Sabtu, 30 Mei 2020

Geostrategis Jokowi.



Kadang orang mencampur adukan antara Geopolitik dan Geostrategis.  Kadang mereka bicara geopolitik tetapi yang dibahasnya geostrategis. Jadi kacau. Walau memang antara geopolitik dan geostrategis punya kesamaan dalam hal Hubungan kekuasaan negara dengan potensi alam yang tersedia. Hubungan kebijaksanaan suatu pemerintahan dengan situasi dan kondisi alam yang ada. Penentuan bentuk dan corak politik luar dan dalam negeri suatu negara. Penentuan garis pokok-pokok haluan negara. Usaha untuk meningkatkan posisi dan kedudukan suatu negara berdasarkan teori “Negara sebagai organisme”. Namun esensinya berbeda. Kalau geopolitik itu berkaitan dengan grand design politik, sementara geostrategi berkaitan dengan langkah besar atau stragegis untuk mencapai tujuan dari Geopolitik.

Contoh kebijakan luar negeri kita adalah bebas aktif. Itu geopolitik. Dan diterapkan dengan geostrategis melalui program B2B. Kita menolak kerjasama atau bantuan yang memaksa politik luar negeri kita berpihak kepada salah satu negara. Kita focus kepada business to business. Negara manapun bisa bekerja sama dengan kita dengan prinsip saling menguntungkan. Geopolitik kita bahwa SDA dikuasai oleh negara.  Diterjemahkan dalam geostrategis bahwa  hak negara mengendalikan SDA lewat konsesi bisnis bagi siapa saja yang patuh kepada UU. Tidak boleh melepas SDA dan hak publik  kepada asing kecuali konsesi bisis dalam kurun waktu tertentu, setelah itu kembali ke negara.

Teman saya konsultan geostrategis global bilang bahwa China dan AS dibuat bingung oleh Jokowi. Bahkan beberapa kementrian yang terlibat dengan kebijakan pelayaran utama ( selat Malaka ) dan Alur Laut Kepulauaan Indonesia (ALKI) melalui Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi juga bingung menterjemahkan kebijakan Jokowi . Dalam pertemuan APEC di Beijing Jokowi dengan tegas akan memberikan ruang ALKI kepada AS. Dengan demikian tidak berdesakan dengan China di Malaka. Untuk itu Jokowi akan membangun pelabuhan check point di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi. Waktu itu baik China dan AS setuju untuk mengakhiri konflik laut china selatan.

Atas kesepakatan itu China merasa aman dengan program OBOR untuk menghubungkan china ASEAN. Pembangunan kereta logistik digelar dari Guangxie melalui Vietnam, Thailand, Malaysia Singapore dan rencana dengan jembatan laut Malaka akan terhubung dengan Indonesia ( Dumai ). Saat sekarang jalur kereta sudah sampai di Malaysia. Dan sedang membangun tunel ke Singapore. Sementara AS sedang memperkuat investasi explorasi gas di blok santa fee dan marsela ( laut arapuru- Maluku ) dan Mahakam, kalimantan timur. Tetapi dalam perjalanannya Jokowi tidak pernah komit dengan kesepakatan APEC itu.

Jokowi tidak menanggapi proposal jembatan Selat Malaka yang menghubungkan Dumai dengan Malaka. Program Toll laut Jokowi bukannya mendukung OBOR malah bersaing dengan OBOR. China pusing. Bagaimana dengan AS? Blok Mahakam di take over oleh Pertamina dan Blok marsela di bangun di darat dan sekarang justru Jokowi akan membangun pangkalan militer di Kepulauan arapuru. AS tambah pusing. Bahkan Jokowi mengizinkan China buat pelabuhan di Sulawesi. Ini jelas keluar dari kesepakatan pembagian geostrategis antara China dan AS. " Bagaimana mau kerjasama kalau tidak ada yang komit. Jokowi seenaknya mengabaikan komitment yang dibuatnya.” Kata teman konsultan Geostrategis kepada saya.

Saya hanya tersenyum. Saya katakan kepada teman bahwa OBOR tidak akan dapat peluang menyentuh Malaka sebelum Sumatera terkoneksi dengan toll laut maupun toll darat. Jokowi tidak mau mengorbankan Geostrategisnya untuk kepentingan asing. Janji china akan menggelontorkan dana USD 30 miliar untuk jalan toll Sumatera dan toll laut , nyatanya hanya 10% saja cair. Mau komit gimana? Amerika juga sama, engga ada niat mengamankan soal Papua di forum PBB. Mau komit gimana ? Saya rasa ini hanya pertimbangan fairly. Kalau mau bersinergi , China dan AS harus tunjukan itikad baik. Sekarang Indonesia, ada atau tidak ada china , AS,  pembangunan jalan terus sesuai agenda. Prinsipnya hanya B2B. Engga ada lagi G2G. 

