Jumat, 13 Maret 2020

Jokowi hebat.



Aku tidak bertemu dia mungkin sekitar 10 tahun. Aku mengenalnya tahun 93. Ketika itu usiaku 30 tahun dan dia 21 tahun. Perkenalanku dengannya bukan luar biasa. Biasa saja. Dia bekerja sebagai kasir di Bank Swasta dan aku nasabah bank itu. Mungkin karena aku sering ke bank dan bertemu, jadi saling kenal. Kadang aku candain. Dia senang. Apalagi ketika kali pertama aku tawarkan makan siang di Jakarta Theater, restoran Libanon. Dia senang sekali. Mungkin aneh saja. Ada orang Tionghoa suka makanan Arab. “ Aku bukan China ! Katanya setengah merengut. Aku tertawa. Tetapi itu serius sekali baginya “ Aku orang Bangka. Catat itu.” Katanya lagi. 
Dia memang cerdas. Mengapa aku bilang cerdas?. Sore hari, pulang kantor teman temannya  sibuk pacaran dan bersantai, dia malah ambil kuliah malam di Universitas swasta. Tahun 1996 dia sudah jadi Sarjana Ekonomi. Setelah itu aku tahu karirnya semakin baik di bank. 
Kerusuhan Mei 1998 di Ibu Kota meletus, di mana nyawa-nyawa dan rumah, gedung terbakar, asap  membubung bagai gelembung- gelembung busa sabun: pecah di udara, lalu tiada. Diantara korban kerusahan itu, termasuk keluarganya. " Mereka para perusuh itu sangat hebat. Hebat menghabisi keluargaku secara mental. Mamaku diperkosa di hadapan papaku. Keduanya hancur secara mental. Setelah itu rumahku dibakar. Papaku kena stroke dan akhirnya meninggal. Hanya setahun setelah itu, mama juga meninggal. “ Katanya dengan airmata berlinang. Untunglah ketika kerusuhan itu dia sedang tugas audit di kantong cabang  di luar kota.  
Tahun 2001 dia pindah ke Hong Kong. “ aku dapat kerjaan disana. Jadi TKI juga engga buruk, setidaknya aku bisa melupakan truma di Indonesia. “ Katanya dengan wajah sendu. Aku tahu dia sangat sedih harus berpisah dengan teman temannya di Jakarta. Tapi tahun 2003 dia dipindahkan kantornya  ke Shanghai sebagai analis investasi di bank asal Inggris. Aku bertemu kembali dengan dia tahun 2009 dalam satu seminar. Pertemuan kami secara tidak sengaja dalam satu seminar investasi paska tumbangnya wallstreet. Dari situlah aku tahu cerita perjalanan karirnya selama jadi TKI. Dia sudah punya kartu PR di Hong Kong. 
Kemarin, usai meeting di Bank, di lobi gedung di Jakarta, jalan Sudirman. Aku  bertemu lagi dengan dia. Aku ingat terakhir kami bertemu tahun 2010. Saat itu dia sudah pindah ke Singapore. Kini karirnya semakin bagus. Itu saya tahu dari kartu namanya.  

“ Gimana kalau aku traktir makan siang. “ Katanya. 

“ Dimana ?

“ Di Hotelku aja. Disana aman. Aman dari corona. “ Katanya tersenyum. 

“ Tapi amankah dari nona? 

“ Ih koh, gua udah tuek. Tenang aja.  “

“ Tetapi kan tetap nona.”

“ Udah ah…jalan aja. “ Katanya narik lenganku agar kami segera keluar dari gedung itu. Sekarang aku perhatikan dia sangat dewasa namun sikapnya yang ceria tidak hilang. “ Gimana pendapat kamu tentang ekonomi China setelah perang dagang dengan AS dan terakhir adanya wabah virus corona. “ Katanya setelah kami berada di restoran. Dia tetap cantik walau usianya diatas 40 tahun.

“ Kamu lebih paham dari saya. Kamu kan banker.” Kataku.

“ Gua  ingin tahu dari praktisi seperti kamu. Pendapat pengamat kadang terlalu jauh jangkauannya dan semua karena asumsi , bukan realita.” 

“ Realita itu apa, asumsi itu apa ?

“ Realitas menimbulkan tanda tanya, dan asumsi menimbulkan kebingungan. Cobalah sampaikan secara praktis. Nanti gua akan pahami secara teori. “

“ Oh gini. Yang Gua tahu…”

“ Nah gua  suka ini..”

“ Apa?

“ Maksud gua, gua suka kalau kamu sudah bicara yang gua tahu..”

“ Ok. “ Kataku tersenyum. “ China tumbuh karena industri dan property. Itu dipicu oleh industri terlebih dahulu. Industri tumbuh karena arus investasi asing. Dari industri lahirlah bisnis property yang sangat tinggi pertumbuhannya sebagai akibat tumbuh berkembangnya bisnis perdagangan dan jasa. Semua tahu, pada awalnya 90% industri di China adalah PMA. Asing masuk karena mengharapkan dukungan supply chain dan upah yang murah serta pajak rendah. Dari itu barang china membanjiri pasar  dunia dengan harga murah mengalahkan pesaingnya. “

“ Ya karena itu terjadi surplus perdagangan China selama beberapa dekade. Tahun 2007 surplus neraca berjalan China mencapai 10,12 % dari PDB, tapi tahun lalu hanya mencapai 1,26% dari PDB. Inikan bahaya.” katanya menimpali.

“ Bahaya memang.”

“ Itu taktik perang dagang AS agar China lemah dan takluk kepada AS. 

“ Kalau kenaikan tarif pasar AS terhadap produk China sebagai taktik, itu jelas kontraproduktif. Dampaknya kurs Yuan melemah dan tetap saja China tidak bisa dikalahkan. Tarif itu tidak berdampak apapun dibadingkan denngan turunnya nilai Yuan yang membuat barang china tetap lebih murah. Sementara barang impor semakin mahal.”

“ Terus gimana dengan nasip Perusahaan asing yang ada di China. Kalau permintaan ekspor menurun akibat virus corona ? 

“ Inilah apa yang paling ditakuti oleh AS dan tadinya tidak pernah terbayangkan? kataku.

“ Apa ? Dia mengerutkan kening.

“ Kamu lebih tahulah. Bukan rahasia umum bila sebagian besar perusahaan asing yang ada di China itu berinvestasi dengan modal dari pinjaman. Mereka menerbitkan obligasi dan menjualnya di bursa Eropa dan AS. Uang mengalir masuk ke China dalam bentuk FDI. Akibat adanya virus corona , tiga bulan China shutdown ekonominya, terjadi pengurangan produksi secara significant. Setelah China bisa melepaskan lockdown kotanya, penyebaran virus juga melanda negara lain yang merupakan pasar utama China. Artinya sisi permintaan akan ekspor China semakin turun. China mengalami defisit perdagangan US $ 7,1 miliar pada periode Januari-Februari, yang pertama sejak 2012. Ini sangat serius.

Pada waktu bersamaan , bulan desember dan januari adalah tanggal jatuh tempo utang perusahaan. Tercatat utang PMA dan perusahaan yang terafiliasi dengan PMA mencapai USD 2,03 triliun. Upaya daur ulang utang tidak mudah. Pasar obligasi kekurangan likuiditas akibat adanya wabah corona. Volume obligasi dolar AS berkatagori high risk dan high yield  di Cina nilainya menyusut menjadi US $ 2,87 miliar pada Februari dari US $ 9,16 miliar pada Januari. Ini juga sebagai dampak dari penandatanganan perjanjian perdagangan fase satu AS-China. Sehingga menyulitkan PMA yang ada di China untuk mengumpulkan uang membayar utangnya. Apalagi karena itu bila Yuan terus dalam tekanan. Akan semakin banyak Yuan untuk membeli dollar agar utang bisa dibayar. 

Sementara China juga melakukan pengetatan arus uang keluar. Pengetatan terkesan sadis. Hasilnya memang sangat membantu melindungi cadangan devisa US $ 3,1 triliun, yang terbesar di dunia. Tetapi perusahaan asing dan yang terafiliasi di China semakin kekurangan darah. Sementara asset yang ada tidak bisa dijual cepat. Benar benar stuck bila tidak ada penyelamatan. “ Kataku

“Wah benar benar mengerikan. “ katanya melongok.

“Nah, pada waktu bersamaan BUMN China menarik dana mereka yang ada di luar negeri untuk menggantikan kekurangan likuiditas dalam negeri. Tetapi itu bukan memberikan pinjaman kepada asing dan menyelamatkan mereka dari gagal bayar. China memberikan pinjaman kepada perusahaan lokal untuk akuisisi perusahaan asing itu. Inilah yang mengkawatirkan AS, dan tak pernah terbayangkan sebelumnya.”Kataku.

“ Itu sebabnya minggu lalu mendadak the fed umumkan pemangkasan suku bunga. Pemangkasan terbesar sejak tahun 2008. ini tentu akan mendorong membanjirnya uang di pasar agar perusahaannya  dan sekutunya di China tidak bangkrut atau tidak terjebak dalam hostile take over oleh perusahaan lokal. Apalagi China sudah berhasil mengatasi dampak virus corona dan mulai berproduksi.  Dan Yuan relatif tangguh tahun ini, diperdagangkan dalam kisaran sempit antara 6,90 dan 7,00 per dolar.” Katanya.

