Minggu, 27 Januari 2019

Mengkritik Jokowi?

Saya tidak pernah membahas tulisan dari pegiat media sosial sekelas seleb Facebook. Karena bagi saya mereka bukan target saya dalam menulis di sosial media. Berpolemik dengan mereka engga ada manfaatnya. Buang waktu. Saya hanya focus  menjawab issue miring yang berasal para politisi partai opisisi. Bisa mereka itu adalah elite partai, pengamat politik atau langsung dari Paslon. Mengapa ? dampak dari pernyataan mereka sangat berpengaruh dalam masyarakat. Karena mereka punya legitimasi formal  untuk bicara. Punya status moral untuk bicara atas nama rakyat. Mereka lah yang saya harus hadapi. Tulisan saya lebih kepada penyampaian fakta berdasarkan data formal. Itupun data  yang ada bukan saya serap begitu saja. Tetapi saya analisa dengan prinsip dasar ilmu bidang ekonomi  sosial, budaya, politik. 

Contoh dalam issue hutang. Saya harus mempelajari kebijakan fiskal ( APBN) Jokowi.  Ini berhubungan dengan agenda politik Jokowi bersama partai pendukungnya di DPR. Saya harus tahu apakah agenda politik Jokowi itu bertentangan dengan UU dan Peraturan yang ada. Ini penting untuk mengetahui apakah kebijakan itu dibuat secara struktural atau  pragmatis. Kemudian, saya harus mempelajari postur APBN secara detail. Ini juga untuk mengetahui apakah  agenda politik itu sama dengan rencana  yang tertuang dalam APBN. Kemudian saya juga harus mengetahui kebijakan Moneter dari Bank Indonesia berkaitan kebijakan suku bunga dan kurs rupiah. Harus mengetahui kebijakan dari OJK dalam hal aturan pasar uang dan pasar modal. Itu semua untuk memastikan bahwa kebijakan Jokowi itu teroganisir dengan baik.  Nah apabila kebijakan antar sektoral tidak saling mendukung, maka Jokowi tak ubahnya dengan SBY. Masalah pembangunan hanya ditataran wacana saja. Implementasinya menghabiskan anggaran yang tidak berdampak perbaikan ekonomi secara struktural.  Namun di era Jokowi, antar sektoral itu terjalin sangat indah. Bagaikan musik simponi. Satu dengan yang lainnya terjalin sinergi. 

Contoh kasus pembangunan infrastruktur yang terjadi meluas itu tidak akan terjadi bila tanpa koordinasi antar sektoral. Masalah klasik pembangunan infrastruktur di era presiden sebelumnya adalah soal tanah dan sumber uang. Umumnya pemimpin takut berhadapan dengan kasus tanah dan bingung karena duit cekak. Karena ini sangat politis sekali.  Inipun menjadi tanda tanya bagi saya.  Bagaimana dia bisa melakukan itu?. Teman saya salah satu anggota kabinet mengatakan bahwa di era Jokowi itu rapat bisa dilakukan kapan saja. Bahkan hari minggupun rapat bisa digelar. Namun rapat yang efektif sekali. Tidak pernah mengulang ngulang agenda rapat sebelumnya. Setiap masalah langsung ada keputusan hari itu juga. Bahkan dilapangan dalam peninjauan , rapat bisa dilakukan secara terbatas dan langsung jokowi ambil keputusan.

Kadangkala ada issue yang di lempar oleh elite politik atau pengamat, sebetulnya adalah kritik yang memang diperlukan Jokowi agar fungsi supervisi terhadap kinerja bawahanya dapat lebih efektif. Contoh soal program swasembada pangan yang terseok seok. Antara data dan fakta tidak sama. Tiga tahun berkuasa Jokowi, keputusan diambil. Data pangan hanya satu pintu saja. Dan itu adalah BPS. Kementrian pertanian tidak boleh lagi mengolah data dan tidak lagi menjadi rujukan pemerintah membuat kebijakan soal pangan. 

Contoh lain lagi soal Tenaga Kerja Asing yang selalu jadi rumor negatif. Atas dasar itu Jokowi punya kekuatan politik untuk mengeluarkan Perpres memperkuat UU ketanaga kerjaan. Demo yang berkali kali secara akbar memang dibiarkan Jokowi untuk mengetahui ketahanan idiologi nasional. Dan karena itu UU Ormas dikeluarkan. HTI tersingkir. UU Pemilu direvisi agar memastikan hanya Parpol yang punya program nyata dan diakui diterima secara waras oleh rakyat yang bisa masuk Parlemen. Yang hanya kerjaan goreng issue agama dan primodial akan tersingkir dengan sendirinya.  Bagaimana kalau kebijakannya merugikan citra politiknya dan menciptakan musuh dengan elite politik ? Jokowi engga mikir soal citra politik. Soal resiko politik dari kalangan elite itu urusan Ibu Mega yang memang bidangnya. Antar Jokowi dan Bu Mega seperti penyanyi duet yang serasi. Membuat lagu jadi  apik. Jadi presiden itu tidak mudah kalau tujuanya untuk kerja dan memperbaiki.  Tetapi tentu menyenangkan kalau engga kerja dan memuaskan elite. Jokowi engga begitu.

Jokowi bekerja dalam sebuah sistem ruman besar Indonesia dengan penghuni 250 juta orang yang berbeda mindset nya dan pembagian kekuasaan dengan legislatif, yudikatif yang terstruktur dibawah UUD  dan UU. Mengkritik Jokowi itu tidak semudah melamun dan berimajinasi dengan persepsi utopia. Apa yang dia lakukan tidak ada untuk kepentingan pribadinya. Kalau ada kekurangan, itu karena sistem kekuasaan yang ada. Yang harus terus diperbaiki. Makanya kalau saya menulis seputar ekonomi, politik, sosial, tidak juga mudah. Karena masalahna tidak sederhana. Sangat rumit. Hal yang  rumit itu harus disampaikan kepada publik dalam bahasa publik juga. Karena sebagian besar orang tidak suka membaca literasi panjang, maka sayapun harus creatif cara penyampaiannya. Kadang harus menggunakan narasi populer dengan format komunikasi dua arah. Membela Jokowi bukan masalah Politik tetapi masalah moral. Kalau karena materi mendukung Jokowi maka anda pasti kecewa. Dia bekerja dalam phase memperbaki keadaan yang puluhan tahun terlanjur rusak. 

Kamis, 24 Januari 2019

Memilih Jokowi?



Calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berjanji akan memangkas utang pemerintah jika terpilih dalam pemilihan presiden (Pilpres). Cara yang akan ditempuh ialah, pertama, mengurangi penerbitan obligasi, penarikan utang bilateral multilateral. Secara bersamaan, akan meningkatkan tax ratio sampai 16%. Kedua, menyisir belanja-belanja yang tidak efisien. Salah satunya, belanja untuk infrastruktur. Alasannya berdasarkan laporan Bank Dunia banyak infrastruktur yang acak-acakan. Ketiga, meningkatkan anggaran untuk swasembada pangan, energi, air bersih, lembaga negara, sama angkatan perang.

Ketika saya membaca program kerja ekonomi BOSAN, saya sempat berpikir bahwa apakah team ahli ekonomi BOSAN itu mempunyai data makro ekonomi Indonesia sekarang? Apakah mereka membuat program kerja itu berdasarkan data dan informasi yang benar ? Karena kalau rujukannya laporan Bank Dunia tentang kinerja Infrastruktur yang acak acakan, itu penilaian Bank Dunia atas pembangunan infrastruktu di era SBY, yang laporannya terbit tahun 2018. Laporan Bank Dunia itu atas dasar permintaan dari Pemerintah Jokowi sebagai dasar membuat kebijakan di bidang infrastruktur, khususnya pendalaman pembiayaan di luar APBN. Lebih detailnya saya akan bahas program kerja BOSAN tersebut. Apakak rasional atau tidak.

Pengurangan Utang.
Ketika zaman Orde Baru, ABPN disusun secara berimbang dengan pola horisontal (T-Account). Era Orba, utang dianggap sebagai penerimaan. Walau prinsip ABPN bahwa utang untuk pembiayaan pembangunan namun faktanya digunakan untuk belanja rutin. Tidak ada demokratisasi pengelolaan APBN. Lebih terkosentrasi ditangan presiden. Makanya pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas. Setelah rezim Orde Baru berakhir, pola penyusunan APBN berdasarkan rumusan secara vertikal (V-Account). Dengan format ini, penerimaan utang bukan dianggap penerimaan. Tetapi masuk pembiayaan fiskal. Jadi jelas kalau tidak ada defisit, tidak boleh berhutang. Kalaupun berutang tidak boleh untuk belanja rutin tetapi untuk belanja pembangunan. Itupun dibatasi maksimum 3% dari PDB boleh defisit.

Sejak era Reformasi, APBN kita selalu defisit. Sehingga tidak ada satupun presiden yang tidak berhutang. Puncaknya sejak tahun 2013 kita mengalami defisit primer. Artinya jumlah penerimaan dikurangi dengan pengeluaran ( tidak termasuk bayar cicilan utang ) hasilnya minus. Secara akuntasi kita sudah bangkrut. Mengapa harus utang ? penyusunan APBN itu mengacu kepada pertumbuhan ekonomi yang harus dicapai. Setidaknya diatas pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1,5% per tahun. Akibat jumlah penduduk terus bertambah, angkatan kerja juga terus bertambah 1% setiap tahun. Menurut hitungan ekonomi, setiap 1% pertumbuhan ekonomi Idealnya mampu menyerap sedikitnya 400.000 angkatan kerja. Apa artinya ? utang itu keniscayaan kalau APBN defisit. Kalau engga, ekonomi akan stuck.

Kalau BOSAN akan mengurangi utang, maka yang pertama dia lakukan adalah menghilangkan dulu defisit APBN. Caranya pangkas biaya sosial seperti pendidikan yang besarnya mencapai 20% APBN. Pangkas anggaran subsidi BPJS. Pangkas subsidi produksi bagi nelayan dan petani. Kalau itu dikurangi maka kitak tidak akan defisit. Tidak perlu behutang. Bahkan bisa bayar utang. Saya jamin lima tahun BOSAN berkuasa utang kita akan lunas. Namun semua rakyat harus mandiri. Semua sekolah dari SD sampai SMU harus bayar. Premi BPJS naik 10 kali agar BPJS tidak rugi. Pupuk harus naik sesuai harga pasar. Pajak air harus diterapkan kepada petani yang memakai bendungan dan irigasi untuk biaya perawatan. Nelayan harus beli solar sesuai harga pasar. Harga BBM dan sembako tidak ada lagi seragam. Karena tidak ada lagi subsidi distribusi. Mungkinkah? Rasionalkah?

Anggaran infrasktur
Bagaimana dengan biaya infrastruktur ? Apakah anda pernah baca APBN?. Anggaran infrastruktur itu masuk pos pembiayaan anggaran atau belanja fiskal. Itu anggaran untuk daerah yang tingkat komersialnya rendah. Sementara yang nilai komersialnya tinggi, dibiayai di luar APBN. Pos anggaran ini memang didapat dari utang akibat APBN defisit. Kalau anda tidak mau berhutang ya tinggal coret saja pos anggaran infrastruktur itu. Selesai. Jadi kita tidak perlu bangun infrastruktur untuk daerah yang nilai komersialnya rendah. Bangun aja semua di Jawa dalam skema B2B.

Nah pertanyaan saya adalah bagaimana anda meningkatkan anggaran swasembada pangan, energi, air bersih, lembaga negara, sama angkatan perang, kalau uang tidak ada ?. Bagaimana anda menigkatkan tax ratio kalau ekonomi stuck. Pertumbuhan penduduk dan angkatan kerja justru menjadi bencana sosial. Semakin saya perhatikan, BOSAN tidak punya program sesungguhnya. Hanya melukis diawang awang. Tidak realistis. Anehnya kepada akar rumput mereka menjanjikan semua murah.? Benar aneh. Kebohongan intelektual menciptakan kebodohan struktural.

Seni mengelola defisit.
Satu saat datang seorang CEO perusahaan kepada saya. Neracanya dalam keadaan merah. Jumlah penerimaan tidak cukup untuk membayar pengeluaran. Dia mengeluh karena harga jual produksinya terus menurun akibat pasar yang menyempit dan faktor kompetisi. Sementara dia tidak sanggup lagi menanggung hutang yang begitu besar. Tetapi dia tidak bisa berbuat banyak. Kepada pemegang saham dia terus menjajikan banyak hal agar nilai sahamnya terus naik. Kepada karyawan dia tetap menjanjikan kenaikan gaji agar karywan tetap semangat. Namun sampai kapan ini terus dipertahankan. Hanya masalah waktu tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Saat sekarang penerimaan tidak sanggup lagi bayar biaya operasional. Apalagi harus ditambah bayar utang. Benar benar stuck. Katanya.

