Rabu, 13 Maret 2024

China dibangun dengan mindset modern



 




Kalau kita melihat situasi China sekarang dan negara maju lainnya. Kita harus memberikan hormat kepada sains. Mengapa ? China adalah laboratorium Sains raksasa. Apapun kebijakan China dibidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, didasarkan kepada kajian sains yang lahir dari pusat riset.  China berhasil memberi makan hampir 20 persen populasi dunia dengan hanya 9 persen lahan subur di planet ini. 


PDB China melonjak dari RMB67,9 miliar pada tahun 1952 menjadi RMB101,6 triliun pada tahun 2020. Sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, PDB Chuna menyumbang lebih dari 17 persen dari total PDB global. Dari tahun 1979 hingga 2020, pertumbuhan PDB tahunan gabungan Tiongkok adalah sebesar 9,2 persen. Memimpin dunia dalam skala dan luasnya, Tiongkok telah menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi dunia sejak tahun 2006, dengan kontribusi tahunan rata-rata lebih dari 30 persen.


Perubahan iklim merupakan tantangan bagi umat manusia. Seperempat dari kawasan vegetasi baru di dunia selama dua dekade terakhir telah ditambahkan oleh Tiongkok, yang sejauh ini merupakan jumlah terbesar dibandingkan negara mana pun. Ini adalah negara dengan sumber daya hutan baru yang paling luas. Tiongkok menduduki peringkat teratas di dunia dalam hal penggunaan energi baru dan kemajuan dalam konservasi energi.  


Antara tahun 2015 dan 2020, konsumsi energi per unit PDB turun sebesar 13,2 persen dan emisi karbon turun sebesar 18,8 persen. Pada tanggal 1 November, Presiden Xi Jinping mengajukan tiga proposal untuk mengatasi perubahan iklim termasuk menjunjung tinggi konsensus multilateral, fokus pada tindakan nyata dan mempercepat transisi hijau pada KTT Pemimpin Dunia pada Sesi ke-26 Konferensi Para Pihak (COP26) ke Amerika. Konvensi Kerangka Kerja Negara tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).


China  menempati peringkat pertama dalam hal perdagangan barang dan cadangan devisa, dan peringkat kedua dalam hal perdagangan jasa dan pasar konsumen. Pada tahun 2020, negara ini merupakan penerima investasi asing langsung terbesar. China adalah mitra dagang terbesar bagi lebih dari 50 negara dan wilayah termasuk Malaysia, dan salah satu dari tiga mitra teratas bagi lebih dari 120 negara dan wilayah secara keseluruhan. 


***


Dari awal sejak reformasi China masuk kepada ekonomi pasar, kapitalisme. China tidak begitu saja mengadopsi Kapitalisme seperti literatur Barat, yang cenderung liberal. Mereka terapkan kapitalisme berbasis market regulated. Berbeda dengan Indonesia yang kebanyakan UU bidang investasi dan keuangan mengadobsi barat, bahkan copy paste barat. Regulasi China berbasis sains. Dengan secara terpelajar aturan itu memastikan kapitalisme tidak mengubah  budaya China sendiri. Mengapa ? Pada abad ke-14 dan ke-15, China merupakan masyarakat teknis paling maju di dunia. Namun, 'masyarakat teknologi' lebih dari sekedar akumulasi teknik; sebaliknya, hal ini menempatkan teknologi pada posisi yang menentukan secara eksistensial.


Sejak Revolusi Pembebasan (1949) dan khususnya tahun 1978, Tiongkok telah berkembang pesat sebagai masyarakat teknologi maju. Perkembangan ini bukan hanya penting bagi kemandirian dan keamanan, namun juga merupakan sumber utama budaya teknologi global. Transformasi ini tidak hanya didukung oleh kemajuan teknologi China, misalnya komputasi kuantum, kecerdasan buatan, energi ramah lingkungan dan eksplorasi ruang angkasa, atau media sosial, tetapi berkat majunya institusi sosial ekonomi dan politik China. Kita dapat melihat kehadiran kesadaran cogito modern yang tersebar luas , yang semuanya mencerminkan rasiosinasi industri, produksi industri, pendidikan industri dan sebagainya, dan semuanya konsisten dengan masyarakat teknologi. 


