Selasa, 31 Januari 2017

Memburu harta (25)


Tidak terhitung berapa kali Ester mengirim email, namun tapi tidak pernah kubalas. Aku bahkan tidak pernah sempat membacanya. Pikiranku masih fokus dengan masalah yang kuhadapi. Aku tidak mau menyeret Ester dalam perang yang sedang berlangsung. Walau ini semua berawal dari idenya bertemu dengan Tomasi, untuk memberikan  solusi bagiku  menyelesaikan masalah Budiman, dari ancaman pengambil alihan oleh otoritas akibat gagal bayar utang.
Email Ester yang terakhir hanya berisi pesan singkat, Jak, aku kangen kamu. Kapan ada waktu untuk kita bertemu lagi? Apakah kamu baik-baik saja? Telpon aku ya, Sayang?
 Ada 148 email dalam setahun. Semua dengan pesan yang sama. Sebuah ungkapan cinta yang tulus, yang tentunya harus dibalas dengan ketulusan pula. Aku rasa saatnya kini membuka komunikasi dengan Ester. Bukankah transaksi di Swiss sudah selesai?  Namun aku tetap akan merahasikan apa yang sedang kukerjakan.
Aku membalas email tersebut dengan singkat. You were always in my mind. Sekarang aku ada di Hong Kong. Hotel Mandarin Oriental. Datanglah kapan pun kamu sempat.
Hanya butuh waktu sepuluh menit sejak aku mengirim email, telepon kamarku sudah berdering. Itu pasti Ester!
“Hai, Honey,” terdengar suara Ester mesra. “Long time no see.”
“Ya. Apa kabar?”
“Aku kangen kamu, Jaka. Boleh aku datang sekarang?”
“Ok. Datanglah?”
“Thanks, Honey.”
Aku yakin bahwa Ester akan segera tiba. Kantornya berada tepat di belakang hotelku menginap. Benar sekali. Tidak berapa lama, sebuah pesan singkat masuk, “Aku sudah di kafe.” Aku segera turun menjumput Esther di cafe dan membawanya ke kamar ku.
Ester memelukku erat. “Aku kangen kamu, Jaka,” bisiknya.
“Aku juga,” kataku tersenyum dan merasakan getaran jantung Ester. Terasa ada ribuan megawat listrik menjalar keseluruh ruang hatiku. Cahaya berbagai warna mengitari sekeliling ku. Angin buritan mendorong kapal bergerak kedepan mengikuti irama ombak yang nampak ganas. Ada kekuatan yang penuh pesona ketika badai datang silih berganti menghempaskan kapal anak rantau. Tak terbilang kapal oleng dalam ayunan penuh sensasi menaikan hasrat tak bertepi, bahwa betapa indahnya sepasang mata yang tertutup dengan pesan love concerto. Akhirnya badai terhenti seiring langit cerah bersama angin yang mengantarkan pesan tak terungkapkan dalam kata kata..
“Aku senang ketika mendapat kabar dari teman di Singapore bahwa kamu berhasil menyelamatkan usaha sahabatmu dan  menghindarkan Tomasi dari resiko atas SBLC yang dia sediakan untuk menjamin hutang sahabatmu. Selamat ya..” Kata Esther dengan mata masih terpejam..
“Itu semua berkat doa dan saranmu untuk bertemu dengan Tomasi.”
Ester terdiam dan akhirnya, airmata jatuh menganak sungai di tubir matanya. “Ada apa Ester?” kataku lembut sambil mengusap air matanya dengan tissue. Ester memegang jemariku seraya bekata, “Kamu tahu Jaka, setahun tidak mendengar kabarmu, terasa seabad. Aku menghubungi Budiman tapi dia tidak tahu dimana kamu berada. Setiap minggu aku mengirim  email sedikitnya tiga kali. Ratusan kali sudah kukirim SMS namun undelivered.  Aku mengkawatirkanmu! Aku tidak peduli kamu sudah meninggalkan dan melupakanku. Aku hanya ingin pastikan, kamu baik baik saja. Mengapa Jaka? Mengapa kamu biarkan aku menderita? Apa salahku?
“Maafkan aku, Ester. Percayalah kalau kamu selalu dalam pikiranku. Mana mungkin aku  melupakanmu? Aku mencintaimu! Soal kenapa aku menjauh darimu, itu karena alasan yang sama, bahwa aku mencintaimu!” 
“Tapi mengapa?”
“Sulit untuk menjelaskannya, Honey. Tapi, suatu saat nanti aku pasti akan jelaskan. Paham kan, Sayang?”
“Tapi aku tak pernah lagi bisa menghubungi Tomasi. Mengapa semua  sahabat pria terbaikku menjauh dariku?”
“Ya. Dia sudah meninggal.”
“Oh!” Ester terkejut. “Sakit apa dia?”
“Seseorang telah membunuhnya di Rusia.”
“Oh, malang sekali.” Mata Ester nampak berkaca-kaca. “Tapi, mengapa?”
Aku hanya terdiam dan memandang keluar. Tapi tak lama, Ester sudah terlihat ceria seakan begitu cepat melupakan berita duka ini. Memang bagi Ester, Tomasi hanya sahabat yang tidak begitu akrab dibanding denganku. Pertemuan denganku, lebih berarti baginya.
“Apa bisnis kamu sekarang?”
“Aku sedang belajar menjadi, David.”
“Private  equity?”
“Ya.Tapi memulai dari skala kecil. Ada teman dari China yang bantu kasih sumber keuangan.” Kataku berbohong. Berharap agar tidak ada lagi pertanyaan dari Ester soal ini. Setidaknya, aku ingin menegaskan padanya bahwa dia aku baik baik saja.
“Aku senang mendengarnya. Aku yakin kamu pasti bisa.” Ester tersenyum cerah. “Oh ya, Ja. Minggu lalu aku bertemu dengan teman dari New York. Waktu itu, ada seorang pria Negro. Dia menyebut-nyebut namamu. Katanya, kedatangannya ke Hong Kong untuk bertemu denganmu.”
“Siapa orang itu?” aku mengernyit, mencoba mengingat ciri-ciri fisik seseorang seperti yang Ester bilang.
“Boy Steward, namanya.” Ester lalu menyerahkan business card pria itu kepadaku. Jabatannya adalah konsultan keuangan yang bergerak dalam proyek kemanusiaan.
“Mengapa dia ingin bertemu denganku?”
“Aku tidak tahu,” jawab Ester mengangkat bahu. “Tapi kalau kamu penasaran, aku bisa atur pertemuan dengannya,” lanjut Ester.
Ada firasat bahwa ini berkaitan dengan transaksi yang sedang kulakukan. Aku butuh beberapa detik untuk memikirkan saran Ester atas orang itu. Sampai akhirnya aku memutuskan, “Baiklah. Atur pertemuanku dengannya!”
Ester langsung membuka telepon selularnya. “Hi Boy. Di depanku sekarang ada Jaka, orang yang Anda maksud minggu lalu. Dia bersedia untuk bertemu dengan Anda.” Ester berhenti berbicara, melirik padaku. “Oh ok. Pukul tuju di Hong Kong Club. Bye.” Ester tersenyum sambil menutup teleponnya.
“Pukul tuju malam nanti, kita dinner di Hong Kong Club.”
“Ok. Bolehkah aku membawa seorang teman?” aku membayangkan Lien.
“Wanita?”
“Eh, iya.”
Ester merengut.
“Ada apa, Honey?”
“Bolehkah, hanya aku saja wanita dalam pertemuan nanti?”
“Baiklah, kalau itu maumu.” Aku mengiyakan.
“Tentu dia cantik dan muda, ya?” Ester merajuk.
“Kamu juga cantik.”
“Tapi tidak muda lagi!”
“Apa bedanya? Kamu adalah sahabatku dan itu tidak akan pernah berubah,” kataku sambil menggenggam jemarinya.