Mr. B, apakah anda punya usul. Bagaimana caranya keluar dari masalah ? Saya tersenyum menatapnya. Usaha turun naik itu biasa saja. Tetapi yang tidak biasa adalah gagal berkembang hanya karena faktor perubahan yang sedang terjadi. Saya lihat banyak orang yang terjebak dengan masalah. Sementara masalah itu bisa diselesaikan dengan mudah asalkan ada kamauan untuk berubah. Gimana caranya? katanya. Saya katakan bahwa dari asset yang tertera di neraca itu ada tanah seluas 4 hektar. Itu tanah pabrik. Katanya. Saya katakan pindahkan pabrik ketempat lain yang tanahnya lebih murah. Tanah yang ada itu di komersialkan lewat pola kerjasama dengan investor. Asset itu tidak berkurang tapi bertambah nilainya karena dikomersialkan.

“Lantas darimana saya dapatkan uang untuk bangun pabrik baru ? katanya. Saya katakan, dengan adanya rencana investasi itu, anda punya peluang mendapatkan penghasilan tambahan. Itu masuk dalam portfolio bisnis anda. Secara future nilai perusahaan akan meningkat. Tentu tidak sulit bagi anda dapatkan tambahan utang untuk bangun pabrik baru. Ukurannya tidak sebesar yang ada. Disesuaikan dengan kapasitas pasar yang ada. Bisnis anda akan efisien. Untung akan lebih besar. Bagaimana dengan karyawan yang ada kalau terpaksa di kurangi karena produksi turun?. Alihkan ke bisnis kerjasama atas pemanfaatan tanah tadi. Nah utang memang bertambah tetapi value anda juga meningkat. Begitulah bisnis seharusnya. Kalau anda menolak perubahan maka anda akan digilas perubahan itu sendiri.

Nah tahukah anda saat sekarang APBN kita itu 20% habis untuk anggaran pendidikan. Ini tidak bisa dikurangi. Karena amanah UU. 20% lagi untuk biaya pegawai dan belanja rutin pegawai. Ini engga bisa dikurangi. Kalau dikurangi bisa chaos. Malah harus ditingkatkan. 20% lagi bayar utang dan bunga. Ini engga bisa ngemplang, Kalau ngemplang bisa chaos ekonomi. 20% lagi untuk biaya daerah otonomi. Seperti biaya perawatan infrastruktkur dan lain lain. 20% lagi untuk biaya sosial. Jadi praktis engga ada lagi tersisa untuk bangun infrastruktur yang bisa langsung dirasakan oleh rakyat. Makanya APBN defisit. Nah kalau pemimpin egga smart. Tebar janji jaminan harga semua murah , dan biaya sosial meningkat, darimana duitnya ? apalagi mau kurangi utang. Kan aneh.

Kalau APBN defisit. Bukannya utang di kurangi tetapi kemampuan berhutang ditingkatkan. Caranya? lakukan ekpansi fiskal yang berorientasi kepada produksi. Ini akan berdampak kepada peningkatan asset negara. Tidak selalu harus 100% pakai utang. Bisa saja peluang bisnis yang ada di kerjasamakan kepada investor dengan skema PPP. Walau investor yang membangun, kepemilikan asset tidak hilang. Negara dapatkan tambahan peluang penerimaan pajak. Secara hukum asset yang tadinya hanya berupa potensi ekonomi menjadi value ekonomi yang akan meningkatkan kemampuan mengk-akses financial resource untuk pembiayaan program investasi dibidang sosial maupun pendidikan. Dengan demikian mesin ekonomi akan bergerak dan orangpun mampu bayar pajak. Semoga dipahami.

Mengapa saya memilih Jokowi?
Saya bergaul dengan politisi, aktifis. Kalau bergaul dan bertemu dengan mereka di cafe berkelas. Saya selalu jadi bandar. Saya mengenal siapa mereka. Apa agenda mereka. Tahu kemana arah manufer langkah mereka. Apa yang dapat saya simpulkan? \ umumnya orientasinya hanya soal uang. Mau partai islam atau partas nasionalis. Sama saja. Aktifis juga sama. Mau aktifis keagamaan maupun kemanusiaan. Ujungnya hanya satu yaitu uang. Bagi saya selagi mereka tidak merampok APBN atau mengajak konspirasi menjarah APBN, masih saya anggap wajar. Namanya usaha. Namun tetap saya tidak bisa terima kelakuan semacam itu. Pernah tahun 2008 saya diatur ketemu dengan tokoh agama yang dekat dengan pengusaha. Dalam pertemuan itu dia cerita bisa atur dapatkan jatah impor atau ekspor MIGAS. Karena dia menjamin dapatkan kuota. Perut saya terasa mual.

Para politisi dan aktifis keagamaan ini umumnya pengangguran yang banyak acara. Tidak ada pabrik atau bisnis yang mereka bangun mendatangkan angkatan kerja luas. Tetapi kehidupan pribadi mereka hedonis. Rumah mewah. Kendaraan super luxe. Darimana mereka dapatkan itu ? ya dari cara mereka memberikan akses kepada kekuasaan. Pengusaha apa ? tentu pengusaha rente. Yang ingin dapatkan izin tambang. Izin konsesi proyek infrastruktur. Ingin dapatkan kuota impor atau ekspor. Izin pembebasan lahan. Sekali kita pernah gunakan akses mereka deal dengan pejabat maka selanjutnya mereka akan jadikan kita ATM. Mereka engga mau tau apakah deal itu menghasilkan uang atau tidak. Menjelang hari besar keagamaan atau kegiatan politik. Pasti datang SMS meminta donasi. Engga ada malunya.

Mengapa akses kekuasaan begitu mahalnya dan butuh mediator patron ? karena sistem birokrasi memang di design melahirkan instana gading. Tidak semua orang bisa mengakses nya. Kompetisi bisnis tidak bisa di hindari. Semua pengusaha rente berusaha menjadi the first one yang mengakses kekuasaan. Makanya jangan kaget bila artis tenar laku seharga puluhan juta. Mobil mewah laku keras. Karena pengusaha ingin memberikan hadiah terbaik kepada kepada patron yang punya akses kepada kekuasaan. Pernah teman saya cerita ikut dalam rombongan studi banding pejabat kementrian dan anggota DPR. Selama kunjungan keluar negeri itu dia mendampingi shopping istri anggota Dewan dan pejabat . Dia harus menguras kocek sampai USD 400.000 untuk beli perhiasan satu set untuk ibu ibu itu.