Agenda Jokowi untuk Indonesia. Kata saya. “ jadi apa usul kamu ? Kata teman sambil mengerutkan kening. Menurut saya, china selesaikan aja komitment membiayai jalan toll Sumatera dan toll laut, dalam kuridor B2B. Kemudian AS gunakan Jepang dan Eropa bangun koneksitas Kalimatan dan Sulawesi. Selesaikan soal Papua. Nah kalau itu semua udah selesai, Jokowi akan komit. Mengapa ? Karena kalau infrastruktur terbangun, Indonesia juga siap bersaing atas program OBOR dan grand PAcific nya Amerika. Kan engga mungkin Indonesia hanya jadi penonton.

Rabu, 27 Mei 2020

Hong kong dan UU Keamanan nasional China.


Kantor berita resmi Xinhua mengkonfirmasi bahwa resolusi terhadap UUD tentang keamanan nasional China, yang disampaikan oleh Dewan konstitusi dan komite hukum NPC (National Peopel Congress), telah disahkan oleh ketua NPC , Li Zhanshu pada hari Selasa. Resolusi itu berkaitan dengan keamanan nasional yang berhubungan dengan Hong Kong. UUD berkaitan dengan keamanan nasional sebelumnya tidak termasuk Hong Kong yang merupakan Daerah Istimewa di bawah sistem tata negara China. Namun dengan adanya resolusi yang sudah disetujui oleh Ketua NPC maka tinggal menunggu voting anggota kongres hari kamis nanti. Kalau sepakat, maka itu akan menjadi perubahan UUD. Tentu akan diikuti dengan UU secara detail berkaitan dengan keamanan nasional China khususnya di Hong Kong.

Apabila Resolusi itu disetujui anggota kongress maka sistem keamanan Hong Kong sudah sama dengan di China. Artinya tidak boleh ada lagi demo, dan setiap tindakan anarkis adalah kejahatan terhadap negara. Bahkan tindakan propaganda lewat saluran media apapun yang mengancam keamanan nasional akan dianggap sebagai melawan negara. Berdasarkan UU keamanan nasional, siapapun yang dianggap oposisi bisa ditangkap tanpa perlu proses pengadilan. Hak diskrisi ada sepenuhnya pada aparat keamanan. Jadi Hong Kong akan menjadi wilayah di bawah operasi intelijen selamanya, sama dengan wilayah China lainnya. 

Lebih 3 tahun Pemerintah Pusat China menahan diri dan berharap pemerintahan lokal Hong kong dan anggota DPR nya bisa menyelesaikan sendiri masalah keributan di Hong Kong. Namun tuntutan rakyat Hong Kong semakin lama bukan lagi soal demokrasi tetapi sudah mengarah kepada sikap separatis. Mereka ingin merdeka dan lepas dari China. Sementara ekonomi Hong Kong morat marit. Tahun 2019 dan 2020 anggaran Hong Kong defisit. Itu pertama kali sejak  tahun 2004.  Sementara hampir semua biaya sosial harus disubsidi pemerintah pusat China akibat chaos yang berkempanjangan. Di tambah lagi dengan adanya COVID-19 semakin jauh harapan Hong Kong bisa pulih segera tanpa ada tindakan tegas.

Apakah China menyalahi aturan international mengeluarkan UU keamanan nasional berlaku bagi Hong Kong. Padahal sudah ada komitmen China untuk mempertahankan Hong Konng sebagai dua sistem dalam satu negara sampai dengan tahun 2046? Kalau dalam situasi normal tanpa gejolak, China mengubah UU terhadap Hong Kong, itu jelas tidak etis. Tetapi UU Keamanan nasional itu dikeluarkan di saat ada tuntutan rakyat Hong Kong ingin memisahkan diri dari China. Ini sudah tindakan separatis. Dalam konvensi internasional, ICCPR (International Covenant on Civil and Political Rights/Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik) juga disebutkan bahwa setiap negara yang sudah mempunyai kekuasaan secara sah atas suatu wilayah, maka dia boleh mempertahankan wilayah itu dengan segala daya.  Apakah rakyat Hong Kong berhak meminta referendum ? HUKUM internasional, Piagam PBB yaitu teritorial integrity dan uti possidetis yuris, tidak mengenal referendum bagi wilayah yang sudah merdeka. Bukan hanya hukum nasional yang melarang referendum bagi Hong Kong, melainkan juga hukum internasional.