“ Tapi tidak ada yang bisa memastikan kapan wabah virus corona ini akan berakhir. Negara lain tidak sehebat China yang bisa menggerakan semua institusinya untuk memerangi virus corona. Negara lain terjebak dengan sistem demokrasi dan HAM.  Kalau sampai akhir tahun masalah wabah corona ini tidak teratasi, dan pasar semakin menyempit, ekonomi dunia akan masuk krisis struktural. Pada saat itu, arus likuiditas tidak lagi menolong. Walau suku bunga serendah apapun. Karena untuk apa produksi kalau tidak cukup pembeli. Tentu saat itu, proses akuisisi dan take over PMA oleh perusahaan lokal China akan berlangsung tampa hambatan, bahkan mereka bisa membeli dengan harga murah. Nasionalisasi asset terjadi by market design” Kataku tersenyum.

“ Tetapi China akan kehilangan pasar juga’

“ Pasar domestik China, raksasa yang tidur. Saat sekarang pasar dometik baru mencapai 30%, Itu akan cepat sekali meningkat dengan kebijakan kenaikan upah dan pengurangan pajak penghasilan. Pabrik di China tetap akan dapat pasar, walau pasar ekspor melemah.”  kataku berargumen.

“ Jadi apa solusinya bagi ekonomi dunia kedepan?

“ Jangan panik. Hadapi kasus wabah corona ini dengan bijak dan jangan kawatir berlebihan. Kamu kan tahu. Dunia mengalami wabah bukan hanya kali ini. Tahun 2001 dunia pernah kena wabah Anthrax. Tahun 2002, datang lagi  West Nile Virus. Tahun 2003, muncul wabah SARS. Tahun 2005 datang wabah flu Burung. Tahun 2006 datang wabah virus lain yaitu Ecoli. Tahun 2009, ada swine flu. Tahun 2014, Ebola muncul lagi. 2016 ada zika virus. Tahun 2018 muncul Nipah Virus. Itu semua wabah. Apakah dunia hancur? kan engga. Sampai hari ini kita baik baik saja.” Kataku.

“ Ya aku ingat. Waktu terjadi krisis 2008, semua orang membayangkan dunia akan menghadapi super krisis, tetapi sampai kini baik baik saja. Too big to be fall, kata Henry Paulson. Bahkan Tahun 2012 dunia dihebohkan oleh kalender Maya bahwa dunia akan kiamat. Ternyata kita baik baik saja. Belum lagi ancaman perang nuklir yang dipicu oleh korea utara pada tahun 2013, ternyata kita baik baik saja. Juga ancaman ISIS yang katanya akan membunuh orang di seluruh dunia, nyatanya kita baik baik saja. Tapi mengapa wabah corona begitu menghebohkan dunia dan berdampak luas? Katanya mengerutkan kening.

“ Itu berkat adanya tekhnologi 3G, dan 4G yang memungkinkan akses data dengan cepat lewat telpon genggam. Data berupa gambar dan video tersebarkan dengan cepat lewat sosial media. Virus Corona memang bahaya, tetapi jauh lebih bahaya adalah virus hoax. Ini menyerang saraf orang, dan membuat orang jadi mudah paranoid dan sakit jiwa. Orang panik akibat hoax itu. Terjadi aksi memborong barang kebutuhan pokok dan aksi jual di Bursa. Kebutuhan pokok harganya naik dan harga saham berjatuhan termasuk mata uang juga tergerus. “kataku.

“ Oh jadi, pasukan cyber dan media proxy AS yang bertugas created hoax dan bad news soal corona dengan maksud bisa menciptakan ketidak stabilan politik di China dan presidennya jatuh, justru kini berbalik menyerang AS dan sekutunya sendiri. China nothing to lose. “ Katanya.

“ Ya. China nothing to lose. Apapun yang buruk terjadi , China tetap di pihak yang menang.” kataku tersenyum. “ Masalahnya China inginkan yang terbaik bagi semua. Sudahilah niat menyerang dan mari duduk bersama dalam semangat berbagi diatas perbedaan.” Sambungku

Dia tersenyum. Kami menikmati makan siang itu seraya menatap keluar lewat kaca jendela lebar. Nampak orang  berjalan dengan tanpa kawatir walau tak menggunakan masker. “ Mengapa mereka tidak kawatir? Katanya.
“ Rakyat Indonesia itu  cerdas. Kita tahu mana hoax dan mana akal sehat”
“ Dan itu karena Jokowi orang hebat. Yang bisa menginspirasi orang banyak untuk tidak kawatir berlebihan. Walau oposisi terus berteriak negatif terhadap sikap Jokowi dalam menghadapi kasus corona, tetapi mayoritas rakyat lebih percaya dengan apa kata Jokowi. Luar biasa. Tanpa sistem komunis, Indonesia jauh lebih hebat dalam mengendalikan emosi orang untuk tetap kuat dan terus bekerja seperti biasa. “ 
“ ya kita terlatih berperang dengan diri kita sendiri daripada berperang dengan di luar diri kita. Kalaupun ada sebagian kecil yang rentan dan baper, itu hanya kadrun. Engga ngaruh apapun terhadap stabilitas politik nasional.” kataku.
“ Ya Indonesia akan baik baik saja. Aku ingat waktu peristiwa mei 1998, rasanya seluruh dunia ditimpakan kepada diriku. Rasanya detak jarum jam berhenti ketika meliat papa dan mama begitu rapuhnya. Apalah aku anak semata mayang yang minoritas di negeri ini. Tetapi untunglah ada kamu sebagai sahabatku. Aku bisa bangkit. Benar, musuh kita bukan di luar kita tapi diri kita sendiri. Apapun yang terjadi, itu bukanlah antara kita dengan orang lain tetapi antara kita dengan Tuhan agar kita semakin kuat. Rasa takut dan kawatir berlebihan itulah yang membunuh kita, bukan virus atau apalah..” Katanya tersenyum.

Kami mengakhiri makan siang itu dengan janji akan kembali bertemu lain waktu. Setidaknya dalam usia menua, dia mendapatkan hikmah dari hidupnya yang pernah merasakan beban tak tertanggungkan pahitnya. Namun  dia bisa melewati itu dengan tegar, dan dia jadi pemenang tanpa dendam. Badannya tetap sehat dan tetap cantik, penuh semangat.

Kamis, 05 Maret 2020

Sore itu di Istanbul

Akan selalu ada wanita yang menangis kala menikmati senja dan malam. Dan Azra tak butuh alasan untuk melakukannya, menitikkan air mata ketika cahaya merah terlihat dari hamparan penuh rerumputan, pohon-pohon, dan sebuah taman Ritz Carlton, di Istanbul. Waktu-waktu berjalan lambat di instanbul, malam itu. Aku ingat, tadi sore  ia datang dengan kemeja putih itu, ditambah syal merah muda melingkar di leher, dan rok panjang ala gadis Eropa pada umumnya. Dia datang menemuiku di hotel itu. 

Aku masih ingat ketika kali pertama bertemu dengan dia  di Hilton, London. Aku tak pernah lupakan bagaimana perkenalan kami, pertemuan di satu titik dia sedang rapuh. Ketika itu dia adalah banker yang bekerja sebagai analis ekonomi. Dari pertemuan itu aku jadi mengenal dia dan menjadi sahabat.Kami punya banyak kesamaan minat. Setidaknya aku dapatkan banyak wawasan tentang geostrategis yang sangat aku perlukan dalam berbagai aksi korporat holding yang aku pimpin.

“ Antara Peter dan aku, kata Azra, “ sama seperti Turki dan Eropa. Bagaimanapun aku wanita Turki tidak akan pernah jadi orang Eropa. Sama halnya Turki tidak akan pernah jadi Eropa, walau berusaha ingin menggapainya namun itu tidak akan pernah mencapainya.  Walau setelah perang Dunia ke 2, Turki modern bagian dari NATO, ingin menjadi bagian dari masyarakat modern dan sedikit bangga karena itu, namun setelah usai perang dingin,  dengan runtuhnya Uni Soviet, Eropa dan AS tidak lagi menganggap Turki penting. Katanya dengan suara miris.

“ Kamu tahu, pada awalnya Turki melihatnya krisis Suriah melalui prisma revolusi sebelumnya di Tunisia, Mesir, dan Libya. Krisis Suriah dengan cepat meningkat dari murni konflik domestik menjadi krisis internasional.  Bagi Turki,  Krisis Suriah dianggap  kompetisi regional antara Iran dan negara-negara Teluk di Timur Tengah, upaya Rusia untuk mendapatkan pengaruh di Timur Tengah, dan kekhawatiran keamanan Israel. Turki sebagai sekutu AS, merasa GeEr bahwa Turki sangat dibutuhkan AS menyelesaikan krisis Suriah. Tetapi lagi lagi Turki salah.” Kata Azra.

“ Mungkin soal krisis Suriah, persepsi antara Turki dan AS berbeda.  Kataku. Turki focus kepada bagaimana menjatuhkan rezim Bashar Assad, sementara AS focus kepada masalah kurdi karena AS punya kepentingan menciptakan wilayah Kurdi di Timur Tengah, khususnya di Irak. Harapan, kalau Kurdi bisa mendapatkan daerah otonom di Suriah, itu bisa jadi jalan untuk memecah Irak menjadi bagian dari negara kurdi. Sementara bagi Turki, keberadaan Kurdi di Suriah merupakan ancaman bagi dalam negeri Turki.  Kawatir,  kalau Etnis kurdi dapat wilayah otonomi di Suriah, etnis kurdi yang ada di Turki juga minta yang sama kepada Turki.” Kataku.

