien maupun Chang tidak menghubungiku. Namun keakraban dengan orang-orang yang ada di tempat ini membuatku tidak merasa jenuh. Tempat ini bekerja 24 jam dengan tiga kelompok staf yang saling bergantian. Staf inti tinggal di dalam. Mereka menempati paviliun yang ada di dalam, termasuk Han. 
***
Pada suatu malam, terjadi dialog menarik antara aku dengan Han. “Bagaimana awalnya Cina bersikap dengan ideologinya hingga menjadi negara besar seperti sekarang ini?” Kataku mengawali obrolan malam itu. Sebuah pertanyaan klise, tentang ideologi dan sejarah. Tapi sangat jarang diamati orang luar Cina yang cuma bisa melihat kebesaran negaranya saat ini.
“Pada bulan Maret 1961, Deng Xiaoping berpidato di hadapan sidang Politbiro  yang isinya sangat terkenal. Saya tak peduli apakah itu kucing putih atau kucing hitam, kata Deng, yang saat itu masih menjadi anggota Politbiro Cina yang menangani berbagai kebijakan pemerintah dan implementasinya. Selama kucing itu bisa menangkap tikus, itu adalah kucing yang baik. Tak penting dia kapitalis atau sosialis, yang penting dia bisa menggenjot produk pertanian dan mengakhiri bencana kelaparan dan kemiskinan. 
Dalam pidatonya, Deng Xiaoping menyesalkan cara lama yang ditempuh negerinya. Yaitu dengan pertikaian ideologi sehingga menyebabkan Cina tidak maju-maju. Karenanya ketika dia diangkat sebagai pimpinan puncak Partai, Deng Xiaoping membacakan buah pikirannya dalam pidato utama di Pleno Ketiga Sidang Komite Sentral Kesebelas Partai Komunis Cina (PKC) pada tanggal 13 Desember 1978.  Sejak itu, Cina mulai melakukan modernisasi pembangunan. Bukan dengan meminggirkan, melainkan merangkul kelompok-kelompok yang berbeda.
Cina mungkin negara besar sekarang, tapi apa yang kami alami sebelumnya adalah proses panjang melewati tahapan yang penuh gejolak dan penderitaan. Tahap awal adalah Political Emotion. Tahap kedua, Intellectual Emotion, dan Tahap terakhir adalah Spiritual Emotion. 
Pada tahap awal, Cina menanamkan kepada rakyatnya tentang sikap politik Negara yang harus diyakini dan dijadikan alat perjuangan, yaitu berada dalam satu komando barisan. 
Dalam fase ini, pelanggaran adalah kematian. Dogma demokrasi, agama atau apapun yang dapat memunculkan sikap politik berbeda, akan berhadapan dengan laras senjata. Ini karena Cina tidak ingin paham lain yang bersumber dari Barat atau lainnya, masuk dan membuat perbedaan gerakan. 
Pada tahap ini, peran Negara masih sangat dominan dalam penyediaan infrastruktur ekonomi. Sumber pendanaan didapat dari pajak pertanian. Pada tahap ini pemerintah juga merestrukturisasi sistem Partai dan pemerintahan secara menyeluruh. Tahap awal ini berhasil dengan ditandai semakin praktisnya sistem pemerintahan juga luwesnya birokrasi untuk menghadapi lompatan mimpi Deng yang jauh ke depan.
Pada tahap kedua, sistem ekonomi memasuki era ekonomi pasar bebas dan tidak lagi terkomando. Pada tahap ini, setiap orang boleh menikmati laba besar dan mengembangkan laba tersebut untuk kemakmuran pribadinya. 
“Kalau standar hidup beberapa orang lebih maju dari yang lain, ini akan menjadi contoh bagi tetangga mereka sehingga akan terdorong untuk belajar dari mereka,” ungkap Deng. 
Apa yang dilakukan Cina ini adalah sesuatu yang baru yang belum pernah diterapkan sebelumnya. Dengan bentuk baru ini, artinya Deng membalikkan peruntungan Cina dan memulai sebuah negara kapitalis sosial baru (social-capitalist state).