Itu sebabnya dalam pidato di hadapan Kongres Nasional awal Mey, Xijinping dengan tegas mengatakan “ selesaikan Hong Kong segera”. Itu sinyal kepada elite politik yang selama  ini sudah tidak sabar dengan sikap Xijinping yang terlalu memberi angin kepada demontran, untuk segera menyelesaikan Hong Kong. Apapun ongkosnya. Mengapa Xijinping terkesan lunak kepada rakyat Hong Kong. Menurut teman saya, chaos di Hong Kong itu pembelajaran kepada rakyat China daratan “ Lihatlah, mereka inginkan demokrasi dan kebebasan, sementara mengurus perutnya saja tidak mampu. Mereka terus memaksa pemerintah memberikan subsidi. Kalau demokrasi hanya menghasilkan generasi malas dan  pengemis, itu bukan lagi cara yang benar mengurus wilayah. Itu harus dihentikan” Kata teman saya. 

Hampir semua investor Asing berharap dengan adanya UU nasional security terhadap Hong Kong, itu bisa sebagai titik awal kebangkitan Hong Kong kembali seperti sebelumnya sebagai pusat keuangan dunia dan wisata. Walau ada ancaman dari rakyat Hong Kong akan turun ke jalan secara kolosal, namun apabila UU itu disahkan maka secara UU aparat keamanan akan bertidak keras sampai ke akar akarnya. Itu pernah China buktikan waktu demontrasi di Tiananmen Square tahun 1989. Sudah cukup demonya. Saatnya kerja. Engga kerja engga makan.

Jumat, 22 Mei 2020

Teori konspirasi sebuah kebohongan rasional


Tadi saya pergi liat tanah yang ditawarkan teman untuk dijual. Dalam perjalanan itu ada obrolan yang menarik. Ini berkisar soal asal usul COVID-19. Saya hanya menyimak uraiannya. Saya tahu itu dia dapat dari media sosial. Setelah puas dia menguraikan pengetahuannya, dia bertanya kepada saya.  “ Mengapa sampai ada teori konspirasi tetang Covid-19”

“ Ketika pada situasi serba tidak pasti yang membuat orang kebingungan. Saat itulah teori konpirasi laku dan dipercaya orang. “

“ Mengapa ?

“ Karena teori konspirasi itu menyampaikan penjelasan dengan sederhana. Ya namanya teori bisa dikait kaitkan dengan kecurigaan masyarakat seperti COVID-19 dari China atau dari AS. Semakin bagus teori itu membenarkan prasangka orang semakin menarik teori itu. Apalagi dibumbui dengan narasi kejahatan dibalik kejadian itu. Orang moralis yang tidak tahu apa apa akan semakin terpengaruh. “

“ Apakah itu semua berkaitan dengan fakta. “

“ Tepatnya fakta yang diilusikan. Maka disebut dengan fiksi. Contoh Lady Di meninggal. Itu fakta.  Kejadiannya karena kecelakaan. Itu fakta. Tetapi kalau ada cerita dibalik kecelakaan itu ada peran agent M16, itu asumsi. Kalau dinarasikan, maka jadilah ia fiksi. Enak didengar atau dibaca dan perlu. Contoh lagi,  China menguasai perdagangan dunia, itu fakta. Surplus dagang China bukan hanya dengan Indonesia, dengan AS juga surplus. Itu fakta. Tetapi kalau fakta itu dikaitkan dengan teori China ingin menguasai dunia, itu jelas fiksi. Faktanya sejarah modern China tidak pernah menjajah negara manapun. Bahkan China adalah negara yang pernah dijajah oleh Inggris, AS , Portugal. Kalau kamu lebih percaya teori konspirasi daripada fakta sejarah, sebaiknya kamu ucapkan selamat tinggal akal sehat. Dah gitu aja. “

“ Gimana bisa tahu teori konspirasi itu hanya ilusi ? Karena kalau dibaca dan didengar, semua nampak masuk akal”

“ Untuk kamu bisa tahu keakuratan teori konspirasi, kamu harus menerapkan standar ilmiah. Dalam sains jarang ada kebenaran absolut, tetapi hanya masuk akal dan konfirmasi empiris dari berbagai tingkat. Periksa sumbernya. Siapa bilang apa, kapan dan di mana? Apakah itu media mainstream ? Atau apakah dari YouTuber, mungkin bahkan dengan gelar doktor, atau seleb  sosmed. Kamu harus lakukan penelitian semua sumber itu. Biasanya tidak butuh lama. Dalam waktu singkat sudah diketahui.  Nah kalau kamu percaya begitu saja, maka kamu harus ucapkan selamat tiggal waras“

“ Masih belum paham saya.”

