Senin, 17 Juni 2019

Mencoba Memahami Mu ( 6) : TAMAT

Kisah  yang saya tulis berjudul “ Mencoba Memahami Mu (6) adalah kisah seputar wirausaha, yang memuat tentang kejujuran, kesabaran dan semangat. Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.**



Setelah Budi minta Wenny memberikan pinjaman ke Maria, Budi langsung keluar dari Cafe. Dia pergi meninggalkan mereka bertiga. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Maria merasa bersalah karena menempatkan Budi tersudut dihadapan sahabatnya.

“ Kak Esther,tidak seharusnya kamu bicara terlalu menyudutkan Budi “ Kata Maria.

“ Engga usah dipikirkan. Dia memang begitu.” Kata Esther tanpa peduli suasana hati Maria.

“ Tapi Kak..” 

“ Dengar ya Maria. Kamu tidak boleh terlalu lemah di hadapan Budi. Dia memang boss kamu, tapi dia juga sahabat kamu. Sudah seharusnya dia menghormati kamu. Apakah ada kehormatan yang lebih baik daripada kepercayaan? Apalagi ini soal pinjaman personal” Kata Esther.

“ Saya paham, ka. Saya tahu Budi sangat menghormati saya dengan memberikan kepercayaan yang besar. Saya juga tahu Budi menghadapi semua orang sesuai dengan pribadi orang, yang tentu masing masing orang berbeda. Saya berbeda dengan kamu dan Wenny. Saya hanya tamatan SMU. Kalau sekarang saya bisa seperti sekarang, itu berkat binaan dia. Berkat kepercayaan dia.”  Kata Maria. Wenny dan Eshter terkejut. Mereka berdua bisa memahami itu.

“ Tetapi mengapa Budi ingin tahu segala kebutuhan pribadi kamu. Apalagi itu soal pinjaman berjaminan ?

“ Dulu tahun 2003 saya diberi kepercayaan oleh Budi mengelola usaha. Saya terjebak hutang pribadi sebesar cukup besar. Karena saya tahu, kalau saya pinjam atas nama perusahaan pasti Budi akan tolak. Padahal saya yakin itu transaksi menguntungkan. Tetapi belakangan transaksi itu menimbulkan kerugian. Saya tidak mampu bayar utang. Saat itu saya merasa tidak berguna. Merasa mengkhianati kepercayaannya. Setiap hari saya dikejar hutang. Akhirnya saya bunuh diri …” Maria menangis.

Mereka berdua terdiam.

“ Kalian tahu..” Kata Maria menatap mereka berdua “ Budi yang selamatkan saya dari usaha bunuh diri itu. Dia merawat saya sampai sembuh. Setelah itu hutang saya dia bailout tanpa sekalipun dia menyalahkan saya. Dia hanya menyesal mengapa dia tidak punya waktu cukup untuk membantu saya. Waktu itu dia memang sibuk. Banyak di luar negeri. Setelah itu dia minta saya bangkit lagi dan belajar dari kesalahan. Ya sampai sekarang saya tetap bersama dia, bekerja untuk dia. Sampai kapanpun saya tidak akan bisa membayar kebaikan dia. Soal bagaimana dia menjaga kebutuhan pribadi kita, saya rasa kita semua tahu. “

“ Ya. Dia memang berhitung soal pengeluaran tapi kelau menyangkut kebutuhan yang sangat pribadi dan kehormatan kita,  dia tidak pernah berhitung. Dulu tahun 2006, saya terjebak hutang shark loan untuk membiayai ibu saya di rumah sakit. Suami saya sampai mengusir saya. Sayapun diberhentikan dari pekerjaan saya. Ketika itu saya sampai menawarkan ginjal saya untuk dijual. Tetapi ketika Budi tahu, dia datang membantu saya tanpa saya merasa mengemis. Caranya, dia tawarkan bisnis ke saya untuk saya kelola. Berharap dari keuntungan itu saya bisa bayar uangnya. Sampai kini saya tidak pernah bisa berhenti berterima kasih “ Kata Wenny. 

Esther menatap Wenny dan Maria.” Saya kenal Budi mungkin lebih lama dari kalian. Kami bersahabat sejak usia 30 tahun. Kebetulan usia saya dengan dia sama. Ketika dia sedang menghadapi krisis bisnis tahun 1999, saya berusaha membantunya. Tetapi bantuan itu gagal, bahkan membuat dia rugi besar. Justru mempercepat kebangkrutan dia. Tetapi dia berusaha bangkit tanpa pernah menyalahkan saya. Dan ketika dia bisa bangkit lagi, dia temui saya tanpa ada kesan dia kecewa dengan kegagalan saya membantunya. Ketika saya terjebak hutang membayar apartement. tanpa bicara dia melunasi hutang saya.” Kata Esther dengan berlinang air mata. 

“ Dan..” Kata Maria “ dengan semua kebaikan yang dia berikan kepada kita, dia tidak pernah merasa berjasa atau menepuk dada. Bahkan, kadang kita kesal dan marah kepada dia, sampai mengeluarkan kata kata kasar, dan membuat dia tertekan, dia hanya diam tanpa ingin membuat kita terluka dengan kata katanya. Memang dalam hal bisnis Budi bisa sangat keras tapi rasional sekali. Agar kita lebih focus ke bisnis, ke akal sehat,bukan perasaan atas dasar prasangka.” Sambung Maria.

Mereka semua terdiam. Tak berapa lama telp Wenny bergetar “ Ya pak. Baik pak segera saya kesana “ Wenny menatap mereka berdua.” Pak Budi minta saya antar dia pulang. Keliatannya dia mabuk di Kowloon. “

“ Mengapa dia selalu minta kamu yang antar pulang kalau dia mabuk ?Tanya Esther.

“ Karena saya tidak pernah bertanya, mengapa dia mabuk. Pria seperti Budi dengan tekanan besar sepanjang waktu. engga gila aja udah bagus. “ Kata Wenny.  Maria dan Esther saling pandang. Mungkin hanya Wenny yang paling bisa memahami Budi. ” Saya jarang bertemu dengan Pak Budi, namun saya cepat belajar bagaimana memahami dia. Saya juga bisa menempatkan diri saya agar tidak melewati batas diri saya. Dia tetap boss saya dan sahabat bagi saya. Hanya itu.” Kata Wenny. 

