Kamis, 08 Februari 2018

Jujurlah secara intelek


Anakku, aku tidak akan memuji situkang kayu itu yang kini jadi Presiden. Karena dia tidak butuh pujian atas segala yang dia lakukan. Baginya itu semua adalah amanah UU yang dia harus laksanakan. Aku hanya ingin mengingatkan kamu agar kamu jadi orang terpelajar yang intelek. Ketahuilah sayang, ketika Jokowi awal berkuasa, koefisien Gini terus meningkat dari 30 poin pada tahun 2000 menjadi 41 pada tahun 2014, yang merupakan rekor tertinggi. Koefisien Gini Indonesia saat itu sama seperti Uganda dan Pantai Gading, serta lebih buruk dari India. Sementara mengacu data Credit Suisse, 1 persen orang terkaya di Indonesia menghimpun separuh total aset negara ini.

Anakku, kamu tahu sayang, petani yang merupakan mayoritas rakyat indonesia semakin terpuruk selama 10 tahun SBY berkuasa. Dengan ditandai nilai tukar petani turun 0,92. Janji akan membagikan tanah kepada petani 9 juta hektar hanya ada dalam rencana tanpa direalisasikan. Pembakaran hutan terus terjadi untuk kebun besar juragan kaya. Oh di Era SBY harga sembilan bahan pokok terjamin. Tetapi tahukah kamu, karena itu negara kehilangan uang Rp 3000 triliun untuk subsidi BBM. Dan karena itu semua rencana hebat SBY dalam pembangunan hanya menghasilkan tumpukan kertas saja.

Sementara ketika Jokowi berkuasa, kas kosong. SBY mewariskan utang kepada Jokowi, diperkirakan setiap hari Indonesia harus bayar bunga utang sebesar Rp. 300 miliar atau setiap jamnya sebesar Rp. 13 miliar, atau setiap detik jantung berdetak negara harus bayar bunga sebesar Rp. 220 juta. Ini tidak termasuk cicilan yang harus dibayar. Sementara kemampuan membayar pada tahun 2014 tida ada lagi. Anggran minus setelah di potong belanja. Di samping itu angka pertumbuhan penduduk yang tinggi dengan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) mencapai 1,49 % per tahun. Setiap tahunnya penduduk Indonesia bertambah 4 hingga 5 juta jiwa. Itu berarti setiap hari lahir 10.000 bayi atau setiap detik jantung berdetak lahir 7 bayi Indonesia.

Jokowi sadar bahwa keadaan ini bagaikan bomb waktu yang kalau tidak segera diselesaikan bisa berdampak kepada chaos sosial. karena sangat mudah di provokasi oleh petualang politik untuk merebut kekuasaan. Tetapi apakah Jokowi pernah menyalahkan pemerintah SBY ketika kalian berkeluh kesah atas karya nyatanya. Padahal SBY berkuasa di back up oleh partai Islam seperti PKS, PKB, PPP, PAN. Kemana saja mereka itu. Mengapa kalian tidak bertanya kepada partai islam itu? Dan kini sebagian partai islam memprovokasi kalian bahwa mereka pembela orang miskin. Apakah mereka lupa bahwa suka tidak suka mereka ikut bertanggung jawab mengakibatkan rasio GINI melebar.

Sebetulnya Jokowi bisa saja menerima APBN 2014 tanpa harus di koreksi. Artinya jalankan saja kebijakan yang ada. Toh kekuasaan di Indonesia bukan hanya bergantung kepada seorang presiden tetapi juga legisltatif dan Yudikatif. Dan lagi Jokowi bukanlah elite partai yang tidak harus menanggung resiko politik atas kegagalannya dalam memimpin negara. Apalagi dia terpilih secara langsung oleh rakyat. Tentu sebaiknya dia teruskan saja program populis SBY dengan memberikan subsidi BBM agar harga bahan pokok stabil dan tetap mempertahankan anggaran yang berat di ongkos agar uang terus mengalir untuk memicu konsumsi domestik. Tetapi Jokowi mengambil resiko dengan mengubah APBN. Mengapa ? agar ledakan penduduk dan beban utang bisa diatasi segera mungkin sebelum semua sudah terlambat seperti venezuela.

Memang kalau sampai sekarang masih terasa dampak yang tidak membuat kita nyaman atas kebijakan Jokowi, itu disebabkan dampak obat penyembuhan ekonomi yang sedang berlangsung, yang tak mungkin kesalahan puluhan tahun dapat disembuhkan dalam waktu 5 tahun Jokowi berkuasa. Tetapi proses penyebuhan itu telah terjadi. KIta tidak sampai jadi negara gagal seperti Venezuela. Index ekonomi tadinya di Era SBY merah kini sudah positip semua. Investasi terus mengalir agar negara dapat membayar hutang kesalahan masalalu, dan mendapatkan pajak untuk mengongkosi subsidi pendidikan agar kamu nyaman kuliah dan bila tamat bisa bekerja tanpa harus jadi beban sosial negara.

Tahukah, Nak, Jokowi sangat mencintai rakyatnya terutama mereka yang miskin namun negara tidak punya uang tanpa ada orang kaya berbagi lewat pajak. Memanjakan orang kaya itu nak, agar orang miskin bisa di urus. Bijaklah. Kamu tidak perlu berterimakasih kepada Jokowi kalau tidak mau. Tetapi berterimakasihlah kepada para insinyur. Mereka adala kakak kamu. Mereka bekerja siang malam menembus belantara hutan Papua agar saudara kita di Papua mendapatkan keadilan. Yang bekerja keras membangun jalan toll di sumatera agar keadilan ekonomi dirasakan pula oleh orang sumatera. Negara ini hebat karena rakyatnya hebat dan pemimpin bukan hanya bisa beretorika dan buat rencana, tapi karya nyata. Jangan sampai kelak kamu jadi kaum terpelajar tapi engga intelek. Jangan ya sayang

Sumber : Jalan Sepi.
Order : WA 081212199662
atau 089686872425


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Fenomena Buzzer.

  Waktu revolusi kebudayaan di China, semua simbol pemikiran dokrin terhadap feodalisme dihancurkan oleh rakyat jelata. Tempat ibadah yang m...