Itu sebabnya sejak reformasi saya hijrah bisnis ke luar negeri. Karena saya tahu walau reformasi, budaya birokrasi yang menjajah belum akan segera berubah. ya setidaknya saya harus hijrah. Namun setiap Pemilu saya tetap menentukan pilihan. Saya berharap ada perubahan. Setidaknya lewat pemilu saya telah ikut berjuang. Walau kecil kemungkinan akan menang. Saya tidak pernah kehilangan harapan. Saya hanya berharap lahirnya pemimpin yang tidak kemaruk harta. Dengan demikian reformassi birokrasi tidak lagi sebatas retorika tetapi lewat keteladanan rasa malu dari pemimpin itu sendiri. Dari dia saya bisa berharap perubahan mental terjadi. Agama akan menjadi jalan spiritual untuk orang mandiri. Budaya menjadikan orang tahu bermitra dengan mindset terbuka.

Kini di era Jokowi, saya tahu tidak ada lagi orang bisa menjual akses kepada kekuasaan. Semua bisnis rente tewas. Bahkan izin tambang dan perkebunan yang sudah ditangan karena izin masa lalu, banyak yang Jokowi batalkan. Ratusan jumlahnya. Impor dan ekspor tidak ada lagi kuota diberikan kepada swasta. Hanya kepada BUMN. Konsesi bisnis infrastruktur hanya diberikan kepada BUMN. Kecuali kalau swasta punya uang sendiri. Penguasaan lahan property dikenakan pajak progressive. Jadi orang tidak bisa lagi menumpuk asset. Kini kalau ketemu dengan teman yang dulu hidup senang bersama elite partai dan tokoh agama, lebih banyak bicara kebencian kepada Jokowi. Mereka selalu punya alasan menyalahkan Jokowi. Semua karena kekuasaan tidak lagi mendatangkan uang mudah bagi mereka.

Itu sebabnya saya pilih Jokowi. Karena saya butuh perubahan. Saya sadar itu tidak mudah. Musuh Jokowi banyak sekali. PR Jokowi banyak sekali. Butuh waktu untuk menuju proses ideal. Namun selagi Jokowi tidak KKN, saya tidak pernah kehilangan harapan. Bukan untuk saya tetapi untuk cucu saya. Untuk Aufar dan Nazwa, Nafinza. Saya pribadi tidak berharap apapun. Saya generasi yang tahan bantin. Cukuplah generasi saya saja. Saya inginkan cucu saya nanti bisa belajar seni dan belajar agama dengan euforia. Karena kehidupan lapang. mencari rezeki mudah. . Bagaimana dengan anda?



Minggu, 20 Januari 2019

Generasi first class




Saya termasuk tergolong tua. Tahun 2024 nanti usia saya akan 60 lebih. Tapi saya senang melihat orang yang dibawah usia saya lebih cerdas. Lebih tanggap terhadap situasi yang ada. Punya integritas. Mereka yang saya temui dalam keseharian saya adalah mereka para profesioanal muda dan juga para politisi muda. Ada tiga kelompok tempat mereka berada. Satu jalur profesional. Satu lagi jalur politik, dan lainnya jalur Business. Ketiga jalur inilah mereka eksis. Dari kelompok profesional ada Archandra Tahar yang kini jadi Wamen ESDM. Budi Gunadi Sadikin yang kini dirut Inalum ( Holding BUMN Tambang). Dari kelompok politisi ada Ridwan Kamil, sekarang Gubernur Jabar. TGB Gubernur NTB, Politisi Golkar. Ganjar pranowo, politisi PDIP. Ada juga Ibu Risma, Politisi PDIP. Nusron Wahid, Politisi Golkar. Budiman Sujatmiko, politisi PDIP. Dari kelompok bisnis , Eric Tohir. Nadiem Makarim, Haryadi Sukamdani, Airlangga Hartanto.

Banyak lagi yang lain yang tak saya sebut satu persatu. Mereka jelas orang hebat. Tidak kurang militannya berbuat untuk negeri ini, yang pantas menjadi pemimpin nasional. Namun mereka memilih diam dari hiruk pikuk politik. Dari ketiga kelompok anak muda ini, hadir melengkapi kehidupan social , politik ,ekonomi kita. Mereka adalah orang orang yang cerdas dan tidak inferior complex. Tampil percaya diri dengan segala sikapnya. Mereka enampakan sosok yang mengagumkan kita. Mereka muda , lulusan universitas didalam maupun luar negeri ,berwawasan luas, negosiator ulung dan bersemangat tinggi pantang menyerah.

Sebuah fakta bahwa tidak perlu ada kecemasan akan hilangnya generasi First class. Akan selalu tampil dalam catatan sejarah para kaum muda untuk menggantikan estapet para orang tua. Namun, mereka tetap saja bagian elite negeri ini. Mereka eksis karena situasi politik dalam sistem demokrasi yang memang memungkinkan mereka bisa tampil ke panggung politik naisonal. Seperti halnya Jokowi yang tadinya pengusaha menjadi politis. Ini hokum di alam demokrasi untuk terjadi estapet kepemimpinan nasional. Saya tidak mengatakan orang tua lebih baik daripada orang muda. Stikma orang tua lebih wisdom daripada orang muda , sudah seharusnya dihilangkan dalam budaya kita. Bagaimanapun mereka adalah anak zaman yang berhak menuntut porsinya. Sudah saatnya kita mempercayai mereka. Kalau tidak, kapan lagi ?

Hanya yang harus digaris bawahi. Para orang muda harus pandai membaca sejarah orang tua. Bahwa tak banyak yang bisa diteladani dari generasi tua, kecuali rasa syukur bahwa kalian para generasi muda memiki rumah sendiri bernama ‘Indonesia. Simaklah kata kata dari Pramoedya Ananta Toer “ kami adalah generasi yang gagal. “ Hanya hal yang patut dijadikan pijakan bahwa kekuasaan karena ingin mengejar harta adalah kezaliman, kekuasaan karena amanah Allah adalah kemuliaan.. Membangun business tanpa Etika moral adalah animal business. Membangun business untuk kepentingan stakeholder adalah hero. Mengembangkan karir managerial tanpa visi enterprenueship adalah pengekor alias budak. Professional yang entrepreneurship adalah pembaharu.

Itu semua tertulis dengan jelas dalam buku sejarah orang tua kita. Yang baik ditiru dan yang buruk dihapus. Jangan ulang lagi kesalahan generasi tua. Jangan lagi. Ingatlah disebelah sana jauh dari tempat kalian tinggal ada kumpulan diam para kaum duapa harta dan ilmu. Mereka ada dipelosok desa, dibalik gunung, dipantai, dibalik gubuk reot. Mereka tak pernah berhenti menanti uluran tangan para orang berilmu dan berharta untuk melindungi mereka dengan cinta. Maka mulailah berinprovisasi untuk lahirnya visi Indonesia kedepan. Kita berharap Indonesia ditangan orang muda akan lebih baik, setidaknya orang muda dapat belajar dari kesalahan orang tua dan menjadikan hal yang baik dari orang tua sebagai inspirasi membangun kejayaan negeri ini. Ingatlah kata kata Soekarno “Kalau pada saya diberikan seribu orang tua, saya hanya dapat memindahkan gunung semeru. Tapi kalau sepuluh pemuda bersemangat diberikan kepada saya, maka seluruh dunia dapat saya goncangkan”

Kamis, 17 Januari 2019

Seputar debat Capres.