“ Gimana kalau kita sama sama jemput Budi di Kowloon. “ Kata Wenny. Maria dan Esther tersenyum dan langsung berdiri kemudian melangkah keluar dari Cafe. Sementara Wenny bayar bill. Dalam perjalanan, Maria berkata, “ Usia saya sekarang 43 tahun. 15 tahun bersahabat dengan Budi”

“ Saya 49 tahun, 13 tahun bersama Budi “ Kata Wenny

“ Saya 53 tahun, 20 tahun lebih kebersamaan dengan dia “ Kata Esther.

“ Dan sampai sekarang persahabatan kita dengan Budi tidak berubah. Kalaulah dia menilai persahabatan itu atas dasar nafsu tentu tidak mungkin persahabatan itu bisa bertahan lama.” Kata Maria.

“ Ya. Kita semua sekarang single setelah orang yang tadinya sangat kita cintai break commitment. Dan Tuhan kirim Budi, pria yang bukan kekasih, bukan suami tapi sahabat bagi kita. Dia menjaga kita sebagaimana seharusnya seorang sahabat.  “ Kata Esther menghela nafas. 

***
Budi membaca project feasibility Study yang disampaikan Maria lewat email. Sepanjang malam dia mempelajari laporan studi dari semua aspek legal, teknis, Marketing , financial dan sosial.  Dalam Laporan Study itu juga dilampirkan izin prinsip dari pemerintah Vietnam dan MOU dengan prinsipal tekhnologi dari China.  Pemerintah Vietnam menolak pemberian izin pabrik semen. Alasannya tekhnologi nya belum teruji secara internasional.  Atas dasar itu Maria mengubah Laporan studi nya dari pabrik semen menjadi industri material building. Namun karena Perubahan rencana bisnis itu maka rekomendasi dari venture capital di KL, menyatakan bahwa proyek itu tidak layak dibiayai. Walau secara pribadi Budi adalah pemegang saham pada Venture capital itu namun dia tidak bisa intervensi . Maklum dana venture capital juga berasal dari publik dan bank. Pertanggungan jawabnya sangat jelas. 

Padahal Maria sudah dua bulan di HO Chin Minh, dan sangat berharap dana dari venture capital cair agar dia bisa melengkapi semua standar kepatuhan bisnis sesuai dengan laporan studi kelayakannya. Dari email James direktur BDG, menjelaskan bahwa proyek Maria itu tidak layak. Alasannya tidak masuk dalam programa portofolio holding. Kecuali pabrik semen. Budi menghela nafas setelah berpikir panjang. Dari awal Budi Sudah tahu bahwa proyek Klinker ini akan ditolak oleh holding dan perusahaan afiliasi bisnis nya. Makanya dia percayakan kepada Maria untuk mengurusnya. Tadinya dia berharap take advantage dari pembelian saham perusahaan pemilik tekhnologi di China dan menjualnya lagi setelah IPO, namun dari banker sahabatnya, dia mengetahui perusahaan pemilik tekhnologi itu menolak menjual sahamnya melalui swap Hutang bank. Budi menghela napas. Berpikir keras. 

Budi telp Maria.

“ Maria “

“ Ya mas “ terdengar suara Maria di seberang.

“ Kamu sehat ?

“ Sehat mas”

“ Saya sudah baca FS kamu.  Bagus sekali”

“ Terimakasih Mas”

“ Venture capital di KL sudah email saya. Mereka reject proyek kamu. Mereka hanya commit dengan proyek pabrik semen, bukan material building. “

“ Oh gitu ya mas. Gimana dengan holding ?

“ James juga sudah kasih tahu saya bahwa holding engga minat dengan industri material building”

“ Terus gimana kelanjutannya Mas?

“ Kamu yakin proyek ini bisa jalan ?

“ Yakin Mas. Maria yakin banget”

“ Ok kalau gitu kamu lanjutkan saja. “

“ Masalahnya uang Maria udah habis. “

“ Maria, saya tidak bisa terus keluarkan uang. Kalau kamu yakin, ya lanjutkan saja. Cari solusi. Kalau engga, cut loss aja. Pulang ke jakarta urus perusahaan kamu sendiri. Coba kamu pikirkan itu”

“ Ya mas. Maria akan pikirkan. “

***
Saat rapat di kantor, Maria menyampaikan bahwa venture capital menolak untuk membiaya proyek. Begitu juga holding company di Hongkong menolak membiayai. Semua dengan alasan yang sama , yaitu mereka tidak minat pada bisnis industri material building. Robert, Yen dan dua anggota team lain terdiam. 

“ Saya tetap akan melanjutkan proyek, ada atau tidak ada dukungan dari investor” kata Maria tegas. Mereka saling menatap satu sama lain. Mereka terkejut. Tidak menyangka akan mendengar sikap tegas Maria.

“ Mengapa ? Tanya staf geologis.

“ Karena kekuatan proyek ini ada pada produk. Kita menghasilkan produk yang merupakan solusi penyediaan rumah murah bagi rakyat yang tidak mampu. Perhatikan, tekhnologi dari china menjamin ongkos material pembuatan rumah bisa hemat sampai 80%. Ini murah sekali.  Disamping itu waktu pengerjaan rumah bisa lebih cepat. Satu hari bisa selesai satu unit rumah ukuran 36 M2. Total solution. “ kata Maria dengan pancaran mata penuh keyakinan.  “ Tapi tentu dengan syarat Robert dan Yen sebagai pemegang saham setuju. “ lanjut Maria.

“ Kami siap mendukung ibu. Apapun akan kami lakukan. Kami percaya dengan ibu” kata Yen.

“ Apa yang harus kami lakukan bu ? Tanya Robert.

“ tetap semangat. Jangan menyerah. “

“ Tapi bu, uang kita sudah sangat terbatas sekali “ tanya staf keuangan.

“ Kita akan restruktur biaya dan mencari solusi mengatasi semua pos pembiayaan proyek. “ kata Maria.

“ Ok.” Maria tersenyum. “ mari kita bedah pos biaya investasi proyek satu persatu.  Kita mulai dengan lahan tambang sebagai  sumber bahan baku. Keluarkan anggaran itu dari anggaran “

“ Terus, gimana kita dapat bahan baku? Tanya Robert.