“Tapi kamu menghilang dariku setahun.”
“Aku sibuk, Honey,” aku geli melihat tingkah Ester yang manja.
“Sibuk dengan wanita itu?” Ester kembali merengut. Aku kembali tersenyum, menyadari bahwa begitulah wanita. Mereka kadang tidak bisa membedakan antara persahabatan dan cinta. Antara persahabatan dan kekasih memang kadang sulit dibedakan, kecuali hanya dalam status. Selebihnya adalah sama. Sama-sama mempunyai rasa menghormati, melindungi dan menyayangi. Ada yang bilang bahwa persahabatan itu begitu indah, sebab tidak ada yang harus tersakiti karena emosi kondisional. Kesalahan akan selalu termaafkan. Kekurangan akan selalu ditutupi dan kebahagiaan akan selalu dibagi. Hidup menjadi penuh warna bagi orang yang bisa menghargai nilai persahabatan.
 “Melamunkan wanita itu, ya?”
“Tidak.”
“Lalu?”
 “Membayangkan kecantikanmu,” lanjutku sambil tergelak.
Wajah Ester seketika merona. “Aku harus kembali ke kantor,” kata Ester seraya berdiri. “Janji ya, nanti malam hanya aku wanita yang disampingmu?!” Ester kembali mengingatkan dengan mata melotot. Aku mencubit dagunya tanda setuju.
***
Ketika sampai di kamar hotel, terdengar suara telepon berdering. Aku mengangkat telepon, dan terdengar sebuah suara, “Jaka, kemana saja kamu? Kenapa HP-nya off?” 
“Oh. Maaf aku tadi ke bawah, ketemu teman lama. Kebetulan  tidak bawa HP.”
“Tentu teman wanita, kan?” kata Lien. Dan lagi-lagi begitulah wanita. Selalu tidak ingin di duakan. Selalu ingin menjadi nomer satu.
“Iya.”
“Boleh ke kamarmu sekarang?”
“Datanglah.”
Lien menempati kamar di depan kamarku. Jadi tak butuh waktu lama untuk sampai ke. Lien berdiri di depanku dengan muka masam. “Beijing meminta kamu datang. Itu berita yang tadi saya terima dari Chang.” 
“Ada apa?”
“Aku tidak tahu?”
“Kapan kita ke Beijing?”
“Dijadwalkan minggu depan. Tiga hari lagi.”
“Oh?!”
Aku melangkah ke arah meja, menghapiri komputer yang masih menyala. Sementara Lien sedang membuat teh di mini bar. “Malam ini aku ada dinner dengan teman di Hong Kong Club.”
“Dengan wanita itu?”
Aku melirik ke arah Lien, “Ya.”
“Tentu dia cantik sekali.”
“Dia ingin memperkenalkanku dengan seseorang,” sahutku mengabaikan komentar kewanitaan Lien.
“Siapa?”
“Boy Steward.”
“Oh,” Lien mengerutkan kening. “Sepertinya aku kenal dia,” Lien mendekatiku.
“Oh ya?”
“Ya. Kalau tidak salah dia adalah lulusan Harvard Law School.”
“Bagaimana kamu bisa kenal dia?”
“Kami sama-sama kuliah di Harvard Law School. Waktu kelulusan, dia mendapatkan rangking satu dan aku nomor dua.”
“Hebat.”
“Baiknya aku ikut pertemuan nanti malam. Aku ingin bertemu dengan teman lama,” Lien memegang dan menggoyang-goyang lenganku. “Boleh, kan?”
Aku diam, teringat pesan Ester. Berfikir keras, bagaimana  caranya untuk keluar dari situasi ini. “Boleh kan, Ja?” kembali Lien menggoyang lenganku dengan manja. Aku masih tak menyahut. “Baiklah. Aku ngerti kok. Kamu memang enggak mau diganggu saat bersama wanita itu. Iya kan?”
“Bukan begitu, Lien,” aku meraih tangan Lien yang luruh dari lenganku.
“Ok. Aku tunggu di kamar saja,” Lien merengut sambil melangkah keluar kamar.
Boy Steward berperawakan tinggi. Berbadan tegap dan atletis dan murah senyum. Dia datang dengan setelan jas mahal. Aku menyalami Boy setelah diperkenalkan oleh Ester.
Pertemuan yang penuh keakraban. Boy orang yang humble dan enak diajak bicara. Humoris dan berwawasan luas. Tidak ada pembicaraan penting malam itu. Tapi, saat aku pergi ke toilet, Boy segera mengikutiku dari belakang.
“Jak, Madam Lyan memintaku untuk membantumu. Besok kita meeting di Intercontinental Hotel Kow Loon. Kamar 1903, pukul sepuluh pagi, ya? aku tunggu di sana. Ingat! hanya kamu dan aku saja, ok?!”
Aku masih shock dengan apa yang dia sampaikan ketika Boy, langsung keluar tanpa menunggu jawaban. Setelah itu, Boy minta izin untuk kembali ke hotel karena ada janji lain dengan tamunya. Tinggalah aku dan Ester berdua. Tak berapa lama Ester membayar bill dan meminta kumengantarnya pulang.
***
Esoknya, aku bangun lebih pagi. Teringat janji untuk bertemu dengan Boy. Aku tidak ingin pertemuanku diketahui Lien. Maka malam sebelumnya, aku memberitahu Lien, bahwa pagi-pagi aku akan pergi ke Kow Loon, membeli pesanan jam untuk putraku.
Boy Steward menjabat tanganku dengan erat. Lalu membawaku ke sofa di ruang sweet room hotel itu. Boy menatapku sambil tersenyum. “Ternyata kamu lebih muda dari yang kuduga, Jak,” kata Boy.
“Oh ya?”
“Ya.” 
Boy lalu berdiri mengambil dokumen di atas meja kerjanya. “Ada yang perlu kamu ketahui.” Sebuah kopi dokumen confirmation fund diperlihatkan kepadaku. Dari sini, aku sadar bahwa Boy adalah orang Madam Lyan yang datang membawa tugas untuk membantuku. “Mulai hari ini, aku akan berkeja untukmu,” kata Boy.
“Mengapa?”
“Kami punya kepentingan yang sangat besar dengan decade asset ini. Aku rasa kamu sudah tahu itu.”
“Lalu, apa yang coba Anda lakukan?”
“Membantumu.”
“Dalam hal?”
“Apa pun yang dapat memastikan keamanan posisimu.”
“Aman?”
“Ya. Gugatanmu di pengadilan New York sampai hari ini belum bisa di gelar. Asosiasi lawyer telah mem-black list namamu, Jak.”
“Jadi?”
“Tugask hanya mengarahkanmu agar tetap berada pada posisi yang benar.”
“Lantas apa usul Anda?”
“Aku tidak ada usul kecuali kamu punya masalah.”
“Saat ini tidak ada.”
“Ok. Ini nomor telepon yang bisa kamu hubungi. Dua puluh empat jam telepon ini akan selalu siap untukmu,” kata Boy sambil menyerahkan secarik kertas kepadaku 
“Tolong jangan pernah beritahu nomor telepon ini kepada siapapun. Nomor ini terhubung langsung dengan markas Madam Lyan,” sambungnya.
“Baiklah,” kataku.
“Apa ada sesuatu yang perlu ditanyakan?” Boy meyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Apakah Madam telah menemukan kode aksesnya?”
“Sampai hari ini belum.”
“Apa yang dapat dilakukan tanpa kode ases itu?”
Boy menatapku dengan seksama, “Aku pun tidak tahu pasti.”
Hening.  Aku menatap Boy lekat-lekat. “Ok, Jelaskan padaku tentang hukum trustee?” tanyaku. Kemudian, Boy mengambil minuman dari kulkas dan menyerahkan sebotol air mineral kepadaku. 