“ Begini sederhananya. COVID-19 itu berkaitan dengan hal yang sangat ilmiah. Untuk memahaminya memerlukan keahlian khusus soal genetika, virologi, anatomi. biotekhnologi. Kalau para ahli itu sampai sekarang belum bisa menemukan kepastian asal usul COVID-19, apakah kamu percaya dengan orang tampa kompetensi dengan berani menyebut COVID-19 itu dibuat oleh manusia ? Kalau kamu tidak percaya dengan ilmuwan, maka kamu harus ucapkan selamat datang kegelapan.”

“ Tetapi penganut teori konspirasi selalu punya cara penyangkalan?

“ Teori konspirasi itu seakan lebih hebat dari laporan resmi. Lebih banyak penjelasan, lebih banyak bukti kebetulan, yang selalu diulang ulang dan dibicarakan. Maka ia dianggap kebenaran. Contoh sederhana. Buku Davinci Code, orang semua tahu itu teori konspirasi , yang jelas fiksi. Makanya orang waras tidak ada yang protes walau itu berkaitan dengan Yesus. Penganut teori konspirasi menggunakan kausalitas yang semuanya atas dasar asumsi dan mereka tidak peduli kalau terjadi kontradiksi secara ilmiah. Bagi mereka semakin banyak kontradiksi semakin dipercaya teorinya. Ini bukan soal moral atau etika. Tetapi sudah penyakit kejiwaan.”

“ Apakah ada yang diuntungkan dari teori konspirasi itu ?

“ Dari sejarahnya itu berkaitan dengan politik. Dulu kan orang gunakan apa saja melawan kemapanan kekuasaan. Ada yang gunakan teater, puisi dan buku cerita fiksi dan  temasuk menggunakan teori konspirasi. Tujuannya menciptakan distrust kepada penguasa, dan pada waktu bersamaan menciptakan kebingungan di masyarakat sehingga apapun informasi yang disampaikan secara resmi disikapi bias. Contoh aja kasus COVID-19. Apapun kebijakan dan laporan pemerintah disikapi secara bias oleh mereka. Itu dampak dari adanya teori konspirasi. Di samping itu creator teori konspirasi ini dapatkan follower dalam jumlah besar dan itu bisnis yang bisa datangkan uang dari mana saja. Paham”

“ Oh ternyata semua karena bisnis?

“ Bagi creator teori konspirasi apapun engga menarik kalau engga ada duitnya. Apalagi di tengah kebingungan  dan keresahan, orang bighot butuh pegangan, walau itu hanya sekedar teori dan asumsi, alias fiksi"


Selasa, 19 Mei 2020

Menyikapi Covid-19



Saya memperhatikan perkembangan pandemic ini secara seksama, terutama pendapat dan sikap orang terhadap kebijakan negara. Maklum karena menyangkut kebijakan, tentu tidak mungkin memuaskan semua orang. Dan pasti tidak ada kebijakan yang sempurna. Pasti ada sisi kekurangan dan kelebihan. Dari situasi itulah terjadi polarisasi di masyaraka. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Bahkan di AS yang negara majupun terjadi polarisasi di masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Kalau saya perhatikan ada tiga pendapat. 

Pendapat pertama, adalah mereka yang sangat mengkawatirkan Covid-19 sebagai pandemic. Umumnya mereka terpengaruh dari berita media massa dan pendapat para pakar. Terutama media massa selalu mengulas hal yang mengkawatirkan, menakutkan dan ancaman Covid-19 bagi manusia. Apapun informasi dari pemerintah yang menenangkan, mereka anggap tidak benar. Bahkan pendapat para ahli yang terkesan meremehkan Covid-19 mereka anggap ngawur. Bahkan data resmi pemerintah tidak dianggap kebenaran. Sementara praduga yang hanya berupa opini mereka anggap kebenaran, kalau itu menguatkan persepsi mereka bahwa covid-19 ancaman serius

Mereka ini sangat berharap pemerintah melakukan kebijakan ekstrim terhadap pandemic ini seperti Lockdown atau PSBB yang ketat. Apapun ada kesan ketidak disiplinan masyarakat mematuhi protokol PSBB, mereka anggap “ konyol”;  Tidak ada niat untuk mengurangi korban COVID-19. Tidak menghormati paramedis yang ada di garda terdepan dalam perang melawan COVID-19. Mereka hanya percaya masalah COVID-19 hanya bisa selesai apabila ada vaksin. Selama belum ada vaksin, pemerintah harus membuat kebijakan agar tidak ada penyebaran COVID-19, dan menghentikan korban.