“ Ya, benar kamu. Katanya. “ Itu sebabnya serangan AS kepada ISIS merugikan Turki yang mendukung oposisi di Suriah. Padahal oposisi di Suriah diuntungkan dengan adanya ISIS untuk menjatuhkan rezim Assad. Sementara bagi AS bukan lagi bagaimana caranya menjatuhkan Assad, bahkan bagi AS rezim Assad layak dipertahakan, asalkan kepentingan AS terhadap etnis Kurdi bisa tercapai. Justru sikap AS terhadap Suriah, menguntungkan Assad dan Iran yang ingin menghabisi ISIS dan mengusir extrimis Suni di Suriah.  Secara naif , berkali kali Turki meminta AS dan Barat untuk langsung melakukan intervensi militer terhadap Assad namun AS menolak. Tentu membuat Turki kecewa.” 

“ Mungkin bisa jadi, kataku, “ walau Turki bertetangga dengan Suriah, namun Turki tidak pernah bisa memahami Suriah, dan tidak ada ahli Suriah di Kemenlu Turki yang paham soal Suriah. Makanya kebijakan Turki terhadap krisis Suriah selalu salah. Bahwa Turki menganggap Suriah itu ancaman bagi ekpansi Iran yang ingin mendapatkan hegemoni politik di Timur Tengah, ancaman bagi keamanan Israel, ancaman bagi sekutu AS seperti negara negara Arab, tetapi AS tidak kawatirkan itu. Karena soal ekonomi, rezim Assad terbuka secara bisnis dengan siapapun. AS paham betul itu.”

“ AS tidak menganggap rezim Assad menjadi ancaman serius dibandingkan keberadaan ISIS, yang mengancam kepentingan agenda AS terhadap etnis Kurdi di Irak dan Suriah. Dan ditambah lagi sikap GR Turki yang berlebihan seakan mereka bagian dari Eropa dan AS. Padahal itu hanya ilusi. AS hanya berfocus soal Irak dalam krisis di Suriah, termasuk menghabisis ISIS. Dan Turki menolak atau enggan untuk menjalankan agenda AS itu. Makanya semakin membuat AS merasa Turki engga penting lagi. Ya sama dengan sikap Peter terhadapku” Katanya dengan wajah mendung.

“ Seharusnya Turki tidak memanfaatkan momentum kerusuhan di Suriah untuk ikut menjatuhkan Assad. Berteman jauh lebih baik, apalagi kami bertetangga.” Kata Aszar.

“ Bukankah hubungan antara Turki dan Suriah telah lama tegang karena beberapa sengketa wilayah historis, yang meliputi aneksasi Turki atas provinsi Hatay pada tahun 1939, konflik atas kendali atas Tigris dan Cekungan air, termasuk kedekatan hubungan Turki dengan Barat pada umumnya dan Israel pada khususnya, dan dukungan Suriah untuk PKK pada 1980-an dan 1990-an. Juga, kedua negara berada pada sisi yang berlawanan dalam perang dingin. Turki adalah anggota NATO dan Suriah adalah sekutu Uni Soviet. “ Kataku.

“ Ya. Dalam kebijakan Turki 1990 terhadap Suriah didefinisikan oleh ancaman keamanan dukungan Suriah untuk PKK. Namun, pengusiran Abdullah Ocalan pada tahun 1998 dari Suriah adalah titik turing dalam hubungan bilateral. Sejak itu, hubungan bilateral telah menunjukkan beberapa perbaikan. Sebagai hasilnya selama dekade terakhir, Turki mengembangkan hubungan luas dengan Suriah. Hubungan baru ini didasarkan pada kerangka kerja kebijakan tanpa masalah dengan tetangga.” Kata Aszar.

“ Oh itu sebabnya pada Maret 2011, ketika rezim Assad memulai tindakan keras terhadap para pengunjuk rasa, Turki tidak memutuskan hubungannya dengan Suriah. “ Kataku.

“ Ya, setelah pendekatan keras rezim Assad terhadap oposisi, Turki mulai mendukung oposisi Suriah dengan menampung anggotanya di Turki. Setelah itu, hubungan Turki dengan Suriah memburuk. Turki memiliki andil besar dalam konflik karena dua alasan: Pertama, ada gelombang besar pengungsi, dan kedua, ada dimensi krisis Kurdi. Kurdi mungkin menggunakan perang saudara sebagai kesempatan untuk menuntut wilayah Kurdi yang otonom atau bahkan berdaulat di Suriah. Krisis telah membuka kembali 'masalah Kurdi.  Apalagi era Erdogan. Turki punya agenda sendiri, terutama dukungannya kepada oposisi Suriah yang sebagian besar terpengaruh denga Ikhwanul Muslimin. Turki hanya ingin membantu oposisi menjatuhkan rezim Assad, dan sekaligus menghabisi pengaruh Kurdi di Suriah. Dan inilah kesalahan fatal Turki , tentu membuka topeng AS dan Eropa di hadapan Turki. Mereka bukan teman. “ Kata Aszar. 

“ Emang gimana masalah Kurdi? tanyaku.  

“ Suku Kurdi, sebuah kelompok etnis yang tersebar di Irak, Turki, Iran, Suriah, telah lama bercita-cita untuk memiliki negara mereka sendiri. Turki terus dibuat repot karena masalah Kurdi, dan mindset keamanan Turki mencerminkan ketakutan yang mendalam terhadap seperatis Turki. Pemerintah Turki mengawasi konflik dengan cermat. Turki prihatin dengan efek limpahan lintas batas.  Konflik Suriah telah berdampak langsung pada eksistensi Kurdi di Turki. Konflik di Suriah telah menarik perhatian pada minoritas Kurdi di sini. Kurdi Suriah sekarang lebih vokal dari sebelumnya, dan dikhawatirkan bahwa dalam waktu dekat mereka akan mengumumkan otonomi atau bahkan kemerdekaan. Masalah Kurdi semakin mengancam dalam negeri Turki dengan implikasi regional. Apalagi, krisis Suriah mempengaruhi penduduk sipil di wilayah tersebut, terutama perempuan dan anak-anak. Semakin banyak pengungsi yang melintasi perbatasan Suriah setiap hari. Jumlah total orang Suriah yang terdaftar di Turki berjumlah 1.757.500, dengan 255.562 di kamp pengungsi. Ini benar benar bencana serius bagi keamanan Turki."Katanya.

" Ya. Sementara itu sejak  tahun 2018  Turki masuk dalam krisis Ekonomi. Semua indikator ekonomi, termasuk mata uang lira jatuh. Angka pengangguran terus meningkat. Hutang terus menggunung. CDS terus jatuh. Yield obligasi sudah dua digit. Tahun ini Turki terlibat langsung dalam perang dengan Suriah, dengan alasan melindungi oposisi yang ada di Idlib. Padahal itu urusan dalam negeri Suriah, tetapi Turki ingin jadi polisi dan hakim terhadap oposisi Suriah yang ada di Idlib. Apapun alasanya, perang adalah kebijakan buruk dan tidak rasional apalagi dalam keadaan ekonomi sedang terpuruk.

Sebetulnya sejak dua tahun lalu Rusia, China, Iran ingin membantu mereformasi Ekonomi Turki, dan memberikan bantuan uang agar Turki keluar dari krisis. Tetapi dijawab Erdogan dengan memecat Gubernur Bank Centralnya dan mengangkat menantunya jadi Menteri Ekonomi. Pasar semakin hopeless Turki akan keluar dari krisis. Sikap KKN Erdogan sudah ada sejak dia berkuasa, dan kroninya menikmati kemakmuran dari pertumbuhan ekonomi Turki yang pernah melesat tinggi.

Sikap keras Erdogan terhadap oposisi di Turki  dan penghormatan terhadap nilai nilai demokrasi semakin buruk. Arogansi nya seakan bebas menyalahkan siapapun termasuk kepada AS dan Barat yang tidak mau bantunya. Padahal dia tahun AS dan Barat juga sedang krisis. Sementara Rusia yang merupakan tetangga kaya yang sangat penting bagi ekonominya malah diajaknya tarung. Langkahnya mengirimkan militer sehingga berhadapan langsung dengan Rusia dan rezim Bashar al-Assad memicu semakin banyak investor asing kabur dari Turki.

Partai oposisi yang menentang perang dengan Suriah dicapnya pengkhianat. Itu hanya karena Erdogan tidak bisa bersikap rasional atas kebijakan perangnya dengan Suriah. Padahal kalau ekonomi semakin terpuruk, rakyat yang akan ramai ramai jatuhkan Erdogan. Kalau sudah masalah perut, chaos tak bisa dihindari." kataku.

Dia terdiam seakan membayangkan hal yang mengkawatirkan akan nasip negerinya. Atau dia sedang memikirkan Peter.

“ Lantas gimana pendapat kamu soal intervensi Turki di Idlib dan solusinya? kataku.

“ Turki tidak memiliki kemampuan diplomatik atau militer untuk memainkan peran 'pembuat peraturan' di wilayah tersebut. Yang terbaik bagi Turki adalah mendekati Rusia, dan AS, untuk mendapatkan jaminan atas nasip pengungsi dan mengamankan posisi Turki terhadap Kurdi. Apapun yang terjadi, kalau Rusia dan AS terlibat dalam perundingan, posisi Turki tetap akan aman. Rusia pasti tidak ingin ada otonomi khusus, apalagi pembagian wilayah untuk etnis kurdi sesuai design AS. Kalaupun harus ada otonomi khusus untuk Kurdi, itu atas dasar kebijakan datang dari Suriah,  di bawah hukum Suriah.  AS pasti realistis, karena bagi AS yang penting eksistensi Kurdi tidak diabaikan. Ini akan ada titik temunya. Masalah pengungsi dan Etnis kurdi dapat diselesaikan. Semua happy.”