“Trustee adalah hukum tertua di dunia, yang hingga kini masih diakui. Ini karena keberadaannya yang menyatu dengan gereja. Hukum ini sendiri dibentuk sejak 600 tahun lalu. Atau tepatnya pada abad ke 14-15 ketika terjadi perang salib. Hukum ini disusun berdasarkan keinginan para ksatria untuk melindungi hartanya dari penguasaan orang lain ketika mereka pergi berperang. Karena biasanya kepergian mereka itu bertahun-tahun lamanya. Hukum trustee itulah  yang menjamin kepemilikan harta mereka.”
“Jadi itulah dasar hukum penempatan decade asset ini ke dalam The Fed system?”
“Tepat sekali,” jawab Boy sumringah. “Karena itu, pihak Eropa tidak berani menyangkal keberadaan Hilton Memorial, yang melegimitasi penggunaan aset itu sebagai combine collateral untuk mencetak dolar.”
“Jadi sebelumnya, keberadaan decade asset itu digunakan bangsa Eropa untuk mencetak mata uangnya?”
“Ya. Dan keadaan dunia menjadi tidak stabil karena Group Fidelity yang selalu berbuat culas terhadap sistem mata uang. Mereka selalu ada di balik persoalan mata uang dunia. Akibatnya negara-negara Eropa dan kami mengalami kebingungan dengan sistem mata uang yang penuh dengan catatan kegagalan.
Kami dan Eropa bolak-balik berubah antara uang fiat murni, fractional reserve  dan gold standard.  Apabila kekayaan atau cadangan emas kami dan Eropa berkurang karena perang misalnya, kami akan gunakan uang fiat atau fractional reserve. Kemudian kembali lagi ke gold standard pada saat uang fiat atau fractional reserve sudah berlebihan dan terjadi hiper-inflasi. 
Kamu bisa lihat, misalnya pada Perang Dunia I. Negara yang terlibat perang, menghabiskan cadangan emasnya untuk membeli persenjataan dan membiayai perang. Beberapa tahun selepas Perang Dunia I, Jerman kembali ke gold standard pada tahun 1924, yang diikuti Inggris tahun 1925 dan Perancis 1926. 
Namun gold standard ini tidak bertahan lama. Godaan ekonomi membuat dunia perbankan kembali tergoda untuk mengeluarkan uang lebih banyak dari cadangan emas yang mereka miliki. Hal ini menyebabkan krisis berikutnya dan mencapai puncaknya, yang disebut sebagai the Great Depression selama beberapa tahun di awal tahun 1930-an. Begitu buruknya ekonomi saat itu, hingga pada tahun 1934, kami yang saat itu menjadi kekuatan ekonomi terkuat di dunia, terpaksa melakukan devaluasi  mata uang hingga 75 % terhadap emas. Dari US$ 20 per troy ounce  emas menjadi US$ 35 per troy ounce.
Kekacauan mata uang terus berlanjut bersamaan dengan terjadinya Perang Dunia ke II. Pada pertengahan tahun 1944, ketika kami merasa telah memenangi sebagian besar Perang Dunia II, kami memprakarsai konferensi Bretton Woods. Hasil kesepakatan Bretton Woods ini tentu sangat menguntungkan kami sebagai pemrakarsa. 
Sebetulnya konferensi itu memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu menciptakan tatanan dunia baru yang lebih damai. Di mana kami berjanji mendukung mata uang kami secara penuh dengan emas yang nilainya setara. Kesetaraan ini mengikuti konversi harga emas yang ditentukan tahun 1934 oleh Presiden Roosevelt yaitu US$ 35 untuk 1 troy ons emas. Negara-negara lain yang mengikuti kesepakatan tersebut awalnya di ijinkan untuk menyetarakan uangnya terhadap emas ataupun terhadap dolar. Dengan kesepakatan ini, siapapun yang memegang dolar dapat dengan mudah menukarnya dengan emas yang nilainya setara.”
Aku mengerutkan kening. “Namun, kesepakatan Bretton Wood yang digagas oleh Amerika ternyata malah diingkari sendiri. Secara perlahan tetapi pasti, Amerika mencetak uang yang melebihi cadangan emasnya. Bahkan secara sepihak Amerika tidak lagi mengijinkan mata uang lain disetarakan terhadap emas, tapi harus dengan dolar. Pemegang dolar juga tidak bisa serta merta menukarnya dengan emas yang setara. Tentu ini karena Amerika Serikat memang tidak lagi memiliki jumlah cadangan emas yang sesuai,” sambungku cepat.
Boy tersenyum. “Ya. Walaupun fisik aset terbesar ada pada kami, tapi kami tidak pernah menggandakan emas itu untuk mencetak uang. Uang dicetak sesuai dengan nilai emas yang ada. Tapi Eropa tanpa keberadaan fisik aset terus saja mencetak uang untuk menggerakan roda ekonominya. Mereka tidak peduli dengan nilai fisiknya. Mereka hanya melihat dari dokumen yang melekat pada hukum trustee. Amerika tidak bisa berbuat banyak, sesuai dengan kesepakatan Bretton Woods .
Tidak ada yang membayangkan kesepakatan itu akan menimbulkan krisis ekonomi dunia di tahun 1951. Atas dasar itulah Kennedy mengambil alih decade asset itu ke dalam sistem Amerika dan mencetak dolar lebih banyak untuk membayar nilai produksi yang melimpah ketika itu.”
“Itukah awal pertarungan ini?” selaku.
“Ya. Tapi itu tidak berlangsung lama. Hanya dua bulan setelah kebijakan itu diteken, Kennedy terbunuh. Tekanan dan ketidak-percayaan terhadap dolar kian memuncak. Negara-negara sekutu kami terus menerus menukar dolarnya dengan emas. Saat itu hanya Jerman yang tetap mendukung dolar dan tidak menukarnya dengan emas. Puncak dari ketidak-berdayaan dolar Amerika terjadi pada tahun 1971, ketika secara sepihak kami memutuskan untuk tidak lagi mengaitkan dolar dengan cadangan emas yang kami miliki, karena memang kami tidak mampu lagi. Kejadian yang disebut dengan istilah Nixon Shock ini tentu mengguncang dunia karena sejak saat itu, sebenarnya mata uang kami tidak bisa lagi dipercaya nilainya sampai sekarang. Kami kalah sebagai bangsa, dan terjajah, tunduk kepada group Fidelity.”
“Oh!” kulihat raut wajah Boy berubah mendung. Emosinya larut saat bercerita betapa sistematisnya group Fidelity menggiring bangsa Amerika menjadi budak. Perang Vietnam yang berlarut-larut adalah rekayasa group Fidelity hingga menelan uang pajak tak ternilai. Membuat moneter Amerika jadi sedemikian lemah.
“Mereka berkuasa penuh atas lembaga-lembaga multilateral. Seperti IMF, World Bank serta Bank for International Settlement. Mereka juga pemilik the Fed, mengontrol Cleartream, Euroclear, dan DTCC untuk melegimate trading program decade asset lewat forfaiting aset yang sangat rahasia. Sejak legimitasi itu, decade aset dimanfaatkan untuk membuat kami sangat bergantung kepada sistem yang mereka ciptakan itu,” Boy menarik nafas dalam-dalam. Coba menahan gemuruh di dadanya.
“Jadi, sebenarnya merekalah penguasa dunia. Bukan Amerika,” kataku menyimpulkan.
Boy beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke jendela, menatap keluar, membelakangiku. “Bangsa kami hidup di atas bara api. Ada sebuncah keinginan untuk melawan tapi kami tidak berdaya. Kami sudah terlanjur dimanjakan dengan segala kemudahan dari sistem yang culas ini.”
“Benar-benar paradoks.” Aku mendekati Boy dan berdiri di sampingnya.