Pendapat kedua, adalah mereka yang menjadikan COVID-19 ini sebagai issue politik. Bagi mereka, apapun kekurangan pemerintah, termasuk kesulitan menghadapi COVID-19 dijadikan sebagai amunisi untuk menjatuhkan citra pemeritah. Mereka menggunakan referensi pendapat pertama, namun pada waktu bersamaan memprovokasi umat beragama agar melanggar PSBB. Karena mereka tahu, umat beragama terutama para tokoh merasa dirugikan akibat  PSBB, yang membuat mereka terhalang melakukan kegiatan ritual  berjamaah. Bagi mereka semakin lama PSBB, semakin besar kerugian pemerintah dan semakin menderita rakyat, semakin besar peluang untuk chaos. Saat itulah mereka bergerak menjatuhkan pemerintah.

Pendapat ketiga, adalah apapun pendapat pertama dan kedua, bagi mereka engga ada urusan. Mereka hanya ingin hidup normal tanpa berharap ada donasi dari pemeritah. Mereka berpikir realistis, yang sadar bahwa COVID-19 itu berbahaya namun mereka juga tidak bisa  terlalu lama bersembunyi di rumah mengikuti PSBB. Karena hidup mereka secara ekonomi tidak aman. Kelamaan di rumah bisa membuat mereka kehilangan pendapatan. Nah mereka inginkan segera PSBB dilonggarkan dan mereka bisa kembali normal beraktifitas. Kalaupun PSBB dihentikan, mereka sudah paham bagaimana protokol kesehatan agar terhindar dari COVID-19. Mereka bisa saja masuk dalam protokol herd immunity.

Dari tiga pendapat itu semua benar. Karena berangkat dari persepsi berbeda. Namun baik pendapat pertama, kedua, ketiga, apapun  solusi mengatasi COVID-19 tidak akan ada hasilnya tanpa ditemukan vaksin. Yang ada hanya menunda masalah. Kapan Vaksin ditemukan? tidak ada yang tahu pasti. Yang jadi persoalan, menunda masalah itu perlu ongkos. Tidak ada negara yang kuat mengongkosi perang yang tidak jelas kapan berakhir. Tidak semua orang punya kemampuan financial menanggung ongkos selama masa menanti vaksin itu. Nah silahkan berpikir. Silahkan tentukan pilihan bersikap. Apapun pilihan pasti ada resikonya.

Selasa, 12 Mei 2020

Politik kebencian


Selama perang dunia pertama, Khilafah Utsmniyah membantai 1,5 juta etnis Armenia. Mereka awalnya dibunuh secara langsung. Pria wanita dan anak anak di kumpulkan. Kemudian ditembaki, ada juga yang disembelih. Ketika peluru semakin mahal, mereka tidak lagi dibunuh dengan peluru dan bayonet, tetapi dideportasi ke Suriah dengan berjalan kaki. Orang tua, wanita, anak, dipaksa berjalan kaki menempuh cuaca yang panah. Itu sama saja dipaksa bunuh diri massal. Sementara pria yang kuat dipaksa kerja membangun jalur kereta tanpa suplai makanan yang cukup. Akhirya merekapun mati.

Menjelang perang dunia kedua, tahun 1937 Jepang menduduki Mancuria dan Shanghai setelah berhasil merebutnya dari Inggris. Upaya invasi itu dihadapi oleh laskar China. Bertarung gagah berani menjemput ajal mempertahankan setiap jangkal tanah mereka. Akhirnya mereka kalah. Di Nanking ibukota China, dari pagi, semua rakyat diikat, diseret ke tepian sungai Yangtze dan ditusuk menggunakan bayonet. Beberapa langsung meninggal, lainnya menjerit kesakitan. Bahkan, sampai jam 4 atau 5 sore mereka belum menyelesaikan pembunuhan massal itu. Dalam 12 jam tentara Jepang membantai 300.000 rakyat Nanking. Itu belum termasuk pembantaian dan pemerkosaan di Manchuria dan Shanghai. Diperkirakan lebih 1 juta masuk dalam kubangan pembantaian.