Indonesia beruntung tidak seperti CHina waktu melakukan reformasi ekonomi Deng. Kala itu China memberhentikan PNS  maupun honorer Partai sebanyak 25 juta orang.  Itu tidak termasuk ribuan BUMN dan BUMD yang dibubarkan karena alasan tidak efisien.  China juga memotong dana riset di lembaga penelitian baik di kampus maupun di Badan Penelitian ( China Academy Science. ). Bahkan menurut cerita para peneliti di bolehkan melakukan sendiri penelitian sesuai pesanan dari swasta namun harus bayar biaya sewa peralatan dan kantor kepada pemerintah.  Dari kebijakan itu, China bisa menghemat anggaran untuk ekspansi pembangunan infrastruktur tanpa harus berhutang ke luar negeri. Saat itulah China masuk ke sistem pengelolaan pegawai secara modern yang berorientasi kepada produktifitas.

Tahukah anda bahwa setiap tahun anggaran belanja untuk bayar gaji PNS itu tahun 2018 mencapai Rp 495,7 triliun atau hampir Rp 500 Triliun Itu mengalahkan anggaran untuk bangun infrastruktur.  Jokowi tidak mungkin bersikap seperti China. Yang dilakukan Jokowi adalah memperbaiki struktur gaji agar orientasinya bukan lagi belanja belanja tetapi produktifitas. Maka sistem rumenarasi diperbaiki. Sistem penilaian kinerja diperbaiki. Sistem rekrutmen di perbaiki. Agar apa ? agar keberadaan PNS benar benar menjadi mesin ekonomi yang tidak lagi bersifat birokrasi tetap meritrokrasi atau pelayanan. Dengan demikian akan berdampak kepada pertumbuhan investasi. 

Kalau gaji ditingkatkan tanpa melalui sistem remunerasi berdasarkan kinerja maka gaji itu akan menjadi beban belanja yang justru menbuat APBN tidak efisien. Kalau tidak efisien maka engga ada lagi orang yang mau membeli SBN kita. Oh meningkatkan Tax Ratio? kan konyol kalau tujuan peningkatan tax ratio hanya untuk meningkatkan gaji pegawai.  Seharusnya peningkatan tax ratio itu dimanfaatkan untuk perluasan infrastruktur dan memperkuat APBN dengan mengurani rasio utang.  

Tax ratio kita sekarang diatas 10% atau 10,7%. Mengapa tidak sampai 16% ? ditengah keadaan ekonomi yang sedang proses recovery tidak mungkin memaksa orang banyak bayar pajak.  Dalam jangka pendek, Jangan makan angsanya tetapi makan telornya. Angsanya dipiara dengan baik agar kelak menghasilkan telur. Artinya potensi penerimaan yang diutamakan bukan rasio  pajak diperbesar. Itu dalam jangka panjang mengarah kesana atau setidaknya mencapai ambang layak dari bank Dunia sebesar 15%.  Itu sebabnya Jokowi menaikan Batas  Penghasilan TidakKena Pajak (PTKP).  Otomatis Ratio pajak turun tetapi potensi penerimaan pajak. Silahkan liat google data penerimaan pajak terus meningkat di era Jokowi.

Membangun dengan kebijakan pragmatis adalah sikap mental diktator dan pasti  koruptip. Itulah yang disampaikan oleh Prabowo, alasan menaikan gaji pegawai dalam rangka mengurangi korupsi.  Benar benar kebijakan tidak terstruktur. 

***
Ada tiga Issue yang mudah menjatuhkan Jokowi. Pertama, issue soal SARA. Kedua, Issue soal kurs rupiah. Ketiga, issue soal Pangan. Ketiga hal ini dimanapun pernah membuat presiden terjungkal. Ketiga issue itu ibarat biang kanker. Awalnya muncul satu tetapi kalau sudah kronis akan menjadi komplikasi dengan semua issue yang ada. Jatuhnya Soeharto karena kurs rupiah yang terjun bebas. Tetapi sebelum meluas Soeharto sudah jatuh lebih dulu. Hasilnya reformasi, bukan revolusi. Soekarno jatuh karena Tritura. Pangan langka, hiperinplasi yang membuat harga melambung. Hasilnya adalah revolusi bau amis darah. Arab spring terjadi karena soal issue pangan yang melambung dan sulit didapat. Chaos terjadi dimana, sehingga menjatuhkan Presiden di Mesir dan lainya.

Menjalang Pemilu, rupiah melemah. Semua team pakar kubu BOSAN rame rame membuat statement yang menggiring opini publik bahwa akan terjadi chaos seperti tahun 1998. Saya bersama teman teman yang mendukung Jokowi berusaha melalui sosial media melawan serangan issue negatif itu. “ seorang politisi dari salah satu partai pendukung BOSAN, mengatakan bahwa Jokowi tamat. Rupiah akan terus turun, Kalau rupiah tembus diatas Rp. 17.000 engga perlu tunggu pemilu, Jokowi sudah jatuh. Referendum akan jadi wacana. Kekuatan islam akan tampil sebagai penyelamat. Ganti presiden ganti sistem. Saya hanya tersenyum. Kubu BOSAN tidak memahami geostrategis dan geopolitik soal kurs. Akhirnya semua tahu Rupiah selamat.

Nah bagaimana soal Pangan? Kekuatan inteligent BOSAN sangat hebat melobi agar ketua BULOG berasal dari kubunya atau orang yang punya link dengan kubunya. Kalau Beras langka, ada yang sudah pengalaman dibidang kebijakan pertanian yang bisa membuat distribusi beras sulit sehingga harga melambung. Dasarnya mereka tahu bahwa data soal pangan tidak valid. Tetapi Jokowi cepat tanggap dengan situasi soal pemilihan Ketua Bulog. Pilihan kepada BUWAS karena BUWAS mantan PATI POLRI yang sangat menguasai jaringan kartel Impor dan distribusi 9 bahan pokok. Dia termasuk yang dimusuhi oleh 9 Naga. Tugas Buwas hanya satu yaitu amankan stok beras nasional. Itu sebabnya BUWAS sampai sekarang juga tidak di sukai oleh elite politik. Menjelang pemilu harga beras tetap stabil. Secara politik aman.