Boy menatapku. “Kamu benar. Ini hanya masalah waktu. Cepat atau lambat mereka akan menghancurkan kami. Tanda-tandanya sudah nampak. Mereka sudah tidak lagi memanjakan kami. Mereka sudah sampai pada fase menguasai dunia dengan menjadikan globalisasi alias WTO, sebagai alat. Arus investasi group Fidelity tidak pernah diarahkan untuk kesejahteraan sosial rakyat kami. Kami dilanda krisis anggaran dengan beban hutang tertinggi di dunia. Defisit perdagangan yang besar. Pengangguran meningkat dan menyebar di mana-mana akibat gelombang PHK. Benar-benar masa depan yang buruk bagi anak cucu kami. Makanya aku tidak habis pikir saat negara lain justru sangat membenci bangsa kami. Padahal kamilah korban utama dari kerakusan Group Fidelity. Banyak kebijakan negara kami yang tak bermoral, itu semua karena tekanan dari Group Fidelity. Jumlah mereka mungkin sedikit, tapi pengaruhnya berada di semua jajaran kekuasaan negeri kami.”
Aku terdiam sambil terus memandang ke luar jendela yang menghadap langsung harbour Hong Kong. Boy kembali ke tempat duduknya untuk minum. Sebuah jeda yang lama tanpa ada suara.
Aku kembali ke tempat duduk dan berkata, “Boy,” seruku. “Naga Kuning akan mencabut posisiku sebagai mandatory.”
“Benarkah?” Boy memiringkan kepalanya, menyandar ke sofa.
“Ya.”
“Lalu, apa rencanamu sekarang?”
“Mendukung Naga Kuning melawan group Fidelity.”
“Caranya?”
Aku terdiam dan menatap Boy cukup lama. Lalu berdiri dan melangkah menuju jendela. 
“Aku tidak tahu apakah aku bisa berbuat dengan benar. Aku juga tidak tahu...” Aku tak bisa meneruskan kata-kata, disergap keraguan.
“Apa maksudmu?” Boy berdiri mendekatiku. “Katakan?”
“Tapi aku harus percaya dengan segala kemungkinan di luar pengetahuan. Naga Kuning menganggapku sebagai orang terpilih untuk menyelesaikan kasus ini. Madam Lyan juga sangat percaya itu,” kataku pelan, lalu terdiam.
“Terus?”
“Pemegang kode akses itu adalah aku,” kata-kata itu keluar begitu saja. Aku tidak tahu apakah ini benar, karena kepemilikan itu hanya berdasarkan keyakinan terhadap dunia lain.
“Kamu serius?”
“Ya.”
“Siapa saja yang mengetahui ini?”
“Hanya kamu.”
“Oh Tuhan!” seru Boy sambil memegang kedua bahuku. Menatap mataku tajam. “Madam Lyan yakin, bahwa ada sesuatu pada dirimu dan dia memintaku membantumu.”
Aku melepaskan tangan Boy dari bahuku, kembali ke tempat duduk. “Entah mengapa aku juga percaya denganmu, sejak awal pertemuan kita di Hong Kong Club. Aku tidak mengerti.”
Boy tersenyum. “Allah yang mempertemukan kita. Aku muslim, Jaka.”
“Oh ya?”
“Ya. Nenek moyangku berasal dari Afrika. Kami keluarga muslim.”
“Oh. Itu alasan Madam Lyan menugaskan kamu?”
“Mungkin itu salah satu alasannya.” 
“Apakah Madam Lyan perlu tahu tentang ini?”
“Terserah kamu.  Tapi aku pribadi, belum bisa yakin sebelum dibuktikan. Bisakah code itu digunakan untuk mengakses sistem atau tidak.”
“Oh, iya. Ok!” Boy memegang dan mengguncang bahuku lagi dengan mantab.
***
Dari Huang aku mendapat kabar bahwa Washington memerintahkan Robert, terbang ke Beijing untuk bertemu dengan seorang kawan dari UNDP  Asia Pasifik. Pria itu masih satu anggota dengannya dalam lingkaran group. Mereka mempunyai misi sama untuk kepentingan group, meski masing-masing bekerja secara formal di lembaga multilateral. UNDP saat ini mendapatkan kehormatan besar dari Cina karena keterlibatan luas mereka, membantu program pembangunan untuk rakyat miskin. Tak terbilang miliaran dolar dana telah disalurkan. 
Suatu cara yang lazim digunakan sebuah lembaga multilateral untuk mendapat pengaruh politik di negara target. Tapi Cina, bukanlah negara yang mudah dipengaruhi dengan uang bila sudah menyangkut ideologi. Cina adalah salah satu negara terkuat dalam mengawal ideologinya dari pengaruh asing.
Menurut Huang, pejabat UNDP telah berbicara dengan pejabat Cina, yang mengklaim transaksi decade asset menggunakan collateral Naga Kuning. Fund Confirmation sebagai bukti transaksi di Swiss, sekarang ada di tangan Naga kuning. Mereka sangat terguncang dengan adanya bukti fund confirmation itu. Awalnya mereka tidak percaya. Namun dengan melihat bukti yang diberikan pejabat Cina, mereka benar-benar shock. Nampaknya mereka mencurigai ada kelompok lain yang bisa menembus sistem The Fed selain group mereka.
Menurut Huang, Washington telah membentuk team dan sekarang sudah menempati posnya di Shanghai. Mereka harus pastikan tidak terjadi perubahan mandatory. Posisiku harus dipertahankan. Mereka akan hubungi team di Jakarta untuk memastikan aku tidak melakukan deal dengan team Naga Kuning. Namun lagi-lagi mereka kecewa karena mereka tidak menemukanku di Jakarta. Walau tercatat tidak ada namaku di imigrasi sedang bepergian keluar negeri.
Namun Huang agak kawatir karena mereka berhasil melacak keberadaanku dari webmail terakhir yang ku kirimkan kepada Ester. Mereka kenal penerima email itu. Ester bekerja di bank, group mereka. Tentu mereka akan terbang ke Hong Kong untuk menemukanku. Tapi Huang sudah siap dengan segala kemungkinan terburuk. Teamnya sudah mengetahui semua langkah yang akan di lakukan mereka.
***
Malam itu Ester menelponku, meminta untuk kembali bertemu dan aku menyanggupi untuk makan malam. Ester memesan di tempat biasa kami bertemu. Satu jam kemudian, bel kamarku berbunyi. Aku segera berlari dengan dasi yang masih belum sempurna dililit. Aku yakin, itu adalah Ester yang datang. Ketika pintu kamar terbuka, seseorang bertubuh tegap dan mata sipit berdiri di ambang pintu. Pria itu dengan cepat mendorongku masuk sambil menodongkan pistol.
“Dengar baik-baik,” kata pria itu dengan sorot mata dingin. “Ikuti perintahku dan jangan membantah atau bertanya! Sekarang segera keluar dari kamar,” pria itu lalu mendorongku keluar dari kamar.
“Kamu siapa?” kataku sambil melirik pria itu dengan mulut gemetar.
“Kita akan turun lewat lift. Jangan coba bertindak, bodoh! Pistol berperedam ini tidak terkunci. Hanya butuh sekian detik untuk membuat nyawamu melayang,” lanjut pria itu tanpa menjawab pertanyaanku.
Keringat dingin membanjir di kening dan jantungku berdetak cepat. Tanpa banyak suara, aku mengikuti perintahnya. Aku di paksa berjalan dengan tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Ternyata pria itu tidak sendirian. Ada pria lain berjaga di luar kamar. Standar penculik profesional. Mereka juga terlihat sangat tenang dan terlatih.
Mereka berjalan beriringan menuju lift. Aku berada di posisi tengah. Beberapa langkah sebelum sampai di pintu lift, aku mendengar pria di belakangku melenguh dan tersungkur. Pria yang ada di depanku menoleh ke belakang sambil berusaha menarik tanganku dengan kuat dan cepat. Namun akhirnya pria itu terjerembab ke belakang dan roboh dengan mata melotot. Dia kalah cepat. semua kejadian hanya satu detik berselang setelah pria pertama roboh.
kulihat Lien dalam posisi setengah membungkuk dan merapat ke dinding koridor kamar hotel dengan pistol Beretta  di tangan. Lien berdiri sambil tersenyum, lalu melangkah mendekatiku. “Kamu tidak apa-apa?” kata Lien sambil melirik dua mayat yang bersimbah darah.