Para ahli teori Barat telah lama memperdebatkan aspek utopis dan distopia yang terkait dengan masyarakat teknologi. Di Timur seperti China, Jepang, Korea, dalam banyak kasus, modernitas muncul secepat mungkin untuk melawan imperialisme yang didukung teknologi Barat. Namun di Barat, perkembangan tekhnologi tidak bersifat egaliter. Hanya ada pada masyarakat kelas Menengah Atas.  Bagi kelas Bawah, mereka dipengaruhi oleh filsafat Barat modern, Mazhab Frankfurt, namun juga dalam karya-karya Michel Foucault menganggap kemajuan teknologi sebagian besar bersifat negatif. 


Singkatnya, para ahli teori ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap masyarakat Barat kelas bawah dan karenanya metode pendidikan diterapkan kepada mereka dengan standarisasi yang ketat dengan tujuan mereka menjadi pekerja atau mesin kapitalis. Sama dengan metode pendidikan di Indonesia. Trade off nya pemerintah Barat menerapkan sistem negara kesejahteraan. Membagikan pajak dari kelas menengah dan Atas untuk intervensi sosial negara. Namun pada akhirnya membebani negara dan mengurangi intervensi negara terhadap kemajuan IPTEK. Samahal nya di Indonesia, begitu besar intervensi sosial APBN, sehingga tidak cukup tersedia untuk anggaran IPTEK.


Namun di China memandang pentingnya kesadaran akan teknologi untuk kemajuan. Hal ini tidak terlalu bertentangan dengan tradisi China, khususnya tradisi Konfusianisme, dimana sains berupa ritual ( li ) yang harus disempurnakan oleh individu, siapapun itu. Oleh karena itu, tradisi China menolak pembangunan untuk segelintir orang dan dalam angka kemakmuran semata. Tetapi adalah proses memperbaiki diri bagi siapa saja dengan perspektif filosofis tradisional dan modern untuk kemajuan. Sistem pendidikan menerapkan metodelogi kritis. Yang memungkinkan daya kreatifitas berkembang. Tidak bersifat standarisasi. “ Kalau kita ingin selamat dari penjajahan dan menjadi bangsa merdeka dalam arti sesungguhnya, maka ya kita harus kuasai IPTEK. Tanpa kebebasan dialektika tidak ada sains dan tidak akan ada solusi. ”.


Makanya engga aneh kalau kita melihat dukungan rakyat yang luas terhadap pembangunan. Juga dukungan masyarakat terhadap solusi ilmiah terhadap berbagai permasalahan, dan keterlibatan positif massa dalam kebijakan publik. Inilah yang membuat China bisa mencapai kemajuan sosial yang konsisten dengan transformasi individu dan nasional yang berjangkauan ke depan, berbasis sains, dan berorientasi pada teknologi.


Atas dasar tersebut diatas, ada dua hal yang patut dicermati. Pertama. China tidak mengembangkan ekonominya lewat gelembung moneter atau fake growth. Tetapi lewat produksi berbasis IPTEK. Produksi pun tidak atas dasar demand market. Tetapi product engineering yang mengubah tata niaga bisnis dari penumpukan modal kepada kaum kapital tetapi distribusi modal lewat industri hulu yang efisien dan disubsidi negara. Dari kebijakan ini, industri hilir domestik berkembang. Pengembangan-pun by design. Dilengkapi dengan ekosistem financial berproduksi dan logistik, termasuk marketing. Sehingga supply chain barang dan jasa berkembang luas, Peluang terbuka bagi siapa saja. Sekarang ditengah melambatnya ekonomi negara maju, China membuktikan unggul dalam  menjaga pertumbuhan dan inflasi rendah.


Kedua. China tidak bergantung tekhnologi lewat investasi PMA. Tetapi lewat Riset dan pengembangan. Anggaran R&D China dari tahun ketahun terus meningkat. Total pengeluaran R&D melonjak 11 kali lipat dibandingkan tahun 2000, hingga mencapai $464 milia tahun 2018, atau 2,14% dari PDB. Jumlah tersebut melampaui pengeluaran Uni Eropa dan Jepang. Dan mendekati pengeluaran AS sebesar $586 miliar, atau 3,01% PDB.   Walau ekonomi melambat dan terjadi pengetatan anggaran, namun anggaran R&D tidak dikurangi, bahkan diperbesar. Maklum China sangat sadar bahwa mereka tidak bisa berkembang tanpa sains.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.