Soal SARA, semua terkunci sejak Jokowi berpasangan dengan Ma’ruf Amin. Jokowi tidak menggunakan issue agama untuk menyerang lawan. Tidak juga mengarahkan massa islam. Namun semua orang tahu bahwa disamping Jokowi ada mantan ketua MUI. Serangan soal SARA kepada Jokowi sudah terpatahkan dengan sendiri.

Jadi dengan tidak adanya tiga issue tersebut diatas yang bisa di goreng untuk menjatuhkan Jokowi, maka pemilu memang benar benar PEMILU akal sehat. Apapun issue soal tiga hal tersebut diatas hanya akan berujung hoax. Dan lucunya PS percaya hoax soal Impor yang merugikan petani. Kalau benar impor beras itu merugikan petani, mengapa harga beras tidak turun di tingkat petani.? Artinya tidak ada pengaruh negatif terhadap Petani dengan kebijakan impor itu. Yang untung tetap Rakyat sebagai konsumen karena stok beras terjaga dan harga stabil. 




Minggu, 13 Januari 2019

Pemimpin visioner.


Dwight D. Eisenhower adalah jenderal fenomenal di AS. Ia dilahirkan di Denison, negara bagian Texas, pada 14 Oktober 1890. Ia pernah ikut dalam perang dunia pertama sebagai perwira lapangan. Dalam perang dunia kedua, dia menjadi staff perwira dibawah sang jenderal hebat Douglas McArthur. Kehebatannya juga teruji dibawah Jenderal George Marshall yang menempatkannya sebagai Kepala Bagian Perencanaan Perang, Staf Umum Departemen Perang Amerika. Pada November 1942 sebagai Letnan Jenderal, Dwight Eisenhower memimpin pendaratan tentara sekutu di Afrika Utara. Sukses. Pada 1944 ia diangkat menjadi Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu melakukan pendaratan di Normandi, Perancis untuk menaklukan Jerman. Penyerbuan ini berhasil membuat Jerman menyerah pada 8 Mei 1945.

Selama perang dunia kedua, Eisenhower mempelajari kehebatan Jerman yang dia akui sebagai negara yang cepat bangkit dari keterpurukan dan akhirnya memimpin kemajuan di bidang ekonomi. Ambisi Hitler ingin menguasai Eropa tidak akan ada bila tidak di dukung oleh kekuatan ekonomi Jerman ketika itu. Eisenhower kagum dengan kecepatan mobilisasi pasukan Jerman dari satu tempat ke tempat lainya dengan sarana autobahn. Ya, kehebatan Hitler yang bukan Sarjana hebat dan bukan lulusan West Point adalah membangun infrastruktur darat yang terhubung dari satu kota ke kota lainnya. Ini menjadi inspirasi hebat bagi Eisenhower. Bahwa infrastruktur adalah kata kunci membuat kemajuan bangsa dan unggul dalam persaingan. Apa saja.

Usai perang dunia kedua, tahun 1954. Eisenhower terpilih sebagai Presiden AS. Yang petama kali di usulkannya kepada Kongres adalah membangun jalan darat untuk menghubungkan antar wilayah negara bagian. Pada tanggal 26 Juni 1956, Eisenhower menandatangani Undang-Undang Pembangunan Jalan Raya Antar Negara Bagian yang telah disetujui oleh kongres. Pembangunan ini sangat luas. Bahkan pembangunan terlama dalam sejarah AS. Membutuhkan waktu 37 tahun lamanya. Baru selesai tahun 1991. Panjang jalan 46.876 mil. Anggaran yang digelontorkan sebesar USD 129 triliun. Benarlah. Dampak dari pembangunan infrastruktur itu adalah terjadinya peluang bisnis yang meluas di segala sektor. Multiplier effect terjadi. Inovasi dan kreatifitas bisnis tanpa hambatan. Pembangunan industri terjadi merata di semua negara bagian.

Usai perang dunia kedua, semua negara menghadapi krisis termasuk AS. Eisenhower memanfaatkan krisis itu melakukan perubahan. Negara harus memberikan kesempatan agar semakin besar peran rakyat dalam menggerakkan mesin ekonomi. Negara hanya berperan sebagai administratur saja. Caranya adalah memberikan kebebasan kepada pelaku usaha untuk bersaing di pasar dan negara menyediakan infrastruktur ekonomi agar persaingan terjadi secara sehat bagi setiap wilayah dan individu. Benarlah, selama beberapa dekade, AS memimpin perubahan dunia di segala bidang.

***
Setelah terplih sebagai Presiden China, Deng Xiaoping terbang ke Amerika Serikat. Dia punggungi Unisoviet. Ketika itu ke pergian Deng ke Amerika sesuatu yang sangat tabu ditengah perang dingin. Deng tidak peduli. Deng inginkan perubahan. Tidak ada yang baru dari Unisoviet. Kalau Deng ke sana , China tidak akan berubah. China lama telah terkubur dalam revolusi kebudayaan. Tidak mungkin China lama bangkit lagi dari liang kubur. Di AS, Deng tidak banyak melakukan kunjungan resmi ke negaraan. Tidak ada agenda politik. Tidak ada agenda minta bantuan ke AS. Deng hanya ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sebuah negara yang menang perang dunia kedua. Yang digdaya di bidang tekhnologi dan ekonomi. Dari pengamatannya secara langsung, dia mendapat inspirasi. Inilah yang harus di tiru oleh China.

Setelah pulang dari AS, Deng berkeliling China. Dia blusukan ke banyak kota kota kumuh. “ China harus membangun infrastruktur. Semua kota harus terhubung satu sama lain lewat jalan darat dan udara. Kita harus membuat pelabuhan , bandara. Kita harus membangun pembangkit listrik untuk industri. Kita juga harus mengubah sistem pendidikan kita. Kita harus melahirkan generasi kreatif. Bukan generasi hapalan dan dogmatis.” demikian kira kira yang disampaikan Deng dalam pidatonya disetiap kota yang dikunjunginya. Secara tidak langsung Deng menekankan adanya perubahan dalam metodelogi membangun. Dari komunis ke kapitalis. Terutama ketika dia menyebut “ Emansipasi “ dalam program ekonominya. Rakyat didepan, negara dibelakang.