“Iyyy…ya!” aku gemetar.  Shock dengan dua kejadian beruntun yang tak terduga ini.
“Ok, tenang saja,” kata Lien tersenyum dengan pistol masih siaga di tangan. “Kita harus keluar dari hotel ini sekarang.”
Namun, tiba-tiba kedua bola mata Lien bergerak-gerak ketika mendengar bunyi lift. Lien mendorongku ke samping hingga punggungku membentur dinding hotel. Dua orang pria keluar dari lift dengan wajah dingin menatap kearah kami. Salah satu pria menggerakan tangannya ke belakang ingin mengambil sesuatu dan Lien langsung melepaskan tembakan namun meleset. Posisi Lien terlalu menyamping dari lift. 
Pria itu membalas tembakan Lien. Namun Lien sudah berada dalam posisi berguling di lantai sambil melepaskan tembakan. Dua pria itu tersungkur di dalam lift dengan dada berlubang. Lien  berdiri dan menarik dua mayat pria itu keluar dari lift.
Lien mundur selangkah dan menatapku yang bertambah shock. “Kita tidak bisa turun dari lift ini. Mereka tentu sudah menunggu kita di bawah,” kata Lien dengan ekor mata menyusuri kuridor lantai hotel. 
“Lewat pintu darurat!” kata Lien sigap. Lalu berjalan cepat menarik tanganku menuju pintu darurat.
Kembali terdengar sayup suara tanda lift terbuka dari belakang. Lien tak menghiraukan dan tetap berjalan cepat menuju tangga darurat di ujung kuridor. Dari arah belakang terdengar suara memanggil-manggilku. Rupanya Boy. Dia segera berlari ke arahku.
“Itu Boy,” seruku kepada Lien.
“Kamu Lien?” tanya Boy sambil memasukan senjatanya ke balik jas. Boy menatap Lien yang segera tersenyum begitu mendengar namanya disebut.
“Kita ke helipad lewat lift di lantai berikut. Dalam lima menit sebuah heli akan datang menjemput kita,” lanjut Boy sambil berjalan cepat menaiki tangga darurat.  Kami mengikuti dari belakang.
Tepat ketika kami sampai di lantai atap hotel, dari jauh nampak sebuah heli terbang mendekati gedung. Dua menit kemudian heli itu sudah merendah hingga tinggal beberapa centi saja di atas helipad. Boy menaikan aku lebih dulu dan diikuti Lien. Pilot heli tersenyum kepada kami berdua, memberi sambutan hangat.
“Kita ke Macau. Hotel Lisboa,” kata Boy kepada sang pilot.
Aku masih gemetaran dan berusaha menenangkan diri atas peristiwa yang baru saja kualami. Aku melirik Lien dan Boy yang nampak tenang di sampingku. Tidak ada kesan sama sekali, bahwa mereka baru saja bertarung dengan kematian.
“Maaf aku terlambat. Untung kamu bersama wanita juara taekwondo universitas kami,” kata Boy memecah keheningan. Mencoba mencairkan suasana sambil menatap Lien penuh arti.
“Bagaimana kamu tahu ada orang yang akan membunuhku?” tanyaku. 
Boy tidak menjawab. Hanya tersenyum sambil melirik Lien, yang juga terlihat acuh. Lien terlihat lebih asyik mengirim pesan singkat lewat telepon selular. Heli turun di helipad Lisboa Hotel. Di sana, sudah menanti tiga orang pria bermata sipit. 
“Itu team saya, Boy,” kata Lien sambil menunjuk tiga orang pria yang berjalan mendekati kami.
“Terima kasih, Boy. Aku akan membawa Jaka ke Beijing dengan jet pribadi,” kata Lien sambil menjabat erat tangan Boy. “Aku senang, Uncle Sam rupanya ikut terlibat dengan mengirim orang sepertimu untuk masuk ke dalam operasi ini,” lanjut Lien. 
Boy merangkul Lien erat. “Jaga Jaka, ya? Aku akan ada di Hong Kong untuk sementara waktu,” kata Boy.
Di dalam pesawat jet pribadi, Lien duduk tepat di depanku dengan posisi berhadapan. “Apakah kamu ingin minum sesuatu?” tanya Lien membuka percakapan.
“Ya. Mungkin, wine. Red wine, please..” Lien berdiri menuju mini bar dalam pesawat dan segera kembali dengan  segelas wine untukku.
“Setelah minum, aku akan berusaha tidur,” kataku. “Oh, ya, kelihatannya kamu tidak terkejut dengan kehadiran Boy?”
“Pimpinan kami memberi kabar soal kehadiran team Lady Rose di Hong Kong. Kita akan bersama mereka menghadapi lawan,” jawab Lien.
“Lady Rose?” aku teringat pertemuan bersama Huang dengan seorang wanita yang menyebut nama Lady rose.
“Ya. Itu team yang diketuai Boy,” lanjut Lien sambil memperbaiki duduk dengan menyilangkan kaki. “Nah sekarang, berusahalah untuk tidur,” kata Lien sambil tersenyum manis.
Aku memperhatikan sekilas wajah wanita di hadapanku. Dia terlihat sangat tegar menghadapi segala kemungkinan. Baru saja aku menyaksikan wanita ini memperlihatkan kelasnya sebagai penjaga profesional. Dengan sangat tenang, Lien menghadapi pertarungan maut. Menunjukkan kekuatan mental yang tinggi menghadapi resiko dalam bertugas. Tampak sekali bahwa dia sangat terlatih dengan baik untuk menjadi petarung dalam kondisi apapun. Inilah contoh dedikasi prajurit sipil saat melaksanakan tugas demi tugas
Bayanganku kembali tertuju pada Catty yang juga berjuang demi misi keluarga menebus kesalahan masa lalu. Walau dia menyadari resiko maut seperti kematian suaminya, Ramon. Namun Catty tetap tegar  untuk melangkah tanpa kenal takut ancaman kematian. Ancaman itu pun berakhir menjadi kenyataan. Catty memberiku pelajaran tentang keberanian seseorang menjemput takdir, yaitu mati dengan keyakinan sebagai petarung melawan ketidakadilan.
Jauh ribuan mil di sana, aku juga membayangkan wanita yang lain, istriku. Bertahun-tahun mendampingi dengan penuh kesetiaan. Sejak aku terlibat dalam urusan ini, praktis aku tidak pernah bisa memenuhi kewajibanku sebagai seorang suami secara utuh. Tapi istriku tidak pernah bertanya apa yang sedang ku kerjakan. Juga tidak pernah tahu obsesiku yang begitu tinggi. Karena istriku hanyalah wanita sederhana yang bahkan tidak pernah memiliki passport. 
Aku sering tertekan dengan obsesiku dan kadang mengeluh, tapi istriku tidak pernah mengeluh bagaimana lelahnya mengurus anak dan rumah tangga tanpa aku disampingnya. Dulu ketika awal menikah, istriku tidak kenal bagaimana memasak di dapur karena terlahir dari keluarga berada dan hidup selalu dimanja. Tapi, bertahun-tahun setelah berumah tangga, dia bahkan sangat cekatan memperbaiki genteng bocor ketika hujan lebat. Mengganti lampu kamar mandi yang padam. Saat aku seringkali memanjakan anak-anak, istriku justru tak kenal lelah menanamkan kebijakan pada buah hati kami.
Boleh di bilang, dalam hidup, aku sering membuat keputusan yang salah. Bahkan sampai hari ini, aku pun tidak pernah tahu apakah keputusanku tentang decade asset ini benar. Dan kalau pun ada keputusan yang benar yang pernah kulakukan dalam hidup, itu adalah saat aku melamar wanita yang kini menjadi istriku. Kini aku sadar bahwa istriku adalah seorang yang begitu ikhlas menjalani takdir dan sangat berbakti kepada suami. 