Suasana sepanjang malam yang sempurna, tetapi segala sesuatu yang terasa indah saat itu ternyata tidak berulang. Keesokan harinya Azra mengatakan kepadaku bahwa dia sudah berdamai dengan Peter, dan menerima perkawinan itu sebagai cobaan sepanjang usia. Aku meninggalkan Instanbul dengan doa, semoga Azra baik baik saja. 

Rabu, 04 Maret 2020

Lalui hidup dengan bersahaja



Seringkali Azra membayangkan betapa suatu hari ia akan menjelma burung kolibri, terbang tinggi melintasi pelangi di tengah keranuman musim semi. Pada saat itulah ia akan merasakan warna-warna bunga menjadi lebih berkilauan dalam kesunyian, dan cahaya pagi terasa lebih hangat dari sebuah ciuman yang paling menenteramkan.
Sungguh "B" ! Aku selalu membayangkan hari yang ajaib itu datang mengetuk jendela kamarku, bersama kabut dan dingin yang saling berebut cahaya. Pada saat itulah ketika aku membuka jendela, seketika aku menjelma burung kolibri….” Azra bicara sembari memandang pada lembah yang terjamah basah. “Setidaknya aku ingin menjadi merpati.”
Aku yang mendengarnya, hanya tertawa. “Kalau aku punya keinginan seperti kamu, aku pasti memilih berubah menjadi ular!”
“Kenapa?”
“Biar aku mendekam dalam kepalamu. Biar aku mengetahui semua mimpi-mimpimu….”
“Nggak lucu!”
“Yap! Aku memang tidak sedang melucu.” Aku sedikit mengangkat bahu. “Lagi pula kamu tidak membutuhkan aku untuk melucu. Kamu membutuhkanku untuk mendengarkanmu berkeluh-kesah soal perkawinanmu yang membosankan.”
“Terima kasih, sudah jadi psikolog gratisan!”
Lalu Azra kembali membuang pandang ke arah perbukitan, pada pohon yang samar dan meliuk-liuk letih di bawah rerepih gerimis yang bagaikan bertih-bertih beras putih berhamburan diterbangkan angin. Azra  menyukai tempat ini. Kafe yang menghadirkan sunyi, tetapi tidak menutup diri karena jendela-jendelanya yang besar dan lebar dibiarkan terbuka sehingga temaram ruang yang kecoklatan seakan berkarib dengan keluasan perbukitan. Sesekali ia bisa merasakan angin dan dingin yang ringan seperti belaian. Ia memilih tempat ini bila ia menginginkan perhatian. Ia memilih tempat ini bila ingin ketemu dengan aku.
“Kupikir, kalian rakyat Turki harus belajar dari kejatuhan khilafah ustmani. Harus belajar jujur, agar kebanggaan masa lalu jadi pelajaran untuk lebih baik lagi di masa depan. “Kataku memulai obrolan, setidaknya aku ingin dia bicara diluar keluhannnya. Dia cerdas. Sarjana dari Oxford.
“ Kau ingin aku jujur tentang masa lalu negeriku. Itu akan jadi pembicaraan yang panjang. Tapi aku senang membicarakan kejujuran itu. Apalagi kamu mau mendengarkannya. “
“ Cobalah ceritakan. “ Kataku.
“ Mengapa kamu ingin aku jujur bercerita soal itu?
“ Sederhana aja. "

" Apa ?

" Mengapa 6 Abad khilafah ustmani yang kekuasaannya mencakup tidak hanya di Asia Kecil tetapi juga sebagian besar Eropa tenggara, Timur Tengah dan Afrika Utara. Ustmani mengendalikan wilayah yang membentang dari Danube ke Nil, dengan militer yang kuat, perdagangan yang hebat, dan prestasi yang mengesankan di berbagai bidang mulai dari arsitektur hingga astronomi. Akhirnya runtuh dengan tragis.  Mulailah dari pertanyaan ini. “ Kataku.
Azra menatapku dengan tersenyum, terus memandang perbukitan itu pada cuaca yang sendu, ketika segalanya perlahan-lahan menjelma bentangan kelabu, dan ia kian merasakan kebosanan itu. Ia sudah mencoba mengatasi, tetapi kian hari ia kian merasakan betapa perkawinannya semakin membenamkan dirinya dalam keasingan yang tak kunjung ia pahami. Sering ia tergeragap bangun di malam hari, berasa kebah disesah gelisah, dengan jerit yang tersekat di kerongkongan. Betapa ia inginkan pelukan yang membuatnya sedikit merasa nyaman. Aku tahu, itu ceritanya dalam keluhan.
“ Kalau aku jujur, tentu menyakitkan sekali. Bukan hanya aku tetapi semua orang islam sulit berkata jujur soal kejatuhan Ustmani. Kalau jujur, tentu menyakitkan. Karena ini menyangkut kebodohan yang tak pernah diakui oleh umat islam. Mereka masih menyalahkan orang Barat dan kafir yang membuat  Khalifah wakil Allah di dunia ini jatuh. Mereka menyalahkan terpuruknya umat islam sekarang karena jatuhnya khilafah. Padahal…” Katanya
“ Padahal apa ? “ Kataku tersenyum.
“ Padahal kejatuhan khilafah karena menolak modernisasi dari lahirnya Revolusi Industri. “
“ Mengapa menolak ?
“ Karena Islam lebih suka belajar ilmu pengetahuan meninggikan Tuhan lewat kajian semesta, tetapi tidak suka pengetahuan meninggikan Tuhan lewat cara cara berproduksi, dengan sedikit tenaga tapi menghasilkan banyak barang, dengan sedikit modal menghasilkan banyak laba. “. Katanya tersenyum getir.
“ Bagaimana Khilafah sampai bersikap seperti itu?
“ Revolusi industri lahir dari paham kapitalisme, dan kapitalisme adalah faham kafir, yang membuat orang rakus dan menjauh dari Tuhan.”
“ Oh i see. Terus “ aku semakin bersemangat.
“ Ya, ketika revolusi industri melanda Eropa pada 1700-an dan 1800-an, ekonomi khilafah tetap bergantung pada pertanian. khilafah tidak memiliki pabrik untuk bersaing dengan Inggris, Perancis dan bahkan Rusia. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi khilafah lemah, dan surplus pertanian digunakan untuk membayar pinjaman kepada kreditor Eropa. Ketika tiba saatnya untuk berperang dalam Perang Dunia I, Khilafah tidak memiliki kekuatan industri untuk menghasilkan persenjataan berat, amunisi. Tidak ada indusri baja untuk membangun jalur kereta api untuk mendukung logistik perang.”
“ Mengapa khilafah sampai berhutang? Bukankah itu haram? Kataku heran.
“ Dalam hal normal, hutang itu memang haram. Tetap dalam keadaan terjepit, utang jadi halal, tentu dengan syarat lunak. Kemudahan berhutang secara lunak inilah yang membuat elite Khilafah lupa untuk membangun industri, dan lebih focus kepada sektor pertanian yang memang sangat besar.”
“ Dan tidak ada yang berani mengingatkan Khilafah soal ini? soal perlunya industrialisasi. Padahal pada puncak kekuasaan tahun 1500-an, kekhalifahan Ustmani meliputi Bulgaria, Mesir, Yunani, Hongaria, Yordania, Lebanon, Israel dan wilayah Palestina, Makedonia, Rumania, Suriah, sebagian Arab, dan pantai utara Afrika. Andaikan Khilafah menerapkan sistem demokrasi, mungkin sampai kini Khilafah tetap bertahan, bahkan lebih modern. Karena kekuasaanya yang luas dan masyarakat homogen lebih mudah melakukan demokratisasi. “ Kataku menguatkan argumennya
“ Sistem demokrasi membutuh rakyat yang terdidik. Masalahnya elite khilafah engga mau rakyat dibawah kekuasaannya pintar. Meskipun ada upaya untuk meningkatkan pendidikan di tahun 1800-an, Khilafah Ustmani tertinggal jauh di belakang para pesaing Eropa dalam hal melek huruf, sehingga pada tahun 1914, diperkirakan hanya antara 5 dan 10 persen penduduknya yang dapat membaca. Makanya sumber daya manusia khilafah ustmani, juga sumber daya alam, relatif tidak berkembang. Artinya khilafah kekurangan ahli militer, insinyur, juru tulis, dokter, dan profesi lain yang terlatih baik.” Katanya.
“ Dan karena itu kekuatan ekonomi Khilafah semakin lemah. Apalagi ketika itu wabah korupsi di kalangan elite Khifalah semakin merajalela. Ini memincu terjadinya pemberontakan di wilayah taklukan. Pada tahun 1870-an, khilafah harus membiarkan Bulgaria dan negara-negara lain menjadi merdeka, dan menyerahkan begitu saja atas tekanan dari pemberontak. Setelah kalah dalam Perang Balkan 1912-1913 akibat koalisi yang mencakup beberapa bekas kekhalifahan, khilafah terpaksa menyerahkan wilayah Eropa yang tersisa.” Kataku.
“ Tetap sekali. Apalagi ambisi kekuatan Eropa juga membantu mempercepat kehancuran khilafah Ustmani. Rusia dan Austria keduanya mendukung kaum nasionalis pemberontak di Balkan untuk menancapkan pengaruh politik mereka. Dan Inggris dan Prancis berambisi menguasai wilayah khilafah di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan itu lewat paham nasionalisme “ Katanya dengan geram.
“ Oh itu sebabnya pengusung khilafah sekarang sangat membenci nasionalisme” kataku. 
“ Ya. Jangan lupa, Rusia yang wilayahnya luas termasuk Muslim, berkembang menjadi saingan berat khilafah Ustmani. Kekaisaran Rusia adalah ancaman tunggal terbesar bagi Khilafah, dan itu adalah ancaman yang benar-benar eksistensial.  Makanya ketika kedua kekaisaran mengambil sisi yang berlawanan dalam Perang Dunia I, Rusia akhirnya runtuh lebih dulu, sebagian karena pasukan khilafah mencegah Rusia mendapatkan pasokan dari Eropa melalui Laut Hitam. Tzar Nicholas II dan menteri luar negerinya, Sergei Sazanov, menolak gagasan untuk menegosiasikan perdamaian terpisah dengan kekaisaran, yang mungkin menyelamatkan Rusia. Tetapi ongkos perang itu mahal sekali, membuat khilafah Ustmani nyaris bangkrut. Jadi sama sama kalah sebenarnya.” Lanjutnya
“ Mengapa Khilafah Ustami berpihak kepada Jernam dalam perang dunia 1? 
“ Itu cara Ustmani bisa mengalahkan Rusia. Sebelum perang, Ustmani telah menandatangani perjanjian rahasia dengan Jerman, yang ternyata menjadi pilihan yang sangat buruk. Dalam konflik yang terjadi kemudian, pasukan ustmani bertempur secara brutal, di semenanjung Gallipoli untuk melindungi Konstantinopel dari invasi pasukan Sekutu pada tahun 1915 dan 1916. Pada akhirnya, Ustmani kehilangan hampir setengah juta tentara, sebagian besar dari mereka karena penyakit, plus sekitar 3,8 juta lebih yang terluka atau jatuh sakit. Pada Oktober 1918, Ustmani menandatangani gencatan senjata dengan Inggris Raya, dan keluar dari perang.  Kekuasaan khilafah dipreteli dalam perjanjian takluk di bawah koalisi Inggris tahun 1922. Sultan Ustmani terakhir, Mehmed VI, diusir dari istananya di ibu kota Konstantinopel. Terakhir dia naik kereta pergi dan tak pernah kembali lagi. Orangpun melupakanya.
“ Andaikan Ustmani tidak di pihak Jerman dalam Perang Dunia I,  andaikan Ustmani menerima sistem demokrasi, menerima kapitalisme yang melahirkan revolusi Industri, meningkatkan pendidikan, mungkin Ustmani selamat dan sampai kini berkembang menjadi negara federal multi-etnis, multi-bahasa yang modern. Tapi itulah takdir. “ kataku.