“ Kita yakinkan Pemda dan Masyarakat Agar mereka bersedia menjadi Supplier kita. Kita usulkan mereka membentuk koperasi yang anggotanya para pemilik lahan dan Pemda. Kita beri jaminan pembelian”

“ Kalau mereka minta jaminan pembayaran dalam bentuk financial guarantee. Gimana ? Kan engga mungkin mereka mau kerja tanpa ada kepastian pembayaran” tanya team bagian keuangan.

“ Kita akan minta bank keluarkan jaminan?

“ Apa bank mau menjamin?

“ Saya akan berusaha yakinkan bank. Dengan adanya kontrak dengan developer rumah murah  yang butuh bahan material yang siap pasang, mereka akan mau memberikan jaminan. Nah jaminan itu kita jadikan alasan untuk bank mau mengeluarkan jaminan kepada suplier”

“  Itu artinya kita harus dapatkan kontrak dengan developer rumah murah? Tanya Robert.

“ Benar. Kita harus dapatkan kontrak penjualan itu”

“ Bagaimana meyakinkan developer  kalau belum ada produknya.  Belum lagi mereka tidak mau ambil resiko atas produk itu. Mereka butuh kepastian dan untuk itu mereka engga mau ambil resiko” kata Robert.

“  Saya akan bicara dengan prinsipal agar mereka menyediakan produk untuk rumah contoh. Bukan hanya satu unit tapi sedikitnya 100 unit. Jadi ini semacam pilot proyek. Nah pilot proyek ini akan kita promosikan kepada calon konsumen rumah. Saya berharap kita mendapat dukungan dari pemerintah untuk meng endorsed pilot proyek ini kalau memang terbukti memenuhi syarat rumah murah dan berkualitas.” 

“ Apa iya mereka mau? Kata Yen

“ kita harus yakinkan mereka. Ini perjuangan. Yang jelas kita sudah ada MOU dengan prinsipal”

“ Paham bu. Saya akan bicara dengan Ayah. Saya yakin ayah akan bantu. Apalagi dia pernah bilang bahwa proyek kita ini merupakan solusi menyediakan rumah untuk rakyat miskin. Bahkan pemerintah katanya akan memberikan subsidi untuk program rumah murah. Tentu proyek ini akan mengurangi banyak subsidi yang harus dibayar pemerintah.”

“ Bagus” kata Meria tersenyum.

“ Tapi darimana kita dapatkan uang untuk bangun pabrik klinker dan pengolahan klinker sebagai bahan material bangunan siap pasang. Dalam FS, biayanya besar sekali. Belum lagi kita harus punya Designer hebat untuk merancang bahan material rumah siap pasang. Banyak lagi sumber saya yang harus kita siapkan “ Kata team keuangan.

“ Nanti kita pikirkan.  Sekarang focus saja bagaimana memastikan dapat bahan baku dan pemasaran. “

“ Mengapa?

“ Bisnis itu bertumpu kepada tekhnologi dimana bahan baku termasuk didalamnya dan pemasaran. Kalau dua hal itu kita bisa yakinkan, uang bukan masalah. Yakinlah” kata Maria menyapu pandangan kepada mereka semua. “ Paham ! “ seru Maria.

“ Paham bu” Jawab mereka serentak.

“ Nah sekarang kita bagi tugas. Kamu, Yen, yakinkan pemerintah dan masyarakat yang punya lahan agar mau bermitra dengan kita. Buat  proposal yang bagus. Kamu, Robert, usahakan dekati konsultan bangunan agar mereka memberikan rekomendasi penggunaan produk kita kepada developer dan kontraktor. Perlihatkan contoh produk yang ada, dan report lab dari china yang menerangkan kekuatan produk ini. Perlihatkan juga brosur contoh rumah yang sudah dibangun di china. Perlihatkan juga  company profile prinsipal kita di china. Usahakan seprofesional mungkin. Kalian team keuangan dan geologis Bantu Robert dan Yen dari segi penyiapan proposal dan usahkan mendekati pihak lembaga keuangan di Vietnam dalam program kredit rumah murah. Kamu kan kompeten menjelaskan aspek financial dan  produk ini kepada mereka. Saya akan berangkat ke china besok. Saya akan berusaha meyakinkan prinsipal agar mendukung rencana kita mendapatkan pasar di Vietnam. Paham ya.”

“ Paham bu”

“ Sekali lagi saya tekan kan. Jangan berpikir negatif dalam menghadapi tantangan.  Kalau sukses itu mudah, tentu semua orang Ingin sukses. Tetapi sukses itu tidak mudah.  Tuhan akan menolong kita sejauh mana kita yakin dengan Effort kita”

“ Paham Bu. Saya sangat yakin sejak kali pertama kita rapat. “ kata Yen seraya berdiri mendekati Maria sambil menyerahkan buku tabungannya” Bu, saya ada tabungan sebesar USD 50,000. Uang ini dari almarhum ibu saya yang dapat warisan dari kakek saya. Uang ini tadinya ibu saya niatkan untuk bekal saya beli rumah kalau menikah nanti.  Pakailah uang ini untuk menutupi kekurangan anggaran. “ lanjut Yen. 

“ Saya juga akan menyerahkan tabungan saya. “ kata Robert seraya menyerahkan buku tabungannya dengan saldo USD 60,000. “ itu tabungan saya selama bekerja di Holding. 

“ Kami engga ada uang.” Kata staf keuangan” namun kami siap dipotonggaji sampai 50%” “ sambungnya seraya meliat staf geologis. 

“ Saya hargai dukungan dan niat kalian berkorban untuk proyek ini. Untuk sementara anggaran kita masih cukup sampai bulan depan. Berhemat saja. Saya akan cari kekurangannya.  Nah sekarang mari kerja keras. “ kata Maria seraya berdiri untuk menyudahi meeting

***
 Keesokannya Maria terbang ke Beijing untuk bertemu dengan prinsipal. Sebelumnya sudah dapat konfirmasi dari prinsipal bahwa mereka bersedia bertemu dengan Maria. Benarlah kedatangan Maria sampai di bandara Beijing,  staf perusahaan prinsipal menjemputnya dan mengantarnya ke Hotel. Setelah check in, Maria langsung ke kantor prinsipal tekhnologi. 