Perang dunia kedua, Hitler juga melakukan hal yang sama kepada etnis Yahudi. 6 juta etnis Yahudi tidak kecuali anak, wanita , pria, orang tua di Eropa dikirim ke Kamp konsentrasi. Mereka kebanyakan mati di kamp konsentrasi, dan lebih banyak lagi sebelum mereka sampai di kamp konsentrasi sudah dihabisi oleh tentara Hitler. Sejarah mencatat diperkirakan 2/3 dari 9 juta etnis Yahudi mati oleh kekejaman rezim Hitler. Ini yang dikenal dengan peristiwa Holocaust.

Apakah Tuhan diam saja atas perlakuan kekejaman manusia itu? Tidak. Tuhan memberikan contoh segelintir etnis Yahudi dan miliaran penduduk Etnis China. Terbukti kini, 109 Perusahaan yang terdaftar dalam TOP 500 Fortune pemiliknya adalah etnis Yahudi, yang kekayaannya 65% dari PDB AS. 119 Top 500 Fortune, adalah perusahaan yang dimiliki China, dengan total kekayaan 15% dar PDB dunia. Kehebatan Asset perusahaan Etnis Yahudi mengalahkan PDB Jerman yang pernah membantai mereka. Kehebatan asset Perusahaan China mengalahkan PDB Jepang. Turki yang pernah membatai Etnis Armenia tidak pernah bisa mengulang kebesarannya di masa lalu.

Mengapa terus membenci Yahudi dan China? Apakah idiologi dan agama tidak belajar dari hikmah yang Tuhan bentangkan sekarang? Kemakmuran mereka karena Tuhan mencintai mereka dan berharap kita juga sadar agar tidak lagi membenci. Sampai kini orang China tidak pernah dendam dengan Jepang. Orang Yahudi tidak pernah dendam dengan orang Eropa. Etnis Armenia tidak pernah membenci islam. Mengapa kepada Belanda dan Jepang yang pernah menjadikan kita budak , kita bisa berdamai. Semetara Cina yang tidak pernah menjajah kita, malah kita benci?

Ternyata politik kebencian, entah itu dengan narasi Agama , atau Idiologi, sama saja. Sama sama bau amis darah. Ketika berbicara politik, maka kebencian menjadi alat pemersatu untuk menghabisi lawan. Human being terhalau. Manusia lebih kejam dari hewan. Bahkan tanpa berdosa membuat 3000 orang kehilangan pekerjaan. Membuat investasi memakmurkan bumi dan diri terancam gagal. Membuat harapan kemapanan ekonomi menjadi tak bernilai. Itulah makna lain dari kebencian. Memang tidak bau amis darah namun dampaknya membuat orang hidup tanpa harapan… itu lebih buruk dari kematian itu sendiri.

Senin, 04 Mei 2020

Ganjar Pranowo


Kalau baca biographi,  masa kecil dan remaja Ganjar, memang berbeda dengan Anies Baswedan. Anies termasuk murid teladan. Pernah di undang ke Cendana dan kantor Menteri PDK. Kehidupan keluarga Anies kelas menengah. Semetara Ganjar lahir dari keluarga bersahaja. Ayahnya seorang polisi berpangkat bintara. Ganjar ada 6 bersaudara. Tentu tidak mudah bagi Ayah Ganjar untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, kecuali hidup secara prihatin. Ganjar sejak SD sudah nampak jiwa kepemimpinannya. Terbukti dia selalu jadi ketua kelas. Namun tidak menjadikan dia juara di sekolah. Makanya Ganjar tidak dapat beasiswa di sekolah. 

Masuk UGM pun tanpa beasiswa, walau dia berkali kali bisa bebas uang kuliah karena ada surat pernyataan miskin dari orang tuanya. Itupun dia pernah 2 sementer cuti kuliah karena harus cari uang. Yang membuat dia bisa bertahan diatas banyak kesulitan masa remajanya mungkin didikan agama yang begitu kuat terhadap dirinya. Sehingga membuat dia  taat beragama. Cerdas secara spiritual dan kuat dalam kesabaran tanpa berputus asa. Memang sejak usia SD, Ganjar diajarkan disiplin melaksanakan sholat lima waktu dan sholat subuh di Masjid. Didikan ayahnya yang Polisi mengajarkan disiplin dan agamais, itu modal besar bagi Ganjar untuk punya kepribadian utuh.