“ Itu kesalahan yang tak diungkapkan. Mungkin kebodohan yang memalukan. Sampai kini itu ditutupi dengan dalil Al Quran dan hadith bahwa demokrasi, sains, Industri, itu paham kafir, tidak sesuai dengan Sunnah. Itu membuktikan bahwa penjuang khilafah yang ada sekarang, hanya berfantasi tentang kekuasaan yang tak boleh didebat dan kebenaran yang absolut , sehingga siapapun jadi khalifah memang memiliki sorga di dunia dengan limpahan kemewahan dan ratusan selir. “ Katanya. “ Sebetulnya mereka ingin berkuasa bukan diatas sains dan ekonomi, tetapi diatas orang bodoh yang malas berpikir. “ lanjutnya berusaha jujur. Aku suka. Tetapi orang Turki memang piawai menjelaskan sisi kelemahan dari khilafah.  
Mereka Turki modern yang sedang berjuang bangkit dari kesalahan masalalu. Tetapi anehnya tetap saja mengulang kesalahan masalalu, salah gaul berpihak kepada AS ketika ingin merebut wilayah Suriah, yang didukung Rusia dan China.
“Kupikir kamu benar, mestinya Turki tidak berpihak kepada AS dan Barat, seperti hanya aku tidak seharusnya menikah dengan pria Inggris,” desah Azra , lebih kepada dirinya sendiri.
Tetapi, entahlah. Ia tak yakin benar, apakah ia salah telah memutuskan menikah dengan Peter. Ketika laki-laki yang sudah dikenalnya sejak di Oxford  itu melamarnya, ia tak merasa perlu berpikir dua kali untuk menjawab iya. Ia yakin, pernikahan akan membuat dirinya kian nyaman. Karena ia merasa memang begitulah hidup yang mesti dilaluinya: masa remaja yang ceria, kuliah, kerja, dan menikah. Ia selalu membayangkan hidupnya seperti sebuah kisah yang akan berakhir bahagia, dengan senyum paling lembut ketika kematian menjemput. Dulu Azra hanya tertawa setiap kali aku mengatakan hidupnya terlalu datar, steril dan licin bagai lantai porselin.
“Dulu aku sudah bilang, kalau bukan karena Tuhan, perkawinan itu deal sosial yang paling dungu.…,” kataku
“Itu karena kamu kapitalis?!”
“Jangan salah paham, Az.” kataku tertawa renyah. Seringkali Azra merasa iri denganku yang bisa dengan sederhana memandang setiap persoalan. Bagiku hidup ini seakan-akan begitu gurih dan ringan seperti popcorn. “Aku sama sekali tak membenci perkawinan. Hanya aneh saja. Kupikir, perkawinan itu produk kebudayaan paling dungu yang pernah dihasilkan manusia. Salah besar kalau pernikahan ditimbang timbang dengan akal dan perasaan bahagia atau mendrita. Itu soal keimanan kepada Tuhan. Percaya Tuhan, lalui itu, dan jalani dengan cara bersahaja. Gitu aja.”
Azra mendelik, tapi aku malah terkikik. " Come , hug me. Katanya manja. 
-Istanbul 2013-

Mahathir dan Anwar Ibrahim?

Sistem politik Malaysia itu menerapkan sistem parlementer. Yang berkuasa menjalankan pemerintahan adalah PM. PM ini dipilih oleh anggota Parlemen. Para menteri berasal dari partai Koalisi. Makanya ada istilah koalisi dan oposisi di Malaysia. Tapi uniknya, Malaysia tidak sepenuhnya menerapkan sistem parlementer di mana rakyat hanya memilih partai. Di Malaysia dalam pemilu rakyat Malaysia memilih bukan hanya partai tetapi juga memilih anggota parlemen. Itu sebabnya di Malaysia, Partai tidak bisa pecat anggota parlemen, bahkan anggota partai yang duduk di parlemen bisa pindah partai atau jadi independen tanpa kehilangan korsinya. Akibatnya koalisi di parlemen sangat cair. Bisa kapan saja berubah posisi koalisi, yang tadinya mayoritas, bisa aja jadi minoritas. 

Kemarin situasi Politi memanas. Karena setelah Mahathir mundur sebagai PM, justru  yang tampil adalah Muhyiddin Yassin, orang yang sangat dia percaya dan wakil Mahathir di Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM). Padahal Mahathir tidak berharap yang tampil adalah Muhyiddin Yassin. Dia ingin terus berkuasa. Jadi bagaimana sebenarnya yang terjadi. Mengapa Muhyiddin Yassin yang muncul ? Mengapa tidak sesuai dengan konsesus sebelum pemilu 2018 dalam koalisi PH (Pakatan Harapan, yang terdiri dari Partai Keadilan Rakyat, Partai Aksi Demokratik, Partai Pribumi Bersatu Malaysia, Partai Amanan Negara, PArtai Warisan Sabah dan Organisasi Progresif Kinabalu Bersatu), bahwa bila PH memenangkan pemilu, Anwar Ibrahim akan dapat posisi PM setalah dua tahun Mahathir berkuasa. Untuk sementara Istri Anwar Ibrahim Wan Azizah, wakil PM.

Masalahnya adalah terjadi perseteruan di dalam koalisi PH ( Pakatan Harapan) antara Anwar dan wakil presiden PKR Azmin Ali. Azmin berulangkali meminta Mahathir untuk tetap menjabat sebagai perdana menteri hingga pemilu mendatang di 2023. Lupakan saja konsesus dengan Anwar Ibrahim. Padahal Azmin satu partai dengan Anwar Ibrahim.  Selain itu ada rumor menyebut Mahathir lebih suka Azmin yang menggantikannya sebagai perdana menteri ketimbang Anwar. Tentu ini membuat berang pendukung Anwar Ibrahim, yang tak henti mendesak Mahathir untuk segera menyerahkan kekuasaan kepada Anwar.  

Belakangan samakin memuncak ketidak percayaan kepada Mahathir yang menjalankan politik rasis dan cenderung berpihak kepada islamisme kelompok Melayu. Koalisi kawatir kalau Anwar terpilih maka islamisme akan semakin kokoh. Mengapa sikap Mahathir pro Islam Melayu ? Karena sebetulnya bukan karakter Mahathir yang rasis. Tetapi lebih upaya politik menarik suara dari kalangan Islam sesuai ide Anwar Ibrahim. Karena pemilu yang lalu suara Melayu Islam hanya 25% kepada koalisi PH. 75 % masih dikuasai oleh UMNO yang lebih moderat. Hanya issue dan kebjakan pro Islam yang bisa membujuk umat Islam beralih dari UMNO. Kebijakan Mahathir menggunakan bahasa dan tulisan Arab disekolah ditolak oleh internal koalisi. Mereka anggap itu suatu kemunduran dari semangat persatuan Malaysia.