Ester adalah wanita cerdas, cantik dan berhati lembut. Entah apa alasannya hingga dia mengagumiku dan selalu  merasa nyaman bersama dengaku. Dia memberiku keyakinan bahwa aku bisa sukses seperti yang dia harapkan. Karenanya, tanpa lelah dia terus mendorongku untuk melangkah tanpa ragu dan dia selalu ada disampingku. Kami menyadari dan memahami hubungan kami dengan bijak. Ester tidak ingin merusak rumah tanggaku dan menjadi sahabatku adalah berkah yang harus disyukurinya.
Itulah gambaran wanita ketika sudah menentukan sikap. Tugas, cinta dan kesetiaan adalah tiga hal yang selalu dibela wanita sampai mati. Berbeda sekali dengan pria yang mudah berpaling karena kepongahan nalar mereka. Aku kembali tak kuasa menyembunyikan kekaguman pada sosok wanita-wanita di sekelilingku. Aku menutup mata rapat-rapat walau tidak tertidur. Anganku melambung, mengenang semua kebaikan empat wanita yang mewarnai kehidupanku.
“Jaka,” Lien menyentuh tanganku. “Kita sudah hampir sampai.”
“Oh ya?”
“Kamu tidak tidur ya?” tanya Lien lembut.
“Aku tidur, kok.”
“Mata kamu terpejam tapi kamu tidak tidur!”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Dari kening kamu.”
“Kening? Kenapa?”
“Orang yang tidur pulas, keningnya agak berkeringat. Karena oksigen di otaknya membawa hawa panas.”
“Oh. Kamu bisa saja!” aku tertawa kecil, menyembunyikan kebenaran yang di ungkap oleh Lien. Dari sini aku belajar satu hal, jangan pernah berusaha berbohong di hadapan seorang wanita cerdas. Kalau tidak mau malu sendiri! 
“Tenang saja. Tidak usah terlalu banyak pikiran,” kata Lien tersenyum seakan tahu apa yang aku pikirkan.
“Tentu saja aku tenang. Karena di sampingku, ada seorang wanita cantik yang jago menggunakan senjata.”
“Ester lebih cantik. Catty juga.”
Aku tersenyum, “kamu juga cantik.” 
Wajah Lien merona. Dia menoleh ke arah jendela untuk menyembunyikan rona wajahnya dariku. “Chang menanti kita di bandara. Dia sudah tahu kejadian tadi.”
Aku mengangguk. Lien terlihat sibuk berbicara lewat telepon satelit pesawat. Kelihatannya serius sekali. Aku melangkah ke dalam kokpit pesawat. Dari dalam kokpit nampak pemandangan begitu indah di bawah. Aku termenung dalam takjub melihat pemandangan kota Beijing dari udara.
Setelah mendarat di landasan, aku keluar dari pesawat diikuti Lien dari belakang. Di bawah, sudah menanti sebuah kendaraan. “Kita akan menuju ke suatu tempat,” kata Lien saat duduk di mobil.
“Tidak ke hotel?” aku mengangkat alis, bertanya serius.
“Tidak. Seseorang sudah menunggumu di tempat itu.”
“Ok.”
“Jaka,” seru Lien. “Hari ini, lawyer kami akan datang dalam pertemuan nanti. Surat pencabutan mandatory akan ditandatangani hari ini. Besok, Yu, Wu, Hwang dan aku akan terbang ke Amerika untuk mempersiapakan pembentukan Private Investment Company.”
“Lalu?”
“Minggu depannya kamu kembali ke Hong Kong untuk bergabung denganku dan Boy.”
“Minggu depan?”
“Ya, minggu depan. Kamu lebih aman di sini sampai gugatan hukum kami ajukan atas nama Private Investment Company itu. Setelah itu, posisi kamu tidak lagi diperhitungkan dan kamu aman dari kejaran mereka.”
Aku mengangkat bahu. “Ok! Aku tetap di sini. Tidak ada pilihan lain, kan?” sambungku tersenyum.
“Maaf, Jaka.” Lien berubah murung. “Kadang aku sedih bila memikirkan kamu harus melewati ini semua.”
“Aku baik-baik saja, kok.”
“Kamu yakin?”
“Ya. Seyakin aku menjemput takdir,” jawabku tegar.
Lien merangkulku. “Aku akan selalu ada di samping mu, Jaka..”. Di wajah Lien ada pelangi yang membawaku kepada keindahan tersendiri. Matanya tertutup. "Beri aku ruang untuk sekali ini saja..." Kata Lien dengan suara tertahan dalam desahan..

Senin, 30 Januari 2017

Memburu harta (24)


Seorang pria tegap berkulit gelap menungguku dan Huang di pintu depan. Memandu kami menuju lantai atas. Di lantai satu, kami berjalan melewati sebuah lukisan abstrak raksasa berwarna cerah. Kemudian naik lagi ke sebuah tangga mewah. Tempat ini sedikit mirip lobi hotel mewah, dengan dekorasi teak  yang mahal dan balutan chrome  yang mengkilap.
Interior elegan ini tidak menyiratkan sebuah tempat bertemunya para intelijen papan atas, yang biasanya memilih tempat di taman atau di pelataran parkir untuk bertemu. Tempat ini adalah sebuah financial club. Di sini, semua informasi disampaikan dengan berbisik-bisik dengan penyekat ruangan yang anti sadap. Maklum para pemain keuangan selalu bicara tentang hal-hal yang bersifat confidential. 
Kami dipandu ke sebuah ruangan VIP room untuk lunch time. Dengan ramah pria tegap itu mempersilahkan kami masuk, sementara pria itu tetap berada di luar. Di dalam ruangan, nampak seorang wanita setengah baya dengan ramah menyapa kami.
“Silahkan duduk, ”
Huang menyalami wanita itu. “Anda masih seperti dulu yang saya kenal. Tetap cantik,” puji Huang sambil membungkukkan badan. “kenalkan, ini Jaka.” Saya menepati janji untuk membawanya dalam pertemuan,” lanjut Huang. Wanita itu melirik kearahku dengan senyum ramah, dan segera menjabat tanganku. 
“Sepuluh tahun sejak terakhir pertemuan kita di Istanbul, ya kan?” Wanita itu tersenyum sambil menuangkan teh hangat. Lalu menyajikannya untuk kami sambil membungkuk.
“Anda ingat saja cerita kita, juga teh kegemaran saya.”
“Tentu, Prof. Anda adalah pria yang tak pernah hilang dalam ingatan saya.”
Mereka terdiam saling menatap sesaat. Huang kemudian berkata santai, mencoba mencairkan suasana, “God bless America.”
Wanita itu menatap Huang dengan wajah kecut, “Saya pikir tidak ada lagi God bless bagi America. Citigroup, Bank of America, IBM sudah diambil alih oleh Cina. Bahkan sekarang, setiap bulan, satu industri kaos kaki diambil alih Cina,” komentarnya lirih. 
Dia juga terlihat tambah geram, “Setelah industri kapitalis AS rontok dimakan pengusaha Cina, giliran konglomerisasi minyak merampok kami dengan harga yang terus meroket. God far from us,” simpulnya.
“Ya, AS gemar bicara dan sesumbar mengkampanyekan nilai-nilai mereka untuk diterapkaan di semua negara. Sementara Cina diam, silent of gold, terus bekerja keras dengan cara dan sistem yang diyakininya. Seiring perjalanan waktu, ternyata kini Cina yang terbukti lebih baik dari Amerika,” kata Huang sambil tersenyum.