Ketika Deng berkuasa, Kas negara kosong. Pertumbuhan ekonomi stuck. SDM sampai titik terendah. Karena yang pintar pintar lulusan perguruan tinggi banyak yang mati dalam kamp kerja paksa semasa revolusi kebudayaan. Tetapi Deng sangat paham bahwa modal China sesungguhnya adalah kemerdekaan individu. Kebebasan ekonomi bagia setiap orang. Reformasi Deng memberikan kebebasan itu. Secara tidak langsung Deng berdagang dengan rakyat. “ Negara beri anda kebebasan tetapi anda harus bayar kepada negara. Bayarnya bisa lewat kerja atau pajak.”. China membangun tidak dari utang ke negara lain. Deng meningkatkan pajak petani sampai dua kali lipat. Membayar upah buruh dengan murah. Pada waktu bersamaan dia menghapus semua subsidi sosial. Dari itulah dia punya uang untuk membangun infrastruktur.

Apakah perubahan itu mulus? tidak. Secara tidak langsung banyak teman teman politik Deng yang tidak setuju. Para mahasiswa setiap hari dalam diskusi diruang gelap, mencela kebijakan Deng yang mereka sebut tidak ada perikemanusiaan. Anti demokrasi. 25 juta PNS di berhentikan tanpa pesangon. Jutaan Tentara rakyat dipaksa untuk jadi pekerja kontruksi. Membangun jalan dan bendungan. Lembaga riset di swastakan. Semua produk pertanian di beli dengan harga murah oleh negara. Pada waktu bersaman di jual keluar negeri. Agar negara dapat devisa untuk membeli tekhnologi dari Eropa dan AS. China pun mengundang investor asing dengan insentif pajak murah. Upah murah. Sewa tanah yang murah. Hak kelola tanah sampai 100 tahun. Mereka bilang China telah dijual ke asing. Deng bisa membungkam para oposan dengan korban tak terbilang dalam peristiwa tiananmen square.

Perubahan dihentakan sangat keras oleh Deng. Rakyat China dipaksa berubah. Mereka tidak punya pilihan jalan lain. Jalan perubahan telah disediakan pemerintah. Mereka harus lewat jalan itu. Jalan yang memaksa semua orang harus berkompetisi. Jalan yang membuat orang harus kerja keras untuk kemakmuran dan kehormatan keluarganya. Setelah sekian dekade, China memang berhasil melewati perubahan itu. Kini China menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor dua dunia. Mungkin beberapa tahun lagi akan menjadi nomor 1. Seiring kemajuan China, pajak petani telah di hapus. Pajak perusahaan china diturunkan dan pajak PMA di naikan. Sejak tahun 2006 atau dalam 10 tahun China menaikan upah buruh 400 %. Negara mentunaikan janji Deng 32 tahun lalu. “ Pengorbanan kalian sekarang akan dibayar oleh generasi anak anak kalian. Percayalah”

“ Deng memang keras. Tapi Deng smart. Dia menyediakan infrastruktur secara luas yang sehingga peluang ekonomi terbuka bagi semua wilayah, bagi semua orang. Jalan keadilan ekonomi terjadi secara natural. Dari situlah semua orang melintasi masa depan dengan penuh percaya diri. Andaikan Deng meniru cara Unisoviet membangun dengan memperkuat militer dan intel, memberikan jaminan sosial ala komunis, mungkin nasip China akan sama dengan Unisoviet yang akhirnya bubar.

“China setelah itu memang membangun puluhah ribu kilo meter jalan. Orang kaya baru terus meningkat. Jumla kelas menengah betambah. Pembangunan terjadi diseluruh china. Membangun jutaan rumah. Ya rakyat China telah bermetamorfosis menjadi masyarakat kapitalis tetapi Deng tetaplah seorang sosialis. Deng sendiri tidak punya rumah pribadi. Deng meninggal tanpa harta.“ Kata teman di China.

***

Suatu waktu saya bersama teman berkunjung ke Hobei di provinsi Wuhan, China dan saat itulah teman yang juga professor disalah satu universitas di Eropa sempat berkata kepada saya bahwa kemajuan China dibidang Ekonomi bukanlah sesuatu yang hebat. Saya bingung. Karena seharusnya teman ini terpesona dengan infrastruktur dan kapasitas industry yang dilihatnya selama kunjungan ke Hobei. Menurutnya apa yang dicapai oleh China kini bisa juga dicapai oleh Negara manapun. Jadi bukan sesuatu yang sulit dipelajari. Apa itu? China mampu memastikan kelancaran distribusi barang dan jasa secara efisien. Kelancaran ini didukung oleh infrastruktur logistic ( darat ,laut dan udara ) yang luas dan merata diseluruh china. Sehingga setiap wilayah mampu mengembangkan potensinya dan mendapatkan manfaat dari itu lewat kemampuannya mensuplay kebutuhan pasar dalam negeri maupun international.

Anda bisa bayangkan pedagang bunga di Pasar Pagi dan Sawah Besar Jakarta merasa lebih nyaman dan menguntungkan membeli (import) bunga dari Yunnan ( China) daripada beli bunga dari Lembang ( Bandung). Pedagang buah buahan Jakarta merasa lebih nyaman dan menguntungkan membeli (import) Jeruk dari exporter Shanghai dibandingkan membeli Jeruk dari pedagang besar di Kalimantan. Itulah kehebatan dukungan system logistic yang dimiliki oleh china.

Sang professor berkata kepada saya bahwa negara-negara yang berhasil dalam pencapaian tujuan pembangunan adalah negara-negara yang memiliki sistem logistic yang efisien. Untuk itu harus didukung akan sarana transforitasi dan sistem administrasi layanan yang cepat. China memiliki jalan tol terpanjang di dunia, memiliki panjang jalur kereta sekitar 100.000 kilometer yang menghubungkan seluruh provinsi yang ada di China, dan akan ditingkatkan menjadi 170.000 pada 2030. Negeri Panda itu kini juga telah memiliki jalur kereta cepat ( express trains) sepanjang 8.358 kilometer yang merupakan terpanjang di dunia, serta akan dibangun pula jalur yang menghubungkan hingga Tibet, Rusia serta beberapa negara ASEAN. Dan China mampu mengelola system transportasi nasional yang meliputi darat, laut dan udara dengan efisien dan efektif untuk mendukung lalu lintas logistic.

Yang menyedihkan era SBY berkuasa, kinerja Logistik sangat buruk, bahkan di bawah negara tetangga di Asia. Bank Dunia (2012) mempublikasikan Logistic Performance Index yang menempatkan kinerja sektor logistik Indonesia pada urutan 59 dari 155 negara. Posisi yang jauh di bawah dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, maupun Filipina yang memiliki kondisi geografis relatif sama dengan wialayah nusantara. Dari segi layanan logistik yang ada di Indonesia masih terlalu panjang dan tidak efisien atau tepatnya amburadul, yang berdampak harga barang menjadi mahal. Contoh biaya logistik untuk produk pertanian masih di atas 40 persen. Akibatnya jangan kaget bila harga panen yang awalnya sangat rendah menjadi begitu tinggi di pasaran karena biaya transportasi dan logistik cukup besar. Bahkan, tak jarang harga sayuran dalam negeri justru lebih mahal ketimbang produk hortikultura impor, seperti wortel , bawang dari China atau Thailand, Malaysia.