“ Bu Maria, senang sekali ketemu lagi dengan anda. “ kata direktur perusahaan prinsipal tekhnologi dengan menggunakan bahasa Mandarin.

“ Terimakasih pak “ Kata Maria.

“ Apa yang dapat saya bantu ?

Maria menyerahkan proposalnya dan menjelaskan secara detail  tentang perlunya dukungan dari prinsipal untuk menyediakan pilot proyek.   

“ Bu Maria. Saya sudah pelajari proposal ini yang kamu kirim via email kemarin. Luar biasa. Kami senang sekali punya mitra seperti anda. Tapi... “ kata direktur itu sambil berpikir.

“ Ya pak. Silahkan apa yang harus saya ketahui” 

“ Kami harus keluar uang untuk promosi dalam bentuk menyediakan pilot proyek. Kami harus bayar tanah dan mengapalkan produk kami ke Vietnam. Ya sesuai dengan anggaran yang anda ajukan. Ini butuh perhitungan cermat. “

“ Saya sangat paham, pak. Maafkan saya. Karena kami tidak punya uang untuk ambil resiko itu.” Kata Maria dengan wajah kelabu. 

Sang direktur terdiam namun matanya terus menatap  Maria. Maria salah tingkah. 

“ Ok Maria. Begini saja. Gimana kalau saham perusahaan kamu itu kami ambi alih sehingga perusahaan itu jadi cabang kami. Dan anda kerja untuk kami. “ 

Maria terdiam. Tawaran yang merupakan solusi yang menempatkan Maria No choice. 

“ Maaf pak. Saya bukan pemegang saham. Saya hanya profesional. Saya akan bicarakan dengan pemegang saham. “ 

“ Ok, gimana dengan tawaran kami, anda bekerja untuk kami?  Kami akan berikan Gaji dan saham yang tentu lebih baik dari yang ada sekarang”

“ Pak, saya bekerja sekarang tidak dapat gaji, bahkan saya keluar uang untuk memproses pendirian bisnis ini . Saya juga engga dapat saham. “

“ Lantas apa motivasi anda ?

“ Saya ingin membantu rakyat miskin agar dapat memiliki rumah dengan harga murah. Agar semakin banyak kesempatan mereka mendapatkan rumah”

“ Hanya itu ? Sang direktur mengerutkan kening.

“ Ya pak”

“ Ini kali pertama saya dengar ada profesional yang mau berkorban untuk tujuan mulia”

“ Saya hanya berusaha berbuat menurut keyakinan saya saja. Tak lebih. “

“ Benar kata Chairman saya. “

“ Apa ?

“ Anda orang baik. Dia minta saya mendapatkan  anda secara pribadi menjadi mitra kami. “

“ Bapak terlalu memuji saya “

“ Bu Maria, kalau anda bergabung dengan kami, bukan hanya rakyat Vietnam yang akan dapat manfaat tetapi juga negara ASEAN lainnya dan termasuk Afrika, Amerika Latin. Kami ingin anda mengembangkan bisnis kami ke semua negara itu.  Tiga tahu lagi kami akan IPO. Gimana ?”

“ Terimakasih pak. Namun alangkah baiknya anda bantu saya untuk membuktikan program bisnis ini jalan sesuai dengan rencana bisnis saya. Setelah itu saya akan mempertimbangkan tawaran anda.  Please... “ kata Maria seraya menundukkan tubuhnya. 

“  Baiklah saya akan bicarakan dengan chairman saya. Tenang saja. Akan ada solusi. “ kata sang direktur seraya berdiri. Maria ikut berdiri mengikuti langkah direktur ke pintu keluar. “ apakah malam ini anda sibuk ? Kata sang direktur ketika Maria hendak keluar.

“ Tidak pak. Saya hanya khusus datang ke Beijing untuk Deal ini”

“ Chairman saya mengundang anda makan malam. Apakah mungkin ?

“ Oh senang sekali pak. “

“ Baik. Kalau begitu jam 7 sekretaris akan jemput anda di hotel. Sekarang anda bisa istirahat di hotel. “ 

 Maria membungkuk tubuhnya sebagai tanda hormat kepada sang direktur ketika lift hendak tertutup. 

****
Di hotel Maria berpikir tentang tawaran dari direktur perusahaan prinsipal tekhnologi.  Itu tawaran yang sangat menarik. Jabatan direktur untuk urusan investasi international dari perusahaan yang mendapatkan proyek pengadaan rumah murah jutaan unit di china . Maria juga bisa memberikan sumbangsih atas usianya untuk program kemanusiaan dengan menyediakan solusi pengadaan rumah murah bagi orang miskin.  Namun dia tidak bisa mengkhianati Budi. Bisnis ini semata mata karena penugasan dari Budi. Dia berpikir untuk menelphone Budi minta pendapat. Tapi dia urungkan. Dia lebih baik focus kepada Deal mendapatkan dukungan pembiayaan untuk pilot proyek. 

Jam 7, dia sudah siap di loby. Kendaraan yang menjemputnya datang tepat waktu. Sekretaris membukakan pintu kendaraan untuk Maria. Kendaraan itu Standar limo dan mewah sekali sebagai kendaraan eksekutif papan atas. 

Ternyata yang hadir dalam makan malam itu hanya Chairman seorang tanpa didampingi staf. Jadi ini benar benar makan malam informal sebagai bentuk hospitality. Maria merasa tersanjung diperlakukan  seperti ini. Dia merasa canggung dengan keramah tamahan ini.

“ perkembangan china begitu cepatnya ya pak” kata Maria sekedar menghilangkan kekakuan. 

“ Maria “ seru sang Chairman. “ kamu tahu, Pada tahun 2000, total pendapatan yang diperoleh oleh BUMN China dan sektor Swasta kira-kira sekitar 4 triliun yuan. Pada 2013, pendapatan BUMN meningkat 6 kali lipat namun pendapatan sektor swasta telah meningkat lebih dari 18 kali lipat. Keuntungan pada periode yang sama menunjukkan perbedaan yang lebih luar biasa, BUMN China menunjukkan peningkatan tujuh kali lipat tetapi laba di perusahaan swasta meningkat hampir 23 kali lipat. “

“ Wah  luar biasa. Apa yang mendorong begitu hebatnya pertumbuhan dunia usaha swasta ?”