Dampaknya koalisi PH pecah. 11 anggota parlemen dari PKR dan empat menteri kabinet dipimpin Azmin menyatakan keluar dari partai untuk membentuk koalisi independen. Kemudian diikuti oleh PPBM juga mengumumkan anggota parlemennya mundur dari PH. Termasuk juga anggota parlemen dari Partai DAP dari etnis Tionghoa. Keadaan ini dimanfaatkan oleh UMNO dan PAS dengan membentuk mufakat nasional untuk mengkampanyekan anti rasis dan anti islamisme. Tujuannya menarik simpatik kelompok Melayu moderat untuk mencabut dukungan kepada PH.  Terbukti memang efektif. Dalam empat kali pemilu sela, PH kalah oleh koalisi UMNO-PAS bahkan kalah telak di negara bagian Sarawak yang mayoritas muslim. Keadaan koalisi PH samakin rapuh. Itu sebab Mahathir berencana membentuk koalisi baru dengan target mendepak pendukung Anwar di pemerintahan. 

Mahathir mencoba melobi oposisi UMNO dan PAS untuk bergabung dalam koalisi baru dan bersama sama dengan PPBM, faksi PKR pimpinan Azmin dan  Parti Warisan Sabah. Pendukung anwar Ibrahim dari PKR menjawabnya dengan keluar dari koalisi baru ini. Mereka anggap Mahathir berkianat. Anwar membentuk Koalisi  dengan PKR, DAP dan Amanah. Tapi Mahathir yakin bisa mengalahkan koalisi Anwar yang ada di pemerintahan. Namun detik detik pemilihan di parlemen, Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), Muhyiddin Yassin, keluar dari koalisi itu.  Padahal PPBM adalah partai Mahathir sendiri. Dalam pemilihan, PPBM berkoalisi dengan UMNO dan PAS,  Aliansi Serawak dan beberapa partai kecil. Sudah bisa ditebak, Mahathir kalah. Pemenangnya adalah  Muhyiddin Yassin. Itu menandakan UMNO come back again dan kasus korupsi politisi UMNO Najib dkk akan tak berujung. Harapan anwar Ibrahim jadi PM sirna dan Mahathir merasa dikianati oleh Muhyiddin Yassin. Itulah politik.

Kesalahan terbesar Anwar Ibrahim adalah merasa Pede bermitra dengan Mahathir muhammad, dan yakin Mahathir bisa menjadi jalan untuk dia duduk sebagai PM. Namun faktanya dalam Pemilu, Mahathir gagal menarik dukungan mayoritas Islam moderat dari UMNO walau Mahathir alumni dari UMNO, dan dukungan dari partai Anwar Ibrahim juga tidak significant. Kemenangan koalisi PH  dalam Pemilu bulan Mei 2018, karena bersatunya partai lain yang memang tidak suka secara pribadi dengan Najib yang korup. Walau Najib didukung oleh UMNO namun secara Politik, UMNO tetap di hati rakyat Malaysia, khususnya muslim Melayu. Karena terbukti selama UMNO berkuasa etnis Melayu mendapatkan hak istimewa dibandingkan etnis lainnya. Menurut saya, tidak ada istilah kianat mengkianti antara Anwar dan Mahathir,  dan antara Mahathir dan Muhyiddin. Ini murni kalkulasi politik, dan faktanya politik identitas engga laku di Malaysia. Anwar dan Mahathir salah kalkulasi. Akibatnya keduanya tersingkir.

Kelompok Islam di Indonesia seperti PKS dan jaringan JK sangat berharap Anwar Ibrahim yang tampil jadi PM dari partai PKR, namun elite politik Malaysia dan mayoritas Islam di Malaysia engga suka politik rasis dan islamisme. Itulah yang engga pernah bisa dipahami oleh anwar Ibrahim dan kelompok Islam di Indonesia. Malaysia bukan jakarta, bukan Aceh atau Sumbar. Melayu Islam di Malaysia mayoritas cerdas dan Well educated. Engga gampang diprovokasi ayat sorga dan 72 bidadari untuk menjadi follower.

Minggu, 01 Maret 2020

Hikmah konflik di India.

Sejarah kerajaan penguasa India.
Peradaban pra modern atau zaman perunggu di India berlangsung pada abad 3000-an Sebelum Masehi. Peradaban itu dikenal juga dengan peradaban sungai Indus. Mereka melakukan perdagangan dengan Asia Barat. Pada 2000-an SM, peradaban Harappa runtuh. Tak diketahui secara pasti penyebab keruntuhan ini. Tidak lama setelah itu, bangsa India-Eropa datang dari Asia Tengah ke India. Mereka disebut juga bangsa Weda atau Arya. Kedatangan Bangsa Weda atau Arya juga membawa tekhnolog peradaban seperti kereta kuda, bahasa mereka. Saat itu terjadi percampuran budaya, antara pendatang dengan penduduk lokal  yang akhirnya melahirkan agama Hindu. Sistem kasta juga mulai muncul pada masa ini. Sekitar 800-an SM, bangsa Weda bergerak dari Lembah Indus untuk menaklukan seluruh India Utara, termasuk lembah Gangga.

Pada 539 SM, Persia, di bawah Koresh Agung, menyerang India utara (Pakistan modern) dan menjadikannya bagian dari Kekaisaran Persia. Pada 323 SM, Aleksander Agung, ketika menaklukan Kekaisaran Persia, juga melancarkan serangan ke India. Setelah itu muncul negara-negara kuat di India. Yang pertama adalah Kekaisaran Maurya yang berdiri pada 321 SM dan runtuh pada 184 SM. Masa ini diikuti oleh periode kerajaan-kerajaan kecil hingga pada 320 M berdirilah Kekaisaran Gupta yang berlangsung hingga 550 M. Kerajaan-kerajaan besar lainnya juga muncul di India selatan.

Dimulai sekitar 400-an M, gelombang serangan dari Asia Tengah dan Asia Barat mulai menyerbu India. Awalnya, suku Hun menyerang, kemudian, setelah runtuhnya Gupta, kaum Muslim  pada abad 9 berhasil merebut India utara dan mendirikan Kesultanan Delhi. Tercatat dinasti islam yang pernah berkuasa adalah Dinasti Ghaznawi ( 962 M sampai 1189 M. ) adalah Ghaznawi ( 962 M sampai 1189 M. ). Dinasti Ghuriyyah ( 1000 M-1215). Kesultanan Delhi ( 1206 M-1555 M.). Kekuasaan Khilafah Islam berlangsung 5 Abad. Wilayah kekuasaannya bukan hanya di India tetapi juga termasuk wilayah Xinjiang. Sekitar 1200-an dan 1300-an M, Mongol juga melakukan serangan berulang ke India. Semua konflik ini berlangsung terutama di India utara. Sementara di India selatan, kerajaan-kerajaan India lokal relatif tidak terlalu terganggu.

Di India utara, kekuasaan Mongol sempat menghilang sebelum akhirnya pada 1526 M berdiri negara Mongol bernama Kekaisaran Mughal. Pada tahun 1700-an M, Mughal melemah dan terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Ini memicu Britania untuk bergerak dan menaklukan India.

Budaya dan Agama di India.
Sejarah Anak Benua India memang penaklukan terjadi dari masa ke masa. Namun penaklukan itu bukan  bermotif agama. Tetapi murni karena perluasan kekuasaan. Seperti halnya agama Hindu itu lahir dari perpaduan antara penakluk dari Asia Tengah —yang datang dari luar India—, dan bercampur dengan budaya lokal. Begitupula dengan Islam. Penaklukan oleh Islam dari Bangsa Turki ke India juga dengan motif meluaskan kekuasaan. Meskipun penaklukan itu menimbulkan pembantaian dan amis darah, namun tidak ada pemaksaan masuk agama Islam. Raja islam hanya menghancurkan situs dan semua simbol agama hindu. Selanjutanya proses konversi agama hindu ke Islam berlangsung berabad abad. Proses ini tentu membawa budaya Hindu sendiri ke dalam Islam. 

Makanya selama berabad abad di India tidak ada pertikaian karena agama. Bahkan melahirkan peradaban Indo-Islam hibrida, bersama dengan bahasa hibrida — terutama Deccan dan Urdu — yang mencampur bahasa India yang diturunkan dari bahasa Sanskerta dengan padanan kata-kata Turki, Persia, dan Arab. Begitulah gambaran islam yang ada pada sekitar seperlima populasi di India.

Tapi dari perkembangan Islam, juga muncul paham sempalan.  Dimana kaum sufi menganggap kitab suci Hindu sebagai ilham ilahi. Beberapa bahkan melakukan praktik yoga sadhus Hindu, menggosok tubuh mereka dengan abu, atau menggantung terbalik sambil berdoa. Dalam tradisi rakyat desa, praktik kedua agama hampir menyatu menjadi satu. Umat ​​Hindu akan mengunjungi makam para guru sufi dan umat Islam akan meninggalkan persembahan di tempat pemujaan Hindu. Para sufi khususnya banyak di Punjab dan Bengal. Di Punjab ini juga lahir agama Sikh.

Pencampuran budaya berlangsung di seluruh anak benua, India. Dalam teks-teks Hindu abad pertengahan dari India Selatan, Sultan Delhi kadang-kadang disebut sebagai inkarnasi Dewa Wisnu. Pada abad ketujuh belas, putra mahkota Mughal Dara Shikoh memiliki Bhagavad Gita, mungkin teks utama Hindu, diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, dan menyusun sebuah studi tentang Hindu dan Islam, "The Mingling of Two Oceans," yang menekankan kedekatan dengan dua agama. 