Padahal bahan makanan pokok, termasuk hortikultura, menyumbang sekitar 35 persen sumber inflasi. Tanyalah harga bahan bangunan kepada orang Papua, sangat mahal. Sektor logistik secara makro menentukan daya saing suatu negara. Bila daya saing diartikan sebagai perbandingan produktivitas dan biaya, maka daya saing dapat diukur melalui persentasi ongkos logistik terhadap pendapatan nasional bruto suatu negara. Semakin rendah ongkos logistik maka semakin baik daya saing negara tersebut. Ongkos logistik Indonesia diperkirakan sekitar 20-25% dari PDB. Jika dihitung dengan PDB tahun 2010 sebesar Rp 2.310,7 triliun atas dasar harga konstan, maka ongkos logistik Indonesia sekitar Rp 500 triliun, itu sama dengan setengah dari APBN habis untuk ongkos logistic yang tidak efisien. Hal ini salah satu penyebab mengapa tingginya angka pertumbuhan ekonomi di era SBY tidak berdampak luas terhadap perluasan produksi dan kesempatan kerja.

Apa dampaknya ? ternjadinya deindustrialisasi di Indonesia karena masih kurang memadainya insfrastruktur dibandingkan dengan permintaan pelayanan jasa transportasi. Kondisi infrastruktur pelabuhan, bandara, jalan darat, dan jalur kereta api tidak memadai untuk mendukung kelancaran lalu lintas logistik. Sistem transportasi intermodal ataupun multimoda belum dapat berjalan dengan baik. Akibatnya transportasi dari sentra-sentra produksi ke pelabuhan dan bandara belum dapat berjalan lancar. Sehingga menyebabkan kualitas pelayanan menjadi rendah dan tarif jasa menjadi mahal, belum lagi prilaku aparat yang korup. Mengapa SBY tidak melakukan secara all out untuk mencari jalan keluar terpenuhinya system losgistik yang efisien? Jawabannya hanya satu bahwa sistem yang amburadul memang membuat nyaman para birokrat yang bermental korup.

***
Banyak pihak menuduh JOKOWI jor-joran membangun insfrastruktur tanpa memperhatikan kepentingan rakyat banyak. Harap dicatat bahwa alokasi anggaran untuk APBN tetap menjaga keseimbangan kebutuhan anggara lainnya khususnya bidang pendidikan dan sosial. Bahkan anggara pendidik dan sosial meningkat lebih besar daripada anggaran Infrastruktur. Menurut proyeksi PWC Indonesia, presentase anggaran infrastruktur pada APBN 2017 berikisar pada 19% dibawah target pemerintah dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan/Compound Annual Growth Rate (CAGR) investasi sektor infrastruktur periode 2014-2019 diprediksi mencapai 9,5%. Artinya tetap mengutamakan anggaran sektor lain.

Karenanya walau pembangunan terus dilakukan sejak Jokow berkuasa namun negara tetangga yang sadar akan kompetisi era MEA juga memacu pembangunan insfrastrukturnya. Berdasarkan penilaian Logistic Performance Index (LPI) Indonesia berada di peringkat 63 dengan skor 2.98 berada dibawah Thailand peringkat 45 dengan skor 3.26, Malaysia peringkat 32 dengan skor 3.43, dan Singapura peringkat 5 dengan skor 4,14. Sedangkan berdasarkan penilaian Global Competitiveness Index, peringkat Indonesia cenderung menurun dari posisi 34 pada tahun 2014-2015 menjadi posisi 37 pada tahun 2015-2016 dengan skor 4.52. Rendahnya indeks infrastruktur berdampak pada tingginya biaya logistik yang bermuara pada ekonomi biaya tinggi dan mahalnya biaya barang dan jasa serta berdampak pula pada menurunnya tingkat persaingan di masyarakat dalam kegiatan perekonomian.

Artinya begitu hebatnya Jokowi memacu pembangunan insfrastruktur masih kalah hebat negara tetangga. Bahkan masih kalah jauh jika dibandingkan negara anggota G20. Sebagai contoh, India sejak tahun 2009 investasi infrastruktur sudah diatas 7% PDB, dan Tiongkok sejak tahun 2005 sudah mencapai 9-11% PDB. Sedangkan Indonesia sampai sekarang total investasi infrastruktur dari APBN, APBD, BUMN, BUMD, dan swasta hanya mencapai sekitar 4,5% – 5% dari PDB. Mengapa ? Karena negara tetangga didukung penuh oleh elite politiknya dan rakyatnya antusias mendukung pemerintah membangun insfrastruktur dan mereka siap mengorbankan semua subsidi demi terbangunnya sistem logistik yang efisien. Semakin efisien logistik semakin competitive negara tersebut. Bayangkan apa yang terjadi pada negara kita pada 5 tahun mendatang bila pembangunan insfrastruktur tidak dikebut dibangun? Yang pasti negara kita akan dikuasai oleh negara ASEAN, dan China. Maklum era MEA ( Masyarakat Ekonomi ASEAN ) berlaku desember 2015, ACFTA ( ASEAN CHINA FREE TRADE AREA telah berlaku 2010. Kita akan digilas oleh kekuatan regional kalah bersaing.

Di awal orde baru, para ekonom yang menjadi arsitek pembangunan ekonomi di Indonesia tidak melihat hal substansi penyebab kemajuan ekonomi di AS terjadi meluas. Berbeda dengan Dengxioping yang jeli meliat aspek yang membuat AS maju. Deng terinspirasi dengan gencarnya pembangunan infrastruktur di AS. Dan itulah yang dia tiru untuk membawa gerbong ekonomi China menuju masa depan. China sekarang telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia. Kini di Indonesia, Jokowi menjadikan itu sebagai grand strategi membangun indonesia hebat. Di era Jokowi anggaran infrastruktur terbesar sepanjang sejarah republik ini. Walau Indonesia dinilai terlambat tetapi setidak nya Jokowi telah melakukan yang selama ini dilupakan oleh para presiden sebelumnya. Kitapun punya hope. AS besar dan kuat karena pernah melahirkan seorang Dwight D. Eisenhower . China bisa melakukan lompatan jauh kedepan karena seorang Deng Xiaoping. Indonesia menjadi hebat karena seorang Jokowi. Mereka semua pemimpin visioner. Karena tanpa visi yang kuat dan jauh kedepan, tidak mungkin pekerjaan besar dapat di lakukan.