Kamis, 01 Desember 2022

Politik identitas ?

 




Bapak pendiri bangsa kita sebagian besar adalah tokoh agama dan agamais. Baik dari golongan islam maupun non islam. Namun mayoritas dari tokoh islam, seperti Ki Bagus Hadikusumo , Kasman Singodimedjo, Abdul Kahar Muzakir  KH. Masjkur, KH. Abdul Wahid Hasyim, Agus Salim, Muhammad Hatta, dan lain lain. Mereka bukan kaleng kaleng atau hanya sekedar ulama pada satu mahzhab saja. Mereka intelektual yang memahami semua hal idiologi kontemporer. Mereka sangat menguasai semua referensi hubungan antara agama dan negara. 


Kalau sampai akhirnya mereka berlabuh kepada Pancasila, itulah buah karya jenial yang menembus ruang dan waktu. Bahwa negara Indonesia tidak didirikan berdasarkan idiologi sekular seperti Komunisme, sosialisme, kapitalisme, fasisme dan lain sebagainya. Tetapi berdiri diatas teologi islam. Relasi antara agama dan Negara  dalam konteks ketuhanan, keadilan, persatuan, musawarah, kemanusiaan, dilihat dari perspetif Islam. Nah dengan Pancasila, sebenarnya para pendiri negara kita bukan hanya mempersatukan yang berbeda agama tapi juga mempersatukan umat islam yang berbeda aliran.


Nazih Ayubi dalam bukunya Political Islam,Religion and Politics in the Arab World, berusaha merekam Politik islam dalam konteks Dunia Arab. Kita bisa menemukan ruh dari Pancasila.  Lahirnya  golongan dalam islam, Partisipatif, Kondisionalis, dan Penolak ( islam fundamentalisme, radikalisme)’ dalam sistem demokrasi, seperti yang digambarkan oleh Kamran Bokhari & Farid Senzai dalam buku Political Islam in the Age of Democratization, tidak lain  disebabkan oleh kegagalan memahami islam dan Politik. 


Sejalan dengan itu , Jocelyne Cesari, dalam bukunya What is Political Islam? juga mengindikasikan adanya kegagalan memahami politik dan islam. Rekamanya atas ketidakpuasan yang ditimbulkan oleh partai-partai Islam di berbagai negara pasca revolusi Iran pada tahun 1979 dan kegagalan revolusi Arab Spring yang di Mesir pada tahun 2013,  telah menyebabkan politik Islam meredup. “ Dunia sedang menyaksikan kegagalan Islam politik. Bahwa kita hidup di era pasca-Islamis, dengan relevansi Islam politik yang menurun. “ Kata Olivier Roy pengamat Harvard.


Cesari, memaparkan analisis struktural dan historis Islam politik sejalan dengan argumen Ayubi tentang hubungan historis antara Islam dan politik sebagai upaya konsesus bersama lahirnya konstitusi. Sama seperti pemikiran NU, bahwa politik itu adalah kebudayaan. Politik itu masalah muamalah. Kata Nabi, “ Antum a'lamu bi umuri dunyakum, Kalian lebih mengerti dengan urusan dunia kalian.” Antara agama dan budaya saling melengkapi, bukan saling menghabisi. Ya sama dengan Pancasila.


Nah akhirnya sampailah kita pada kesimpulan ala pedagang sempak. Bahwa berdasarkan prinsip teologi islam, tidak ada alasan untuk kesalahpahaman terhadap sistem negara apapun. Politik hanya metodelogi mencapai tujuan kesempurnaan iman di hadapan Tuhan, bukan tujuan. Sama halnya dengan Pancasila. Jadi politik identitas itu memang pemikiran gagal dan terbelakang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Sistem atau karakter personal

  Dulu waktu saya masih remaja dagang rokok di Kaki lima. Saya dagang  depan pos polisi. Pak Made, polisi berpangkat sersan, setiap sore bel...