Pada abad kesembilan belas, India masih merupakan tempat di mana tradisi, bahasa, dan budaya melintasi kelompok agama, dan di mana orang tidak mendefinisikan diri mereka terutama melalui iman agama mereka. Seorang penenun Muslim Sunni dari Bengal akan memiliki jauh lebih banyak kesamaan dalam bahasanya, pandangannya, dan kesukaannya dengan salah satu rekan Hindu-nya daripada dengan Syiah Karachi atau Sufi Pashtun dari Perbatasan Barat Laut. Tapi tidak semua penguasa Mughal berpikiran terbuka. Kekejaman yang dilakukan oleh saudara laki-laki Dara yang fanatik dan puritan,  Aurangzeb belum dilupakan oleh umat Hindu. Tetapi kaisar Mughal terakhir, dinobatkan pada tahun 1837, menulis bahwa Hinduisme dan Islam “memiliki esensi yang sama,” dan istananya menghayati cita-cita ini di setiap tingkatan.

Politik identitas era Kolonial Inggris.
Inggris menjajah anak benua india selama 200 tahun.  Wilayah kekuasaannya meliputi India, Bangladesh, Pakistan, dan Myanmar. Itu semua bagian dari imperium Britania. Bagaimana inggris bisa bertahan sekian ratus tahun di daerah koloninya? ternyata menggunakan teori lama yang efektif dan efisien. Apa itu.? Politik adudomba. Saling membenturkan antara kelompok dan golongan. Gimana caranya? inilah cara smart kolonial. Sama seperti di Indonesia di bawah kolonial Belanda. 

Inggris menjadikan raja raja yang ada di India itu di bawah perlindungannya. Tentu bukan hanya perlindungan militer tetapi juga memberikan suap dan upeti yang melimpah kepada raja raja tersebut. Secara legal para Raja itu dibawah taklukan inggris. namun secara prinsip itu hanya hubungan bisnis antara asosiasi bisnis Inggris denga para raja, yang tergabung dalam Princely States.  Sistem princely states ini berlangsung sampai tahun dari tahun 1987 sampai tahun 1947. Makanya inggris engga ada urusan dengan kemakmuran rakyat. Itu urusan para Raja. Selama era kelonialism inggris, India menghadapi perang tiada henti oleh mereka yang memberontak. aNamun dapat dengan mudah diredam oleh para Raja berkat dukungan dari Inggris. Mengapa inggris sangat mudah menghadapi kaum pemberontak? karena kaum pemberontak sendiri tidak bisa bersatu. Inggris menciptakan sentimen agama dan etnis lewat dukungan kepada Raja, dan para pemberontak  terpecah kesatuannya karena adanya pengelompokan agama dan etnis. Antara agama dan etnis saling berseteru, dan karena itu inggris mendapatkan manfaat untuk melemahkan perlawanan mereka.

Persatuan India mulai terjadi tahun 1939, bangkitnya kaum terpelajar dengan membentuk Kongres Nasional India. Organisasi ini didukung oleh kelompok hindu yang mayoritas dan minoritas dari Islam dan Sikh. Tokoh yang terkenal dari Kongres Nasional India ini adalah Nehru dan Ghandi dari kelompok Hindu dan Muhammad Ali Jinnah dari Liga Muslim. Namun persatuan ini pecah ketika Nehru dan Ghandi mengajukan usulan bentuk negara India , negara kesatuan yang centralistik. Pihak inggris memprovokasi Liga Muslim bahwa kalau sistem negara India adalah persatuan, maka yang berkuasa adalah Hindu. Kelompok islam akan jadi second class. Itu sebabnya Liga Muslim keluar dari Kongres Nasional India. 

Ketika inggris mengumumkan melibatkan india dalam perang dunia kedua tanpa persetujuan Kongres Nasional India, kelompok hindu menolak membantu inggris, Padahal inggris butuh serdadu untuk perang melawan Jerman. Saat itulah inggris menawarkan kerjasama dengan Liga Muslim India kesempatan untuk membantu inggris dala perang. Konpensasinya Inggris memberi imbalan perlindungan politik di masa depan. Pada bulan Maret 1940, resolusi Liga Muslim “Pakistan” menyerukan pembentukan “negara-negara terpisah” untuk mengakomodasi Muslim India, yang menurutnya adalah “bangsa” yang terpisah. Sejak saat itulah India mulai terpecah secara politik identitas.

Tahun 1947, Inggris keluar dari anak benua India, memberikan kemerdekaan dengan desain pembagian wilayah India untuk Hindu dan Pakistan untuk Islam. Segera, mulailah salah satu migrasi terbesar dalam sejarah manusia, ketika jutaan Muslim berjalan ke Pakistan Barat dan Timur (yang belakangan dikenal sebagai Bangladesh) sementara jutaan umat Hindu dan Sikh menuju ke arah yang berlawanan. Namun yang jadi masalah tidak semua orang islam  India setuju dengan pembagian wilayah ini, termask Sikh. Gandhi setuju membentuk negara federasi untuk mengakomodasi umat islam dan Sikh. Selesailah. Namun tetap saja ini sama saja menyimpan bom waktu di India. Karena politik identitas itu sudah berakar ratusan tahun sejak era kolonial Inggris. Semua golongan inginkan kekuasaaan. Sistem federasi sangat rentan perpecahan dan konflik. Mengapa?

Desain pemisahan ini datang dari inggris, sebagai cara memerdekakan Anak Benua India. Secara tidak langsung Inggris mengaktualkan pembagian wilayah atas dasar Agama. Padahal sejatinya orang India itu tidak terpolarisasi soal agama. Namun karena selama inggris berkuasa di Anak benua india, mereka memang membangun politik identitas itu. Setelah Perang Dunia Kedua, Inggris tidak lagi memiliki sumber daya untuk mengendalikan aset kekaisarannya yang terbesar, dan keluarnya dari India meninggalkan bom waktu. 

Ere kemedekaan
Benarlah. Komunitas-komunitas yang tadinya hidup berdampingan selama hampir satu milenium saling menyerang satu sama lain.  Konflik  sektarian terjadi sangat mengerikan, antara  orang-orang Hindu dan Sikh di satu sisi dan Muslim di sisi lain. Genosida timbal balik yang tak terbayangkan. Padahal sebelumnya itu tidak pernah terjadi. Di Punjab dan Bengal, masing-masing provinsi berbatasan dengan perbatasan India dengan Pakistan Barat dan Timur - pembantaian itu sangat intens, dengan pembantaian, pembakaran, konversi paksa, penculikan massal, dan kekerasan seksual yang kejam. Sekitar tujuh puluh lima ribu perempuan diperkosa, dan banyak dari mereka kemudian rusak atau terpotong-potong.

Nisid Hajari, dalam “Midnight's Furies” (Houghton Mifflin Harcourt), menulis, “Geng-geng pembunuh membuat seluruh desa terbakar, membasmi para lelaki dan anak-anak dan orang tua sambil membawa pergi wanita muda diperkosa. Beberapa tentara dan jurnalis Inggris yang menyaksikan kamp kematian Nazi mengklaim kebrutalan Pemisahan lebih buruk: wanita hamil memotong payudaranya dan bayi-bayi diusir dari perut mereka; bayi ditemukan dipanggang secara harfiah. ”

Menjelang 1948, ketika migrasi besar-besaran berakhir, lebih dari lima belas juta orang telah terpisah, dan antara satu dan dua juta telah mati. Perbandingan dengan kamp kematian mungkin lebih buruk dari peristiwa Holocaust pembantaian etnis Yahudi pada masa perang dunia kedua. Konsekuensi lain dari Pemisahan yang tak terduga adalah bahwa populasi Pakistan pada akhirnya lebih homogen secara agama daripada yang diperkirakan semula. Para pemimpin Liga Muslim berasumsi bahwa Pakistan akan memiliki populasi non-Muslim yang cukup besar, yang kehadirannya akan melindungi posisi Muslim yang tersisa di India―tetapi di Pakistan Barat, minoritas non-Muslim hanya terdiri 1,6 persen dari populasi pada tahun 1951, dibandingkan dengan 22 persen di Pakistan Timur (sekarang Bangladesh). 

Yang jadi masalah adalah walau sudah ada pemisahan berdasarkan agama, Pakistan untuk muslim dan India untuk Hindu, namun tidak semua umat islam india setuju dengan pemisahan itu. Mereka tetap bertahan di India dan sekarang populasinya mencapai 20% dari penduduk India. Keadaan ini bisa diterima dan ditolerir oleh Pemerintah India. Namun elite politik agama hindu tidak menerima sikap pemerintah India tersebut. Terbunuhnya Gandhi pada tahun 1948 oleh ekstrimis Hindu karena alasan tersebut. Saat ini, hubungan kedua negara itu jauh dari kata sehat. Kashmir tetap menjadi titik konflik; kedua negara memiliki senjata nuklir. Muslim India sering dicurigai memiliki loyalitas terhadap Pakistan; minoritas non-Muslim di Pakistan semakin rentan berkat apa yang disebut Islamisasi kehidupan di sana sejak 1980-an. 

Konflik yang terjadi sekarang.
Sebagian besar umat islam di Indonesia menganggap bahwa konflik di India sekarang karena adanya islamisme di India. Tidak. Islam di India adalah minoritas dibandingkan Hindu. Jadi tidak mungkin Islam bermain main dengan politik identitas seperti di Indonesia. Permasalahan di India itu adalah politisasi Agama mayoritas Hindu dengan semangat nasionalisme-hindu, yang dicanangkan oleh Modi dari partai Bharatiya Janata Party (BJP) yang berkuasa. Modi memang sejak 6 tahun lalu sengaja membangun narasi Nasionalisme Hidu dan keluar dari semangat nasionalisme Ghandi dan Nehru. 