Namun, sistem moneter baru Deng ini, tetap mengharamkan seseorang mendapatkan laba tanpa melalui proses produksi. Bunga tabungan dan deposito dipatok sangat rendah. Ia juga mengeluarkan larangan penggunaan mekanisme pasar keuangan spekulatif. Dampaknya, setiap orang terus dipacu untuk berproduksi demi mendapatkan laba. Inilah ciri khas Cina yang tidak dimiliki oleh Negara kapitalis lain manapun. Di mana peningkatan income yang tinggi ternyata tidak diikuti dengan tingginya tingkat tabungan sebagaimana dirumuskan ekonomi kapitalis,  melainkan menjadi konsumsi yang tinggi untuk menghasilkan alat produksi lagi. 
Dengan begini, akan lahir mesin pencipta lapangan kerja yang baru bagi miliaran peduduk secara sistemik. Karena orang-orang tidak menumpuk harta yang diperolehnya dalam tabungan. Tapi mereka gunakan lagi untuk berproduksi. Dampaknya tentu saja, terbukanya lapangan kerja baru bagi orang lain. Pengangguran pun berkurang drastis.
Tahap ketiga, ketika akumulasi modal publik semakin besar dan jumlah orang kaya semakin banyak, maka saat itulah Cina menerapkan tahap spiritual emotion. Kegiatan budaya dan penghormatan terhadap eksistensi agama dijadikan pijakan, menyadarkan masyarakat agar saling berbagi dan menolong. 
Ini disadari oleh Deng bahwa kemakmuran individu, perlahan akan mengikis paham kolektif dan kebersamaan. Lama-kelamaan akan menjadi budaya dengan gaya hidup individualistis. Yang justru akan menghancurkan apa yang sudah dibangun di tahap kedua tadi. Yaitu tidak menumpuk harta, memacu produksi dan menghindari spekulasi keuangan. Karenanya pemahaman terhadap agama dan budaya mulai diperhatikan, bahkan dikembangkan secara terprogram. 
Untuk menjamin keadilan ekonomi, maka pemerintah mulai menghapuskan pajak bagi petani yang sudah berlangsung selama lebih dari 1000 tahun. Dan sebaliknya, meningkatkan pajak bagi usaha industri perkotaan. Kini saatnya orang kota menebarkan kemakmuran bagi orang desa, setelah sekian lama mendapat kucuran dana dari keringat orang desa. 
Kebijakan bagi mereka yang tertinggal ini ternyata dijadikan momentum bagi orang kota yang sudah makmur, dengan membangun industri pengolahan hasil pertanian berskala raksasa. Produksi petani yang disubsidi tersebut dimanfaatkan oleh swasta dengan memberikan jaminan pasar dan harga (price and market protective). Maka jadilah sinergi yang sangat harmonis dan tangguh antara yang kaya dan yang miskin dalam mekanisme pasar ala Cina.”
Apa yang dipaparkan Han ini sangat luar biasa. Tidak mudah menemukan grant strategy dari negara tertutup ini. Bila dilihat dari penjelasannya, nampak bahwa dia sangat menguasai garis politik dan strategi dalam negeri Cina. Han pastilah bukan orang sembarangan.
“Kami semua yang bekerja di sini tadinya adalah anggota militer. Ada yang berasal dari Angkatan Udara, Laut dan Darat. Kami mendapat didikan dan pelatihan yang berjenjang. Tapi berbeda sekali dengan cara pendidikan dulu ketika zaman Mao. Kini kami dibenarkan berpikir kritis untuk membaca dan menganalisa setiap kebijakan pemerintah,” lanjut Han mengungkapkan latar belakang dirinya.
Aku semakin mendapat gambaran jelas tentang Cina. Sistem yang mereka anut adalah cara Deng, yang tak pernah disebut oleh Karl Marx (1818-1883) dalam buah pikirannya, atau apa yang dilakukan di zaman Mao Zedong. Juga tidak sinkron dengan teori Adam Smith (1776) maupun Keynes (1836). Deng memilih yang baik dan membuang yang buruk dari pemikiran masa lalu itu, lalu menggabungkannya dengan budaya Cina. 

Dan kini, Cina sudah berada di fase terakhir, tahap spiritual emotion. Kini mereka sangat siap menjadi tuan rumah Olimpiade sebagai bentuk show off, menunjukkan kekuatan terkini mereka, kepada dunia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Fenomena Buzzer.

  Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang m...