“ itu berkat tingginya animo orang berwira usaha, termasuk generasi muda china. Selama dua dekade pertumbuhan wirausaha yang begitu cepat mengakibat terjadi perubahan paradigma politik di China, bahkan mengubah tatanan dunia usaha  Dunia. Perang dagang China-AS bagian dari dampak dari tumbuh pesatnya wirausaha China.”

“ Benar sekali pak. Saya punya teman di China. Lima tahun lalu saya mengenal dia sebagai Manager Logistik. Tetapi sekarang dia sudah jadi pengusaha logistik. Ada lagi teman yang tadinya dia sebagai Manager PR di perusahaan penerbangan. Belakangan saya tahu dia sudah punya bisnis Private restaurant untuk kalangan pebisnis. Teman saya orang asing pernah mengatakan kepada saya,  Kalau kamu menerima kartu nama dari staff perusahaan di china. Jangan pernah dibuang. Karena bukan tidak mungkin lima tahun kemudian dia sudah jadi boss besar. Menurut data yang saya baca dari Global Entrepreneurship Monitor, China merupakan negara yang paling banyak wirausahanya dan paling tinggi mental kewirausahaannya dibandingkan negara lain.” Kata Maria.

Sang Chairman tersenyum mendengar pengalaman Maria. “ Ya. Kalaulah bukan karena mental wirausaha yang begitu tinggi di China, tidak mungkin CHina bisa meng eskalasi pertumbuhan ekonominya dengan cepat dan bisa melewati perubahan lingkungan bisnis global yang begitu cepat. Sejak kriris global tahun 2008, banyak PHK akibat kebangkrutan di zona industri. Tetapi pada waktu bersamaan melahirkan new comer enterpreneur dalam jumlah besar. Pemerintah China mengeluarkan kebijakan insentif tarif bagi usaha pedesaan. Ini disikapi dengan terjadinya migrasi orang kota ke desa untuk mendapatkan peluang bisnis itu. Maka proses sinergi antara orang kota dan desa terjadi secara natural, memberikan dampak positip bagi kemajuan desa. “

“ Bagaimana mungkin negara komunis yang kekuasaannya tumbuh karena kaum pekerja dan petani, bisa berubah menjadi negara yang tumbuh karena wirausaha? 

“ Menurut saya sebetulnya wirausaha itu tumbuh by design dari kebijakan politik. Hanya saja Cina tidak memaksakan pertumbuhan wirausaha dengan berbagai kemudahan dan fasilitas. Tetapi melalui perbaikan mental rakyatnya”

“ Bagaimana China membangun mental wirausaha itu ? 

“ Ya melalui propaganda. Karena ini negara komunis maka soal propaganda kebijakan politik itu, China memang jagonya. Banyak sekali novel modern menulis tentang kisah cinta bertema wirausaha. Buku kisah perjalanan hidup Steven Jobs terjual lebih dari 300 juta eksamplar di China. Kalau anda nonton TV, banyak sekali film Sinetron China yang bersinggungan dengan Wirausaha. Namun alur cerita dikemas dengan begitu apiknya sehingga tidak terkesan itu film propaganda. Disetiap dialogh anti klimak pada setiap episode selalu disisipkan kata kata inspiratif mantal kewirausahaan seperti passion, dan ketangguhan menghadapi kesulitan. Tetapi yang hebatnya film itu menempatkan cara berpikir yang realistis. Nilai nilai agama ditampilkan melalui akhlak dan perbuatan, seperti kejujuran, setia kawan, kerja keras, sabar dan berbagi.

Kalau dulu film propaganda membosankan. Karena lebih banyak memuji muji kehebatan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan. Namun kini tidak lagi itu. Kalau ada proyek besar sukses dibangun,  di media TV, kita akan mendengar dan menyaksikan kisah sukses CEO atau pengusaha dibalik proyek itu. China sadar bahwa menjangkau rakyat diatas 1 miliar tidaklah mudah. Namun berkat media TV, dan Internet, pesan yang ingin disampaikan dalam propaganda dapat dengan mudah dilakukan. Tentu kelebihan China adalah semua media TV milik negara jadi lebih mudah memfilter acara yang sesuai dengan agendan negara. Internet pun di filter negara sehingga berita yang merusak mental pasti di banned.”

Maria termenung. Kalau pada periode ke dua Jokowi ingin mengembangkan SDM , maka media TV dan Internet adalah cara efektif membangkinkan semangat wirausaha dikalangan masyarakat. Wirausaha itu bukan hanya soal pedagang tetapi soal mental kemandirian, yang kreatif, inovatif dan punya standar moral sesuai dengan budaya dan agama. Mengapa banyak sarjana yang baru lulus menjadi masalah. Karena didalam diri mereka tidak punya mental wirausaha dan selama kuliah terpapar paham radikalisme dan pragmatisme. Kalau tidak segera by design sikap mental wirausaha di bangun lewat propaganda,  maka generasi muda itu bukan jadi asset bangsa tetapi jadi beban negara yang sampai kapanpun akan menjadi masalah sosial bagi negara.

“Maria “ seru sang Chairman. Membuat Maria terkejut. Buyar lamunannya.

“ Ya pak. “

“ Saya tahu banyak tentang anda
dari MR. Hu, di Vietnam. Saya juga tahu keberadaan anda dari  banker saya bahwa ada tangan kanan pak Budi. Boleh dikatakan anda orang kepercayaannya. Engga gampang orang bisa dipercaya oleh Pak Budi. Demikian kata taman saya, yang kenal betul pak Budi.  Dari awal sejak saya mengenal Anda di Hongkong,  saya sudah menilai anda orang yang sangat berpotensi untuk mendukung rencana ekspansi bisnis kami ke luar negeri. Saya berharap suatu saat anda bergabung dengan kami. “ Kata sang Chairman seraya menuangkan wine ke cangkir gelas Maria. Tak berapa lama hidangan sudah datang. Suasana sangat romantis dan berkelas. Maria melihat sisi lain pengusaha china yang begitu gentel memperlakukan wanita. Tidak nampak kesan diskriminasi.