Walau ayah Ganjar seorang Polisi, itu tidak menghalangi Ganjar untuk aktif di GMNI. Padahal semua tahu GMNI ketika era Orba termasuk organisasi kemahasiswaan yang dicurigai oleh Rezim Soeharto. Ganjar pun aktif dalam berbagai aksi Demo menentang rezim Soeharto. Itu sebabnya ketika tamat dari UGM fakultas Hukum, setelah bekerja , Ganjar berada di belakang barisan gerakan Pro Mega. Padahal ketika itu rezim Soeharto, banyak menculik aktifis pro Mega. Apalagi ketika itu tahun 1996, hubungan antara Megawati dan Pak Harto sangat buruk.  Walau Ayahnya yang Polisi dan Kakak nya sebagai Hakim mendesaknya ikut Golkar, namun Ganjar tetap nekat berada di barisan Megawati. 

Setelah perjuangan yang panjang di barisan pro Mega, akhirnya Orde Baru tumbang. Pak Harto lengser. Banyak teman teman seperjuangannya ikut Pemilu 1999. Saat itu PDIP sedang berada di puncak kepercayaan rakyat. Namun Ganjar tidak mau ikutan euforia. Dia memilih  berkeluarga dan mengembangkan bisnisnya di PT. Prastawana Karya Samitra dan PT. Semeru Realindo. Tahun 2004 barulah Ganjar masuk ke politik secara penuh, dengan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dari PDIP. Dia terpilih dan duduk di Senayan sebagai anggota DPR dan ketua Pimpinan Komisi II DPR. Periode berikutnya dia terpilih lagi sebagai anggota DPR. 

Namun kesetiaannya terhadap Pak Taufik Kiemas yang bukan hanya suami Mega dan Fungsionaris PDIP tetapi juga sesepuhnya di GMNI, Ganjar maju dalam Pilgub Jawa Tengah. Diapun terpilih. Jabatan Anggota DPR dia tinggalkan. Tentu disini jiwa kepemimpinan Ganjar diuji dan dia tentu lebih paham karakter rakyat Jawa Tengah karena dia lahir di sana. 

Ganjar pernah tersangkut kasus EKTP, yang dituduh menerima uang USD 500.000.  Tetapi dia hadapi dengan tenang. Semua tahu ketika proyek EKTP itu dibahas di DPR, saat itu posisi PDIP adalah oposisi terhadap pemerintahan SBY. Jagi engga logis kalau pengusaha mendekati dan menyuap anggota DPR dari PDIP. Yang menentukan anggara proyek itu adalah partai koalisi Pemerintah. Terbukti belakangan memang Ganjar tidak terlibat. KPK menyatakan dia clean. Dia terlatih sebagai politisi. Sangat paham agenda di balik tuduhan itu untuk merusak reputasinya.

***
Latar belakang kehidupan antara Anies dan Ganjar sangat beda. Juga berbeda dengan Ridwan Kamil. Ganjar sama dengan Jokowi. Mental marhaen sejati, yang tidak pernah sekolah ke luar negeri. Bahasa inggeris mereka tidak sehebat Anies dan Ridwan kamil yang pernah sekolah di kampus bergengsi di Amerika. Namun Ganjar sebagaimana halnya Jokowi sangat memahami kerja politik untuk rakyat.  Bukan hanya visi idiologi Marhaen —yang berorientasi wong cilik— tetapi penguasaan tekhnis birokrasi sangat kuat. Baik Ganjar dan Jokowi pelobi ulung di hadapan kekuatan politik formal maupun informal. Cara lobinya sama. Sama sama rendah hati. Mengutamakan pendekatan kelembutan ala Jawa yang menolak konflik namun tegas dalam prinsip. 

Saya tidak terkejut bila tahun ini Jawa Tengah mendapatkan rangking satu dalam hal perencanaan pembangunan daerah dan pencapaiannya. Ini penghargaan tertinggi yang diuji bukan hanya soal pencitraan tetapi realita lapangan yang bisa langsung dirasakan oleh rakyat. Ganjar deserved dapatkan itu. Mengapa ?Yang menonjol dari Ganjar dalam kemimpinannya? ada empat. 

Pertama, kemampuannya membuat perencanaan pembangunan yang detail tanpa menimbulkan konflik dengan DPR. Itu artinya dia bisa menjelaskan agenda RAPBD secara politik akomodatif di hadapan anggota DPRD dan mereka semua bisa menerima. Bukan hanya menerima tetapi ikut mendukung. Itu terbukti dari adanya penerapan E-Goverment dalam sistem anggaran dan pelaksanaan.

Kedua, kemampuannya untuk bertindak atas recana  yang dibuat. Itu sangat mungkin karena dia berlatar belakang sebagai politisi yang sangat paham karakter birokrasi dalam melakasanakan kebijakan dan perencanaan. Jadi engga bisa bawahannya main main dengan agenda APBD nya. 