“Anda kan tahu. Bahkan selalu jadi bahan cemoohan, bahwa kami melarang kebebasan informasi. Seperti larangan media massa AS masuk ke Cina. Bahkan blog saja tidak boleh tampil di Cina. Kampus hanya dijejali oleh buku pemikiran bangsa Cina sendiri atau buku dari Amerika tapi sudah diedit oleh Cina. Tapi kini, sejarah membuktikan keyakinan kami, sebagaimana kegeraman Anda itu, bahwa God far from U.S,” kata Huang.
“Tapi, bukankah itu hanya sementara? Biasanya AS selalu berhasil keluar dari kesulitan. Bukankah mereka memang terlatih menghadapi berbagai kesulitan. Karena itulah mereka menjadi bangsa yang besar,” lanjut Huang.
“Selama ini sebagian besar dari kita, terutama mereka yang di didik oleh universitas di AS beranggapan, bahwa semua hal tentang Amerika adalah baik. Sehingga baik pula untuk diterapkan di negeri manapun. Baik itu kapitalisme, sistem pemilihan distrik, sampai kentang goreng. Pierr Bourd Bourdieau, seorang pemikir Prancis cemerlang, pernah menulis dengan marah, apa yang dianggapnya sebagai La ruses de la raison imperialiste. Menurut dia, satu-satunya buah kecerdikan akal imperialis adalah McDonaldlisasi pemikiran. Sebuah cara berpikir yang terbentuk lantaran dominasi AS di berbagai bidang dalam dana riset, penguasaan media massa, penerbitan buku dan kekayaan dunia akademik,” kata wanita itu.
“Yang saya ketahui tentang Amerika, bahwa kapitalisme bukanlah sistem yang di-create sedari awalnya untuk kesejahteraan rakyat AS, tapi untuk kepuasan segelintir orang. Sebuah sistem untuk mendorong tumbuh suburnya kekuasaan pemodal. Semua hal yang dirancang di dalam negara seperti TV, Universitas, lembaga riset dan lain-lain sebenarnya dipersiapkan untuk melancarkan penerapan sistem kapitalisme. Kemudian, Amerika dijadikan alat pelontar paham itu ke seluruh dunia.”
“Benar, Prof!” kata wanita itu tersenyum getir. “Satu setengah abad yang lalu, Marx sudah meramalkan hal ini akan terjadi. Bahwa yang menjadi sumber dari transformasi globalisasi itu bukanlah sebuah negari seperti AS atau lainnya, melainkan sebuah pergerakan yang datang dari dan untuk kepentingan pemodal. Lantaran modal, banyak negara mengesampingkan semua hal tentang kekuatan budaya dan agama. Kehebatan budaya yang mengakar di dalam masyarakat tidak lagi dijadikan pengikat dan pengokoh. Mereka lebih mempercayai Demokrasi pendukung liberalisasi ala Amerika sebagai sesuatu yang final. Dan terus bergerak meninggalkan mereka yang kalah bersaing melawan kekuatan modal.”
Mereka berdua terdiam. Sejenak kemudian, Huang menatap wanita itu. 
“Baiklah. Apa yang harus kita lakukan ke depan? Adakah hal penting untuk kita sharing?” tanya Huang ingin secepatnya tahu maksud pertemuan ini. “Madam ingin mengulang kembali operasi kita seperti sepuluh tahun yang lalu. Kita akan saling mendukung untuk tujuan yang sama, ya kan? Dan ini tentu soal, Jaka.”
“Benar. Kami akan mengirim anggota kami untuk bergabung dengan team Anda.”
Huang tidak menjawab. Ia terlihat berpikir keras. Ingin bertanya lebih jauh tentang perlunya team gabungan. Bukankah dulu pernah dicoba tapi hasilnya juga tak ada.
“Prof, dokumen itu ada pada kami dan Jaka ada pada Anda. Ini mengharuskan kita bersatu,” sambung wanita itu melirik kearahku dan mencoba meyakinkan Huang.
“Apa ada alasan lain yang lebih kuat?”
“Kami telah memberikan dokumen confirmation fund kepada Jaka. Bukti bahwa kami benar-benar serius.”
Huang menatap wanita itu. Dia melihat tatapan mata yang tulus, tak ada maksud lain. Tapi apakah benar, dokumen decade asset ada di tangan kelompok wanita ini? 
Tapi toh, Huang tidak melihat resiko kerugian, bila harus bersama dengan team wanita ini. Apalagi pengalaman sebelumnya membuktikan mereka adalah team yang hebat walau tak berhasil menuntaskan operasi. Bahkan nyaris berhasil, kalau saja pihak settler yang dipercaya tidak berkianat.
“Baiklah, saya setuju.”
“Terima kasih,” jawab wanita itu menjabat tangan Huang.
“Kami akan membentuk team Madam Rose untuk operasi ini.”
“Baik. Selanjutnya, kita akan selalu berkoordinasi di setiap langkah.”
“Ya, seperti dulu lagi,” kata wanita itu tersenyum 
Wanita itu menjabat tangaku dengan erat.” Jaga dirimu baik-baik ya, Jaka?” katanya lembut.
***
Dari Huang, aku mendapat informasi bahwa Madam Lyan telah mendapat laporan terakhir dari teamnya bahwa kode untuk meng-access decade aset pada Fed system belum juga ditemukan. Padahal teamnya merupakan lulusan universitas terbaik dengan kualifikasi terbaik pula. Bekerja siang malam menggunakan alat super canggih berharga hampir dua miliar dolar. Tapi dokumen yang didapatnya dariku memang terlalu sulit untuk dipecahkan. Ada misteri yang menyelimuti dokumen itu hingga teknologi abad kini pun tidak mampu berbuat banyak.
Namun yang pasti, dokumen ini membuktikan bahwa decade asset itu memang ada. Tercatat dengan rapi. Aset ini mulai masuk ke dalam Fed system secara resmi berdasarkan Hilton Memorial tahun 1962 di Jenewa. Sebuah kesepakatan antara Soekarno sebagai wakil pemilik aset dari beberapa negara dengan JF Kennedy sebagai wakil pemerintah Amerika. Kesepakatan ini disaksikan oleh gubernur Bank Sentral Swiss. 
Ini adalah kesepakatan yang sangat strategis untuk menyelamatkan krisis mata uang Amerika ketika itu. Protokol penempatan aset ini ke dalam sistem, dilakukan dengan pembukaan bullion account  di The Fed oleh Soekarno dan atas nama Soekarno. Dengan demikian, maka Aset itu tercatat sebagai bagian dari combined collateral  pada Fed sistem dan Bank International for Settlement yang memberi hak kepada Amerika untuk mencetak Dollar.
Dalam Hilton Memorial itu ada beberapa nama pemilik aset yang memberikan mandat kepada Soekarno. Tapi dari dokumen yang didapat dariku, Madam Lyan sadar bahwa nama-nama itu hanyalah sandi yang mewakili nama negara sebagai pemilik aset tersebut. Dokumen ini adalah buktinya. Itulah sebab, selama hampir 30 tahun tidak ada satu pun pihak yang berhasil menguasai aset itu walau menggunakan kuasa nama ahli waris pemilik yang tertera dalam Hilton Memorial. Ini karena The Fed system, mengenali nama-nama itu hanyalah sebagai sandi.
Setelah Aset itu ditempatkan ke dalam sistem, Kennedy pun bergerak lebih jauh, untuk meng-eliminate posisi the Fed sebagai private company.  Rancangan Undang Undang telah diusulkan kepada senat untuk mengesahkan pengambil-alihan The Fed oleh negara. Ini dilakukan Kennedy sesuai arahan Soekarno yang tidak ingin aset ini dikontrol oleh Group Fidelity yang notabene adalah pemilik The Fed.
Sistem database berbasis komputer diperkenalkan pertama kali oleh IBM pada tahun 1962 untuk mendukung program Apollo.  Komputer inilah yang digunakan The Fed untuk membangun sistem bullion account, dimana aset itu ditempatkan dan dicatat. 