“ Terimakasih pak. Saat sekarang saya focus memastikan Rencana bisnis saya bisa sukses. Setidaknya memastikan saya bisa menguntungkan perusahaan anda. “

“ Bijak sekali. Saya paham. Minggu depan saya akan kirim team ke Vietnam untuk bergabung dengan team anda membangun pilot proyek”

“ Terimakasih pak. “ kata Maria seraya membungkukan tubuhnya. 

***
“ Hi, Maria “ Budi menelpon. Membuat Maria terkejut.

“ Ya Mas. Sehat ?

“ Sehat.”

“ Kok baru sekarang telp ? kemana saja ?

“Sibuk. “

“ Ya tahu. Sibuk selalu.”

“ BIsa ketemu saya di Hong Kong ? 

“ Bisa Mas. “
“ Ya udah. Saya tuggu besok ya.” 

“ Ya mas. “

“ Jangan lupa ajak Yen dan Robert ya.”

“ Ya Mas. “

“ Ya udah ya..”  Budi langsung matikan telp. 

Maria terhenyak. Ada apa Budi telp? Sudah lebih 2 tahun Maria di Vietnam.  Selama setahun lebih dia tidak pernah bertemu dengan Budi. Terakhir bertemu Budi waktu di Hong Kong makan malam dengan Profesor dan Ayah Yen.  Ya sejak Budi menyerahkan keputusan kepada Maria soal rencana bisnis di Vietnam,  pendirian pabrik material building, sejak itupula tidak ada lagi komunikasi dengan Budi. Telp pun tidak pernah. Maria pun tidak ingin menelphone Budi.  Hanya dengan Wenny komunikasi terus terjalin. Menurut Wenny, Budi sedang sibuk akuisisi Holding  Company yang punya portfolio khusus mengelola efisiensi Listrik dan logistik berbasis IT di China. Budi juga sibuk bersama Wenny akuisisi Holding Company dibidang Tambang emas.  Makanya Maria tidak mau menggangu Budi.

Sejak pilot proyek pembangunan Rumah murah dengan tekhnologi dari China selesai dan mendapat respon positip dari konsumen, Maria berhasil membangun Pabrik klinker yang terintegrasi dengan industri material building.  Pembiayaan berasal dari Venture capital di KL. dan perbankan di Vietnam. Mengapa Maria sampai membutuhkan venture capital ? karena bank hanya bersedia memberikan kredit sebesar 70% dari total investasi.  30% harus perusahaan sediakan. Ini skema non recourse loan. Untuk minta kepada pemegang  saham, Yen dan Robert jelas tidak mungkin. Mereka berdua tidak punya uang. Dengan masuknya equity sebesar 30% dari total investasi, saham Robert dan Yen otomatis delusi, tinggal 1%. Namun Maria berhasi dalam negosiasi dengan venture capital agar pendiri perusahaan mendapatkan  saham goodwill sebesar 5%. Jadi total saham Yen dan Robert hanya 6%. Dengan selesainya proses pelepasan saham kepada venture capital, dana pra operasional yang dikeluarkan Maria sebesar USD 2 juta di reimburse. Sehingga dia bisa bayar hutang kepada Wenny.

Posisi Maria diperusahaan sebagai dirut yang mewakili Venture Capital. Sementara Yen sebagai Komisaris dan Robert sebagai direktur pemasaran. Setelah pabrik berdiri dan proses produksi berjalan, permintaan atas produk bahan bangunan untuk rumah murah berdatangan.  Permintaan bukan hanya dari  dalam negeri Vietnam tapi juga dari Filipina, Kamboja. Pabrik berproduksi full capasitas. Pabrik ini sangat didukung oleh pemerintah Vietnam karena menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat yang punya lahan tambang. Sinergi terjadi dengan begitu indahnya.  SDA tidak dikuasai pemodal tapi bersinergi untuk saling menguntungkan dengan masyarakat yang di wakili Koperasi. Sehingga kepastian bahan baku untuk pabrik sangat terjamin.

Maria dapat laporan dari sekretarisnya bahwa ada email masuk dari Venture capital di KL. Email itu undangan untuk rapat pemegang saham. Email itu ditujukan kepada Yen dan Robert. Maria sadar bahwa telp Budi tadi untuk membawa serta Robert dan Yen ke Hong Kong dengan tujuan rapat pemegang saham. Ada apa ?  Ketika Robert dan Yen mempertanyakan undangan itu,  Maria hanya menjawab singkat “ Undangan itu dari pemegang saham mayoritas. Engga ada hak kalian mempertanyakan.  Ikuti saja undangan itu. Nanti dengar apa kebijakannya.

***
Rapat diadakan di kantor Holding Budi. Yang hadir adalah Chairman dari Venture Capital, Datuk, Direktur investasi Holding, Peter Wu, Chairman  Sinjuan Industries Group dari prinsipal mitra tekhnologi, Lawyer dari perwakilan semua pihak. Maria dari VMIN Ltd sebagai Dirut dari industri materila building di Vietnam. Dalam rapat itu Budi hanya sebagai pendengar. Rapat dipimpin oleh Peter Wu.

“ Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Mr. Son sebagai Chairman dari Sinjuan Industries Group yang telah mendukung pendirian pabrik material building di vietnam. Terimakasih kepada venture capital yang sudah mendukung pembiayaan proyek ini.  Terimakasih kepada Chairman, VMIN Ltd yang telah bekerja keras merealisasikan kerjasama investasi,  China, Vietnam, Malaysia. Hari ini kita akan menyaksikan penanda tanganan SWAP saham antara VMIN Ltd dengan Sinjuan Industries Group. 50% sahan VMIN ditukar dengan 10% saham Sinjuan Industries group. Sebelumnya  94% saham VMIN di transfer ke Holding company dengan harga 2,5 dari par. “ Kata Peter seraya memberikan isyarat kepada Sekretaris untuk menyiapkan Akta perjanjian. Dengan disaksikan oleh Lawyer, penanda tanganan itu berlangsung cepat dengan senyum sumringah semua pihak. 