Konflik terjadi bukan karena Umat hindu tidak suka dengan umat islam, tetapi karena politisasi agama untuk meraih kekuasaan. Mengapa? Islam di India itu mayoritas adalah islam tradisional yang sama dengan Islam di Indonesia, dimana budaya lokal menyatu dengan islam. Jadi bagi orang hindu, keberadaan islam itu tidak terpengaruh, dan bukan ancaman. Karena budaya orang islam dan hindu lebih banyak kesamaan daripada perbedaannya. Tetapi ada juga islam yang tidak menyatu dengan budaya lokal, yang penduduknya berasal dari luar India atau nonpri, seperti di Negara bagian Assam. Tetapi mereka minoritas. Sama seperti dikita pemeluk islam dari etnis Arab dan Yaman.

Pemecahan persatuan Anak benua india, menjadi dua negara India dan Pakistan, itu desain dari Inggris tahun 1948 ketika keluar dari Anak Benua India. Ketika pemisahan itu, mayoritas umat islam di India menolak untuk pindah ke Pakistan. Karena mereka tidak punya masalah dengan orang hindu dan sebaliknya orang hindu juga tidak punya masalah dengan islam. Makanya mereka yang menolak untuk pindah ke Pakistan, tetap diakui sebagai warga negara oleh Ghandi dan Nehru, dalam sistem negara federasi. Sementara yang pindah ke Pakistan adalah umat islam India yang merupakan etnis keturunan Arab dan Asia Tengah ( Turki dll) yang di bawah pengaruh dari gerakan Liga Muslim Muhammad Ali Jinnah.  Tentu liga muslim kecewa. Karena tadinya berharap semua umat islam India pindan ke Pakistan, dan bisa menjadi mayoritas di Paskitan. Faktanya setelah migrasi, tetap saja Islam minoritas di Pakistan walau rezim yang berkuasa dari Islam. Tahun 1980an Islamisme menguat di Pakistan dan ini tentu mengkawatirkan India, khususnya dari partai BJP. Karena kawatir bisa mempengaruhi Islam di India.

Sementara itu , politisasi agama dan Etnis ini dipakai oleh politisi hindu untuk mendulang suara dalam Pemilu di India. Politik primordial masih kuat, bukannya politik persatuan.  Makannya konflik terus terjadi. Apalagi sejak Modi dari partai Bharatiya Janata Party (BJP) berkuasa, dia membangun narasi Nasionalisme -Hindu, dengan agenda membangun India baru. Secara tegas Modi keluar dari platform politik Ghandi dan Nehruvan. Inilah yang mengkawatirkan umat Islam di India.  Apalagi sejak UU Citizenship Amendment Act (CAA) disahkan karena adanya keputusan MA yang memenangkan gugatan umat hindu atas sengketa lahan masjid abad ke-16 yang di claim sebagai situs Hindu. Karena memang tadinya lahan itu adalah situs umat hindu yang dihancurkan oleh  dinasti Islam yang pernah berkuasa di India. Nah dengan MA memenangkan gugatan itu, maka artinya akan jadi jurisprudensi untuk merebut Masjid kuno yang lain. Ini tentu akan semakin meluasnya nasionalisme-hindu, yang akan mengancam persatuan dan kesatuan India. Umat islam akan semakin terpinggirkan. Apalagi, elite politik hindu semakin gencar membangun narasi sekterian atas dasar kebencian.

Mayoritas Umat islam di India tidak menentang UU CAA, dan mereka tidak berdampak terhadap UU CAA itu, karena mereka memang sudah Warga negara dan pribumi India. Yang merasa kawatir adalah umat islam dari pedatang atau non pribumi khususnya yang ada di Assam. Mereka belum diakui sebagai warga negara namun dilindungi sebagai penduduk negara. Dengan adanya UU CAA itu dikawatirkan umat islam non pribumi dianggap penduduk ilegal. Padahal tidak begitu. UU CAA itu bertujuan melindungi persekusi islam non pribumi terhadap umat Sikh, kriten, budha. Umat islam non pribumi tetap dilindungi sebagai penduduk negara asalkan mereka menghargai agama lain.

Aksi protes umat islam di India bukan menentang UU CAA itu, tapi menginginkan politik persatuan, menentang agenda politik dari Bharatiya Janata Party (BJP) dan mereka demo menggunakan bendera India, bukan bendera Jihadis. Walau Bharatiya Janata Party (BJP)  adalah partai penguasa, namun mereka tidak mencerminkan mayoris rakyat India. Konflik ini pasti akan selesai dalam damai. Karena walau india berkali kali ribut dan betrok akibat ulah politisi namun pada akhirnya rakyat india lebih memilih damai. Budaya agama hindu dan islam mempersatukan mereka walau politik berusaha mencabutnya. India akan baik baik saja, asalkan tidak ada intervensi asing. Mereka lebih paham mengatasi masalah dalam negeri mereka.

Kesimpulan dan hikmah
FPI dan Forum Ulama Pembela Fatwa MUI, Muhammadiah, PKS, dan NU mengutuk kerusuhan di India yang menimbulkan korban dari umat islam. Bahkan mereka meminta pemerintah Indonesia bersikap seperti dulu Soekarno bersikap terhadap konflik India dan Pakistan, yang akhirnya berdamai setelah Soekarno turun tangan. Itu bisa saja. Karena ketika itu Indonesia ketua Non Blok yang sangat berpengaruh selain PBB. Tetapi sekarang Indonesia bagian dari PBB. Hanya PBB yang berhak menyelesaikannya dan Indonesia berperan di PBB untuk membantu mencari jalan penyelesaian soal konflik itu.

Menurut saya, apa yang terjadi di India sekarang, tak lain bagian dari ulah politisi yang sengaja membenturkan SARA untuk tujuan kekuasaan. Berbeda dengan awal India berdiri. Bapak bangsa mereka, Ghandi dan kemudian dilanjutkan oleh klan Nehru yang sangat mengutamakan politik persatuan dan nilai nilai demokrasi.  India itu bukan hanya jumlah penduduknya banyak tetapi juga wilayahnya luas. Mereka memiliki delapan agama, dan 2000 kasta, suku dan sekte. Mempunyai 15 bahasa. India merupakan negara federasi yang terdiri dari 22 negara bagian, 9 wilayah otonomi khusus. 

Gandhi dan Nehru sangat paham. Bahwa mengelola negara yang luas dan plural itu tidak mudah. Apalagi sistem politik India adalah demokrasi parlementer. Mudah sekali menyulut konflik dan pemerintah terkesan lemah. Ketika India merdeka berkat design Inggris memang menyimpan bomb waktu. Bomb waktu konflik apa ? Ada tiga hal yang memicu konflik yang sampai kini belum ada solusinya. Pertama, adalah Assam. Kedua, Punjab. Ketiga, hindu-muslim. Masalah Assam berkaitan dengan etnis, masalah Punjab didasarkan pada konflik agama dan regional, sedangkan masalah Hindu-Muslim didominasi oleh dendam antara agama. 

Ketiga hal ini selalu jadi kayu bakar politisi untuk mendapatkan suara dalam Pemilu. Sebetulnya India sama dengan Indonesia. Namun bapak pendiri bangsa kita tidak setuju dengan desain negara perserikatan ( federasi). Karena itu menyimpan konflik dan kapan saja bisa meledak. Kita memilih negara kesatuan ( NKRI) dengan dasar filosofi Pancasila. Sementara Gadhi menerima begitu saja desain dari Inggris. Konflik  yang kini terjadi bukanlah hal baru, tetapi sudah ada sejak India merdeka.

Seperti halnya konflik di Assam yang merupakan konflik etnis antara pendatang; etnis Bengala ( Pendatang dari Timur , Muslim, dari Barat, Hindu.) dengan penduduk lokal. Walau sama sama pendatang namun antara Bengali muslim dan Hindu juga terjadi konflik. Itu masalah sentimen agama. Maklum muslim Bengali adalah bukan pribumi. Sementara dari Barat adalah pribumi. Belum lagi antara Etnis Bengal dengan penduduk lokal Assam. Sentimen agama itu hanya pemicu  konflik. Agama itu indah namun sejarahnya bau amis darah. Dan itu karena politik!  Buktinya di Punjab yang mayoritas Sikh. Masalah agama tidak ada disinggung tetapi soal ekonomi jadi pemicu konflik. Karena orang sikh lebih makmur hidupnya. Idiologi itu indah, namun karena ekonomi sejarahnya bau amis darah.

Kita sebagai bangsa Indonesia tidak bisa ikut campur masalah urusan dalam negeri orang lain. Jadi apa yang kita bisa lakukan? memberikan teladan kepada mereka bagaimana kita sebagai bangsa yang mayoritas islam bisa berdamai dengan kenyataan untuk berdampingan secara damai dengan agama lain. Bagaimana kita saling berdamai dengan suku manapun di nusantara ini, demi NKRI. Hanya itu yang bisa memberikan inspirasi bagi India agar mereka juga berubah. Tetapi kalau elite politik kita menggunakan konflik di India ini sebagai menu memancing emosi  umat islam di Indonesia, maka kalian  tidak ubahnya dengan elite politik di India. Demi kekuasaan menghalalkan konflik terjadi. Jahat sekali! 

Tobatlah..dan ambillah hikmah dari peristiwa yang ada di negeri orang, seperti di Suriah, India,  Yaman, Afganistan, agar kita lebih bijak dan Pancasila semakin dicintai.