Ketiga, kemampuannya melakukan check dan recheck. Ganjar suka turun ke bawah. Dia paham sekali politik birokrasi yang umumnya hanya bagus di tingkat perencanaan dan retorika namun lemah di pelaksanaan. Apapun rencana, dan retorika, yang berhak menilai itu adalah rakyat. Rakyat yang merasakan langsung dampak dari perencanaan. Makanya gaya blusukan yang biasa diterapkan Jokowi,  juga dilakukan oleh Ganjar. Tujuannya untuk mengetahui langsung situasi lapangan terhadap kinerja Pemda. 

Keempat, dengan kemampuan check dan recheck itu, membuat dia tanpa ragu membuat keputusan yang berdampak langsung untuk terjadinya action agar GOAL tercapai dan pembangunan untuk rakyat dapat melahirkan kesejahteraan, bukan hanya sekedar retorika.

***
Secara pribadi saya melihat Ganjar sangat berpotensi menjadi calon presiden RI setelah Jokowi.  Saingannya adalah Anies Basweda, Ridwan Kamil dan Nurdin Abdullah. Kita liat nanti 2024

Sabtu, 02 Mei 2020

Memahami harga Minyak


Kalau baca polemik seputar harga minyak. Kadang saya tersenyum sendiri. Mengapa?karena mereka bicara dan beropini seperti orang buta menentukan ujud Gajah. Apapun yang dia pegang dan raba pasti salah sebagai acuan menentukan ujud gajah sebenarnya. Apalagi banyak orang Indonesia menggunakan penurunan harga minyak dunia dikaitkan dengan posisi Ahok sebagai preskom Pertamina yang dianggap gagal membrantas mafia minyak. Kali ini saya tidak akan membahas soal harga pokok minyak dan kebijakan harga eceran minyak. Saya hanya ingin membahas jenis minyak yang diperdagang di dunia.

Saat sekarang jenis minyak yang jadi acuan pasar dunia ada dua yaitu Brent dan WTI. Sebetulnya masih ada lagi yang lain seperti minyak dari Rusia, serta negara-negara OPEC lainnya Namun yang pada umumnya pasar international menggunakan Brent dan WIT ( West Texas Intermediate). Apa itu Brent ? Brent itu adalah jenis minyak yang ada di Laut Utara ( Eropa). Sementara WIT minyak berasal dari AS. Kedua jenis Minyak ini sebetulnya punya sifat sama yaitu masuk katagori Sweet Light Crude Oil. Namun walau sama, dari segi kegunaannya berbeda. Brent digunakan untuk Solar dan WIT untuk gasolin ( bensin).

Untuk Indonesia, pembelian minyak mentah ukurannya adalah pasar Brent. Bursa minyak Singapore standar nya adalah Brent. Mengapa ? Brent itu jenis minyak dengan kadar sulfur rendah. Nah refinery yang punya Pertamina, menggunakan jenis minyak brent. Karena mudah mengolahnya. Investas kilang juga tidak semahal WTI. Makanya harga minyak mentah brent jauh lebih mahal dari minyak WTI. Biasanya berkisar 4-5 USD/barel. Jadi kalau dikalkulasi sampai jadi produk BBM, perbedaan engga begitu jauh.

Lantas mengapa harga minya WTi kemarin bisa sangat rendah bahkan negatif, berbeda dengan minyak Brent yang relatif stabil? karena volume perdagangan WTI sangat besar melalui bursa NYMEX (New York Mercantile Exchange) dari CME (Chicago Mercantile Exchange). Disamping memang bensin permintaan nya sangat volatile akibat adanya new energy dan penurunan permintaan akibat pandemi COVID-19. Jadi sangat sensitif terhadap issue apapun. Berbeda dengan Brent. Karena solar pada umumnya untuk energi listik dan kapal angkut yang tidak ada ancaman akan new energi dan penurunan permintaan.

Namun WTI juga bisa kembali ke normal secara cepat. Terbukti penutupan jumat kemarin, perbedaan harga minyak WTI sudah pada posisi stabil dengan brent, yaitu USD 19,69 dan Brent USD 22,74. Jadi, engga bisa kita berpatokan dengan harga WTI, sementara indonesia acuannya adalah Brent. Kalau disalahkan Ahok, kan pantas saya hanya terseyum. Terbukti yang ngomong soal harga BBM itu seperti ayam berkotek tetapi tidak tahu dimana kepalanya. Atau sama dengan orang buta yang berdebat soal bentuk gajah