Rancangan Undang Undang yang diusulkan Kennedy ternyata mengalami perlawanan dari orang-orang group Fidelity yang ada di senat. Maka untuk sementara, demi menjaga keamanan dan kepentingan Hilton Memorial, hanya Kennedy sebagai presiden yang berhak mengakses sistem tersebut. Namun, sebelum Rancangan Undang Undang itu disahkan, Kennedy keburu terbunuh saat berkunjung ke Texas. Dan sampai hari ini, pembunuhan tersebut masih menjadi misteri.
Sejak kematian Kennedy, aset itu dimanfaatkan oleh group Fidelity untuk memperkuat posisi the Fed sebagai penjamin mata uang melalui sistem forfaiting trading program.  Hanya saja perdagangan ini dilakukan dengan sangat rahasia, tidak pernah dipublikasikan. Hanya orang dalam group saja yang dapat menggunakan sistem ini. Tapi, sistem ini juga tidak pernah berhasil membuat perdagangan surat berhaga itu masuk ke dalam kuridor Bank International ForSettlement. Tak lain karena terbentur masalah legalitas kepemilikan. Pun, the Fed tidak bisa menghindar dari masalah ini karena The Fed juga bagian dari Bank International for Settlement.
Itulah sebabnya, Group Fidelity membangun sistem clearing tersendiri yang terhubung ke Fed system. Clearstream, DTCC dan Euroclear dibentuk sebagai global clearing settlement bermata uang dolar. Sejatinya, ini merupakan perang sistem antara The Fed dengan BIS, untuk merebut legitimasi sistem keuangan global.
Lambat namun pasti, Group Fidelity berhasil menggandeng bank-bank terkemuka di dunia masuk ke dalam sistem ini. Akibatnya keanggotaan Clearstream, Euroclear, DTCC melebihi keanggotaan yang ada pada Bank  International for Settlement. Di era informasi digital seperti saat ini, keanggotaan itu jadi semakin meluas dan tidak hanya sebatas lembaga keuangan, tapi juga para pribadi yang menguasai kekayaan raksasa di dunia ini.
Dengan demikian, Group Fidelity telah berhasil membangun imperium sendiri, lengkap dengan sistem keuangannya yang mengontrol hampir semua bank terkemuka di dunia. Eksistensi Bank International For Settlement tidak lagi diperhitungkan untuk melegimitasi transakasi yang mereka lakukan.
Seseorang yang berada di lingkaran dalam kekuasaan U.S telah menugaskan Madam Lyan untuk membentuk team, guna menemukan kode decade asset ini. Dengan misi yang sangat jelas, yaitu apabila kode akses atas aset ini dapat ditemukan, akan membongkar permainan busuk Group Fidelity secara keseluruhan. Dana yang berputar di Clearstream, DTCC dan Euroclear yang terkait dengan decade asset ini, otomatis akan ter-eliminate. Kekuatan Group Fidelity akan hancur. 
Pasar dan sistem keuangan global akan kembali pada hukum sebab-akibat ekonomi, di mana income didapat dari hasil produksi nyata untuk memenuhi konsumsi. Dana di perbankan hanya akan mengelola kelebihan pendapatan di masyarakat untuk disalurkan ke sektor riel. Inilah sebetulnya yang diinginkan sebagian besar bangsa Amerika yang sudah bosan dengan permainan busuk Group Fidelity. Yang membuat bangsa Amerika terjebak dalam lingkaran sistem moneter kapitalis. Menggiring mereka menjadi masyarakat yang malas dan boros hingga akhirnya terjajah secara sistem di dunia finansial.
Dari berbagai dokumen yang terkait dengan aset ini, Madam Lyan semakin dalam menaruh hormat kepada Soekarno. Dia adalah seorang petarung sejati yang seolah bangkit dari dunia lain untuk melawan rezim kekuatan sebuah kelompok yang sudah terbentuk sejak ratusan tahun lalu. Kemampuannya mempengaruhi Kennedy untuk keluar dari group Fidelity dan menempatkan bangsa Amerika sebagai penjaga kelangsungan sistem moneter yang adil adalah sangat luar biasa. 
Soekarno menyadari betul bahwa sejak Amerika terbentuk sebagai negara, dia telah disusupi kelompok yang berniat menjadikan mereka sebagai penguasa tunggal dunia. Sebuah ambisi yang sangat bertentangan dengan cita-cita pendiri negara Amerika. Menghancurkan group Fidelity di markasnya sendiri adalah cara paling tepat agar mereka kehilangan mata rantai komando untuk menguasai dunia.
Kennedy terlahir dari keluarga yang disegani di lingkaran group Fidelity. Yang membuat kagum Madam Lyan adalah bagaimana Soekarno dapat meyakinkan sebuah keluarga yang dibesarkan kekuatan group, hingga akhirnya bersedia menerima keinginan Soekarno untuk menghancurkan group itu sendiri. Walaupun upaya ini gagal, dan berakibat pembunuhan demi pembunuhan kepada setiap putra dari keluarga ini yang masuk ke panggung politik.
Kehebatan Soekarno lainnya adalah ketika berhasil memaksa Amerika untuk menekan NATO agar tidak terlibat dalam perang Irian Barat. Perang yang terjadi karena perebutan Irian Barat dari tangan Belanda. Kennedy berada di balik itu semua yang dengan setia memenuhi obsesi Soekarno.
Benar bahwa Soekarno dan Kennedy telah meninggal. Tapi mereka tidak gagal sepenuhnya. Mereka meninggalkan idealisme perjuangan bagi generasi setelahnya. Inilah yang diyakini Tomasi, Catty, Naga Kuning dan Madam Lyan, bahwa ketidak-adilan sistem moneter saat ini harus diakhiri. Dengan perjuangan selama bertahun-tahun, bahkan kadang berakhir dengan kematian. Namun itu tak sedikitpun menyurutkan langkah mereka.
Salah satu cara untuk mengakhirinya adalah dengan menggunakan bukti dokumen decade asset, seperti yang Madam Lyan kerjakan saat ini. Akan tetapi, bila hanya ada dokumen decade asset ini saja tanpa acces code ke dalam Fed system maka dokumen itu tak lebih dari sekedar bukti sejarah. Yang tak dapat digunakan untuk meng-eliminate dana yang berputar di Clearstream. Dokumen ini hanya akan bernilai tinggi di pengadilan internasional bila dibuktikan, bisa masuk ke dalam Fed system. Acces code adalah kunci menuju ke sana. Untuk membuktikan keculasan dan manipulasi yang dilakukan group Fidelity terhadap sistem moneter dunia.
Menurut Huang, Madam Lyan kini hanya bisa berharap kepadaku. Dengan bukti keberadaan Fund Confirmation yang diberikan kepadaku, ia berharap Naga Kuning berhasil menemukan acces code itu. Karena merekalah pemilik yang sebenarnya. Bagi Madam Lyan, keberadaanku tidak datang dengan sendirinya. Keberadaanku sama halnya seperti misteri aset itu sendiri. Meski juga bisa berbalik menjadi ancaman serius bagi negaranya bila pihak Naga Kuning menuntut aset itu dicairkan sesuai dengan jumlah yang sekarang tercatat di Fed system. Tapi Madam Lyan tidak terlalu khawatir, karena toh pengadilan internasional hanya akan mengakui transaksi yang tercatat di bawah kuridor Bank International for Settlement.
Sementara itu dari informasi intelijen yang Huang ketahui, Group Fidelity sedang berupaya keras agar aku menghentikan gugatan di pengadilan. Mereka melakukan tekanan kepada asosiasi lawyer agar menghindari kasus ini. Ini mereka lakukan semata untuk menutup publikasi dari media massa. 
Tapi setidaknya, situasi jadi lebih aman setelah team Madam Lyan memanipulasi Group Fidelity, yang merasa aman setelah berhasil memblokir ‘acces code’ untuk masuk ke dalam the Fed system.