Maria perhatikan Budi tidak beraksi apapun selama proses penanda tanganan itu. Maria berusaha ternyum tapi Budi tetap tidak beraksi. Entah apa yang dia pikirkan.  Usai meeting itu. Maria diminta Peter untuk bertemu di kamar kerjanya. Di ruangan itu sudah ada James. 

“ Maria, posisi direktur utama di VMIN diserahkan kepada Robert. Posisi Yen tetap sebagai komisaris“ Kata Peter yang didampingi oleh Chairman Venture capital. 

“ Hari ini juga mandat anda sebagai Dirut di VMIN kami cabut. Terimakasih atas kerja kerasnya. Sebagai bentuk terimakasih dan hormat kami, ini ada bonus untuk anda “ kata Chairman Venture capital seraya menyerahkan banker cheque senilai USD 5 juta.  Maria hanya mengangguk. Tanpa ada pilihan.  Maria keluar dari kamar kerja Peter dengan langkah ringan di ikuti oleh Robert dan Yen. 

“ Nah Robert, sekarang kamu sudah Dirut. Your dream come true. Tugas kamu Yen, jaga Robert dengan baik. Dukung dia dengan sabar. Ingat, sekarang Robert bukan hanya suami kamu, dia juga ayah dari ribuan pekerja perusahaan, mitra dari investor. Bukan hanya kamu, tapi semua orang butuh proteksi dari dia. Jaga dia dengan baik. “ Kata Maria waktu berada di loby Gedung kantor Holding. 

“ Ya bu. Saya akan selalu ingat semua nasehat ibu. Tetapi mengapa terlalu cepat kebersamaan kita “ Yen menangis. Robert meremas jemari Yen untuk menenangkan Yen. “ Terimakasih Bu untuk semua kabaikan ibu. ‘ Kata Robert.
" Tidak ada kebersamaan yang abadi. Yang penting ambil hikmahnya. Selama waktu lebih dua tahun , kita bisa saling mengenal. Terutama kamu lebih mengenal Robert, dan Robert juga bisa memahami kamu. Nah nilai saham  kamu dan Robert sekarang naik 2,5 kali. Ada recana dengan saham itu ? 
" Saham saya sebesar 3% akan saya sumbangkan kepada Koperasi pengolah lahan tambang.  Dan saya akan full time jadi ibu rumah tangga saja. Biarlah Robert yang kerja. " Kata Yen. Robet tersenyum mengganguk kearah Maria. Tanda setuju apa yang dikatakan Yen.
" Wow mulia sekali."
" Saya hanya ingin membahagian ayah. Ayah pasti senang sekali kalau Yen lebih memikirkan rakyat daripada diri sendiri. " 
“ Ya sudah. Baik baik selalu ya kalian. " Kata Maria seraya memeluk Yen dan Robert.  " Saya tadi dapat pesan dari James untuk bertemu dengan Pak Budi. Kalian silahkan kembali ke Hotel. “  Lanjut Maria dan  melangkah keluar loby dimana kendaraan sudah menanti. Kendaraan melaju ke Financial Center di Ritz Carlton. 

“ Mama “ terdengar suara menjerit dari jauh ketika Maria masuk kedalam restoran. “ Maya , kangen mama”  Maria terkejut dan membalas pelukan Maya. 

“ Kapan kamu datang, sayang ?

“ Kemarin sore Ma.  “ Kata Maya tersenyum bahagia. “ Ayooo ma kita ke table.  Ada kak Henri dan Om Budi. Mereka menunggu kita.” Kata Maya menarik lengan Maria.

“ Henri ?

“ Ya.  Tadinya rencana tunangan kami akan diadakan di London tetapi Om Budi bilang sebaiknya diadakan di Hong kong. “

Henri membungkukan tubuhnya seraya menjabat tangan Maria. Maria langsung memeluk Henri. “ Jaga putri saya , ya Hen”

“ Ya Mama..” Kata Henri memanggil Maria, “ mama”. Membuat Maria terkejut. Dia merasa sudah tua.  Sebentar lagi akan jadi mertua. Dengan penuh khidmat , Henri berkata kepada Maya bahwa dia meminta Maya untuk menjadi tunangannya dan berkomitmen memenuhi janji ini sampai ke pelaminan. Itu disaksikan oleh Budi dan Maria. Maria berlinang air mata. Maria dan Henri pamit untuk kembali ke Hotel. Maria mengganguk. Walau saat itu dia sangat merindukan Maya dan ingin selalu dekat dengan Maya, namun kebahagian Maya seharusnya bersama Henri. Tugas Maria hanya mendoakan yang terbaik untuk putrinya.

Setelah Maya dan Henri berlalu, tinggalah Budi dan Maria berdua. Budi hanya diam.  Namun dari wajahnya nampak tersenyum melirik kearah Maria. “ Sebentar lagi, Maya akan menikah. Maria akan kesepian. Hidup dalam kesendirian dalam usia menua” Kata Maria berlinang airmata.

“ Kamu, masih ada saya. Sahabat kamu. Kamu akan tetap sibuk sebagai DIrut perusahaan di Jakarta. “ Kata Budi. Maria memeluk Budi. “ Terimakasih mas. Terimakasih. “ 

“ Kamu orang baik, Maria. Kebaikan dan ketulusan kamu kepada Yen, membuahkan kebaikan untuk Maya. Yen mendapatkan Robert pria yang baik, dan Maya mendapatkan Henri juga pria yang baik. Itulah janji Tuhan. Kebaikan selalu berbalas baik.  “ Kata Budi seraya melepaskan pelukan Maria “ sekarang tersenyumlah. Udahan nangis nya.” 

" Bagaimana dengan Mr Ho Ayah Yen dan Boss Sinjuan Group ? Bukankah mereka tergila gila dengan kamu ? Lanjut Budi dengan nada bergurau.

" Ah sudahlah. " kata Maria berteriak memukul Budi. " Engga mungkin itu. Siapa yang mau sama nenek nenek seperti Maria." Kata Maria mengibaskan tangannya.

" Usia kamu baru 43 tahun. Penampilan kamu seperti wanita usia 30 an."

" Ya tetap aja tua. Sebentar lagi bakal jadi Mertua dan nenek.   Udahlah. Engga usah dibahas itu.  Sekarang , hari ini Maria bisa berdamai  dengan kenyataan. “Kata Maria tersenyum.

“ Apaan ?

“ Lebih setahun Mas engga pernah telp aku. Engga pernah ada niat ketemu aku. Sedih sekali Mas. Maria sadar ketika keyakinan Mas terhadap prospek bisnis berkurang , perhatianpun akan berkurang. Padahal setidaknya Mas menaruh perhatian terhadap keyakinan Maria. " Kata Maria. 

Budi hanya tersenyum.


" Selama setahun lebih Maria bergelut dengan banyak tantangan dan hambatan. Maria kerja keras siang malam untuk memastikan pabrik bisa berdiri. Maria harus menemui pihak principal delapan kali sampai mereka setuju menyediakan pilot proyek atas biaya mereka sendiri. Selama 8 kali itu Maria harus memenuhi syarat yang mereka tentukan. Setiap Maria berhasil memenuhi syarat yang mereka minta, mereka ajukan lagi syarat baru. Mereka minta kepastian lahan untuk Pilot Proyek itu sudah tersedia dan legitimate. Mereka juga minta harus ada komunitas yang mau menjadi konsumen atas Pilot proyek itu. Mereka juga minta dukungan dari Pemerintah atas Pilot proyek. Wah capek sekali memenuhi permintaan mereka. Tapi nasehat Mas , Maria engga pernah lupa, bahwa meyakinkan orang itu engga mudah. Karena itu bukan hanya soal bisnis tetapi seni merebut hati orang. Kita tidak boleh kehilangan harapan. Kita harus sabar sampai batas tak tertanggungkan. Dan akhirnya mereka bisa menerima karena cinta dan ketulusan kita.


Maria juga harus berkali kali terbang ke KL untuk membujuk Venture Capital.  Mereka menentukan syarat yang sangat berat untuk sampai setuju membiayai. Maria harus berjuang memenuhi syarat itu, seperti memastikan sudah ada market off take, harus ada confirmation line of credit dari bank. Harus ada jaminan supply bahan baku dari Koperasi. Nah meyakinkan masyarakat dan pemda untuk membentuk Koperasi dan menjadi mitra Pabrik , juga tidak mudah. Belum lagi membantu mereka mendapatkan fasilitas kredit dari bank untuk modal kerja. Untung aja ada Private fund di Singapore yang mau menjadi guarantor atas program pembiayaan itu sehingga Bank di Vietnam mau kasih kredit. Tentu dengan standar assessment yang ketat. Akhirnya barulah Venture capital mau memberikan dana sebesar 30% atas total investasi. 70% dari Bank.


Mas, disaat lelah dan kadang putus asa, Maria sampai paranoid, ini  mission impossible dari Mas. Mengapa Mas segitu jahatnya. Apa salah Maria selama ini. Tetapi Maria yakin, Maria bisa melewati semua itu. Selama melewati masa masa sulit itu, Wenny selalu memberikan dorongan semangat. Maria ingat kata katanya , yakinlah semua gerak langkah kamu selalu Budi pantau. Dia pasti dapatkan laporan dari Prinsipal yang juga sahabatnya dan Venture Capital, dimana dia juga pemegang saham. Budi percaya kamu bisa memenuhi standar bisnis yang diharapkan semua mitra. Tapi Saat itu Maria butuh Mas menghibur Maria. Tapi mas tidak pernah telp dan kita tidak pernah bertemu.“

“ Dari bisnis yang kamu rintis itu, Holding dapat saham perusahaan prinsipal dengan harga murah. Karena proses transaksi melalui SWAP. Jauh lebih murah bila proses dilakukan lewat bailout hutang di Bank. Itu hanya mungkin karena bisnis yang kamu kembangkan provent mendukung bisnis jangka panjang mereka. Ini akan di jadikan business model dimanapun mereka beroperasi. Mereka bukan hanya dapat transfer technology  fee tetapi juga dapat share dari peluang adanya tekhonologi mereka. “ Kata Budi.

“ Maria tahu. Mas untung besar karena peugasan Maria. Itu memang bisnis Mas. Engga perlu terimakasih ke Maria. "

Budi tersenyum dan menatap lama Maria. " Ada apa sih? Liat liat ? ada yang salah ? 

" Aku kangen masakan Indonesia. " 

" Terus pesan table di Financial Club super mewah ini untuk siapa? Mata Maria melotot. 

" Tadinya aku pikir Maya dan Henry mau makan siang bersama kita. Tetapi dia milih merayakan tunanganya berdua saja." Dengan wajah lugu Budi melanjutkan "  Ya, aku kangen masakan Indonesia. Gimana ?"

Maria langsung berdiri dan tarik lengan Budi. " Kita keluar dan pergi ke restoran Indonesia. Beli nasi bungkus dan makan di Apartement kamu. Makannya pakai tangan kan ? Engga pake sendok,  engga pake sumpit, ya kan" 

Budi mengangguk dan tersenyum. 

" Naik subway dan engga naik kendaraan kantor, ya kan " 

Budi mengangguk dan tersenyum. " Mas, itu orang kampung dan akan selalu jadi orang kampung. Maria sangat paham. " 

Budi tersenyum seraya merangkul pinggang Maria berjalan kaki menuju Station subway.

" Tapi hari ini Maria jadi mengerti. Kalau akhirnya Venture capital di KL mau kembali mendukung pembiayaan, itu tidak akan terjadi tanpa restu Mas. Dukungan dari Prinsipal, tidak akan terjadi kalau tidak ada jaminan dari Mas.  Maria hanya cangkir, dan isinya tetaplah mas. Tanpa Mas, Maria nothing. Ternyata diam diam, Mas bertaruh untuk keyakinan Maria. Maafkan Maria Mas.  karena sudah salah menduga.” 

Budi hanya tersenyum 

“ Maria akan mencoba untuk memahami Mu, Mas. “

“ Mencoba ? 

“ Ya.  Setidaknya ada usaha untuk memahami Mu, sampai ajal menjemput”

TAMAT.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Hoax lebih bahaya dari virus.

  Saya tidak sependapat kalau media massa dibatasi memberitakan tentang COVID-19. Kata teman. Saya bisa terima. Alasannya bahwa  justru kare...